Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 11 Januari 2010

( Peninggalan Raja Brawijaya V )
Raja terakhir Majapahit




Candi Sukuh merupakan candi yang berlatar belakang agama Hindu. Berdasarkan prasasti yang ada di sekitar candi, Candi Sukuh didirikan antara tahun 1359 - 1378 Saka atau tahun 1437 - 1456 Masehi (sekitar abad XV). Meskipun berlatar belakang agama Hindu, bentuk bangunan candi cenderung kembali ke bentuk bangunan pada jaman pra sejarah yaitu struktur Punden Berundak.


Candi Sukuh terletak di Kabupaten Karanganyar, eks Karisidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya obyek pujaan lingga dan yoni. Candi ini digolongkan kontroversial karena bentuknya yang kurang lazim dan karena banyaknya obyek-obyek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas.

Sejarah singkat penemuan

Situs candi Sukuh ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1615 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Kemudian setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, yang berwarganegara Belanda melakukan penelitian. Lalu pada tahun 1928, pemugaran dimulai.

Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini terletak di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karisidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta. Kurang lebih 4 kilometer mendaki gunung Lawu lagi, terdapat situs Candi Cetho.


Yang membuat Candi Sukuh menarik adalah bentuk candi, arca dan lukisan relief yang sungguh unik dan berbeda dengan candi lainnya. Candi ini dipenuhi arca dan relief yang menggambarkan perwujudan kelamin lelaki dan perempuan secara gamblang, telanjang dan naturalis. Hal inilah yang memicu timbulnya julukan "The Most Exotic Temple in The World" bagi Candi Sukuh. Tak jarang mereka melontarkan tuduhan sebagai candi porno yang mengajarkan pendidikan seks secara vulgar.



Relief Candi Sukuh


dibawah akan dibahas lebih lanjut mengenai bentuk ini. Kesan kesederhanaan ini menarik perhatian arkeolog termashyur Belanda WF Stutterheim pada tahun 1930. Beliau lalu mencoba menjelaskannya dengan memberikan tiga argumen:

  1. kemungkinan pemahat candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keratin
  2. Candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi
  3. Keadaan politik kala itu dengan menjelang keruntuhannya Majapahit karena didesak oleh pasukan Islam Demak tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah.

Para pengunjung yang memasuki pintu utama lalu memasuki gapura terbesar akan melihat bentuk arsitektur khas bahwa ini tidak disusun tegak lurus namun agak miring, berbentuk trapesium dengan atap di atasnya. Batu-batuan di candi ini berwarna agak kemerahan, sebab batu-batu yang dipakai adalah jenis andesit.
Teras pertama candi

Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi.

Gapura pada teras kedua sudah rusak. Di kanan dan kiri gapura yang biasanya terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, didapati pula, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama!

Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.


Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas Kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang. Kemudian pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian relief-relief yang merupakan mitologi utama Candi Sukuh dan telah diidentifikasi sebagai relief cerita kidung sudamala. Urutan reliefnya adalah sebagai berikut.

Relief pertama.

Di bagian kiri dilukiskan sang Sahadewa atau Sadewa, saudara kembar Nakula dan merupakan yang termuda dari para Pandawa Lima. Kedua-duanya adalah putra Prabu Pandu dari Dewi Madrim, istrinya yang kedua. Madrim meninggal dunia ketika Nakula dan Sadewa masih kecil dan keduanya diasuh oleh Dewi Kunti, istri utama Pandu. Dewi Kunti lalu mengasuh mereka bersama ketiga anaknya dari Pandu: Yudhistira, Bima dan Arjuna. Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok dan diikuti oleh seorang punakawan atau pengiring. Berhadapan dengan Sadewa terlihatlah seorang tokoh wanita yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan.

kisah Sudamala. Bagian penting dari relief ini adalah kisah Batari Uma dikutuk Batara Guru menjadi Durga yang berparas jelek. Sadewa bungsu dari pandawa anak Pandu dan Madrim diikat pada sebuah pohon dikorbankan sebagai tumbal untuk Durga. Pada kisah ini Sadewa berhasil meruwat dengan bantuan Batara Guru dan membebaskan Durga dari kutukan dan kembali kewajah aslinya sebagai seorang bidadari. Pembebasan Batari Uma dari kutukan yang dilakukan Sadewa dengan meruwat yang tergambar pada pahatan kiranya merupakan inti keyakinan masyarakat pembangun candi. Apakah ada hubungan dengan keadaan sosial politik pada masa itu? Di bagian akhir tulisan akan kita tarik benang merah keterkaitannya.

Relief kedua.

Pada relief kedua ini dipahat gambar Dewi Durga yang telah berubah menjadi seorang raksasi (raksasa wanita) yang berwajah mengerikan. Dua orang raksasa mengerikan; Kalantaka dan Kalañjaya menyertai Batari Durga yang sedang murka dan mengancam akan membunuh Sadewa.

Kalantaka dan Kalañjaya adalah jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai raksasa berwajah buruk. Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Durga. Di belakangnya terlihat antara lain ada Semar. Terlihat wujud hantu yang melayang-layang dan di atas pohon sebelah kanan ada dua ekor burung hantu. Lukisan mengerikan ini kelihatannya ini merupakan lukisan di hutan Setra Gandamayu (Gandamayit) tempat pembuangan para dewa yang diusir dari sorga karena pelanggaran.

Relief ketiga.

ada bagian ini digambarkan bagaimana Sadewa bersama punakawannya, Semar berhadapan dengan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas. Sadewa akan menyembuhkannya dari kebutaannya.

Relief keempat

Adegan di sebuah taman indah di mana sang Sadewa sedang bercengkerama dengan Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa serta seorang punakawan di pertapaan Prangalas. Tambrapetra berterima kasih dan memberikan putrinya kepada Sadewa untuk dinikahinya.

Relief kelima

Lukisan ini merupakan adegan adu kekuatan antara Bima dan kedua raksasa Kalantaka dan Kalañjaya. Bima dengan kekuatannya yang luar biasa sedang mengangkat kedua raksasa tersebut untuk dibunuh dengan kuku pañcanakanya.

Patung Garuda

Lalu pada bagian kanan terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab adiparwa, kitab pertama Mahabrata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti. Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian amerta tersebut di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari tirta amerta.


Arca Celeng ( Babi)

Selain candi utama dan patung-patung kura-kura, garuda serta relief-relief, masih ditemukan pula beberapa patung hewan berbentuk celeng (babi hutan) dan gajah berpelana. Pada zaman dahulu para ksatria dan kaum bangsawan berwahana gajah.
Lalu ada pula bangunan berelief tapal kuda dengan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kira dan kanan yang berhadapan satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa relief ini melambangkan rahim seorang wanita dan sosok sebelah kiri melambangkan kejahatan dan sosok sebelah kanan melambangkan kebajikan. Namun hal ini belum begitu jelas. Kemudian ada sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi pewara. Di bagian tengahnya, bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala. Patung ini oleh beberapa kalangan masih dikeramatkan sebab seringkali diberi sesajian.

Erotisme Sebuah Candi


Proses penciptaan pastilah manusia mempunyai konteks dengan apa yang kita sebut sebagai hubungan badani atau hubungan seks yang sudah ada sejak awal manusia diciptakan. Namun jarang sekali, di zaman semua itu dianggap tabu, hal ini dibicarakan secara terbuka. Sebuah candi dari zaman Majapahit, di kaki gunung Lawu, ternyata berani bercerita secara terbuka tentang erotisme ini. Candi Sukuh begitulah namanya, sebuah candi kuno yang bentuknya cukup artistik dengan candi-candi lainnya. Banyak cerita relief yang diperkirakan oleh para peneliti sezaman dengan Kerajaan majapahit. Bentuk bangunan Candi Sukuh agak berbeda dengan candi-candi lainnya. Sekilas rupa menyerupai bentuk piramida di Mesir
Perawan dan Jejaka Wajib Melangkahi Relief Dari kejauhan Candi Sukuh telah tampak karena letaknya di atas puncak bukit. Begitu kita mulai memasuki areal kawasan candi, pintu gerbang yang paling depan seakan-akan mengawasi seluruh lereng gerbang (samping teras teratas) dan anda akan tahu bahwa julukan "Candi Porno" terhadap candi ini bukanlah sensasi semata

Di halaman teras teratas terletak bangunan candi. Candi ini sangatlah istimewa. Bentuknya berteras-teras seperti piramida. Hanya puncaknya saja yang datar. Mungkin di puncak ini dahulu ada bangunan dari kayu yang sekarang sudah musnah. Teras-teras ini sungguh istimewa bentuknya karena candi-candi lain tidaklah demikian dan biasanya candi mempunyai bagian dasar yang bertangga. Bentuk piramida berteras ini bukanlah gaya bangunan Hindu melainkan gaya Indonesia asli. Seperti kebudayaan penduduk Kepulauan Polynesia pun mempunyai adat tempat untuk pemujaan seperti ini. Bila dibandingkan dengan bentuk nisan-nisan kuno di Jawa, sering adapula yang berbentuk piramida berteras. Bentuk piramida ini biasanya digunakan untuk memuja para arwah leluhur.

Lingga

Relief yang ada di Candi Sukuh seluruhnya mengesankan erotisme. Ada patung seorang lelaki yang memegang tanda jenis (alat kelamin), gajah, dan binatang-binatang lainnya dengan alat kelamin yang serba menonjol. Tentu saja maksudnya bukan untuk merangsang pengunjung, melainkan lambang misteri proses penciptaan. Tapi sangat disayangkan tangan-tangan usil sering kali memberikan komentar-komentar gaya modern pada relief-relief ini dengan berbagai tulisan kotor tanpa mengetahui maknanya. Lingga dan yoni adalah representasi dari alat kelamin laki-laki dan perempuan. Sering pula disepakati sebagai lambang kesuburan. Letaknya persis di pintu masuk ini dan begitu nyatanya membuat masyarakat sering menyebutnya sebagai candi tabu. Padahal, bisa jadi menurut budaya Jawa yang sarat akan lambang, penempatan lingga dan yoni itu sebagai pengusir bala bagi yang ingin masuk ke dalam candi.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, lingga dan yoni di gapura dulunya sering dijadikan sarana untuk menguji kesucian perempuan dengan melangkahi simbol itu. Jika kain kebaya yang digunakannya robek berarti perempuan itu menjaga kesuciannya, namun jika kain kebayanya terlepas, maka perempuan itu dipercayai telah kehilangan kesuciannya. Mengenai julukan erotis, selain perlambangan lingga dan yoni di pagar, juga nampak pada relief-relief yang tersisa. Tapi sepertinya sudah tak banyak lagi. Mungkin karena terlalu vulgar, makanya relief itu tak ada lagi.
Lintasan sejarah

Walaupun tempatnya di Jawa Tengah tetapi Candi Sukuh sangat berbeda dengan candi-candi Prambanan, Sewu, Plaosan dan lain-lain dari sekitar abad 8--10. Susunan halaman, arca-arca, gaya pahatan, bahkan seluruh konsepsinya sangat berbeda.

Dwarapala

Arca Dewa Trimurti atau Bhuda tidak kita temukan di Candi Sukuh, tetapi yang kita temukan lingga (phalllus), arca Bima (sekarang di Solo), Garuda, arca laki-laki telanjang gaya megalitik, bahkan bentuk pertemuan alat kelamin pria dan wanita, ini menunjukkan gejala munculnya kembali tradisi pemujaan phallisme. Bentuk percandian yang menyerupai punden berundak dan salah satu candinya dipandang sebagai kediaman cikal-bakal Desa Sukuh dan lain-lain gejala, jelaslah konsepsi candi ini mengacu pada tempat pemujaan nenek moyang dari masa pra pengaruh Hindu. Munculnya ceritera-ceritera Sudamala, Garudeya, Bima Suci Sthanikaparwa semua bertemakan ruwatan atau pelepasan dari bermacam-macam belenggu keduniawian.

Beberapa angka tahun dan candra-sangkala yang terdapat di Candi Sukuh mengacu ke pertengahan abad 15, bersamaan dengan periode akhir Majapahit seperti candi-candi lain di lereng Gunung Lawu. Konsepsi dan bentuknya lebih dekat dengan Jawa Timur dan Bali daripada candi-candi sederhana di Jawa Tengah.

Karena unik nenek moyang kita di lereng Lawu ini tidak luput dari berbagai ancaman alamiah seperti gempa bumi, tanah longsor, grobotan lumut, ganggang, rumput dan juga dari manusia yang suka mencuri, maka, upaya pelestarian terus dilakukan. Pemugaran oleh Depdikbud dilakukan antara 1980--1983, bahkan di luar halaman candi telah dibangun Balai pelepas lelah sambil menikmati panorama. Jalan, tempat parkir dan perturasan telah dibangun pula sehingga keseluruhan Candi Sukuh makin menarik untuk dikunjungi oleh siapapun.

Banyak orang mengidentikkan candi Sukuh sebagai candi porno atau candi erotis. Bagaimana tidak, ketika penulis studi lapangan dengan mahasiswa jurusan Sejarah UKSW, banyak rekan-rekan berpikiran ”ngeres”, menyaksikan pahatan (relief) vulgar yang menggambarkan secara utuh alat kelamin pria yang sedang ereksi, berhadap-hadapan langsung dengan vagina di lantai teras pertama gapura candi. Menurut ceritera rakyat dari mulut ke mulut

Konon, laki-laki yang ingin menguji apakah kekasihnya masih perawan atau tidak, dapat datang ke tempat ini, dengan cara meminta si wanita melompati relief tersebut. Atau suami yang ingin menguji kesetiaan istrinya, dia akan meminta sang istri melangkahi relief ini. Jika kain kebaya yang dikenakannya robek, maka dia tipe isteri setia. Tapi sebaliknya, jika kainnya hanya terlepas, sang isteri diyakini telah berselingkuh

Ceriteranya memang ada, tetapi faktanya mungkin tinggal cerita? Masih ada banyak lagi indikasi (berupa relief dan arca) yang membawa pemikiran pengunjung sampai pada kesimpulan bahwa candi ini memang candi rusuh (saru atau tabu)

Untuk memahami apa dan bagaimana keyakinan yang terdapat pada ”ritual” ataupun upacara di candi Sukuh abad XV, 600-an tahun yang silam, perlu kita simak makna-makna relief serta patung yang terdapat di candi. Bagian relief dan arca pada candi banyak merupakan symbol dan rangkaian kisah (cerita) dalam mithologi Hindu. Kisah dan symbol yang dipahatkan serta diarcakan kebanyakan berthema ”PEMBEBASAN” yang berkait erat dengan ”RUWATAN”.

Arca Candi sukuh

Ruwatan adalah salah satu adat Jawa yang tujuannya untuk membebaskan orang, komunitas atau wilayah dari ancaman bahaya. Inti acara ruwatan adalah doa memohon perlindungan pada Allah (Tuhan) dari ancaman bahaya-bahaya seperti bencana alam dll. Juga doa mohon pengampunan dosa-dosa dan kesalahan yang telah dilakukan yang bisa menyebabkan bencana. Ruwatan memiliki makna mengembalikan keadaan sebelumnya (suatu keadaan yang baik, menuju social equilibrium) Dapat dikatakan bahwa upacara ruwatan adalah ritual tolak bala atau upacara membuang sial (terjemahan dari Wikipedia berbahasa Jawa)

Patung Kura-Kura besar di depan candi merupakan symbol dari Awatara Visnu, yaitu KURMA AWATARA.

Awatara dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa maupun manifestasinya. Tuhan Yang Maha Esa ataupun manifestasinya turun ke dunia, mengambil suatu bentuk dalam dunia material, guna menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan, menegakkan dharma dan menyelamatkan orang-orang yang melaksanakan Dharma/Kebenaran

Sang Kura-Kura sebagai perwujudan dewa Visnu (pemelihara dunia) menjadi tempat tumpuan membantu para dewa memutar dan mengaduk-aduk samodra dengan gunung Mandara, untuk mendapatkan TIRTA AMERTA (air kehidupan). Barang siapa entah itu manusia, dewa, raksasa, asura meminum air kehidupan itu maka ia akan terbebas dari kematian dan mengalami hidup dalam keabadian. Keyakinan akan kehidupan kekal/abadi dikemudian hari dan terbebas dari kematian, merupakan harapan-harapan religi untuk digapai/dialami.

Bersebelahan dengan relief cerita Sudamala, ada obelisk yang menyiratkan cerita GARUDEYA. Garuda putra dewi Winata ”meruwat” ibunya dari perbudakan seorang madunya dewi Kadru. Dewi Winata menjadi budak Kadru karena kalah bertaruh tentang warna ekor kuda Uchaiswara. Dewi Kadru menang dalam bertaruh sebab dengan curang dia menyuruh anak-anaknya yang berujud ular naga berjumlah seribu menyemburkan bisa-bisanya (racun) di ekor kuda Uchaiswara sehingga warna ekor kuda berubah hitam.

Dewi Winata dapat diruwat sang Garuda dengan cara memohon “tirta amerta” (air kehidupan) kepada para dewa. (Kapanlagi.com) Sekali lagi ceritera ”Pembebasan” dengan cara ruwatan diobeliskkan pada ornamen candi Sukuh, semakin meyakinkan kita bahwa memang dahulu tempat ini difungsikan untuk ritual ruwatan.

Garudeya

Depan kanan candi Utama pada obelisk, terdapat relief ”Bimo Bungkus” yang mengkisahkan ruwatan versi Mahabharata. Bima yang lahir dari rahim Kunthi dengan Pandu membuat gempar. Mengapa, karena putra kedua Pandu itu berujud bungkus yang sulit dibuka. Suasana kian hangat. Atas kejadian ini Betara Guru mengutus Ga­jahsena (Ganesya), putranya untuk memec­ahkan bungkus Bima. Usaha tersebut berhasil dan diberikannya pakaian khusus pada Bima yang kemudian diberi nama Bratasena. Paparan kisah Bima Bungkus pada relief ini inti ceritanya yaitu terbebasnya Bima (jawa:Werkudara) dari ancaman kematian, karena lahir terbungkus ari-ari yang tidak dapat pecah (terbuka). Ganeca menolong (baca: meruwat) Bima hingga dilahirkan.

Dari relief, obelisk dan arca di candi Sukuh, banyak didapati symbol-symbol seksual. Symbol-symbol tersebut mengarahkan kita pada suatu aliran penganut paham Tantra. Menurut paham Tantra, untuk mencapai tujuan hidup orang mengucapkan mantra-mantra dan upacara-upacara gaib, dapat bersatu dengan sakti bahkan menjadi sakti itu sendiri. Tata cara pelaksanaan pemujaan sakti menurut paham Tantra, bagi orang yang bukan penganut Tantra menimbulkan kesan yang tidak baik, karena menurut ukuran masyarakat termasuk larangan atau melanggar kesopanan

Pada paham Tantrayana dikenal dua aliran, yaitu aliran kiri (niwerti) dan kanan (prawerti). Aliran kiri mempunyai anggapan bahwa untuk mencapai moksa setiap orang harus berusaha sebanyak mungkin melakukan 5 Ma (pancatattwa=Jawa Mo-Limo) yang terdiri dari (a) Matsya (makan ikan), (b) Mamsa (makan daging), (c) Mudra (makan padi-padian), (d) Maithuna (melakukan hubungan seks secara bebas). Dari sumber-sumber kesusasteraan maupun peninggalan arca yang terdapat di beberapa daerah di Indonesia termasuk di candi Sukuh, kemungkinan aliran inilah yang banyak dianut pada zaman dahulu. Sedangkan aliran kanan beranggapan bahwa untuk mencapai moksa seseorang harus melakukannya dengan Samadhi dan Yoga.(Made Suardana)

Penganut paham Tantrayana berkeyakinan untuk mencapai pembebasan dari dosa (mencapai Moksa), orang harus berusaha sebanyak mungkin melakukan 5 Ma (Jawa=Mo-Limo). Benarkah di abad XV di candi Sukuh pada masa Majapahit akhir para penganut Tantrayana menggunakannya untuk upacara Kamamahapancikam (upacara 5 Ma)? Apa hubungannya dengan keadaan masyarakat di era tersebut?

Runtuhnya Majapahit dengan sangkalan “Sirno Ilang Kertaning Bhumi” Sirno=0, Ilang=0, Kerta=4, Bhumi=1 (0041) dibalik = 1400 Caka + 78 = 1478 Masehi pada Babad Tanah Jawa, berdekatan dengan saat dibangun candi Sukuh (1437 – 1456). Sebagaimana kita pahami dan pernah alami, bahwa saat-saat runtuhnya sebuah rezim/kekuasaan/negara, sering terjadi keadaan tidak menentu. Kekacauan politik, keadaan tidak aman, perampokan dan degradasi moral serta tidak berjalannya aturan meliputi serta menekan masyarakat. Pranata sosial masa transisi seperti di atas menggerakkan kelompok-kelompok (marginal) “mengundurkan diri” atau mengasingkan diri dari situasi mencari selamat (baca: kebebasan) dan berusaha melalui caranya sendiri memperbaiki keadaan. Pencarian atau “Pembebasan” oleh kelompok marginal “Sukuh” dibawa ke dalam situasi ritual (aktivitas ritual) meruwat keadaan dan mengusahakan agar situasi sosial kembali ke equilibriumnya.

Meruwat dalam kisah Sudamala, Penyelamatan (pembebasan) Wisnu melalui Kurma Awatara, Kisah Garudea, sampai ruwatan versi Mahabharata dalam lakon Bimo Bungkus adalah bentuk usaha mengembalikan situasi/keadaan seperti sebelumnya saat Majapahit jaya gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo !

Jika interpretasi-interpretasi di atas berkaitan dan benar, dapat dipastikan bahwa relief dan arca serta obelisk yang dipahatkan di candi Sukuh menuntun kita sedikit memahami keadaan sosial religius masyarakat sekitar Sukuh pada abad XV. Namun untuk menguji kebenarannya, kita masih memerlukan kajian yang lebih detail serta bukti/fakta-fakta sejarah yang cukup mengenai keseluruhannya.

CANDI CETHO

( Tempat Pemujaan Raja Brawijaya V )
Raja terakhir Majapahit


Candi Cetho terletak di Desa Seto, Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, Jawa tengah ini diperkirakan didirikan pada tahun 1400-an, pada akhir jaman Majapahit.

Merupakan salah satu peninggalan dari Raja Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Lokasi candi seluas 215 X 30 meter persegi dan dikelilingi oleh hutan pinus yang rindang dengan ketinggian 1500 meter. Candi ini merupakan peninggalan umat Hindu terakhir di Jawa.

Menurut ceritanya candi ini merupakan tempat pesanggrahan Brawijaya sebelum beliau moksa di puncak Lawu. Sebenarnya candi ini belum terselesaikan seluruhnya, karena saat itu Brawijaya tengah dalam pelarian dikejar-kejar oleh pasukan Raden Patah dari Demak. Kala itu, dari Desa Seto Brawijaya lalu lari ke Desa Sukuh dan mendirikan pula sebuah candi di sana.

Namun, sebelum pindah ke Desa Sukuh, pada puncak Candi Ceto ini Brawijaya sempat mendirikan arca dirinya yang dinamakan Nala Genggong. Melihat gapura Candi Seto mengingatkan kita akan bentuk-bentuk gapura di Pulau Bali. Tak salah memang, karena Candi Seto merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan Hindu di tanah air. Candi berundak yang menghadap ke barat, menjadi simbol berakhirnya Kerajaan Majapahit.

Sebelum memasuki gerbang yang berupa gapura ini, terlebih dahulu mendaki tangga yang terbuat dari batu yang tertata rapi. Memasuki gerbang, sampailah kita di pelataran pertama di mana pada sebelah kiri gerbang terdapat pos penjagaan.

Candi Cetho (cetho = jelas, jernih tanpa halangan) merupakan sebuah candi peninggalan budaya Hindu dari abad ke-14 pada masa akhir pemerintahan Majapahit. Fungsi candi ini tidaklah berbeda dengan candi Hindu yang lain yakni sebagai tempat pemujaan. Sampai saat inipun Candi Cetho tetap digunakan oleh penduduk sekitar yang memang merupakan penganut agama Hindu.

Di beberapa teras terdapat pendapa dan bangunan kayu tempat arca Brawijaya V dan pengawalnya serta sebuah arca lingga.












Di sebelah timur kompleks candi terdapat sebuah meru yang di dalamnya menyimpan sebuah lingga sebagai simbol jenis kelamin laki-laki dan yoni sebagai simbol kelamin perempuan. Perlu untuk diketahui, di atas candi Cetho ada candi lagi yaitu candi Kethek.

Di timur candi, terdapat Puri Taman Saraswati. Taman ini merupakan tempat sembahyang bagi umat Hindu kepada Sang Hyang Aji Saraswati. Patung Dewi Saraswati adalah pemberian dari bupati Gianyar A.A Gde Agung Barata untuk bupati Karanganyar Rina Iriani sebagai bentuk kerjasama dan ikatan persaudaraan antara masyarakat Hindu Bali dan Hindu jawa. Di kawasan taman, setiap peringatan Hari Saraswati yang diadakan setiap 210 hari selalu digelar kesenian tradisional Jawa dan Bali.

Candi Cetho terdiri dari sembilan trap (tingkat) berbentuk memanjang kebelakang dengan trap terakhir sebagai trap utama pemujaaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa (seperti bentuk-bentuk tempat pemujaan pada masa purba yaitu punden berundak)

.
Trap pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Trap kedua masih berupa halaman namun ditrap ini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi yang merupakan leluhur masyarakat Cetho.

Pada trap ketiga terdapat sebuah soubment memanjang di atas tanah yang menggambarkan nafsu badaniah manusia (nafsu hewani) berbentuk phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang lebih dari 2 m, dengan diapit dua buah lambang kerajaan Majapahit menunjukkan masa pembuatan candi.

Pada trap keempat dapat ditemui relief pendek yang merupakan cuplikan kisah Sudhamala, (seperti yang terdapat pula di Cabdi Sukuh) yaitu kisah tentang usaha manusia untuk melepaskan diri dari malapetaka. Pada trap kelima dan keenam terdapat terdapat pendapa-pendapa yang mengapit jalan masuk candi.

Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut masih sering digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara besar keagamaan. Trap ketujuh dapat ditemui dua buah arca di samping kanan kiri yang merupakan arca Sabdapalon dan nayagenggong, dua orang abdhi kinasih dari Sang Prabu Brawijaya yang juga merupakan penasehat spiritual dari beliau. Hal ini melambangkan kedekatan jiwa beliau dengan rakyatnya yang diwakili kedua tokoh tersebut.


Pada trap kedelapan terdapat arca Phallus (kuntobimo) di samping kiri dan arca Sang Prabu Brawijaya yang digambarkan sebagai “mahadewa”. Arca phallus melambangkan ucapan syukur atas kesuburan yang melimpah atas bumi cetho dan sebuah pengharapan kepada Tuhan yang Maha Esa agar kesuburan yang dilimpahkan itu tak kan terputus selamanya.

Arca Sang Prabu Brawijaya menunjukkan penauladanan masyarakat terhadap kepemimpinan beliau, sebagai raja yang bèrbudi bawa leksana, ambeg adil paramarta yang diyakini pula sebagai utusan Tuhan di muka bumi. Trap terakhir (trap kesembilan) adalah trap utama yang merupakan tempat pemanjatan doa kepada Penguasa Semesta. Trap terakhir ini berbentuk kubus berukuran 1,50 m2.

Candi Cetho menghadap ke arah timur hal ini berbeda dengan candi-candi yang ada di Jawa Tengah karena Candi Cetho begitu pula Candi Sukuh dibangun pada masa Majapahit sehingga dengan sendirinya pembangunan candi terpengaruh oleh apa yang terbiasa ada di candi-candi Jawa Timur.

Di sebelah atas bangunan Candi Cetho terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan).

Pada undakan kedua akan didapati (terhampar di tanah) sebuah Arca Bulus (Kura-kura) yang merupakan simbol suci, dan bersambung dengan Lingga (alat kelamin laki-laki) yang rebah. Candi ini memang didominasi oleh arca-arca berbentuk lingga. Menurut juru kunci, perempuan yang tengah mendapat haid dilarang melintas di atas Arca Bulus tersebut. Bila itu dilanggar konon yang bersangkutan akan mendapat kesialan.

Selain arca yang berbentuk lingga, di candi ini juga terdapat 12 arca lainnya. Namun demikian, amat disayangkan candi ini telah kehilangan beberapa arcanya akibat ulah orang-orang yang tak bertanggungjawab. Padahal, candi ini merupakan salah satu bagian dari wisata sejarah. Di mana pengunjung bisa berkeliling candi sambil membayangkan masa-masa lalu bangsa ini. Bangsa yang memiliki kekayaan budaya yang tinggi.

Melihat ruang-ruang candi khayalan kita bisa menjelajah ke masa silam. Membayangkan Raja Brawijaya tengah istirah sambil mengolah rasa, atau tengah bercengkrama dengan para permaisurinya. Penat berkeliling candi kita bisa istirahat di bawah rindangnya pepohonan pinus yang mengelilingi lokasi candi. Udara sejuk akan menyergap, ditambah kabut tipis yang melayang-layang turun di pucuk candi dan terus membungkus tubuh kita. Semua terasa sejuk dan menyenangkan. Membuat pikiran kita akan segar kembali. Terbebas dari rutinitas kerja sehari-hari.

Pada malam Jumat Kliwon, misalkan, orang beramai-ramai ke lokasi ini guna menghaturkan sesaji sekaligus menjalankan ritual tapa brata. Begitu pula di saat hari Nyepi, warga Hindu di Karanganyar sebagian besar memilih melakukan tapa brata penyepian di areal candi. Keesokan harinya, saat ngembak geni , mereka pulang. “Itu pun setelah dilaksanakan acara saling memaafkan.

Begitu penting arti kehadiran Candi Ceto beserta Gunung Lawu bagi warga Hindu di Karanganyar, bahkan Hindu di Nusantara. Ini bisa dipahami mengingat bangunan candi di wilayah pegunungan tua ini, merupakan candi Hindu peninggalan sisa-sisa kerajaan Majapahit. Di Candi Ceto juga banyak tersimpan arca bercerita tentang Samuderamanthana dan Garudeya, satu kisah yang diambil dari mitos Hindu. Ada pula patung Saraswati, dewi simbol kebijaksanaan yang berhiaskan peralatan sembahyang.

Bahkan sesuai cerita yang berkembang di Karanganyar dan sekitarnya, Raja Majapahit, Prabhu Brawijaya V, sebelum moksa terlebih dahulu meruwat diri di Candi Sukuh yang berada di deretan bawah Candi Ceto. Usai menyucikan diri secara alam niskala, barulah sang raja mengakhiri hidupnya dengan jalan moksa di Candi Ceto.

Ini memang kisah lawas yang hingga kini tetap diyakini kebenarannya oleh warga Karanganyar dan sekitarnya. Lebih-lebih lagi di areal candi, terutama pada halaman XIII, ada ditemukan arca Sabda Palon, tokoh penting dalam babak akhir Kerajaan Majapahit.


Tiap enam bulan, pada hari Selasa Kliwon, di halaman punden digelar satu ritus suci upacara Madasiya. Ritual yang sesajiannya bersaranakan nasi tumpeng, buah, bunga, air, dan dupa tersebut memiliki makna warga Desa Ceto dan sekitarnya menyampaikan rasa terima kasih sekaligus memohon agar Krincing Wesi tetap menjaga keselamatan mereka.

Teras enam tak ada peninggalan arkeologi. Memasuki teras ketujuh, pada bagian selatan gapura terdapat tulisan :

  • “...... peling pedamel irikang bu, ku tirta sunya hawaki, ray a hilang, saka kalanya wiku, goh anahut iku 1397
  • Artinya: “ ... peringatan pembuatan buku tirta sunya badannya hilang tahun 1397 Saka ....”bila berpijak pada angka tahun yang tertera pada teras keenam tersebut, berarti pada tahun Isaka 1397 (tahun 1475 Masehi) atau pada abad XV, Candi Ceto telah berdiri kukuh.

Selasa Kliwon, wuku Medangsia, 17 Juli 2007 lalu, satu ritus langka dilangsungkan di Candi Ceto. Namanya: Karya Agung Nusantara Ngenteg Linggih Tawur Agung Labuh Gentuh Candi Narmada, Panca Wali Krama . yaitu upacara bhuta yajnya (korban) besar yang berlangsung setiap 10 tahun sekali. Bahkan untuk di Candi Ceto, upacara setingkat ini adalah kali pertama dilaksanakan.

Karya besar yang dihadiri ribuan warga Hindu dari berbagai daerah di Tanah Air ini, cermat Ketua Panitia Upacara Panca Walikrama Candi Ceto, Mangku Paramartha Kesuma, merupakan upaya mengharmoniskan alam semesta, buwana agung, dengan diri manusia, buwana alit, sekaligus untuk memohon keselamatan dan kerahajengan negeri ini.

Ritual ini dilangsungkan bersamaan dengan upacara Modosiyo , satu jenis ritual yang dilaksanakan tiap enam bulan di Candi Ceto oleh warga Hindu Karangayar dan sekitarnya, sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat yang selama ini diberikan kepada warga sekitar Gunung Lawu. Upacara Panca Wali Krama telah di mulai 16 Mei 2007 dengan nanceb sanggar tawang, munggah sunari , dan negtegang daging . Upacara ini dipuput Ida Padanda Putera Gede Lusuh dari Geria Lusuh, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.

Sarana upacara dan upakara yang dipersembahkan itu tiada beda dengan upacara Panca Wali Krama di Bali. Di antaranya kerbau berjumlah 14 dan 14 ekor kambing.











CANDI PRABHU

( Penyimpanan Abu Jenazah
Prabu Brawijaya I, II, III, IV )


Terletak di Desa Bejijong, Trowulan. Dari jalan Mojokerto – Jombang dapat ditempuh dari Musium Lama (Kantor Suaka peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur) menyeberang jalan ke Utara sejauh 1,8 Km.

Dalam prasasti yang ditulis Mpu Sendok pada tahun 861 Saka atau 9 September 939, Menurut cerita rakyat Candi Brahu merupakan tempat disimpan abu para raja-raja Majapahit yaitu Brawijaya pembakaran raja-raja Majapahit diantaranya Brawijaya I,II,II dan IV.

Setelah dibakar abunya kemudian disimpan di dalam goa yang terdapat dalam candi. Anehnya, dalam penelitian, tak ada satu pakarpun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Lebih-lebih setelah ada pemugaran candi yang dilakukan pada tahun 1990 hingga 1995.


Candi Brahu merupakan bangunan candi dalam pengertian yang sebenar-nya. Umumnya candi terdiri dari tiga bagian, yakni : kaki candi yaitu bagian bawah, merupakan gambaran kehidupan. Tubuh candi yaitu bagian tengah, sebagai tempat untuk bertobat.

Atap atau mahkota candi yaitu bagian atas, sebagai tempat yang suci untuk bersemayam roh. Bagian atap candi Brahu telah runtuh, dduga dulu berbentuk piramidal. Keseluruhan bangunan terbuat dari bata merah dan masih dalam keadaan polos.

Bentuk bangunan hampir bujur sangkar, dengan ukuran 18,50 x 20 meter dan tinggi 17,21 meter. Pada keempat sisinya terdapat bagian-bagian yang menjorok keluar yang disebut penampil. Penampil depan nampak lebih panjang dari penampil belakang-nya.

Pada sisi barat terdapat bagian yang menjorok ke dalam yang menuju ke bilik candi. Bagian ini merupakan tangga masuk ke bilik candi. Di bilik candi ad
a bekas altar atau meja sesaji.

Candi Brahu tidak berdiri sendiri, disekitarnya terdapat bangunan candi-candi lain, yaitu candi Gentong, candi Gedong dan candi Tengah. Di antara ketiga candi itu, hanya candi Gentong yang masih terlihat sisa-sisanya, dan terletak di sebelah timur candi Brahu. Di sekitar candi Brahu pernah ditemukan benda-benda kuno, antara lain : benda-benda dari emas dan perak. 6 buah arca yang bersifat agama Budha. piring perak yang bagian bawah bertuliskan kuno. 4 lempeng prasati tembaga dari jaman sindhok.

Candi yang di
bangun dengan gaya dan kultur Budha ini didirikan pada abad 15 Masehi awal Majapahit, tetapi ada pula yang menduga dari abad XV. Pendapat lain, candi ini berusia jauh lebih tua ketimbang candi-candi lain di Trowulan. kata Brahu berasal dari kata Wanaru atau Warahu. Nama ini didapat dari sebutan sebuah bangunan suci, seperti disebutkan dalam Prasasti Alasantan, yang ditemukan tak jauh dari Candi Brahu. Bangunan Candi Brahu berukuran tinggi 25,7 m dan lebar 20,70 m.

Spekulasi sejarawan memunculkan satu asumsi bahwa pintu gerbang tersebut mengarah ke pusat kerajaan, yang kini dibangun joglo bernama Pendopo Agung, sebelah selatan gerbang.

Spekulasi lain menyatakan jika pusat kerajaanMajapahit, secara kosmis dan spiritual justru berada di arah yang sedikit bercabang, yakni di barat laut gerbang yang kini menjadi area ditemukannya peninggalan terbesar Majapahit, Candi Brahu.

Brahu diyakini sebagai sebuah candi, yang menjalankan fungsi spiritual keagamaan yang mayoritas beragama Hindu. Di dekat Candi Brahu terdapat reruntuhan pondasi yang ditengarai sebagai “Siti Hinggil” atau tanah yang dimuliakan (ditinggikan). Itu adalah bagian hirarkis wajar di kerajaan masa lampau. Oleh karena itu, beberapa sejarawan berpendapat bahwa area di sekitar Candi Brahu dan Siti Inggil merupakan pusat spiritual dari kompleks ibukota Majapahit, termasuk upacara perkuburan bagi empat jenazah raja Majapahit.


CANDI TIKUS

( Sumber Mata Air Majapahit )


Terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Dari Candi Bajangratu ke arah tenggara sekitar 500 m. Candi Tikus adalah sebuah candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di kompleks Trowulan, Kabupaten Mojokerto, di Trowulan. Bangunan Candi Tikus berupa tempat ritual mandi (petirtaan) di kompleks pusat pemerintahan Majapahit. Bangunan utamanya terdiri dari dua tingkat.

Candi Tikus diperkirakan dibangun pada abad ke-13 atau abad ke-14. Candi ini dihubungkan dengan keterangan Mpu Prapanca dalam kitab Nagarakretagama, bahwa ada tempat untuk mandi raja dan upacara-upacara tertentu yang dilaksanakan di kolam-kolamnya. Arsitektur bangunan melambangkan kesucian Gunung Mahameru sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Menurut kepercayaan Hindu, Gunung Mahameru merupakan tempat sumber air Tirta Amerta atau air kehidupan, yang dipercaya mempunyai kekuatan magis dan dapat memberikan kesejahteraan, dari mitos air yang mengalir di Candi Tikus dianggap bersumber dari Gunung Mahameru.

Candi ini disebut Candi Tikus karena sewaktu ditemukan merupakan tempat bersarangnya tikus yang memangsa padi petani. Di tengah Candi Tikus terdapat miniatur empat buah candi kecil yang dianggap melambangkan Gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam dan sumber segala kehidupan yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran-pancuran/jaladwara yang terdapat di sepanjang kaki candi.
Air ini dianggap sebagai air suci amrta, yaitu sumber segala kehidupan. Situs candi ini digali pada tahun 1914 atas perintah Bupati MojokertoKromodjojo Adinegoro. Karena banyak dijumpai tikus pada sekitar reruntuhannya, situs ini kemudian dinamai Candi Tikus. Candi Tikus baru dipugar pada tahun 1985-1989.

Dulu, ada petani dari Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto gelisah karena serbuan tikus sawah. Hasil tani yang biasanya cukup untuk menghidupi seluruh anggota keluarga, kini nyaris tak tersisa. Tak tahan menghadapi serbuan tikus, ia memohon pada Sang Pencipta. Suatu malam, Si Petani mendapat wisik (wangsit,) agar mengambil air di kawasan Candi Tikus lalu menyiramkan air itu ke empat sudut sawah.

Sebuah keajaiban terjadi. Tikus-tikus yang biasanya kerap beraksi di malam hari hilang begitu saja. Tanah sawah juga mendadak jadi subur. Si Petani tak kuasa menahan kegembiraannya dan bercerita pada warga desa.

Beberapa saat kemudian, ada saudagar kaya mendengar kabar tentang khasiat air Candi Tikus. Dengan rakus, ia mencari jalan pintas untuk menambah kekayaannya. Suatu malam, ia mencuri batu candi dan meletakkannya di sudut-sudut sawah. Lagi-lagi sebuah kejaiban terjadi.

Tapi kali ini, tikus-tikus malah datang dan menghabisi padi di sawah. Fenomena ini membuat warga desa sadar, bahwa mereka tak bisa berharap lebih. "Kami hanya bisa memanfaatkan air di Candi Tikus, tapi bukan batu-batu candi," kata mereka. Dan mitos ini, ternyata masih dipercaya hingga kini.

Di sisi lain, ada mitos lain yang berkembang kebalikannya. Pada tahun 1914, candi ini ditemukan oleh Bupati Mojokerto, RAA Kromojoyo Adinegoro. Sebelumnya, ia mendengar keluh kesah warga Desa Temon yang kalang kabut karena serbuan hama tikus di sawah mereka. Tanpa pikir panjang, Kromojoyo memerintah aparat desa agar memobilisasi massa dan menyatakan perang pada tikus. Anehnya, saat terjadi pengejaran, tikus-tikus itu selalu lari dan masuk dalam lobang dalam sebuah gundukan besar.

Karena ingin membersihkan tikus sampai habis, Kromojoyo memilnta agar gundukan itu dibongkar. Ternyata, di dalam gundukan terdapat sebuah candi. Melihat sejarah penemuannya, Kromojoyo memberi nama Candi Tikus.

Memasuki masa kemerdekaan, Candi Tikus yang mulai rusak dipugar setahap demi setahap. Puncaknya, Candi Tikus dipugar pada tahun 1984 hingga 1989. Tentu, pemugaran ini dilakukan dengan ekstra hati-hati agar tak berseberangan dengan tampilan asli. Kini, masyarakat bisa melihat Candi Tikus sebagai aset wisata sejarah yang kaya sentuhan estetika.

Secara keseluruhan, candi ini lebih mirip dengan petirtaan. Bangunannya dibangun di atas tanah yang lebih rendah 3,5 meter dari tanah di sekitarnya. Untuk mendekati candi, kita harus melewati tangga masuk di sisi utara. Dari situ, kita bisa melihat candi berukuran 29,5X28,25 meter dan tinggi keseluruhan 5,2 meter ini dari dekat.

Sampai sekarang, Candi Tikus masih sering dijadikan ajang penelitian ahli purbakala dari dalam dan luar negeri. Kebanyakan, mereka ingin merangkai fakta sekaligus antitesis sebuah teori yang menyebut, semua bangunan yang berasal dari masa pengaruh agama Hindu - Budha abad 5-15 M adalah candi. Padahal, bangunan-bangunan itu tak selalu berfungsi sebagai sarana pemujaan.

Sebagai bangunan berkarakter khas, Candi Tikus adalah icon yang berseberangan dengan teori itu. Karena Candi Tikus memiliki pancuran dan saluran air yang konon berperan besar sebagai pengatur debit air di Majapahit. Di luar itu, Candi Tikus juga memiliki daya tarik yang tak bisa lepas dari rangkaian situs Majapahit yang tersebar di Trowulan.

Candi Tikus merupakan salah satu bangunan yang mempunyai nilai eksotisme tersendiri. Selain memiliki arsitektur yang cukup unik dengan ornamen pada bangunan induk yang dihiasi pancuran air berbentuk makara dan padma, candi tersebut juga memiliki dua kolam dan saluran-saluran air yang mengandung struktur petirtaan. Adanya pancuran air di Candi Tikus (jaladwara) yang berbentuk makara dan padma, makara merupakan perubahan bentuk tunas-tunas yang keluar dari bonggol teratai, sedangkan padma merupakan teratai itu sendiri.

Secara keseluruhan candi itu dapat dikategorikan sebagai bangunan petirtaan. Mengenai keterangan akar kronologis tentang Candi Tikus dapat dikaitkan dengan uraian dalam kitab Nagarakartagama yang ditulis oleh Prapanca (1385 M). Dalam kitab tersebut pada pupuh 27 dan 29 menyebutkan adanya tempat pemandian (petirtaan) raja yang dikunjungi Hayam Wuruk dan keterangan yang menyebutkan adanya upacara-upacara tertentu yang dirayakan di kolam-kolam.

Meskipun dalam kitab tersebut Prapanca tidak menyebutkan secara eksplisit mengenai nama Candi Tikus, namun diyakini oleh sebagian besar pengamat situs kebudayaan purbakala, salah satu tempat pemandian yang dimaksudkan dalam kitab Nagarakartagama adalah Candi Tikus, terkait dengan letak bangunan yang masih berada di kawasan Kerajaan Majapahit.

Di sisi lain, menara-menara (bangunan miniatur yang mengelilingi bangunan induk) merupakan bagian terpenting dari gubahan arsitektur abad ke XIII-XIV. Secara tidak langsung bangunan candi itu dapat diyakini didirikan pada abad ke XIII-XIV, premis ini semakin memperuncing kebenaran bahwa yang dimaksud dalam kitab Nagarakartagama mengenai petirtaan yang dikunjungi oleh Hayam Wuruk dan kolam-kolam yang dijadikan sebagai tempat untuk mengadakan prosesi upacara-upacara tertentu, salah satunya adalah Candi Tikus.


Meskipun Candi Tikus sempat tenggelam dari panggung sejarah dan kembali tampil sekitar 1914, setelah diadakan penggalian terhadap tanah yang menutupinya dan adanya beberapa kerusakan fisik yang hampir menyusutkan eksotisme bangunan tersebut.

Namun autentisitas nilai dan kandungan filosofis yang terdapat dalam keutuhan candi itu hingga dewasa ini masih mampu terlestarikan dengan baik.

Simbolis Gunung Meru

Menurut Bernet Kempers (1954:210), Candi Tikus merupakan replika atau simbolis Gunung Meru. Hal itu terkait dengan konsep religi yang melatarbelakangi bangunan candi, di samping itu model bangunan Candi Tikus yang makin ke atas makin mengecil dan pada bangunan induk seakan-akan terdapat puncak utama yang dikelilingi oleh delapan puncak yang lebih kecil, menurut Bernet, model tersebut ada kemiripan tersendiri dengan bentuk utuh Gunung Meru.

Secara mitologi, Gunung Meru selalu dihubungkan dengan air kehidupan yang dipercaya mempunyai kekuatan magis dalam memberi kekuatan pada semua makhluk hidup. Kepercayaan ini lahir dari konsep Hindu-Buddha yang meyakini gunung tersebut sebagai pusat kehidupan, yang kemudian termanefestasikan dalam bentuk bangunan candi, pemahaman itu hingga dewasa ini masih dikultuskan oleh segenap masyarakat tradisionalis.

Perpaduan konsep Hindu-Buddha dalam bangunan Candi Tikus yang sudah kadung mendarah daging membentuk pola pemikiran dan perilaku masyarakat Jawa. Secara teoritis sebenarnya masyarakat berhasil membangun tempat pemujaan merupakan suatu kebanggaan tersendiri karena tempat tersebut dipercaya sebagai sarana untuk bersua dengan Sang Penciptanya atau sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan yang diyakininya.

Lahirnya kebanggaan tersebut secara tidak langsung merupakan percikan dari rasa cinta manusia terhadap zat yang menciptakannya, jangan heran jika kemudian Candi Tikus juga dipersepsikan sebagai salah satu petirtaan tempat diadakannya prosesi upacara-upacara tertentu sebab selain sebagai petirtaan, candi itu juga memilik dimensi religi yang sangat kental tergambar dalam model bangunannya.

Berpijak pada akar kronologis dibangunnya ragam candi pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit, tidak lepas dari pengaruh sosial-kultural masyarakat Jawa yang pada waktu itu masih kebanyakan menganut paham Hindu-Buddha sehingga pasca kepemerintahan Kerajaan Majapahit banyak ditemukan situs purbakala yang berbentuk candi.

Pada dasarnya salah satu unsur terbentuknya candi yang mempunyai replika atau simbolis tersendiri semisal Candi Tikus sebagai lambang Gunung Meru, pertama, guna memberi dukungan emosional dan moral. Kedua sebagai sarana memperkukuh hubungan transendental. Ketiga mengeramatkan nilai-nilai dan norma-norma masyarakat setempat. Keempat memberi identitas pada individu dan kelompok. Kelima, erat hubungannya dengan siklus pertumbuhan (life cycle) Sederhananya,

Candi Tikus yang terletak lebih rendah dari permukaan tanah di sekitarnya, yaitu pada kedalaman sekitar 3,50 m atau sekitar 46,78 m dari permukaan laut, secara umum bangunan ini berdenah bujur sangkar dengan ukuran 22,50 x 22,50 m, apabila dipahami dari konsep yang melatarbelakangi perwujudan bangunan dikaitkan dengan ciri yang ada pada candi tersebut, akan menunjukkan tujuan pembangunan candi itu adalah untuk melambangkan air amrta yang keluar dari gunung.

Simbol-simbol semacam itu sebenarnya mempertegas manusia merupakan makhluk yang penuh dengan lambang, baginya realitas lebih dari sekadar tumpukan fakta-fakta. Ada semacam simbiosis-mutualisme antara makhluk hidup dengan alam yang ada di sekitarnya karena pada dasarnya setiap makhluk hidup sangat dipengaruhi lingkungan sekitar yang menghidupi keberadaan dirinya.

Konsep semacam ini dapat ditemukan dalam konsep triloka yang dibangun dari kepercayaan agama Hindu-Buddha dengan menempatkan semesta pada dua versi antara jagad gedhe (makrokosmos) dan jagat cilik (mikro-kosmos). Penempatan Candi Tikus sebagai simbol keagungan Gunung Meru, secara tidak langsung telah menisbahkan adanya suatu keterkaitan yang erat antara manusia dengan alam yang ada di sekitarnya.

Keyakinan semacam itu sebenarnya tumbuh dari pembacaan awal manusia terhadap gejala alam dengan menggunakan logika dasar. Namun, tidak bisa dinafikan pembacaan semacam itu yang termanefestasikan dalam model bangunan Candi Tikus merupakan salah satu pijakan yang membantu terbentuknya pola pemikiran manusia masyarakat Jawa tradisionalis dan peletak pertama dasar-dasar pemikiran masyarakat Jawa secara general.

Lahirnya premis yang mengatakan mempelajari maupun berusaha mengenali peninggalan-peninggalan purbakala secara implisit merupakan bentuk lain dari belajar mengenali keberadaan diri sendiri. Di satu sisi premis tersebut tidak bisa dibantah kebenarannya karena pada dasarnya peninggalan purbakala selain memiliki momen sejarah yang teramat penting untuk senantiasa diketahui para penerusnya guna menegaskan eksistensinya sebagai masyarakat Jawa.

Di sisi lain, peninggalan purbakala juga menampung beberapa kandungan makna filosofis yang teramat penting untuk dipelajari oleh para generasi muda masyarakat Jawa. Berpijak pada UU No 5/1992, tentang Benda Cagar Budaya Pasal 2 yang berbunyi, perlindungan benda cagar budaya dan situs bertujuan melestarikan dan memanfaatkannya untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia.

Maka sudah selayaknya pelestarian terhadap peninggalan purbakala seperti Candi Tikus yang terletak di daerah Trowulan, tepatnya di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto semakin digalakkan. Menziarahi Candi Tikus secara tidak langsung membuka diri untuk memasuki dimensi lain tempat para leluhur masyarakat Jawa melalukan prosesi ritual penyerahan diri terhadap Sang Pencitanya.


Candi Tikus, Pengatur Debit Air Majapahit

Sudah bukan rahasia lagi bila mendengar nama candi. Benak kita lantas tertuju pada suatu bangunan (terbuat dari batu atau bata merah) yang berasal dari masa silam yang berfungsi sebagai sarana pemujaan. Ini tidak keliru, karena memang candi berfungsi sebagai sarana untuk melakukan suatu ritual pemujaan.

Namun di Indonesia, tampaknya ada semacam pandangan yang menyatakan bahwa segala bangunan yang berasal dari masa pengaruh agama Hindu - Budha (abad V - XV M) sering disebut segabagai candi. Padahal, bangunan-bangunan itu belum tentu berfungsi sebagai sarana pemujaan. Salah satu contoh dalam bangunan kuno yang sudah terlanjur disebut candi adalah candi Tikus di Jawa Timur.

Sejak ditemukan pertama kalinya pada tahun 1914, kemudian sampai dilakukan pemugaran sekitar tahun 1983 - 1986, candi Tikus yang secara administratif terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kbaupaten Mojokerto, Jawa Timur, telah banyak mengundang perhatian para pakar sejarah kuno dan arkeologi.

Betapa tidak! Letaknya yang berada dibawah permukaan tanah (sekitar 3,5 meter) dengan beberapa pancuran air dan saluran-saluran air serta mengingat lokasinya yang berada di Trowulan (yang diduga kuat merupakan bekas ibukota kerajaan Majapahit), telah mengusik perhatian para pakar untuk menentukan makna dan fungsi dari bangunan itu, baik dari segi arsitektural naupun ditinjau dari segi religius.


Dua Tahap Pembangunan

Secara pasti, tidak diketahui kapan candi Tikus ini didirikan karena tidak adanya sumber sejarah yang memberitakan tentang pendirian candi Tikus ini.

Dalam kitab Nagarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada tahun 1365 M (yang telah diakui oleh para pakar sebagai suatu sumber sejarah yang cukup lengkap memuat tentang kerajaan Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk), tidak disebutkan tentang eksistensi candi Tikus ini.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa serangkaian penelitian yang ditujukan guna mencari dan menentukan saat dibangunnya candi Tikus ini lantas manjadi tidak bisa dilaksanakan. Setidaknya, berdasarkan kajian arsitektural, diperoleh gambaran perbedaan dalam hal penggunaan bahan baku candi, yaitu bata merah.

Adanya perbedaan penggunaan bata merah (baik perbedaan kualitas maupun kuantitasnya), memberikan indikasi tentang tahapan pembangunan candi Tikus. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para arkeolog, terbukti bahwa bata merah yang berukuran lebih besar berusia lebih tua dibandingkan dengan bata merah yang berukuran lebih kecil.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selama masa berdiri dan berfungsinya, candi Tikus pernah mengalami dua tahap pembangunan. Pembangunan tahap pertama dilakukan dengan mempergunakan batu bata merah yang berukuran lebih besar sebagai bahan bakunya, sedangkan pembangunan tahap kedua dilakukan dengan mempergunakan bata merah yang berukuran lebih kecil.

Lain halnya dengan pendapat yang dikemukankan oleh N.J. Krom lewat buku "sakti"-nya yang berjudul Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst II (Pengantar Kesenian Hindu Jawa). Dengan memperhatikan bahan dan gaya seni dari saluran air, pakar sejarah kesenian Jawa kuno berkebangsaan Belanda itu berasumsi bahwa ada dua tahap pembangunan candi Tikus.

Tahap pertama, saluran airnya terbuat dari bata merah dan memperlihatkan bentuknya yang kaku. Sedangkan tahap kedua saluran airnya terbuat dari batu andesit dan memperlihatkan bentuknya yang lebih dinamis serta dibuat pada masa keemasan Majapahit. Ini berarti pula bahwa menurut Krom, candi Tikus telah berdiri sebelum kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasannya, yaitu pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 - 1380).

Sementara itu, ketika dilakukan pemugaran pada tahun 1984/1985, berhasil disingkap sisi tenggara bangunan candi Tikus. Kaki bangunan yang terdapat di sisi tersebut, menunjukan perbedaan ukuran bata merah yang dipergunakan sebagai bahan bakunya. Hal ini semakin memperkuat dugaan mengenai dua tahap pembangunan candi tersebut. Kaki bangunan tahap pertama yang tersusun dari bata merah yang berukuran besar, tampak ditutup oleh kaki bangunan tahap kedua yang tersusun dari bata merah yang berukuran lebih kecil. Kapan secara pasti pembangunan tahap pertama dan kedua ini dilakukan, belum jelas benar.

Menurut catatan hasil penelitian yang telah dilakukan H. Maclaine Pont pada tahun 1926, setidaknya terdapat 18 buah waduk besar yang diduga kuat dibangun pada masa Majapahit (letaknya kini tersebar diseluruh kabupaten Mojokerto, Jawa Timur). Dari 18 buah waduk besar itu 4 buah diantaranya terletak di daerah Trowulan. Yaitu di Desa Baureno, Kumitir, Domas dan Temon. Waduk-waduk besar ini berfungsi sebagai tempat penampungan air pertama untuk selanjutnya dialirkan ke tempat-tempat lain.

Dari ke-empat waduk besar yang terletak di daerah Trowulan, waduk Baureno diduga merupakan sumber dari air yang masuk ke candi Tikus. Untuk selanjutnya air dari candi Tikus ini didistribusikan ka arah kota. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh alm. Didiek Samsu W.T. selama tahun 1986/1987, diketahui bahwa debit air rata-rata dari pancuran-pancuran air di candi Tikus adalah 17.604.915 cm/detik. "Berdasarkan perhitungan ini, dapat diperkirakan bahwa candi Tikus pada masa itu memiliki peranan yang cukup penting dalam sistem jaringan air di daerah Trowulan," tulis arkeolog ini dalam skripsinya.

Lebih lanjut, alm. Didiek menyatakan bahwa air candi Tikus juga bisa dijadikan patokan musim kemarau dan musim penghujan. Pada musim kemarau, debit air rata-rata setiap pancuran pancuran lebih kurang 400 cm/detik. Sedangkan jika lantai dasar candi Tikus mulai tergenang dan pancuran air memancarkan air lebih jauh, dapat diartikan bahwa musim hujan telah menjelang. Ini berarti pula bahwa pada musim hujan debit air di candi Tikus akan naik, sehingga bisa jadi patokan untuk membuka atau menutup pintu air di waduk atau bendungan.


Memiliki Kekuatan Magis

Tanpa usaha yang telah dilakukan oleh H. Maclaine Pont, barangkali nama Trowulan tidak akan mencuat ke permukaan dalam panggung sejarah Indonesia. Dialah yang pertama kali menyatakan bahwa Trowulan merupakan bekas Ibukota kerajaan Majapahit. Dengan bersumber pada kitap Nagarakertagama, Maclaine Pont berhasil merekonstruksi (bina ulang) ibukota kerajaan Majapahit. Dari peta kota hasil rekonstruksi Maclaine Pont pada tahun 1926 tersebut, tampak bahwa candi Tikus terletak di luar kota Majapahit.

Sejak zaman Prasejarah, air memang memiliki peranan penting dalam kehidupan spiritual manusia. Air dipercaya memiliki daya magis utnuk membersihkan, mensucikan dan menyuburkan. Tak heran, bila kemudian air yang keluar dari candi Tikus juga dipercaya memiliki kekuatan magis untuk memenuhi harapan rakyat agar hasil pertanian mereka berlipat ganda dan terhindar dari kesulitan-kesulitan yang merugikan.

CANDI WRINGIN LAWANG

( GERBANG ISTANA MAJAPAHIT )



Gapura Wringin Lawang ada di Dukuh Wringin Lawang, Desa Jati Pasar, Kec. Trowulan Mojokerto. Dari jalan raya Mojokerto-Jombang masuk kearah selatan 200-an meter. Gapura Wringin Lawang merupakan bangunan kuno bentuk Gapura Belah yang tidak memiliki atap (Tipe Candi Bentar). Gapura ini diperkirakan sebagai pintu gerbang masuk salah satu kompleks bangunan yang berada di kota Mojopahit tersusun dari susunan bata yang kini menjadi platform gapura di Jawa Timur. Gapura Wringin Lawang juga disebut juga candi Jati Purno, yang terletak di Desa Jati Pasar (dulu merupakan pasar kerajaan Majapahit). Sebutan yang digunakan terkadang Gapura, terkadang candi.

Disebut Wringin Lawang karena bentuknya seperti pintu (lawang) dan di dekatnya tumbuh sepasang pohon beringin. Bangunan terrbuat dari bahan bata merah dan dalam keadaan polos tanpa hiasan. Bentuk bangunan seperti sebuah candi yang dibelah menjadi dua, dari atas ke bawah, sama bentuk dan kemudian di letakkan renggang. Bagian atap tidak tertutup. Bentuk gapura seperti itu disebut model “Candi Bentar” atau “Gapura Gapit” atau “Gapura Belah”.

Tinggi gapura 13,70 meter. Pada bagian tertentu gapura telah dikonsolidasi (tambal sulam). Bangunan ini menempati areal tanah seluas 616 M2. Umumnya, orang menghubungkan gapura ini dengan gapura masuk ke ibu kota Majapahit yang terletak di sebelah utara.

Bila demikian, tentunya ambang gapura harus menghadap ke arah utara – selatan. Sedang arah hadap gapura Wringin Lawang ini Timur – barat, sehingga diduga merupakan pintu gerbang masuk ke kepatihan. Sebab, selain menghadap barat – timur, juga letaknya dekat denah pasar dan terpisah dari kraton. Gapura Wringin Lawang ini belum bisa disebut sebagai pintu gerbang utama. Sebab pintu gerbang istana Majapahit berpagar besi dan kereta dapat masuk di tengahnya. Situs gapura Wringin Lawang sampai sekarang masih digunakan oleh masyarakat sekitar yaitu untuk mencari berkah dan untuk selamatan dengan sesaji.




Gapura Wringin Lawang

Nama Wringin Lawang diambil dari fakta yang ada di temuan awal. Dulu, gapura yang dibuat dari batu bata merah ini diapit oleh pohon beringin di sisi kiri dan kanan. Bangunan ini menghadap ke arah timur dan barat. Bangunan ini berukuran 13X11,5 meter dan tinggi 15,5 meter. berbeda dengan Bajangratu yang bergaya paduraksa, Wringin Lawang bergaya candi bentar. Artinya, candi yang tidak memiliki atap. Jika dilihat dari jauh, orang langsung bisa menebak, Wringin Lawang adalah gerbang keluar masuk dari tempat ke tempat lain. Konon, gapura ini merupakan pintu masuk tamu-tamu kerajaan yang ingin bertandang ke istana.

Sebuah ciri arsitektur vernacular yang bertahan berabad-abad lamanya. Gapura ini bernama Wringin Lawang (harafiahnya berarti “beringin pintu”), karena dulunya terdapat pasangan beringin yang merangkai Gapura membentuk satu jejalur lurus untuk mengarahkan orang-orang yang datang ke Majapahit.

Wringin Lawang sebelum dipugar

Kini, hanya sisa dariGapura yang telah direstorasi dengan bata merah dari era modern mampu menceritakan keagungan Majapahit. Skala gigantis dari gapura ini (yang mengakibatkan banyak orang menafsirkannya sebagai “candi”) menunjukkan kredibilitas kerajaan yang memunculkan nama tenar seperti Hayam Wuruk atau Tribuana Tungga Dewi tersebut. Namun penafsirannya paling populer justru menyebut bahwa gerbang ini merupakan jalan masuk ke kediaman Gajah Mada.







CANDI BAJANG RATU

( Candi Penghormatan Raja Jayanegara )


Candi Bajangratu terletak di Dukuh Kraton, desa Temon kecamatan Trowulan. Perjalanan dapat ditempuh dari perempatan Dukuh Nglinguh ke arah timur sejauh kurang lebih 2 Km. Candi Bajangratu terletak sekitar 200 m masuk ke utara dari jalan desa.

Candi Bajang Ratu yang berkaitan dengan penobatan Jayanegara sebagai ratu saat masih "bajang" (kecil) itu tampak indah dengan paduan taman bunga warna-warni seluas 11.500 meter persegi dengan jalan masuk yang cukup luas.

Dalam wacana Jawa Kuno, bajang berarti kecil atau kerdil. Sehingga Bajangratu berarti orang yang naik tahta atau menjadi raja ketika masih kecil. Dalam catatan sejarah Majapahit, raja yang diangkat sejak masih kecil adalah Jayanegara.

Candi Bajangratu sewaktu ditemukan dalam keadaan yang mengkhawatirkan, untuk menghindari kerusakan, maka pada tahun 1890 dipasangkan balok-balok kayu sebagai penyangga langit-langit. Kemudian diganti dengan besi.

Penyelamatan bangunan dari reruntuhan diselesaikan pada tahun 1915, sedang penggalian serta penyelidikan di sekitar candi tahun 1991. Bangunan yang ada sekarang adalah hasil pemugaran dari tahun 1985 / 1986 kemudian dilanjutkan tahun anggaran 1988 / 1989 sampai dengan 1990 / 1991.

Candi Bajangratu berbentuk Gapura pintu masuk, terbuat dari batu bata merah kecuali undak-undakannya dan bagian atas langit-langit dan ambang atas terbuat dari batu andesit. Candi Bajangratu sebenarnya adalah gapura atau regol, modelnya seperti candi Bentar tetapi ada tutup di atasnya sering disebut Paduraksa diikuti dengan Semartinandu artinya depan dan belakang hampir sama. Candi bajangratu sebelah kiri dan kanan terdapat samprangan dinding yang membujur ke arah timur dan barat. Maka Candi Bajangratu termasuk gapura bersayap.

Model semacam ini dapat ditemukan di daerah lain seperti :
* Komplek makam Sendang Duwur di Pacitan, Lamongan.
* Gapuro Jedong di Ngoro, Mojokerto.
* Plumbangan di Blitar.



Bila dilihat secara vertikal, Bajangratu dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu kaki, tubuh dan atap. Selain itu, gapura mempunyai sayap dan pagar tembok di kedua sisinya. Di kaki gapura, ada hiasan yang menggambarkan cerita Sri Tandjung. Sedangkan di atas tubuh, ada hiasan kala dan sulur.

Pada bagian atap, ada hiasan kepala kala yang diapit singa, relief matahari, naga berkaki, kepala garuda, dan relief bermata satu atau monocle cyclops. Di sayap kanan, ada relief cerita Ramayana dan pahatan binatang bertelinga panjang. Konon, relief-relief ini berfungsi sebagai penolak mara bahaya.

Gapuro Bajangratu tinggi 16,10 meter, lebar 1,74 m dan panjang 11,20 meter. Umurnya candi Jawa Timur berbentuk kubus dan ramping. Bagian mahkota bangunan merupakan perpaduan tingakatan yang merupakan kesatuan makin ke atas makin kecil dan diselingi dengan pelipit-pelipit yang mendatar. Pelipit-pelipit tersebut dihiasi dengan sulur daun-daunan yang pada bagian tengahnya dan bagian sudutnya berhiaskan bentuk “Plata batu” atau monokol simblop artinya semua bagian-bagian tidak ada yang sama jadi hanya satu.

Antara menara-menara tersebut juga diselingi pelipit-pelipit mendatar. Yang sangat menarik adanya ukiran-ukiran yang berupa sepasang cakar yang diapit oleh Naga pada bagian atap gapura. Pada dinding kanan sayap gapura tedapat relief Ramayana sedang pada bagian kaki gapura kanan tangga masuk pada bidang menghadap ke selatan dan timur terdapat relief Sri Tanjung.


Catatan yang di dapat Mossaik menyebutkan, gapura ini dibuat sebagai prasasti peringatan wafatnya Jayanegara pada tahun Saka 1250 atau tahun 1328 Masehi. Meski sejarah Jayanegara teraba dengan samar, keberadaan Gapura Bajangratu sebagai sisa peninggalan sejarah Majapahit sangat sulit dipungkiri.

Bahkan ada yang menyebut, Bajangratu merupakan salah satu gapura kerajaan Majapahit. Menurut pendapat Sri Suyatmi menghubungkan dengan wafatnya Raja Jayanegara yang mangkat tahun 1328. Apabila pembangunan gapura dilaksanakan 12 tahun setelah pesta Srada maka pendirian gapura Bajangratu berlangsung tahun 1340.

Bentuk pintu sudah ada penyangga atap terbuat dari besi. Hal ini masih ada jenang pintu. Kemungkinan gapura ini dulunya berpintu dapat ditutup sebagaimana disebutkan dalam buku Negara Kertagama pintu terbuat dari besi yang berukir.


Candi Bajangratu dalam Mithos :

Ketika permaisuri raja Brawijaya V dari Majapahit yang bernama Dewi Arimbi sedang dalam keadaan hamil sang prabu memerintahkan untuk membangun sebuah gapura dengan maksud sebagai gerbang masuk ke tempat kediaman calon putra mahkota yang akan lahir. Dewi Arimbi adalah sebenarnya seorang puteri raksasa yang berasal dari Negeri Alengka. Ketika kandungan semakin tua dan melahirkan rahasia sang puteri diketahui oleh sang Prabu dan terdorong oleh rasa malu sang puteri kemudian meninggalkan istana dan ke hutan Damarwulan, di Kuncong Kediri.

Di sini sang puteri melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Arya Damar. Pembangunan gapura terpaksa tidak dilanjutkan hanya bagian kiri dan kanan gapura dipahatkan relief raksasa seolah-olah gambar Dewi Arimbi. Karena gapura ini gagal untuk Kraton maka kemudian dikenal dengan nama Bajangratu, artinya wurung tidak jadi ratu.


Cerita ini membekas di masyarakat terbukti masih ada kepercayaan tabu, bagi para pejabat pemerintah untuk memasuki gapuro karena akan membawa kesialan (wurung). Membaca sekelumit cerita tentang Bajang Ratu, angan kita dibawa "terbang" kembali di abad ke-13 silam. Jayanegara adalah pengganti Kertarajasa Jayawardana atau Raden Wijaya, sang pendiri Majapahit. Kitab Negarakertagama menyebut Jayanegara yang hidup antara tahun 1294-1328 Masehi dijuluki Kala Gemet. Nama ini ada dalam Kidung Rangga Lawe dan Pararaton yang biasanya dimainkan dalam pertunjukkan ketoprak.

Kala bermakna "kejahatan" dan gemet artinya "lemah". Kala Gemet menjadi olokkan rakyat jelata sebagai "raja jahat yang lemah". Sumber sejarah lain menyebutkan Jayanegara adalah putra Raden Wijaya dari seorang wanita keturunan Melayu yang bernama Dyah Dara Petak.

Faktor keturunan ini membuat Jayanegara gamang akan legitimasinya dibanding saudara-saudara tiri perempuan dari garis ibu asli keturunan Majapahit. Diperkirakan, latar belakang inilah yang mendorong Jayanegara bertekad mengawini Tribuwanatunggadewi, saudara tirinya sendiri. Namun, sebelum cita-cita itu kesampaian, ajal sudah menjemput Jayanegara saat meletus pemberontakan Kuti.






















SITI INGGIL

PERTAPAAN DAN MAKAM RADEN WIJAYA



Makam Siti Inggil merupakan tempat persinggahan dan pertapaan Raja Majapahit ke I (Raden Wijaya Kertajaya Jayawardhana). Dulu ceritanya adalah sebuah punden di Dusun Kedungwulan yang diberi nama “LEMAH GENENG” yang artinya Siti Inggil. Didepan makam Siti Inggil terdapat dua makam, yaitu makam Sapu Angin dan Sapu Jagat sehingga makam ini dikeramatkan dan sering dikunjungi wisatawan lokal maupun asing setiap Jum’at Legi. Lokasinya berada di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan.

Komplek Pertapaan Siti Inggil, Makam Selir, Makam Pengawal Raden Wijaya, Pintu masuk, Air Suci, Pintu Masuk Makam

CANDI SIMPING

( PEDHARMAAN RADEN WIJAYA )


Candi simping adalah Pedharman Raden Wijaya (raja pertama dari dinasti Majapahit) yang bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana. Keterangan ini terdapat pada kitab Negara Kertagama yang ditulis Empu Praspanca.

Oleh karena itu bisa dipahami raja Hayam Wuruk dalam kunjungannya ke daerah Blitar beberapa kali mampir di candi ini. Bahkan Hayam Wuruk dan Mahapatihnya, Gajahmada pernah menginap di candi ini.

Disebut juga candi Sumberjati, terletak didesa Sumberjati, Kecamatan Surah Wadang, Daerah Kademangan, Blitar Selatan. Dari arah Blitar kita ke jalan raya ke Tulung Agung, setelah melewati jembatan sungai Brantas, melintas ke kiri melalui jalan desa, penduduk setempat cukup faham lokasinya.

Saat ini candi Simping masih dalam keadaan berupa reruntuhan, namun pada saatnya, merupakan persemayaman abu jenazah Raden Wijaya (1293 – 1309 M), negeri kerajaan Majapahit dalam perwujudannya sebagai Hari-Hara (gabungan Wishnu dan Shiwa). Candi ini disebut-sebut di naskah Negarakertagama, dan direnovasi oleh Raja Hayamwuruk pada tahun 1285 Syaka (1363 M), kontruksi gambar yang dibuat oleh Dinas Kepurbakalaan menggambarkan candi ini indah dan ramping meninggi.

Pada batur candi setinggi 75 cm, panjang 600 cm dan lebar 750 cm ini terpahat relief berbagai macam binatang. Di antaranya Singa, angsa, merak , burung garuda, babi hutan dan kera. Di sisi barat ada tangga (flight step) yang dulu digunakan sebagai jalan masuk ke ruang candi. Di tengah-tengah batur candi ini terdapat batu berbentuk kubus dengan ukuran 75 cmx 75 cm x 75 cm. Pada bagian atas batu ini dipahat relief kura-kura dan naga yang saling mengkait mengitari batu tersebut. Tak jelas apa guna atau fungsi batu berbentuk kubus ini.

Para sejarawan memperkirakan batu ini berfungsi sebagai tempat sesajian untuk para desa. Pada badan candi yang direkontruksi di halaman candi terdapat hiasan-hiasan bermotif sulur-suluran dan bunga. Sementara pada mustaka candi terdapat pelipit-pelipit garis dan bingkai padma (bunga teratai).

Dari rentuhan yang ada diperkirakan bentuk candi Simping ini ramping (slime) sebagaimana bentuk jandi-candi Jawa Timuran. Di atas pintu utama dipahat kepala Kala yang kelihatan menyeramkan sebagai penjaga pintu Pahatan kepala kara ini, seperti umumnya kepala Kara model Jawa Timuran, tidak dilengkapi dengan Makara. Pada sisi utara, timur dan selatan terdapat cerukan yang masing-masing di atasnya juga terpahat patung Kala. Pahatan (patung) kepala Kala ini sekarang nampak berserakan di halaman candi.

Di halaman c
andi sebelah timur laut terdapat tiga buah Lingga-Yoni kecil. Tak jelas Lingga-Yoni ini dulu ditempatkan dimana. Hanya saja anehnya, pada bagian bawah Lingga untuk menancapkan ke Yoni ini tidak berbentuk silinder, tetapi segi empat. Sedangkan dibagian atas bersegi delapan.

Di dekat Lingga-Toni ini ada beberapa patung yang tak jelas patung siapa karena kepalanya sudah tidak ada sehingga tidak bisa dikenali. Di sudut tenggara halaman candi terdapat patung singa yang duduk di atas padmasana. Sayang patung singa ini kepalanya sudah tidak ada, tinggalm badanya saja. Sedangkan di sebelah selatan batur candi terdapat sebuah lingga miniatur c
andi. Diduga kuat di sini ada patung Hari Hara yang kini tersimpan di musium Jakarta.

Kondisi Candi Simping tidak memungkinkan untuk dipugar. karena terlalu banyak bagian candi yang hilang Kitab Negarakretagama menyebutkan candi itu merupakan tempat Raden Wijaya diperabukan. ”Akan tetapi, kitab itu juga menyebutkan bahwa Raden Wijaya diperabukan di Candi Brau Trowulan. Candi itu juga memiliki relief jenis pradasina, relief yang dibaca searah jarum jam. Biasanya relief pradasina tidak digunakan pada candi yang berfungsi sebagai makam

Peneliti di Balai Arkeologi Yogyakarta menulis bahwa kakawin Nagarakretagama mencatat Krtarajasa meninggal pada tahun Saka 1231 (1309 M) dan di-dharma-kan di Simping dengan sifat Siwaitis dan di Antapura dengan sifat Budhistis

Di Candi Simping itu sebenarnya ada arca setinggi 2 meter yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Dalam Negarakretagama disebutkan Hayam Wuruk berkunjung beberapa kali, hingga pada tahun Saka 1285 (1363 M) memindahkan candi makam Krtarajasa.

BABAD ARYA WANG BANG

Diceritakan Arya Wang Bang adalah , seorang keturunan brahmana. Pada zaman dahulu ada seorang pengawal turun ke Bali mendampingi Dalem Kresna Kapakisan. Beliau kemudian menguasai wilayah Tabanan. Beliau bernama Kyayi Ngurah Kenceng. Beliau beristrikan putri Pangeran Bendesa Tumbak Bayuh, dan mempunyai dua orang anak laki-laki.

1. Si Arya Rangong
2. Si Arya Ruju Bandesa.

Adapun beliau Arya Rangong amat iri hati terhadap adiknya. Kematian adiknya seakan-akan dicari-cari. Namun dia tidak berhasil karena amat besar cinta kasih para dewa terhadap Arya Ruju Bandesa. Ada lagi tipu muslihat Si Arya Rangong yaitu ada pohon beringin yang sangat besar dan tinggi, tempat persemayaman Jro Gede dari Nusa Kambangan. Pohon beringin itu sangat angker, berada di Puri Buahan. Si Arya Ruju Bandesa disuruh memangkas pohon beringin itu oleh kakaknya. Dia tidak menolak dan segera memangkas pohon beringin itu. Semua orang terpesona menyaksikan Si Arya Ruju Bandesa memangkas pohon beringin karena sama sekali tidak tertimpa bencana. Setelah itu, beliau bergelar Arya Notor Waringin, ia amat dicintai rakyat, bakti terhadap dewa, tidak henti-hentinya memuja Tuhan, dalam menciptakan kesejahteraan negeri.

Demikian seterusnya, sebuah candi pun telah didirikan oleh Arya Notor Waringin. Namun kakaknya Arya Rangong masih saja merasa iri hati kepadanya. Tiba-tiba dia minggat dari istana, berjalan menyusup ke tengah hutan, sambil memuji kebesaran Tuhan guna mendapatkan kekosongan. Tidak dikisahkan dalam perjalanannya, tiba-tiba dia telah sampai di pinggir sebuah danau dekat Desa Panarajon. Di sana dia bertemu dengan Pangeran Bandesa Tambyak. Mereka berdua saling memperkenalkan diri. Alangkah bahagianya Pangeran Bandesa Tambyak dapat bertemu dengan seseorang yang berbudi luhur.

Entah berapa lamanya Kyayi Notor Waringin berada di Desa Panarajon, bermain-main di tepi danau. Tiba-tiba Paduka Batara muncul di tengah danau. Mereka berdua segera menyembah, tidak berselang lama, akhirnya mereka berdua dipanggil untuk datang dan duduk di hadapan Paduka Batara. Mereka menyembah dengan hati yang suci bersih. Setelah selesai memuja, mereka disuruh naik ke puncak bukit. Mereka tidak menolak perintah Paduka Batara. Pada saat mereka berdua tiba di puncak bukit, mendampingi Paduka Batara, Kyayi Notor Waringin dianugerahi sebuah sumpit. Dia dipersilakan melihat daerah-daerah melalui lubang sumpit itu. Adapun daerah yang berhak dikuasainya, dari timur, barat, utara, dan selatan. Daerah-daerah itu nampak terang. Tetapi di arah barat laut terlihat sebuah desa yang gelap. Menurut Batara, konon daerah itu akan dikuasai oleh Ki Ngurah Arya Notor Waringin.

Demikian anugerah Batara kepadanya. Beliau Arya Notor Waringin kemudian menguasai daerah Badung, didampingi oleh teman dekatnya yang bernama Bandesa Tambyak. Setelah itu, Pangeran Bendesa Tambyak di anugerahi oleh temannya:

"Wahai Bandesa Tambyak, betapa besarnya cinta kasihmu terhadap diriku, baik pada saat suka maupun duka, sejak dulu sampai sekarang. Saat ini engkau dan aku berada di daerah Badung atas restu Paduka sejak dulu sampai kelak, tidak dapat dipisahkan, kita sehidup semati, demikian sampai kelak seluruh sanak keluarga dan keturunan Bandesa Tambyak tidak dikenai hukuman. Tidak dijatuhi hukuman mati, jika engkau mendapat hukuman mati, hal itu dapat dibayar dengan uang. Jika engkau didenda dengan uang, itu dapat diampuni. Harta milikmu tidak dapat dirampas. Jika engkau bersalah, engkau akan diusir dan terampuni".

Demikian anugerah raja Badung kepada Pangeran Tambyak. Entah berapa lamanya, Sri Anglurah Notor Waringin menjadi raja Badung, didampingi oleh abdi setianya yaitu Pangeran Tambyak, betapa sejahteranya negeri Badung. Tidak ada musuh yang berani menandingi baginda. Semakin hari semakin besar restu dan anugerah Batara kepada baginda. Beliau berhasil membunuh burung gagak siluman, sehingga dia diangkat sebagai menteri oleh Dalem, memimpin para menteri. Entah berapa lamanya Kyayi Notor Waringin memerintah negeri Badung, timbullah niat buruk Ki Bandesa Tambyak, dengan mengadakan huru-hara di istana. Karena itu dia disuruh menguasai desa-desa berikut penduduknya di daerah Bukit Pecatu. Ada pula yang diusir ke Sumerta, dan ada yang ke Desa Pahang. Semua keturunannya hidup tenteram. Tidak akan dikisahkan lebih jauh perihal Sri Anglurah Notor Waringin yang berkuasa di negeri Badung. Putra-putranya silih berganti, turun-temurun menjadi raja. Ada yang bertahta di Puri Tambangan, ada yang bertahta di Puri Denpasar, dan ada bertahta di Puri Kesiman.

Adapun Pangeran Bandesa Tambyak yang berada di Desa Pahang, kemudian mengungsi ke Desa Timbul Sukawati beserta istri, anak-anaknya dan Gusti Grenceng serta I Gusti Brasan. Entah berapa lamanya mereka berada di Sukawati, lalu mereka berpindah lagi, karena kekalahannya melawan Cokorda Karang. Gusti Brasan sudah lebih dulu kembali ke Badung bersama-sama Gusti Grenceng. Adapun Ki Bandesa Tambyak yang masih tertinggal di Sukawati menyamar menjadi Pangeran Pahang. Dia pun masih dikejar-kejar oleh I Dewa Nataran, karena itu ia lari untuk bersembunyi ke pinggir sungai Wos.

Setelah itu dia lari ke arah barat menuju Desa Mantring. Hujan dan angin ribut menyelimuti daerah di sekitar desa itu. Karenanya orang-orang yang mengejarnya kembali pulang. Di sana Pangeran Pahang menangis tersedu-sedu, katanya:
"Oh Tuhanku, Dewa dari semua Dewa, beserta Paduka Batara Sang Hyang Siwa Raditya, dan leluhurku yang berada di Desa Panarajon, dan Paduka Batara Dalem di Desa Pahang, lindungilah hamba dari kematian dan kejaran musuh".
Tiga empat kali, ia memuja Paduka Batara, Tiba-tiba dari pohon beringin itu muncul sinar, dan I Buta Panji Landung menampakkan diri, amat kasihan melihat Ki Bandesa Tambyak menangis di sisi tempat tidurnya:

" Wahai Bandesa Tambyak, aku menganugerahimu, agar engkau menemukan keselamatan". Ki Tambyak menjawab: " Oh Tuhanku, siapa gerangan yang masih menaruh belas kasihan terhadapku?" "Wahai Tambyak, aku adalah Buta Panji Landung, Dewa dari semua Dewa di pohon beringin ini. Wahai Tambyak, semoga engkau menemukan keselamatan, panjang umur, sanak keluarga dan keturunanmu mendapatkan kesejahteraan, dicintai oleh masyarakat, oleh semua mahluk, tidak tertimpa mara bahaya". "Sujud hamba kehadapan Batara abdi Paduka Batara tidak akan meninggalkan desa ini, supaya ada yang menyembah Paduka Batara di sini, sanak keluarga dan keturunan hamba turun-temurun tidak akan lupa menyembah Paduka Batara" "Wahai Bandesa Tambyak, janganlah engkau lupa akan janjimu".

Demikianlah anugerah Setelah itu beliau menggaib lagi. Karena itulah jalan itu dinamakan Rurung Panji. Tidak dikisahkan lagi keadaan Ki Tambyak, sekarang akan diceritakan Sri Agung Karang bertahta di daerah Tapesan. Negerinya amat Sejahtera, tidak jauh berbeda dengan kakaknya yang bertahta di Peliatan. Tidak diceritakan lagi Ida Dewa Agung Karang, kini akan diceritakan Ki Bandesa Tambyak yang menetap di Desa Celuk Mantring, sama-sama memiliki tempat tinggal. Setelah itu beliau memindahkan leluhurnya dari Desa Pahang, diwujudkan dalam bentuk Area Batara Siwa Raditya, dijadikan tempat persemayaman Batara Panji Landung yang berada di Madyasari. Demikian cerita Ki Bandesa Tambyak yang berada di Celuk Mantring. Sudah tersurat dalam lontar (prasasti).

BABAD KI TAMBYAK

Dikisahkan ada seorang brahmana sakti, datang ke Bali, menyertai Paduka Batara Putra Jaya yang bersemayam di pura Besakih, dan Sang Hyang Genijaya yang bersemayam di Gunung Lempuyang. Beliau adalah Begawan Maya Cakru yang gemar bertapa dan berasrama di Silayukti. Entah berapa hari lamanya baginda pendeta tinggal di Bali, dia pun bermain-main di Desa Panarajon di tepi Danau Batur. Tiba-tiba ia disusul oleh isterinya. Ketika tiba di Desa Panarajon, ia sangat kaget melihat isterinya menyusul perjalanannya. Baginda pendeta berkata:

"Wahai Adinda, apa sebabnya Adinda datang, menyusul perjalanan Kakanda, tanpa merasa lelah". Isterinya menjawab: "Sujud hamba kehadapan Paduka Pendeta, hamba berhasrat menyusul perjalanan Paduka". Begawan Maya Cakru menjawab: "Wahai istriku, Kakanda bermaksud menghadap Paduka Bhatari di Ulun Danu. Oleh karena Adinda sedang hamil, janganlah Adinda mengikuti Kakanda".

Ketika sang pendeta berkata demikian, tampak isterinya masih tetap bersikeras menyertai suaminya, agar dapat menghadap Paduka Bhatari. Mereka berjalan amat cepat. Tiba-tiba mereka sudah sampai di tepi Danau Batur, di sana ada sebuah batu datar terletak di bawah pohon kayu mas ( kayu sena ). Di sanalah isterinya duduk, oleh karena terlalu lelah dalam perjalanan. Tidak lama kemudian bayinya pun lahir dan jatuh di atas batu. Batu itu pecah. Baginda pendeta berkata:

"Wahai anakku yang baru lahir, aku terpesona menyaksikan kelahiranmu, jatuh di atas batu, namun engkau tidak cedera dan tetap hidup. Karena itu, aku memberikan nama I Tambyak. Sekarang aku akan kembali ke alam dewa (moksa), semoga engkau selaku keturunanku tetap bahagia, panjang umur, sampai kelak tetap dikasihi oleh raja-raja Bali".

Demikianlah kata-kata Begawan Maya Cakru, lalu beliau menggaib. Tidak dikisahkan lagi baginda pendeta, sekarang dikisahkan bayi itu sedang menangis menjerit-jerit di atas batu. Tidak panjang lebar dikisahkan, tersebutlah seorang Kabayan dari Desa Panarajon sedang bermain-main di tepi danau. Bayi itu dijumpai sedang menangis di bawah pohon kayu mas, lalu diambilnya. Bayi itu berhenti menangis. Kabayan Panarajon memungut bayi tersebut dan dijadikan anak angkat. Entah berapa hari lamanya, bayi itu dipelihara oleh orang-orang Bali Aga, ia tumbuh dengan sehat. Alangkah besarnya kasih sayang sekalian orang-orang Panarajon kepada si bayi. Ketika dia sudah bisa membalas budi baik penduduk desa-desa di sekitarnya, lalu ia bergelar Pangeran Tambyak.

Demikianlah ceritanya bahwa ada seorang rakyat di Desa Panarajon Batur amat pandai dalam berbagai ilmu pengetahuan, dan bertabiat mulia. Oleh karena baginda raja ingin mengetahui kehebatan Ki Tambyak, maka Ki Jro Kabayan Panarajon beserta anak angkatnya itu dipanggil agar menghadap ke istana. Demikian pula para menteri istana, antara lain Kebo Waruga yang memerintah di Blahbatuh, diikuti oleh prajurit pilihan. Arya Tunjung Tutur memerintah di Tenganan Pagringsingan juga diikuti oleh prajurit terpilihnya. Arya Kalungsingkal yang bertahta di Taro diikuti pula oleh para prajurit andalannya. Demikian pula Ki Pasung Grigis yang menguasai Desa Tengkulak didampingi oleh seorang prajurit terkemuka yang dijuluki Pasar Tubuh Bedahulu, siap-siaga sama-sama memegang senjata, mereka nampak sama-sama tegar, siaga dengan bekal keahlian dan kesaktian, akan bertanding mengadu kekuatan dengan I Tambyak Tidak diceritakan lebih jauh, mereka sudah tiba di kerajaan Batanyar, menghadap Sri Haji Tapohulung.

Selanjutnya, para prajurit itu disuruh membuat benteng pertahanan oleh baginda raja, di sebelah timur Desa Pejeng. Orang- orang Panarajon berada di utara. Orang-orang Tenganan, Blahbatuh, Tengkulak, Taro, ada yang berjaga di timur, di barat, dan di selatan. Lalu baginda raja muncul dikawal oleh Kebo Taruna, Kalungsingkal, Tunjung Tutur, dan Pasung Grigis. Itulah para menteri baginda raja Sri Haji Tapohulung. Dari kursi singasana emas, baginda raja memanggil seluruh prajuritnya untuk bersama-sama berperang melawan I Tambyak.

Majulah seorang prajurit Si Arya Pasung Grigis yang bernama I Kabayan Batu Sepih yang sudah siap siaga dengan senjatanya, yaitu keris Si Pedang Lembu, yang bersinar bagaikan pancaran sinar mercu. Orang-orang Bali selatan bersorak-sorai, silih berganti, oleh karena kemenangan baginda I Kabayan Batu Sepih, oleh karena beliau sudah termashur jaya dalam peperangan. Pada saat itu, orang-orang Panarajon nampak ketakutan. Si Kabayan Panarajon niscaya mampu menghadapi serangan musuh, karena itu Ki Tambyak disuruh bersiap siaga. Baginda raja menyuruh I Tambyak agar siap berlaga. Dia pun datang ke tengah medan laga, sama-sama menghunus keris. Suara kentongan bertalu-talu, tawa-tawa, kendang besar dan bunyi-bunyian mengalun, diiringi dengan suara gamelan, serta suara kendang dan gong beri yang berbarung gemuruh, suara gong itu menggema dibarengi sorak- sorai yang tiada putus-putusnya, sungguh bagaikan gelombang lautan.

Mereka berdua nampak siaga dan mulai mematukkan kerisnya, saling mengintai, saling tangkis, saling sodok, saling tendang, mereka sama-sama pandai memainkan pedang. Mereka bergulat saling tusuk, tubuhnya sama-sama melemas. Debu-debu pun tertidur karena diinjak-injak oleh orang yang sedang berlaga itu, sungguh-sungguh bagaikan peperangan Bima melawan Suyudana ketika mengadu kesaktian. Namun tiba-tiba dalam sekejap saja, Kabayan Batu Sepih terkena tusukan Ki Tambyak sehingga gugur terkapar di tanah. Karena Ki Pangeran Batu Sepih gugur maka seluruh prajuritnya berang. Abitah artinya dia tidak takut kepada orang banyak, pregitah artinya dia tidak takut menandingi musuh yang banyak, dan asayah artinya dia tidak takut mati di tangan musuh. Demikianlah dia tetap berlaga melawan musuh-musuhnya, bagaikan roda pemintalan, I Tambyak berputar-putar. Banyak prajurit yang gugur, tidak ada yang tidak patah lengannya, ada pula ususnya keluar, mayat bertumpuk-tumpuk bagaikan gunung di medan laga, oleh karena telah terbukti kehebatan I Tambyak.

I Tambyak disuruh berhenti berperang dan dipersilakan duduk oleh baginda raja. Dengan disaksikan oleh seluruh rakyat dan para menteri. Dia pun diberi pakaian kebesaran seorang patih serta perlengkapan lain yang utama. Oleh karena itu, dia lalu bergelar Ki Patih Tambyak. Entah berapa lama sudah Ki Tambyak menjabat patih, keadaan negeri sangat tenteram di bawah pemerintahan baginda raja Sri Haji Bedhamurdi yang sudah termashur di seluruh negeri. Tidak diceritakan lebih lanjut kejayaan baginda raja dalam memerintah Bali.

Sekarang dikisahkan Patih Tambyak menjadi teladan semua rakyat, dengan sentosa seluruh sanak keluarganya ikut serta menjaga negeri, turun-temurun menjadi patih. Diturunkan dari sifat ayahnya, maka segala bentuk upacara korban selalu dilaksanakan, adat-istiadat berlangsung sebagaimana tercantum dalam purana. Demikianlah keadaan negeri pada masa pemerintahan Patih Tambyak. Setelah berselang beberapa lama, Sri Haji Gajah Wahana dinobatkan menjadi raja Bali Aga. Namun tampak kejanggalan- kejanggalan pada masa pemerintahannya pertanda masa Kali sudah tiba. Sekarang dikisahkan kehancuran kerajaan Bedahulu yang disebabkan oleh serangan Majapahit di bawah pimpinan Patih Gajah Mada, yang membuat tipu muslihat dan menjalankan ajaran aji sukma kajanardanan.

Demikian misalnya terdengar berita kematian Kebo Taruna, tertangkapnya Pasung Grigis di daerah Tengkulak menyebabkan hancurnya kerajaan Bedahulu, juga karena kesaktian Arya Damar yang menguasai ilmu kadigjayan yang sempurna, Sri Haji Bedhamurdi terlebih dahulu meninggal, baginda Patih Kalungsingkal dibunuh oleh Arya Sentong.

Adapun Ki Patih Tambyak, beserta sanak keluarganya, ada yang mati, ada yang masih hidup, ada yang mengungsi terpencar ke sana-sini, ada yang menyusup ke desa-desa, ada yang ke sebelah utara gunung yaitu ke Desa Bungkulan, ada yang ke Jembrana, ada yang ke Tabanan, ada yang ke timur, ke selatan. Mereka tidak berani mengakui wangsanya. Di setiap desa yang disusupinya, mereka senantiasa mengaku keturunan Arya Bandesa. Adapun ketika masa kekalahan Bali Aga, di Bali tidak ada raja. Para dewa pun cemas menyaksikan kehancuran ini. Tersebutlah seorang pendeta suci yang bernama Dang Hyang Kepakisan. Beliau Adalah penasehat Patih Gajah Mada. Konon beliau lahir dari batu. Pada saat beliau memuja Dewa Surya (Surya Sewana), beliau bertemu dengan bidadari. Bidadari itu dinikahinya. Setelah beliau berputra, putra-putranya itu diminta oleh patih Gajah Mada sebagai raja. Yang paling tua dinobatkan di Blambangan, yang kedua bertahta di Pasuruhan, yang perempuan dinobatkan di Sumbawa, dan terkecil dinobatkan di Bali Aga, disertai oleh rakyat yang sakti dan kebal- kebal, serta bertabiat mulia.

Sungguh-sungguh bagaikan Kresna titisan Dewa Wisnu, nyata sekali baginda sudah mendalami Tri Radya. Setelah itu akan dikisahkan baginda Maharaja Kapakisan yang memerintah Bali yang kerajaannya diusahakan oleh patih Gajah Mada beserta pakaian kebesaran kerajaan dan sebilah keris yang bernama Si Ganja Dungkul, lengkap tidak ada yang kurang, serta didampingi oleh Arya Kanuruhan, Arya Wang Bang, Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Pangalasan, dan Arya Manguri. Di belakang Arya Wang Bang adalah Arya Kutawaringin dan tersebut pula Arya Gajah Para datang ke Bali dan menetap di Tianyar. Sedangkan Arya Kutawaringin bertempat tinggal di Toya Anyar. Hal itu disebabkan karena dahulu beliau itu ialah guru dari patih Gajah Mada yang kini menyertai perjalanan Arya Kapakisan ke Bali. Ada pula tiga orang Wesya yang berasal dari Majapahit yaitu Si Tan Kober, Tan Mundur dan Si Tan Kawur juga datang ke Bali.

Demikianlah Babad Ki Tambayak yang terdapat dalam lontar. Tidak akan dikisahkan lebih jauh mengenai pemerintahan Dalem beserta sanak keluarganya yang beristana di Harsapura (Klungkung).