Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 10 Januari 2010

ARTI LAMBANG PEMECUTAN


DAMAR
  • Simbul historis yang mengingatkan kita bahwa cikal bakal keluarga besar Puri Agung Pemecutan dari keturunan Arya Damar/ Adityawarman
  • Melambangkan kepribadian yang luhur dan melekat serta memancar dari diri Arya Damar agar dapat ditumbuhkan dan dikembangkan dengan subur didalam diri setiap orang yang merasa dirinya keturunan Arya Damar untuk diabdikan kepada Nusa dan Bangsa.

SINAR SINAR DARI DAMAR YANG UJUNG-UJUNGNYA MELUKISKAN PERSEGI DELAPAN

  • Adalah sinbul dari keturunan pendiri Puri Agung Pemecutan yang menyebar kedelapan penjuru angin, terutama di wilayah Badung yang menjadi para leluhur semua keturunan beliau selanjutnya harus selalu diingat dan dihormati

TULISAN AKSARA : ONGKARA

  • Adalah simbul dari Sang Hyang Widhi/ Tuhan yang Maha Esa. Ini berarti bahwa Warga Agrng Pemecutan mewajibkan anggotanya agar selalu takwa kepada Sang Hyang Widhi/ Tuhan yang Maha Esa serta memohon tuntunan dan waranugrahaNya.

TULUP EMPET (TANPA LUBANG)

  • Adalah symbol historis bahwa kejayaan pernah diperoleh dengan bersenjatakan tulup empet didalam menegakkan Dharma kembali.

PECUT

  • Adalah simbul historis bahwa kejayaan pernah diperoleh dengan bersenjatakan pecut (cambuk).
  • Mengingatkan kita pada sejarah asal usul nama tempat, nama puri berasal dari kata “Pecut” menjadi “Pemecutan” dan nama pendiri kerajaan Badung.
  • Simbul Identitas Warga Ageng Pemecutan

SEGI LIMA SAMA SISI DENGAN LATAR BELAKANG BUNGA NAGASARI

  • Organisasi Warga Ageng pemecutan berazaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945
  • Mengingatkan kita akan warisan leluhur berupa lima nilai-nilai luhur yang pernah dijadikan pedoman dan landasan di dalam melaksanakan kepemimpinan didalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat yang berhasil membawa kemegahan dan kejayaan yaitu :
    1. Kesusilaan
    2. Pageh ring keratin utami Rajaniti
    3. Satia Wecana
    4. Ngepah Ayu Semeton muwang jagat
    5. Bhakti ring Sang Hyang Widhi Wasa
  • Pimpinan dan Anggota Warga Ageng Pemecutan wajib memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Pancasila dan memelihara kelestarian nilai-nilai luhur warisan budaya bangsa dalam usaha menjaga dan memelihara nama baik keluarga Besar demi keharuman nama Warga Ageng Pemecutan.

WARNA KUNING

  • Simbul Kejayaan, kemegahan dan kemuliaan

WARNA PUTIH

  • Simbul kesucian yang mengingatkan kita agar selalu menegakkan kesucian pikiran, perkataan dan perbuatan atau menegakkan ajaran Tri Kaya Parisudha.

WARNA MERAH

  • Simbul Keberanian yaitu berani membela dan menegakkan kebenaran

WARNA HITAM

  • Simbul identitas Badung yang menurut cerita berasal dari kata Badeng yang artinya hitam

KESATUAN WARNA MERAH-HITAM-PUTIH

  • Simbul kemahakuasaan Sang Hyang Widhi/ Tuhan yang Maha Esa bahwa segala yang ada di dunia ini tidak terbebas dari hukum Tri Kona yang diciptakan, dihidupkan dan mati yang artinya segala yang hidup didunia ini terkait oleh hukum keterbatasan. Oleh karena itu seluruh Warga Ageng Pemecutan harus menyadari akan keterbatasan diri, karena itu tidak boleh takabur, angkuh dan sombong

TALI PENGIKAT DENGAN PINTA BERTULISKAN : RKA BANDHANA PEMECUTAN

  • Adalah simbul historis bahwa Puri Agung Pemecutan merupakan sebuah tali pengikat pesemetonan seluruh Warga Ageng Pemecutan.


    Nara Sumber :

    Sejarah Puri Gerenceng Pemecutan Badung dan Salah Satu Warihnya oleh A.A. Made Kaler

KRIAN PASUNG GRIGIS


PENYERANGAN PASUNG GRIGIS KE PULAU SUMBAWA

Selain melaporkan kemenangan tersebut Gajah Mada juga melaporkan keadaan di wilayah Pulau Sumbawa

“ Baginda Ratu, hamba mendengar kabar bahwa di Sumbawa berkuasa seorang raja tua yang amat sakti. Beliau bernama Prabu Dedelanata. Beliau berwajah dahsyat seperti raksasa, bertaring yang kukuh dan tajam, giginya bagaikan taji, matanya seperti barong, suaranya keras seperti guntur. Hamba punya pendapat untuk mengirim Krian Pasung Grigis ke Sumbawa untuk menaklukkan raja tua itu. Dialah satu satunya yang mempunyai kesaktian yang setingkat dengan raja tua itu “

Ratu Tribhuwana Tunbggadewi menyetujui usul tersebut dan meminta pendapat dari krian Pasung Grigis atas rencana tersebut.

“ Hamba sanggup Gusti Ratu, ijinkan hamba berangkat sendirian, jangan ragukan diri hamba, hamba tidak akan pindah haluan, hamba merasa diri hamba sebagai taklukan Majapahit dan akan mematuhi segala titah Ratu, hamba mohon diri doakan semoga hamba berhasil “

Pada hari yang sudah ditentukan berangkatlah Krian Pasung Grigis ke Pulau Sumbawa sendiri tanpa diiringi oleh prajurit. Beliau juga sudah mendengar kesaktian prabu Dedelanata dan dari dulu ingin mencoba kesaktiannya. Sekaranglah saatnya dengan hati yang penuh semangat Krian Pasung Grigis langsung menuju Istana Prabu Dedelanata dan menantang perang tanding.

“ Hai Dedelanata, aku datang untuk menantang kamu untuk bertempur. Aku adalah raja Bali yang berkedudukan di Desa Tengkulak, namun kedatanganku kemari bukan atas nama Bali tapi atas nama Majapahit karena aku telahmengabdi kepada Ratu Majapahit.

Mendengar tantangan tersebut Prabu Dedenata kemudian keluar dari Istananya menemui Krian Pasung Grigis

“ Kau rupanya Pasung Grigis, sudah lama aku mendengar kedigjayaanmu, tidak dinyana engkau telah tunduk dibawah kekuasaan Majapahit. Mari kita perang tanding untuk menunjukkan kedigjayaan kita “

Pasung Grigis bersiap untuk melakukan perang tanding dengan Prabu Dedelanata, namun sebelum perang tanding dimulai Kran Pasung Grigis mengusulkan untuk membuat perjanjian terlebih dahulu

“ Kalau aku kalah engkau boleh tidak tunduk kepada kekuasaan Majapahit, tapi kalau engkau kalah maka seluruh kerajaan dan rakyatmu harus tunduk kepada kekuasaan Majapahit “

Betapa marahnya prabu Dedelata mendengar tantangan tersebut dan menjawab tantangan dari Krian Pasung Grigis

“ Hai Pasung Grigis bilang sama Ratu Majapahit, Dedelanata tidak mau tunduk dibawah kekuasan Majapahit. Pulau Sumbawa akan aku pertahankan sampai titik darah penghabisan. Kalau aku kalah olehmu kerajaan beserta seluruh rakyatku boleh menjadi milik Majapahit. Kini didepan rakyatku aku berjanji bahwa aau tidak akan dibantu oleh sorangpun untuk melawan engkau. Dan kepada rakyatku semua engkau boleh menonton kesaktian rajamu.

Mendengar teriakan raja Dedelanata semua rakyat terdiam, tidak ada yang berani membuka suara , takut akan kewisesan raja mereka. Akhirnya perang tanding antara Raja Dedelanata dan Pasung Grigis terjadilah. Kedua tokoh tersebut sama sama sakti, licin dan sama sama kebal dan tidak seorangpun yang kelihatan mau mundur. Kedua tokoh tersebut ternyata memiliki ilmu kesaktian yang setingkat maka perang tandingpun berjalan seimbang sehingga menguras tenaga kedua tokoh tersebut. Sampai akhirnya keduanyapun kehabisan tenaga dan mati lemas.

Seluruh rakyat yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut seolah olah tidak percaya menyaksikan rajanya yang teramat sakti tersebut gugur bersama musuhnya. Karena Raja Dedelanata telah wafat maka sesuai amanat yang diberikan oleh raja mereka maka seluruh kerajaan dan rakyat Pulau Sumbawa menyatakan tunduk kepada kekuasaan Majapahit

DALEM KETUT NGULESIR (1380) RAJA BALI III

DALEM KETUT SEMARA KEPAKISAN


MENDIRIKAN KERAJAAN GELGEL

Pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir di Gelgel Dalem Ketut Ngulesir bertahta di Gelgel tahun 1383 M bergelar Dalem Ketut Semara Kepakisan, Beliau membangun istana di Gelgel di kebun kelapa milik Kriyan Kalapa Diana putra Arya Kutawaringin. Dalem Ketut Ngulesir mempersunting anak Arya Kebon Tubuh dan menurunkan putra Dalem Watur Enggong.

Berita pengangkatan Dalem ini didengar oleh Dalem Samprangan namun tidak bereaksi karena beliau sudah kehilangan gairah hidup. Para menteri dan pembantu Raja di Samprangan banyak yang berpindah ke Gelgel atas kemauan sendiri karena merasa lebih senang mengabdi kepada Dalem Ketut. Roda pemerintahan diatur dari Gelgel yang telah berganti nama menjadi Suwecapura. Sebagai ibukota Kerajaan Gelgel disebut Linggarsa Pura.

Demikian pula Kyai Agung Nyuhaya yang menjabat sebagai patih Agung Samprangan turut pindah ke Gelgel diikuti oleh putra tertuanya yaitu Kyai Petandakan dan menetap di Karang Kepatihan. Para Manca yang tinggal di pedesaan dan pegunungan mendengar berita ini lalu datang menyatakan dukungan dan kesetiaan kepada Dalem Ketut Ngulesir.


DIUNDANG KE MAJAPAHIT

Pada masa pemerintahan Sri Hayam Wuruk di Majapahit, diselenggarakan yajnya besar-besaran dengan mengundang raja-raja dari luar Majapahit. Dalem Ketut Ngulesir menghadiri undangan upacara/ yajnya itu. Berangkat dengan tata cara kebesaran diiringkan oleh pejabat- pejabat kerajaan, dengan pimpinan I Gusti Kubon Tubuh. Diuraikan tentang perjalanan rombongan raja Bali keindahan alam yang melatari perjalanan tersebut. Akhirnya tiba di Majapahit. Dilanjutkan dengan kisah suatu persidangan para raja, di mana raja Bali menjadi kekaguman para hadirin.

Semua raja raja bawahan mendapat penghargaan dari Raja Hayam Wuruk, sedangkan raja Bali dianugrahkan keris “Begawan Canggu” .Baginda menyaksikan tanda hitam (seperti tattoo) berbentuk gambar "Caurri", pada paha raja Bali kemudian raja-raja dari luar Majapahit kembali ke daerahnya masing-masing.

Pada waktu itu pula Dalem Ketut Ngulesir mengutus seseorang untuk mencari seorang Brahmana dari Keling yang konon sangat sakti dan termasyur. rencana raja Bali untuk melakukan "Podgala". Mengundang pendeta dari Keling bernama Jangganing Kayu Manis untuk "Nabe".


MENYELESAIKAN KESALAH PAHAMAN

Suatu kisah permohonan Kyayi Nyuhaya untuk membunuh Kyayi Gusti Abian Tubuh karena terjadi salah paham yang diakibatkan oleh perkawinan dengan Kyayi Gusti Abian Tubuh dengan I Gusti Ayu Adi, kakak kandung Kyayi Nyuhaya. Pertikaian itu, diselesaikan dengan cermat oleh raja Sri Smara Kepakisan, tercipta kekeluargaan yang terjalin akrab antara mereka.

Menyusul pengacauan harimau hitam di Blambangan, Raja Bali mengutus Kyayi Kubon Tubuh yakni untuk menumpasnya, harimau itu dapat dibunuh oleh Kyayi Kubon Tubuh. Kemudian raja Bali menghadiahkan "Piagam" dan Pura Dalem Tlugu, kepada Kyayi Gusti Kubon Tubuh, dan sebilah sumpitan bernama Ki Macan Guguh.


AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Baginda raja Sri Smara Kepakisan wafat, diganti oleh putranya yang sulung Dalem Waturenggong. Para menteri yang telah tiada, diganti oleh putra-putranya.

DALEM AGRA SAMPRANGAN

DALEM ILE/ ADIPATI BALI II


Sesuai dengan adat istiadat yang berlaku maka setelah Dalem Ketut Kresna Kepakisan wafat, maka beliau digantikan oleh putranya yang sulung yaitu: Dalem Agra Samprangan.

Di awal pemerintahan Dalem Sri Agra Samprangan (tahun 1373 M atau 1295 isaka) terasa situasi di Puri Samprangan memburuk, yaitu adanya upaya mengadu domba Raja dengan adik-adik beliau yang dilakukan oleh para Menteri dan pembantu dekat Raja.

Untuk menghindari pertengkaran, maka kedua adik Dalem yaitu Dalem Di-Madia dan Dalem Ketut, memilih tinggal di luar istana. Dalem Di-Madia membangun istana dan bermukim di Desa Tarukan, Pejeng, oleh karena itu beliau bergelar : Dalem Tarukan. Dalem Ketut, tidak menetap. Beliau berpindah-pindah dari satu Desa ke Desa lain, menyamar sebagai penjudi ayam aduan; penduduk lalu menjuluki beliau : Dalem Ketut Ngulesir.

Selain untuk menghindari pertengkaran, beliau berdua juga bermaksud menyelidiki dukungan rakyat Bali (Bali-Aga) terhadap pemerintahan Samprangan serta mengadakan pendekatan dengan rakyat. Ide Bethara Dalem Tarukan memilih Desa Tarukan di Pejeng sebagai istana, karena dekat dengan rakyat Bedahulu yang sebagian besar masih belum mengakui pemerintahan Samprangan.


SISTEM PEMERITAHAN

Dalem Samprangan tidak sukses dalam mengendalikan roda pemerintahan karana wataknya yang lamban dan gemar bersolek sehingga diberikan julukan Dalem Ile. Akhirnya baginda kurang berwibawa di mata masyarakat

Sementara itu pergolakan di Puri Samprangan makin memanas, ditandai dengan pemberian julukan yang tidak pada tempatnya kepada Raja, di mana Dalem Sri Agra Samprangan diberi julukan Dalem Ile (Ile=gila), Dalem Tarukan dinyatakan "rangseng" (=gila karena marah), dan Dalem Ketut dinyatakan sangat suka berjudi, khususnya mengadu ayam.

Julukan tidak pada tempatnya yang diberikan kepada para Raja itu sangat bertentangan dengan ajaran agama Hindu yang senantiasa mengajarkan penghormatan tinggi kepada Pemimpin Pemerintahan. Penghinaan kepada Raja itu jelas fitnah, karena jika benar adanya, pasti Maha Raja Majapahit dan Maha Patih Gajah Mada tidak akan tinggal diam. Tindakan pemecatan atau penggantian Raja pasti dilakukan. Selain itu, jika julukan itu benar, para musuh, yaitu rakyat Bedahulu akan mempunyai peluang yang baik untuk menggulingkan Pemerintahan Samprangan

Pada masa pemerintahan Dalem Agra Samprangan, para Arya pejabat-pejabat mentri terdahulu kebanyakan telah lanjut usia, sehingga untuk menjabat kedudukan sebagai mentri digantikan oleh para putra Arya itu masing-masing. Para mentri semakin cemas akan kehancuran yang mengancam keutuhan kerajaan Bali karena gejala perpecahan semakin menonjol.

Akhirnya Kyai Klapodnyana (Kyai Kubaon Tubuh) bendesa Gelgel putra pertama Arya Kutawaringin, dengan tegas mengambil keputusan untuk mencari I Dewa Ketut Ngulesir, hendak dinobatkan menjadi raja, dengan penuh tanggung jawab dan segala resiko yang ditimbulkan. Sebab I Dewa Tegal Besung masih kanak-kanak, belum pantas dinobatkan sebagai kepala pemerintahan.

Setelah mengadakan musyawarah para Arya dan berikrar yang tempatnya di pura Dalem Tugu (Gelgel) dan setelah mencapai kata sepakat, rombongan yang dipimpin sendiri oleh Kyai Klapodnyana berangkat mencari I Dewa Ktut Ngulesir. Kemudian rombongan tiba di desa Pandak (Tabanan), di mana I Dewa Ketut Ngulesir didapati sedang berada di tempat judian.

Tanpa ragu-ragu dengan sangat sopan dan hormat, serta dilandasi dengan ketulusan hati yang mendalam, memohon perkenan I Dewa Ketut Ngulesir untuk kembali ke Istana menduduki singgasana kerajaan, supaya kerajaan Bali terhindar dari malapetaka kehancuran, sebab tidak ada pilihan lain lagi.

Dalem Agra Samprangan setelah menerima hal itu, tidak menghiraukan kedudukannya I Dewa Ktut Ngulesir di Gelgel, demikian pula sebaliknya Dalem Ktut tidak durhaka atas kekuasaan Dalem Samprangan. Jadi seolah-olah dua kerajaan kembar yang saling menghormati, sampai saat wafatnya Dalem Agra Samprangan, yang berarti berakhirnya kerajaan Samprangan dan menjadi besarnya kerajaan Gelgel.


KETURUNAN DALEM SAMPRANGAN

Menurut Babad Dalem , Sri Agra Samprangan mempunyai putra :
  1. I Dewa Gedong Artha
  2. I Dewa Nusa
  3. I Dewa Anggunan
  4. I Dewa Pagedangan
  5. I Dewa Bangli

KEHANCURAN PURI TARUKAN

Setelah selesai membangun Puri, Dalem Tarukan menikahi seorang gadis dari Gunung Lempuyang. Karena belum mempunyai putra, beliau mengajak kemenakannya, yaitu cucu Dalem Wayan, Raja Blambangan, bernama: Kuda Penandang Kajar untuk tinggal bersama-sama di Puri Tarukan. Kuda Penandang Kajar adalah seorang pemuda yang tampan, gagah, dan mempunyai kekuatan batin yang tinggi, khusus untuk meneliti apakah tanah ada kandungan emasnya atau tidak. Karena itulah Puri Tarukan sangat mewah dan terkesan kaya raya karena dipenuhi ornamen emas murni. Dalem Tarukan sangat menyayangi kemenakannya.

Pemerintahan Samprangan di ambang kehancuran, karena tidak adanya dukungan dari para Menteri dan pembantu Raja. Dalem Wayan merasa perlu memanggil adik beliau yaitu Dalem Ketut untuk diajak kembali tinggal di Puri Samprangan. Maksudnya agar Dalem Ketut turut membantu beliau menyelenggarakan pemerintahan. Perbekel Kaba-Kaba diutus beliau untuk menjemput Dalem Ketut ke Desa Pandak, tetapi Dalem Ketut menolak karena beliau merasa belum mampu memimpin kerajaan di Samprangan. Jika Samprangan telah dipenuhi oleh para menteri dan pembantu Raja yang tidak setia, apakah beliau akan dapat memimpin dengan baik ?

Sementara Dalem Ketut mencari jalan keluar memecahkan masalah ini, datanglah Kuda Penandang Kajar sebagai utusan Dalem Tarukan memohon Dalem Ketut pulang untuk memimpin Kerajaan Samprangan. Dalem Tarukan sendiri tidak berniat menjadi Raja, karena beliau lebih tertarik kepada profesi kepanditaan.

Pesan lain yang disampaikan Kuda Penandang Kajar adalah, jika Dalem Ketut berkenan, beliau dibolehkan menggunakan istana Tarukan. Walaupun penjemputan kali ini penuh penghormatan dan kemewahan, misalnya dengan kuda tunggangan istimewa bernama I Gagak dan sebuah keris milik Dalem Tarukan yang bernama I Pangenteg Rat, Dalem Ketut tetap menolak permintaan kakaknya itu, sekali lagi dengan alasan belum mampu memimpin atau menjadi Raja.

Kecewa karena tugasnya tidak berhasil, Kuda Penandang Kajar kembali ke Tarukan dengan lesu. Di perjalanan beliau disambar burung gagak hingga destarnya jatuh. Sesampainya di gerbang istana Tarukan, dilihatnya puncak gelung kuri terpenggal. Hanya Kuda Penandang Kajar yang melihat demikian, sementara para pengiringnya tidak melihat puncak gelung kuri itu terpenggal. Pertanda buruk ini terkesan mendalam di hati Kuda Penandang Kajar, sampai-sampai beliau jatuh sakit. Dalem Tarukan prihatin pada sakit yang diderita kemenakannya ini.

Sementara itu tersiar berita yang mengagetkan, bahwa para panglima perang Samprangan merencanakan memerangi Kerajaan Blambangan. Dalem Tarukan tidak setuju dengan rencana itu, mengingat bahwa Dalem Blambangan, yaitu ayah Kuda Penandang Kajar, masih saudara sepupu beliau. Dalem Tarukan berpendapat bahwa rencana itu mempunyai latar lain, mungkin saja gerakan merebut kekuasaan, yaitu bila prajurit dikerahkan ke Blambangan, Dalem Wayan akan mudah digulingkan.

Dalem Tarukan cepat mengambil inisiatif untuk mengikat tali persaudaraan antara Samprangan dengan Blambangan, yaitu dengan menikahkan Kuda Penandang Kajar dengan putri Dalem Wayan, bernama I Dewa Ayu Muter. Dengan ikatan tali persaudaraan itu, perang dapat dicegah. Sakitnya Kuda Penandang Kajar menjadi suatu jalan untuk memohon restu para Dewata. Jika Dewata mengijinkan pernikahan ini, kesembuhan Kuda Penandang Kajar menjadi suatu batu ujian. Pertimbangan lain, Dalem Tarukan melihat bahwa Kuda Penandang Kajar sudah cukup dewasa, dan dari gelagat sehari-hari nampaknya tertarik kepada I Dewa Ayu Muter. Terucaplah tegur sapa Dalem Tarukan kepada Kuda Penandang Kajar:
  • Duhai anakku, segeralah sembuh; ayah berkeinginan mengawinkan anak dengan I Dewa Ayu Muter.
Ternyata permohonan Dalem Tarukan kepada para Dewata terkabul. Kuda Penandang Kajar segera sembuh dan sehat seperti semula. Tentu saja Dalem Tarukan sangat bergembira. Kini beliau merencanakan mewujudkan perkawinan kedua muda-mudi itu. Untuk meminang tentu saja tidak mungkin, karena posisi Dalem Wayan sangat lemah. Beliau hampir tidak dapat memutuskan sesuatu. Semua keputusan diambil oleh para Menteri.

Akhirnya dilaksanakanlah perkawinan secara adat kawin-lari. Awalnya perkawinan itu berjalan lancar, sampai pada malam hari terjadi hal yang merupakan akhir dari keberadaan Puri Tarukan. Kedua mempelai yang sedang berbulan madu di peraduan, tewas berbarengan tertusuk senjata keris.

Seorang abdi perempuan pengasuh I Dewa Ayu Muter di Puri Samprangan melaporkan secara tergesa-gesa kepada Dalem Wayan bahwa putri beliau satu-satunya , yaitu I Dewa Ayu Muter, semalam telah tewas di Puri Tarukan terbunuh oleh Ki Tanda Langlang. Dalem Wayan tentu saja sangat terkejut dan segera memanggil para menterinya. Seorang panglima perang menyampaikan ceritra yang lengkap, serta memperkuat keyakinan Dalem Wayan bahwa putri beliau bersama-sama Kuda Penandang Kajar benar telah tewas ditikam Ki Tanda Langlang.

Betapa murkanya Dalem Wayan setelah mendapat penjelasan para Menterinya itu. Segera disuruhlah memukul kentongan dengan suara "bulus" sehingga para prajurit segera berkumpul di halaman istana. Di saat itu Dalem Wayan memerintahkan pasukan Dulang Mangap yang dipimpin Panglimanya Kiyai Parembu, menyerang menghancurkan Puri Tarukan serta menangkap Dalem Tarukan hidup atau mati.

Dengan bersorak gegap gempita pasukan itu bergegas menuju Puri Tarukan.Kini diceritakan Ide Bethara Dalem Tarukan di Puri Tarukan. Betapa sedih dan terkejutnya beliau menyaksikan nasib yang tragis menimpa putra kesayangannya bersama menantunya yang meninggal di kamar pengantin justru pada malam pertama yang seharusnya berkesan sangat bahagia.

Beliau sadar bahwa kejadian ini adalah puncak upaya yang sangat keji dari orang-orang yang ingin menguasai kerajaan Samprangan. Beliau ingin menyelesaikan masalah ini melalui pembicaraan dengan kakak beliau, tetapi nampaknya keadaan sudah tidak memungkinkan lagi karena Dalem Wayan sudah termakan fitnah.

Terdengar pula berita bahwa pasukan Dulang Mangap sedang menuju Puri Tarukan untuk menangkap beliau dan menghancurkan Puri Tarukan. Di saat yang berbahaya itu beliau cepat berpikir dan kemudian dikumpulkanlah semua prajurit Tarukan. Beliau meminta agar bila pasukan Dulang Mangap datang, prajurit Tarukan menyerah, tidak melawan, dengan cara membuang senjata dan duduk bersila di tanah dengan posisi kedua tangan memeluk tengkuk (leher bagian belakang).

Beliau juga meminta agar permaisuri tetap tinggal di istana dan menyerah kepada Dalem Wayan. Betapa sedih dan pilu hati permaisuri tiada terperikan. Ingin beliau menyertai Dalem Tarukan pergi ke mana saja, tetapi itu tidak mungkin karena beliau sedang hamil besar.

Prajurit Tarukan juga tidak mau menyerah begitu saja. Mereka sangat mencintai Dalem Tarukan dan meminta diijinkan menghadapi pasukan Dulang Mangap sampai habis-habisan (perang puputan). Dalem Tarukan tidak mengijinkan. Beliau mengingatkan bahwa masalah ini adalah masalah pertikaian antar keluarga, yaitu beliau dengan kakak beliau, Dalem Wayan.

Beliau tidak ingin karena pertikaian keluarga ini lalu rakyat yang menjadi korban sia-sia. Dengan berat hati beliau juga berpesan kepada permaisuri agar baik-baik menjaga putranya yang masih di kandungan. Permaisuri tetap berlutut meratapi keputusan Dalem Tarukan. Dalem Tarukan berusaha menenangkan permaisuri dengan mengatakan bahwa kejadian ini sudah kehendak Dewata. Kita sebagai manusia tiada daya menolak kehendak Yang Maha Kuasa. Karena itu pasrahlah; serahkanlah hidup mati kita kepada-Nya.

Setelah itu beliau segera berangkat seorang diri ke arah utara. Pasukan Dulang Mangap di bawah Panglimanya Kiyai Parembu dengan teriakan-teriakan histeris bagaikan serigala haus darah, tiba di Puri Tarukan. Mereka terheran-heran karena melihat semua pasukan dan rakyat Tarukan menyerah total tanpa perlawanan, bahkan duduk bersila dengan pandangan menunduk memandang tanah. Sesuai aturan perang, seorang kesatria tidak akan membunuh pasukan yang sudah menyerah apalagi tanpa senjata.

Mereka masuk ke istana, memeriksa setiap sudut tetapi tidak menjumpai jejak Dalem Tarukan. Mereka hanya menemukan permaisuri beliau yang bersimpuh berurai air mata. Pasukan Dulang Mangap lalu menjarah isi Puri Tarukan dan membakar sampai habis Puri Tarukan. Para tawanan digiring ke Puri Samprangan. Kejadian yang memilukan ini terjadi pada tahun 1377 M atau 1299 isaka.


DALEM KETUT SRI KRESNA KEPAKISAN

DALEM WAWU RAWUH
ADIPATI BALI I SETELAH EKSPEDISI MAJAPAHIT
WAKIL KERAJAAN MAJAPAHIT DI BALI


Setelah kekalahan Kerajaan Bedulu maka Pulau Bali dapat dikuasai sepenuhnya oleh Majapahit maka Pemerintahan sementara diserahkan kepada Mpu Jiwaksara yang kemudian bergelar Ki Patih Wulung. B
eliau menempatkan pusat Pemerintahan di Gelgel. - Namun demikian walaupun Bali sudah dikalahkan Majapahit, tidak berarti rakyat dan tokoh-tokoh Bali Aga sudah menyerah. sering terjadi perselisihan antara orang-orang Bali-Aga dengan pasukan Majapahit yang ditugaskan menjaga keamanan di Bali.

Penyerahan Kekuasaan oleh Patih Gajahmada
Kepada Sri Dalem Kresna Kepakisan


Mereka terus mengadakan perlawanan di bawah tanah, dan sekali-se
kali muncul ke permukaan, misalnya pemberontakan yang dipimpin oleh Ki Tokawa di Ularan, dan Ki Buwahan di Batur. satunya orang yang masih disegani pada waktu itu adalah Patih Ulung tetapi tidak mempunyai wewenang apapun untuk mengatasi situasi yang tidak tentram di Bali.

Situasi menjadi makin tidak menetu karena para Arya dari Jawa kurang mengindahkan kekuasaan pemerintahan sementara tersebut. Setelah tujuh tahun barulah pemberontakan-pemberontakan dapat dipadamkan, namun rakyat Bedahulu masih belum mau menerima kehadiran "si-penjajah" sepenuh hati.

Melihat keamanan sudah membaik dan Pemerintahan sudah dapat berjalan sebagaimana mestinya, maka pada tahun 1350 M atau 1272 isaka, terdorong oleh keinginan luhur untuk menjaga keutuhan Bali maka Patih Ulung bersama dua orang keluarganya Arya Pemacekan dan Arya Kepasekan memberanikan diri menghadap ke Majapahit yang bertujuan melaporkan situasi di Bali dan memohon penunjukan seorang Raja di Bali Dwipa yang mampu meredakan ketegangan di Bali.

Kemudian atas saran Patih Agung Gajah Mada, pada tahun itu juga dilantiklah empat orang Raja, putra-putri Sri Soma Kepakisan, untuk memimpin kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukkan, yaitu:

  1. Ida Nyoman Kepakisan menjadi Raja di Blambangan
  2. Ida Made Kepakisan menjadi Raja di Pasuruan,
  3. Ida Nyoman Istri Kepakisan/Dalem Sukanya diperistri Raja Sumbawa
  4. Ida Ketut Kresna Kepakisan menjadi Raja di Bali Dwipa.
Sri Soma Kepakisan Adalah penasehat Patih Gajah Mada. Konon beliau lahir dari batu. Pada saat beliau memuja Dewa Surya (Surya Sewana), beliau bertemu dengan bidadari. Bidadari itu dinikahinya. Setelah beliau berputra, putra-putranya itu diminta oleh patih Gajah Mada sebagai raja di wilayah yang sudah ditaklukan oleh Majapahit . Sebelum itu Ki Patih Gajah Mada sudah memohon putra Ida Mpu Danghyang Soma Kepakisan - sebagai pendeta guru utama di Kediri, yang bernama Ida Sri Kresna Kepakisan, untuk diasuh di Majapahit. Ida Mpu Soma Kepakisan itu tiada lain saudara dari Ida Mpu Danghyang Panawasikan, Ida Mpu Danghyang Siddhimantra dan Ida Mpu Asmaranatha.

Pada saat di Bali serta daerah lain tidak memiliki penguasa, serta dalam upaya menyelenggarakan Kesejahteraan di masing-masing wilayah, maka sesuai dengan perintah Raja Majapahit, Mahapatih Gajah Mada meminta putra Ida Sri Kresna Kapakisan yang sudah dewasa untuk dijadikan penguasa atau Dalem di Bali.

"Pakis" berarti Paku. Gelar Kepakisan diberikan kepada Brahmana yang ditugasi sebagai Raja (Dalem) atau Kesatria. Gelar Kepakisan yang diberikan kepada Kesatria adalah: Sira-Arya Kepakisan. Beliau adalah keturunan Sri Jayasabha, berasal dari keturunan Maha Raja Airlangga, Raja Kahuripan (Jawa). Gelar "Paku"
di Jawa pertama kali digunakan oleh Susuhunan Kartasura: Paku Buwono I pada tahun 1706 M.

diceritakan Mpu Wira Dharma berputra tiga orang yaitu: Mpu Lampita, Mpu Adnyana, Mpu Pastika. Selanjutnya Mpu Pastika berputra dua orang yaitu: Mpu Kuturan berasrama di Lemah Tulis dan Mpu Beradah pergi ke Daha serta menjadi pendeta kerajaan (bhagawanta) dari Raja Airlangga dan dikaitkan dengan cerita Calonarang yang amat terkenal di Bali. Kemudian Mpu Beradah berputra seorang yang bernama Mpu Bahula yang kemudian kawin dengan Ratnamanggali. Dari perkawinan ini lahirlah beberapa putra: Mpu Panawasikan, Mpu Asmaranatha, Mpu Kepakisan dan Mpu Sidimantra.

Akhirnya Mpu Panawasikan berputra: Mpu Angsoka, Mpu Nirartha. Mpu Kepakisan yang berputra empat orang yaitu: tiga putra dan seorang putri. Putra yang bungsu Mpu Kresna Kepakisan diangkat menjadi raja di Bali.

Dengan demikian
Sri Kresna Kepakisan yang menjadi Raja di Bali adalah dari keturunan Brahmana yang kebangsawanannya diubah menjadi kesatrya atau dari Danghyang/ Mpu menjadi Sri.


B. PENGANKATAN DINASTI SRI KRESNA KEPAKISAN

Dalem Ketut kemudian bergelar Dalem Sri Kresna Kepakisan, mulai memimpin Pemerintahan Kerajaan Bali Dwipa pada tahun 1350 M atau 1272 isaka. Oleh penduduk Bali beliau disebut sebagai I Dewa Wawu Rawuh atau Dalem Tegal Besung. Dalam Perjalanannya dari Majapahit ke Pulau Bali rombongan dari majapahit mendarat di pantai Lebih, kemudian ke arah timur laut menuju Samprangan

Penyerahan Kekuas
aan oleh Patih Gajahmada
Kepada Sri Dalem
Kresna Kepakisan

Dalam pemerintahannya Dalem Sri Kresna Kepakisan didampingi oleh
Arya Kepakisan/ Sri Nararya Kresna Kepakisan yang menjabat sebagai Patih Agung berasal dari Dinasti Warmadewa yang merupakan keturunan Raja atau Kesatrya Kediri. Sehingga baik Adipati maupun Patih Agungnya berasal dari satu desa yaitu desa Pakis di Jawa Timur sehingga setibanya beliau di Bali menggunakan nama yang hamper sama yaitu Adipatinya bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan sedangkan patih agungnya bergelar Arya Kepakisan atau Sri Nararya Kresna Kepakisan

Dalam pemerintahannya dalem didampingi oleh Ki Patih Wulung yang menjabat sebagai Mangku Bumi. Ibu kota Kerajaan dipindahkan dari Gelgel ke Samprangan (Samplangan). Dipilihnya Daerah Samprangan karena ketika ekspedisi Gajah Mada, desa Samprangan mempunyai arti historis, yaitu sebagai perkemahan Gajah Mada serta tempat mengatur strategi untuk menyerang kerajaan Bedahulu. Dalam kenyataan menunjukkan bahwa jarak desa Bedahulu ke Samprangan hanya kurang lebih 5 km.

Dari Babad Dalem diketahui bahwa dalam menjalankan pemerintahan sebagai wakil dari Majapahit di Pulau Bali Dalem Sri Kresna Kepakisan dibekali dengan pakaian kebesaran kerajaan dan sebilah keris yang bernama
Si Ganja Dungkul yang memberikan konsep kebudayaan yang memadukan kebudayaan Jawa dengan Bali, dan tanda-tanda kebesaran itu berfungsi sebagai symbol atau lambang kekuasaan yang sah.

Dalem Sri Kresna Kepakisan beristri dua, yaitu yang pertama:

Ni Gusti Ayu Gajah Para, merupakan putri dari Arya Gajah para melahirkan:
  1. Dalem Wayan (Dalem Samprangan)
  2. Dalem Di-Madia (Dalem Tarukan)
  3. Dewa Ayu Wana (putri, meninggal ketika masih anak-anak)
  4. Dalem Ketut (Dalem Ketut Ngulesir). I
Dari Istri yang kedua: Ni Gusti Ayu Kuta Waringin merupakan putri dari Arya Kutawaringin , melahirkan:
  1. Dewa Tegal Besung.

C. SISTEM PEMERINTAHAN


Masa pemerintahan Sri Kresna Kepakisan di Bali merupakan awal terbentuknya dinasti baru yaitu dinasti Kresna Kepakisan yang kemudian berkuasa di Bali sampai awal abad ke-20 (1908). Beliau membawa pengaruh-pengaruh baru dari Majapahit termasuk para bangsawan. Bangsawan baru ini merupakan kelompok elite yang menempati status dan peranan penting atas struktur pelapisan masyarakat Bali. Hal ini sekaligus menggeser kedudukan dan peranan bangsawan dari kerajaan Bali Kuno.

Semasa pemerintahan Sri kresna Kepakisan di Samprangan diwarnai dengan pemberontakan-pemberontakan di desa-desa Bali Aga seperti: desa Batur, Cempaga, Songan, Kedisan, Abang, Pinggan, Munting, Manikliyu, Bonyoh, Katung, Taro, Bayan, Tista, Margatiga, Bwahan, Bulakan, Merita, Wasudawa, Bantas, Pedahan, Belong, Paselatan, Kadampal dan beberapa desa yang lain.

Atas peristiwa pemberontakan yang terus-menerus Dalem merasa putus asa dan mengirim utusan ke Majapahit, melaporkan bahwa Dalem tidak mampu mengatasi situasi di Bali. Untuk memecahkan persoalan ini, Gajah Mada memberikan nasehat kepada Kresna Kepakisan, serta simbul-simbul kekuasaan dalam bentuk pakaian kebesaran dan keris pusaka Ki Lobar disamping keris yang bernama Si Tanda Langlang yang terlebih dahulu belia bawa.


D. SISTEM PEMERINTAHAN

Raja yang dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia, memegang otoritas politik tertinggi dan menduduki puncak hierarki kerajaan. Dalam melaksanakan pemerintahan, raja dibantu sejumlah pejabat birokrasi. Para putra dan kerabat dekat raja diberi kedudukan tinggi dalam jabatan birokrasi. Para putra mahkota sebelum menjadi raja biasanya mereka diberi kedudukan sebagai raja muda (Yuwaraja). Raja dibantu oleh suatu lembaga yang merupakan dewan pertimbangan pada raja. Anggotanya ialah para sanak saudara raja. Dalam kekawin Negara Kertagama disebut dengan nama Pahem Narendra

Jabatan yang lain ialah Dharma Dhyaksa ialah pejabat tinggi kerajaan yang bertugas menjalankan fungsi yurisdiksi keagamaan. Ada dua Dharma Dhyaksa yaitu Dharma Dhyaksa ring Kasaiwan untuk urusan agama Siwa, dan Dharma Dhyaksa ring Kasogatan untuk urusan agama Budha. Dalem Sri Kresna Kepakisan dalam menjalankan pemerintahannya di bantu oleh para Arya yang terlebih dahulu menetap di Bali yang kedatangannya bersamaan dengan ekspedisi Majapahit bersama Patih Gajah Mada juga dibantu para Arya yang menyertai perjalanan Dalem Sri Kresna Kepakisan dari Majapahit ke Bali.


Para arya tersebut diantaranya :
  1. Arya Kenceng mengambil tempat di Tabanan
  2. Arya Kanuruhan mengambil tempat di Tangkas
  3. Kyai Anglurah Pinatih Mantra di Kertalangu
  4. Arya Dalancang mengambil tempat di Kapal
  5. Arya Belog mengambil tempat di Kaba Kaba
  6. Arya Pangalasan
  7. Arya Manguri
  8. Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas mengambil tempat di Toya Anyar
  9. Arya Temunggung mengambil tempat di Petemon
  10. Arya Kutawaringin bertempat tinggal di Toya Anyar Kelungkung
  11. Arya Belentong mengambil tempat di Pacung
  12. Arya Sentong mengambil tempat di Carangsari
  13. Kriyan Punta mengambil tempat di Mambal
  14. Arya Jerudeh mengambil tempat di Tamukti
  15. Arya Sura Wang Bang asal Lasem mengambil tempat di Sukahet
  16. Arya Wang Bang asal Mataram tidak berdiam di mana-mana
  17. Arya Melel Cengkrong mengambil tempat di Jembrana
  18. Arya Pamacekan mengambil tempat di Bondalem
  19. Sang Tri Wesya: Si Tan Kober di Pacung, Si Tan Kawur di Abiansemal dan Si Tan Mundur di Cegahan
Demikian dikatakan di Babad Dalem.


E. KEHIDUPAN KEAGAMAAN

Mengenai kehidupan beragama pada masa kerajaan Samprangan tidak begitu banyak diketahui karena kerajaan Samprangan berlangsung tidak begitu lama yaitu kurang dari setengah abad. Selain itu keadaan pemerintahan belum stabil sebagai akibat munculnya pemberontakan pada desa-desa Bali Aga. Agama yang dianut masyarakat pada masa ini adalah diduga Siwa-Budha, dimana dalam upacara-upacara keagamaan kedua pendeta itu mempunyai peranan yang penting.

Kehidupan Masyarakat Bali
Jaman Dulu

Apabila ditinjau dari segi jumlah penganut dan pengaruhnya, agama Siwa tergolong lebih besar dari agama Budha, karena menurut sumber-sumber arkeologi agama Siwa berkembang lebih dulu dari agama Budha. Agama Siwa yang dipuja ketika ini adalah dari aliran Siwa-Sidhanta dengan konsep ke-Tuhanannya yang disebut Tri Murti yaitu tiga kemahakuasaan Hyang Widhi: Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Ketiga Dewa Tri Murti tadi akhirnya dimanifestasikan ke dalam setiap desa adat di Bali yang terkenal dengan nama Pura Kahyangan Tiga, yaitu: Pura Desa/Bale Agung sebagai sthana dari Dewa Brahma, Pura Puseh sthana Wisnu dan Pura Dalem sthana Siwa. Selain pura-pura untuk pemujaan Hyang Widhi beserta manifestasinya juga terdapat tempat pemujaan untuk roh suci leluhur yakni Bhatara/Bhatari yang disebut: Sanggah/Pemerajan, Dadia/Paibon, Padharman.

Di Gelgel, semasa pemerintahan Ide Bethara Dalem Semara Kepakisan dibangun pula Pura Dasar Bhuwana yang disungsung oleh warga keturunan Ide Bethara Dalem Sri Kresna Kepakisan, Ide Bethara Mpu Gnijaya (Pasek Sanak Sapta Rsi), dan keturunan Ide Bethara Mpu Saguna (Maha Smaya Warga Pande).

Pura Besakih

Dalem Kresna Kepakisan adalah penganut sekte Waisnawa
, mungkin saja dari Sub Sekte Bhagawata , mengingat nama kresna yangbelau pergunakan sehingga wajarlah beliau dikelilingi oleh para Bujangga Waisnawa, baik Bujangga Waisnawa yang di bali maupun yang menyertai Beliau dari Jawa.


F. BIDANG KESENIAN DAN KESUSASTRAAN

Kehidupan seni budaya ketika itu telah berkembang dengan baik sebagai kelanjutan perkembangan seni budaya jaman Bali Kuna abad 10-14 M. Ketika itu masyarakat Bali telah mengenal beberapa jenis kesenian seperti: lakon topeng, diman pada jaman Bali Kuna disebut dengan nama pertapukan.

Demikian pula tontonan wayang telah dikenal pada masa Bali Kuna yang disebut Parwayang. Seni tabuh telah pula dikenal dalam prasasti Bali Kuna disebut-sebut nama alat pemukul gamelan, tukang kendang, peniup seruling dan lain- lainnya Ketika masa Samprangan masyarakat Bali telah mengenal beberapa kitab kesusastraan yang berfungsi sebagai penuntun kejiwaan masyarakat, sehingga mereka dapat berbuat sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Beberapa kitab kesusastraan yang dikenal ketika masa Samprangan adalah: kesusastraan Calonarang, Bharatayuddha, Ramayana, Arjuna Wiwaha dan lain-lain.


G. AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Dalem Sri Kresna Kepakisan moksah pada tahun 1373 M atau 1295 isaka. Beliau digantikan oleh putranya yang tertua yaitu Dalem Wayan, bergelar Dalem Sri Agra Samprangan.

PENEMPATAN PARA ARYA DI BALI

Sebelum Patih Gajah Mada meninggalkan Pulau Bali, semua Arya dikumpulkan untuk diberikan pengarahan tentang pengaturan pemerintahan, ilmu kepemimpinan sampai pada ilmu politik “ Raja Sesana dan Nitipraja” yang mana tujuannya agar para Arya tersebut nantinya dapat mempersatukan dan mempertahankan Pulau Bali sebagai daerah kekuasaan Majapahit. Penempatan para arya diatur sebagai berikut :

1. Arya Kenceng diberikan kekuasaan di daerah Tabanan dengan rakyat sebanyak 40.000 orang
2. Arya Kutawaringin diberikan kekuasaan di Gelgel dengan rakyat sebanyak 5.000 orang
3. Arya Sentong diberikan kekuasaan di Pacung dengan rakyat sebanyak 10.000 orang
4. Arya Belog diberikan kekuasaan di Kaba Kaba dengan rakyat sebanyak 5000 orang
5. Arya Beleteng diberikan kekusaan di Pinatih
6. Arya Kepakisan diberikan keuasaan di daerah Abiansemal
7. Arya Binculuk diberikan kekauasaan di daerah Tangkas

Demikianlah penempatan para Arya di Bali, setelah itu Patih Gajah Mada, Arya Damar dan Pasung Grigis kembali ke Majapahit dengan disertai 30.000 orang prajurit. Arya Damar telah meninggalkan Pulau Bali namun putra putra beliau yaitu Arya Kenceng, Arya Delancang dan Arya Tan Wikan (purana Bali dwipa lembar 11a) ditinggalkan di Bali untuk mengawasi Pulau Bali dari kemungkinan timbulnya pemberontakan dari orang orang Bali Aga.

Setelah menempuh 20 hari perjalanan sampailah Patih Gajah Mada dan rombongan di Majapahit dan langsung menghadap Ratu Tribhuwana Wijaya Tunggadewi untuk melaporkan hasil penyerbuan ke Pulau Bali yang berhasil dengan gilang gemilang. Sebagai tanda jasa maka semua Arya yang ikut serta dalam ekspedisi tersebut diberikan tanda jasa termasuk Ki Kuda Pengasih diangkat menjadi adipati di Pulau Madura.