Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 11 Januari 2010

KOLAM SEGARAN

( Tempat Jamuan Tamu Tamu Kerajaan )














Kolam Segaran terletak di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, tepatnya di sebelah timur laut Museum Purbakala Trowulan, di tepi jalan desa jurusan Trowulan-Pakis.

Bangunan berupa sebuah kolam yang sangat luas kemudian disebut disebut Segaran. (segaran berasal dari segara=laut berakhiran –an = buatan). seluas 800 meter X 500 meter keberadaan Kolam Segaran usianya tidak kurang dari 800 tahun.

Kolam besar berbentuk persegi panjang yang seluruh sisinya dibangun dari batubata berwarna merah darah yang tertata rapi Ditemukan kembali dari timbunan tanah pada tahun 1926 oleh Ir. Henri Maclaine Pront, yaitu arsitek berkebangsaan Belanda yang pernah mendirikan Museum Trowulan (lama), serta perhatiannya cukup besar dalam penelitian bekas kota Majapahit.

Kolam yang airnya tak pernah kering ini dipercaya masyarakat sebagai tempat mandi para prajurit Majapahit. Oleh para ahli sejarah, Kolam Segaran diyakini sebagai salah satu bukti keberadaan kerajaan terbesar di nusantara di samping Sriwijaya di Sumatera.

Konon bahkan Trowulan merupakan pusat kerajaan yang wilayahnya membentang dari Pulau Madagaskar di sebelah barat hingga gugusan kepulauan Polynesia di sebelah timur Propinsi Papua Bangunan yang ada sekarang adalah hasil pemugaran yang dimulai pada tahun 1974 dan dikerjakan selama kurang lebih 10 tahun, jadi selesai pada tahun 1984. Dari jumlah keseluruhan batu bata kolam sebanyak 8589 m3 yaitu sejumlah 412.200 buah, 43%nya (3692 m3) sebanyak 177.200 buah di antaranya dipasang ulang.

Selama pemugaran berlangsung terutama sewaktu diadakan penggalian kepurbakalaan, tidak ditemukan benda-benda yang berarti kecuali sebuah mata kail emas, kepingan tulang-tulang, sebuah pegangan tutup dari tanah liat dan sebuah lumpang batu kecil.

Luas kolam segaran keseluruhan menempati areal 6,50 ha. Bangunan memanjang dari utara ke selatan sepanjang 375 m, lebar 175 m, tinggi tembok 2,88 dengan ketebalan dinding 1,60 meter.

Pintu masuk kolam yang sekaligus berfungsi sebagai pintu keluar terdapat di bagian barat, di sini terdapat teras yang berukuran panjang 10,40 meter,lebar 8,40 meter dengan tangga turun yang berupa undak-undakan selebar 3,50 meter. Kalau dahulu kolam memperoleh air dari sungai kecil yang berada di bagian barat laut, kini saluran air masuk dipindahkan di sudut tenggara. Entah ada hubungannya atau tidak, perilaku masyarakat sekitar kolam yang suka berburu mujahir itu sering dikaitkan dengan mitos bongkahan emas di dasar kolam.

Pada musim hujan, kolam itu dipenuhi air antara 1,5 hingga 2 meter. "Itu di bagian tepi, di tengah mungkin lebih dalam,"Warga sekitar kola m itu percaya, dulu, Kolam Segaran sering digunakan para bangsawan kerajaan Majapahit, bangsawan Belanda dan saudagar-saudagar China bersenang-senang.

Kolam itu juga sering digunakan sebagai tempat penjamuan para tamu yang datang dari negeri seberang. Kolam ini juga disebut sebagai kolam peninggalan sejarah terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia. Bayangkan, kolam itu berluas 6,5 hektar atau berukuran 375X175 meter.

Sementara dinding yang membatasi kolam berukuran 1,6 meter dan tinggi 2,88 meter. Konon, di kolam tersebut keluarga kerajaan menghibur tamu-tamu kerajaan dengan perlengkapan makan istana dari emas yang dibuang ke dalam kolam seusai jamuan. Cerita tersebut sekaligus menggambarkan betapa kayanya Majapahit saat itu.

Hampir semua bangunan tersebut terbuat dari bata merah. Dapat dibayangkan ketika masih dalam kondisi utuh tentunya memberikan kemegahan tersendiri dengan warna merahnya yang menyala. Konstruksi batu bata yang digunakan sebagai pembatas atau dinding kolam juga terbilang unik. Karena penataan batu-batu itu tak menggunakan perekat tapi digosokkan hingga melekat satu sama lain.

Tetapi, ada teori lain yang mengemukakan jika Kolam Segaran merupakan reservoir cadangan air kota, bukti system irigasi yang dirancang para urban planner Majapahit untuk menjamin “ke-gemah ripah-an” negara mereka yang lekat dengan pertanian. Korelatif memang, ketika di sekitarnya masih banyak ditemukan sisa kanal-kanal pengairan yang terhubung dengan sungai Brantas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar