Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 11 Januari 2010

CANDI CETHO

( Tempat Pemujaan Raja Brawijaya V )
Raja terakhir Majapahit


Candi Cetho terletak di Desa Seto, Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, Jawa tengah ini diperkirakan didirikan pada tahun 1400-an, pada akhir jaman Majapahit.

Merupakan salah satu peninggalan dari Raja Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Lokasi candi seluas 215 X 30 meter persegi dan dikelilingi oleh hutan pinus yang rindang dengan ketinggian 1500 meter. Candi ini merupakan peninggalan umat Hindu terakhir di Jawa.

Menurut ceritanya candi ini merupakan tempat pesanggrahan Brawijaya sebelum beliau moksa di puncak Lawu. Sebenarnya candi ini belum terselesaikan seluruhnya, karena saat itu Brawijaya tengah dalam pelarian dikejar-kejar oleh pasukan Raden Patah dari Demak. Kala itu, dari Desa Seto Brawijaya lalu lari ke Desa Sukuh dan mendirikan pula sebuah candi di sana.

Namun, sebelum pindah ke Desa Sukuh, pada puncak Candi Ceto ini Brawijaya sempat mendirikan arca dirinya yang dinamakan Nala Genggong. Melihat gapura Candi Seto mengingatkan kita akan bentuk-bentuk gapura di Pulau Bali. Tak salah memang, karena Candi Seto merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan Hindu di tanah air. Candi berundak yang menghadap ke barat, menjadi simbol berakhirnya Kerajaan Majapahit.

Sebelum memasuki gerbang yang berupa gapura ini, terlebih dahulu mendaki tangga yang terbuat dari batu yang tertata rapi. Memasuki gerbang, sampailah kita di pelataran pertama di mana pada sebelah kiri gerbang terdapat pos penjagaan.

Candi Cetho (cetho = jelas, jernih tanpa halangan) merupakan sebuah candi peninggalan budaya Hindu dari abad ke-14 pada masa akhir pemerintahan Majapahit. Fungsi candi ini tidaklah berbeda dengan candi Hindu yang lain yakni sebagai tempat pemujaan. Sampai saat inipun Candi Cetho tetap digunakan oleh penduduk sekitar yang memang merupakan penganut agama Hindu.

Di beberapa teras terdapat pendapa dan bangunan kayu tempat arca Brawijaya V dan pengawalnya serta sebuah arca lingga.












Di sebelah timur kompleks candi terdapat sebuah meru yang di dalamnya menyimpan sebuah lingga sebagai simbol jenis kelamin laki-laki dan yoni sebagai simbol kelamin perempuan. Perlu untuk diketahui, di atas candi Cetho ada candi lagi yaitu candi Kethek.

Di timur candi, terdapat Puri Taman Saraswati. Taman ini merupakan tempat sembahyang bagi umat Hindu kepada Sang Hyang Aji Saraswati. Patung Dewi Saraswati adalah pemberian dari bupati Gianyar A.A Gde Agung Barata untuk bupati Karanganyar Rina Iriani sebagai bentuk kerjasama dan ikatan persaudaraan antara masyarakat Hindu Bali dan Hindu jawa. Di kawasan taman, setiap peringatan Hari Saraswati yang diadakan setiap 210 hari selalu digelar kesenian tradisional Jawa dan Bali.

Candi Cetho terdiri dari sembilan trap (tingkat) berbentuk memanjang kebelakang dengan trap terakhir sebagai trap utama pemujaaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa (seperti bentuk-bentuk tempat pemujaan pada masa purba yaitu punden berundak)

.
Trap pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Trap kedua masih berupa halaman namun ditrap ini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi yang merupakan leluhur masyarakat Cetho.

Pada trap ketiga terdapat sebuah soubment memanjang di atas tanah yang menggambarkan nafsu badaniah manusia (nafsu hewani) berbentuk phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang lebih dari 2 m, dengan diapit dua buah lambang kerajaan Majapahit menunjukkan masa pembuatan candi.

Pada trap keempat dapat ditemui relief pendek yang merupakan cuplikan kisah Sudhamala, (seperti yang terdapat pula di Cabdi Sukuh) yaitu kisah tentang usaha manusia untuk melepaskan diri dari malapetaka. Pada trap kelima dan keenam terdapat terdapat pendapa-pendapa yang mengapit jalan masuk candi.

Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut masih sering digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara besar keagamaan. Trap ketujuh dapat ditemui dua buah arca di samping kanan kiri yang merupakan arca Sabdapalon dan nayagenggong, dua orang abdhi kinasih dari Sang Prabu Brawijaya yang juga merupakan penasehat spiritual dari beliau. Hal ini melambangkan kedekatan jiwa beliau dengan rakyatnya yang diwakili kedua tokoh tersebut.


Pada trap kedelapan terdapat arca Phallus (kuntobimo) di samping kiri dan arca Sang Prabu Brawijaya yang digambarkan sebagai “mahadewa”. Arca phallus melambangkan ucapan syukur atas kesuburan yang melimpah atas bumi cetho dan sebuah pengharapan kepada Tuhan yang Maha Esa agar kesuburan yang dilimpahkan itu tak kan terputus selamanya.

Arca Sang Prabu Brawijaya menunjukkan penauladanan masyarakat terhadap kepemimpinan beliau, sebagai raja yang bèrbudi bawa leksana, ambeg adil paramarta yang diyakini pula sebagai utusan Tuhan di muka bumi. Trap terakhir (trap kesembilan) adalah trap utama yang merupakan tempat pemanjatan doa kepada Penguasa Semesta. Trap terakhir ini berbentuk kubus berukuran 1,50 m2.

Candi Cetho menghadap ke arah timur hal ini berbeda dengan candi-candi yang ada di Jawa Tengah karena Candi Cetho begitu pula Candi Sukuh dibangun pada masa Majapahit sehingga dengan sendirinya pembangunan candi terpengaruh oleh apa yang terbiasa ada di candi-candi Jawa Timur.

Di sebelah atas bangunan Candi Cetho terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan).

Pada undakan kedua akan didapati (terhampar di tanah) sebuah Arca Bulus (Kura-kura) yang merupakan simbol suci, dan bersambung dengan Lingga (alat kelamin laki-laki) yang rebah. Candi ini memang didominasi oleh arca-arca berbentuk lingga. Menurut juru kunci, perempuan yang tengah mendapat haid dilarang melintas di atas Arca Bulus tersebut. Bila itu dilanggar konon yang bersangkutan akan mendapat kesialan.

Selain arca yang berbentuk lingga, di candi ini juga terdapat 12 arca lainnya. Namun demikian, amat disayangkan candi ini telah kehilangan beberapa arcanya akibat ulah orang-orang yang tak bertanggungjawab. Padahal, candi ini merupakan salah satu bagian dari wisata sejarah. Di mana pengunjung bisa berkeliling candi sambil membayangkan masa-masa lalu bangsa ini. Bangsa yang memiliki kekayaan budaya yang tinggi.

Melihat ruang-ruang candi khayalan kita bisa menjelajah ke masa silam. Membayangkan Raja Brawijaya tengah istirah sambil mengolah rasa, atau tengah bercengkrama dengan para permaisurinya. Penat berkeliling candi kita bisa istirahat di bawah rindangnya pepohonan pinus yang mengelilingi lokasi candi. Udara sejuk akan menyergap, ditambah kabut tipis yang melayang-layang turun di pucuk candi dan terus membungkus tubuh kita. Semua terasa sejuk dan menyenangkan. Membuat pikiran kita akan segar kembali. Terbebas dari rutinitas kerja sehari-hari.

Pada malam Jumat Kliwon, misalkan, orang beramai-ramai ke lokasi ini guna menghaturkan sesaji sekaligus menjalankan ritual tapa brata. Begitu pula di saat hari Nyepi, warga Hindu di Karanganyar sebagian besar memilih melakukan tapa brata penyepian di areal candi. Keesokan harinya, saat ngembak geni , mereka pulang. “Itu pun setelah dilaksanakan acara saling memaafkan.

Begitu penting arti kehadiran Candi Ceto beserta Gunung Lawu bagi warga Hindu di Karanganyar, bahkan Hindu di Nusantara. Ini bisa dipahami mengingat bangunan candi di wilayah pegunungan tua ini, merupakan candi Hindu peninggalan sisa-sisa kerajaan Majapahit. Di Candi Ceto juga banyak tersimpan arca bercerita tentang Samuderamanthana dan Garudeya, satu kisah yang diambil dari mitos Hindu. Ada pula patung Saraswati, dewi simbol kebijaksanaan yang berhiaskan peralatan sembahyang.

Bahkan sesuai cerita yang berkembang di Karanganyar dan sekitarnya, Raja Majapahit, Prabhu Brawijaya V, sebelum moksa terlebih dahulu meruwat diri di Candi Sukuh yang berada di deretan bawah Candi Ceto. Usai menyucikan diri secara alam niskala, barulah sang raja mengakhiri hidupnya dengan jalan moksa di Candi Ceto.

Ini memang kisah lawas yang hingga kini tetap diyakini kebenarannya oleh warga Karanganyar dan sekitarnya. Lebih-lebih lagi di areal candi, terutama pada halaman XIII, ada ditemukan arca Sabda Palon, tokoh penting dalam babak akhir Kerajaan Majapahit.


Tiap enam bulan, pada hari Selasa Kliwon, di halaman punden digelar satu ritus suci upacara Madasiya. Ritual yang sesajiannya bersaranakan nasi tumpeng, buah, bunga, air, dan dupa tersebut memiliki makna warga Desa Ceto dan sekitarnya menyampaikan rasa terima kasih sekaligus memohon agar Krincing Wesi tetap menjaga keselamatan mereka.

Teras enam tak ada peninggalan arkeologi. Memasuki teras ketujuh, pada bagian selatan gapura terdapat tulisan :

  • “...... peling pedamel irikang bu, ku tirta sunya hawaki, ray a hilang, saka kalanya wiku, goh anahut iku 1397
  • Artinya: “ ... peringatan pembuatan buku tirta sunya badannya hilang tahun 1397 Saka ....”bila berpijak pada angka tahun yang tertera pada teras keenam tersebut, berarti pada tahun Isaka 1397 (tahun 1475 Masehi) atau pada abad XV, Candi Ceto telah berdiri kukuh.

Selasa Kliwon, wuku Medangsia, 17 Juli 2007 lalu, satu ritus langka dilangsungkan di Candi Ceto. Namanya: Karya Agung Nusantara Ngenteg Linggih Tawur Agung Labuh Gentuh Candi Narmada, Panca Wali Krama . yaitu upacara bhuta yajnya (korban) besar yang berlangsung setiap 10 tahun sekali. Bahkan untuk di Candi Ceto, upacara setingkat ini adalah kali pertama dilaksanakan.

Karya besar yang dihadiri ribuan warga Hindu dari berbagai daerah di Tanah Air ini, cermat Ketua Panitia Upacara Panca Walikrama Candi Ceto, Mangku Paramartha Kesuma, merupakan upaya mengharmoniskan alam semesta, buwana agung, dengan diri manusia, buwana alit, sekaligus untuk memohon keselamatan dan kerahajengan negeri ini.

Ritual ini dilangsungkan bersamaan dengan upacara Modosiyo , satu jenis ritual yang dilaksanakan tiap enam bulan di Candi Ceto oleh warga Hindu Karangayar dan sekitarnya, sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat yang selama ini diberikan kepada warga sekitar Gunung Lawu. Upacara Panca Wali Krama telah di mulai 16 Mei 2007 dengan nanceb sanggar tawang, munggah sunari , dan negtegang daging . Upacara ini dipuput Ida Padanda Putera Gede Lusuh dari Geria Lusuh, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.

Sarana upacara dan upakara yang dipersembahkan itu tiada beda dengan upacara Panca Wali Krama di Bali. Di antaranya kerbau berjumlah 14 dan 14 ekor kambing.











4 komentar:

  1. letak candi ceto yha di desa ceto, kelurahan gumeng bukan desa seto..xixixi

    BalasHapus
  2. Tukuling srengege di candi cetho , trisula di candi kethek serta teken kayu kentongan beringin di jambe limo gunung selok srandil menjadi saksi akan keberadaanya sabdo palon noyo gengging yang sudah turun gunung mengajarkan ajaran budi membersihkan nusantara..

    BalasHapus