Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sabtu, 14 Mei 2011

MAHAGURU DHARMOTTUNGGA WARMADEWA

(1324-1328)


Setelah jatuhnya Kerajaan Singasari akibat dari serbuan Raja Jayakatwang dari Kediri maka berakhirpula kekuasaan Kebo Parud sebagai wakil pemerintahan Kerajaan Singasari di Pulau Bali. Karena Majapahit adalah penerus dari Kerajaan Singasari maka secara otomatis pula kekuasaan di Pulau Bali dipegang oleh Kerajaan Majapahit.

Adalah Sri Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa yang bergelar Sri Paduka Maharaja Bhatara Mahaguru yang ditunjuk oleh Raja Jayanegara sebagai wakil Kerajaan Majapahit di Pulau Bali. Sri Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa adalah keturunan dari Bhatara Guru Sri Adi Kunti-Ketana yang memerintah Bali pada tahun 1204 M.

Raja ini adalah keturunan dari raja dua sejoli Sri Gunapriya Dharmapatni dan suaminya Sri Dharma Udayana Warmadewa yang memerintah tahun 989 s/d 1001 M di Kerajaan Bedulu. Kerajaan Bedulu diperkirakan terletak diantara desa Bedulu dan Pejeng (Gianyar) dan bekas pemandian Raja kini disebut sebagai Pura Arjuna Matapa.

Pemerintahan Sri Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa adalah wakil pemerintahan Kerajaan Majapahit di Bali sehingga untuk jabatan penting seperti Senapati beliau mengakat orang – orang dari Majapahit disamping orang orang dari Bali sendiri. Senapati yang diangkat beliau diantaranya :

  1. Kidalang Camok diangkat menjadi Senapati Kuturan
  2. Ki Candi Lengis diangkat menjadi Senapati Sarbwa
  3. Ki Jagatrang diangkat menjadi Senapati Weresanten
  4. Ki Pindamacan diangkat menjadi Senapati Balem bunut
  5. Ki Gagak Sumeningrat diangkat menjadi Senapati Baladyaksa
  6. Ki Kuda Makara / Ki Kuda Langkat Langkat diangkat menjadi Senapati Danda
  7. Ki Lembu Lateng diangkat menjadi Senapati Manyiringan
  8. Ki Gagak Lepas diangkat menjadi Senapati Dinganga
  9. Mantri irah Prana diangkat menjadi Sekretaris Kehakiman I
  10. Mantri Wadyawadana diangkat menjadi Sekretaris Kehakiman II ·
  11. Ki Panji Singaraja diangkat menjadi Sekretaris Kehakiman III
Perutusan pendeta Siwanya adalah :
  1. Paduka Raja Guru diangkat menjadi pendeta besar yang berkuasa di Dharmahanyar II.
  2. Paduka Rajadyaksa diangkat menjadi pendeta besar yang berkuasa di Air Gajah sekarang di Goa Gajah.
  3. Paduka Raja Manggala diangkat menjadi pendeta besar di Trinayana.
Perutusan pendeta Budhanya adalah :
  1. Dang Upadyaya Pujayanti diangkat menjadi pendeta besar di Biharanasi ·
  2. Dang Upadyaya Karmangga diangkat menjadi pendeta besar di Puranagara.

Demikianlah susunan pejabat kerajaan yang diangkat oleh beliau. Dalam pemerintahannya beliau juga membuat undang undang desa yang ditata diatas perunggu dan isinyapun kebanyakan disesuaikan dengan prasasti-prasasti yang telah ada. Segala keputusan beliau didasarkan atas permusyawaratan dan tempat pengambilan keputusan biasanya dilakukan di balai-pendapa yang ada di istana. Para pendeta Siwa, Budha, Resi dan Mahabrahmana yang ada di desa desa sangat dihargai oleh beliau, bahkan mereka diikutsertakan dalam sidang disamping pejabat pejabat resmi di Kerajaan.

Sri Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa dalam melaksanakan sehari hari tugas pemerintahannya telah mengangkat putranya sendiri yang bernama Sri Trunajaya sebagai raja muda. Akan tetapi entah mengapa raja muda ini belum bersedia untuk dicalonkan menjadi raja. Sebagai raja Sri Dharma Uttungga-dewa-Warmadewa sangat bijaksana dalam menjalankan pemerintahan, Beliau sangat taat melakukan upacara di pura-pura, terlebih pemujaan terhadap leluhurnya. Dari itulah beliau membuat peraturan-peraturan adat untuk upacara Paduka Bhatara almarhum yang dicandikan di Candi Manik yang upacaranya jatuh pada setiap bulan purnama dalam bulan Cetra (Maret).

Bangunan bangunan suci banyak didirikan pada jaman pemerintahan beliau, sebuah taman yang sangat indah telah dibangun disebelah selatan desa Bangli. Kolamnya dihiasi patung “Makaradewi” sedangkan di sebelah selatannya dibuat bangunan suci (Pemerajan) untuk pemujaan beliau yang disebut Gua Merku. Kini komplek taman tersebut disebut Taman Bali.

Identifikasi Raja Bhatara Guru II atau Bhatara Sri Mahaguru sesungguhnya masih mengandung permasalahan.
Ada tiga buah prasasti dikeluarkan oleh raja itu, tetapi memuat gelarnya secara tidak konsisten. Dalam prasasti Srokadan (1246 Saka)25 baginda disebut Paduka Bhatara Guru yang memerintah bersama-sama dengan cucunya (putunira), yakni Paduka Aji (baca : Haji) Sri Tarunajaya.

Dalam prasasti Cempaga C (1246 Saka) disebut dengan gelar Paduka Bhatara Sri Mahaguru (Stein Callenfels, 1926 : 50). Dan dalam prasasti Tumbu (1247 Saka) disebut Paduka Sri Maharaja, Sri Bhatara Mahaguru, Dharmmotungga Warmadewa (baca : Paduka Sri Maharaja Sri Bhatara Mahaguru Dharmottungga Warmadewa) (Goris, 1965 : 45).

Sri Jayakasunu digantikan oleh putra-putrinya yaitu Sri Masula Masuli dengan gelar Bhatara Mahaguru Darma Utangga Warmadewa dengan ibu kota kerajaan Batu Anyar. Bali aman kembali Kebo Parud tidak berada di Bali lagi. Baginda bertahta sampai dengan tahun Çaka 1250 (1328 Masehi). Bhatara Guru II rupanya mangkat sebelum tahun 1250 Saka (1328). Dugaan itu dikemukakan karena pada tahun 1250 Saka, sebagaimana tertera dalam prasasti Selumbug (Stein Callenfels, 1926 : 68-70), yang memerintah di Bali adalah Paduka Bhatara Sri Walajayakrtaningrat. R

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar