Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 10 Januari 2010

DALEM KETUT NGULESIR (1380) RAJA BALI III

DALEM KETUT SEMARA KEPAKISAN


MENDIRIKAN KERAJAAN GELGEL

Pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir di Gelgel Dalem Ketut Ngulesir bertahta di Gelgel tahun 1383 M bergelar Dalem Ketut Semara Kepakisan, Beliau membangun istana di Gelgel di kebun kelapa milik Kriyan Kalapa Diana putra Arya Kutawaringin. Dalem Ketut Ngulesir mempersunting anak Arya Kebon Tubuh dan menurunkan putra Dalem Watur Enggong.

Berita pengangkatan Dalem ini didengar oleh Dalem Samprangan namun tidak bereaksi karena beliau sudah kehilangan gairah hidup. Para menteri dan pembantu Raja di Samprangan banyak yang berpindah ke Gelgel atas kemauan sendiri karena merasa lebih senang mengabdi kepada Dalem Ketut. Roda pemerintahan diatur dari Gelgel yang telah berganti nama menjadi Suwecapura. Sebagai ibukota Kerajaan Gelgel disebut Linggarsa Pura.

Demikian pula Kyai Agung Nyuhaya yang menjabat sebagai patih Agung Samprangan turut pindah ke Gelgel diikuti oleh putra tertuanya yaitu Kyai Petandakan dan menetap di Karang Kepatihan. Para Manca yang tinggal di pedesaan dan pegunungan mendengar berita ini lalu datang menyatakan dukungan dan kesetiaan kepada Dalem Ketut Ngulesir.


DIUNDANG KE MAJAPAHIT

Pada masa pemerintahan Sri Hayam Wuruk di Majapahit, diselenggarakan yajnya besar-besaran dengan mengundang raja-raja dari luar Majapahit. Dalem Ketut Ngulesir menghadiri undangan upacara/ yajnya itu. Berangkat dengan tata cara kebesaran diiringkan oleh pejabat- pejabat kerajaan, dengan pimpinan I Gusti Kubon Tubuh. Diuraikan tentang perjalanan rombongan raja Bali keindahan alam yang melatari perjalanan tersebut. Akhirnya tiba di Majapahit. Dilanjutkan dengan kisah suatu persidangan para raja, di mana raja Bali menjadi kekaguman para hadirin.

Semua raja raja bawahan mendapat penghargaan dari Raja Hayam Wuruk, sedangkan raja Bali dianugrahkan keris “Begawan Canggu” .Baginda menyaksikan tanda hitam (seperti tattoo) berbentuk gambar "Caurri", pada paha raja Bali kemudian raja-raja dari luar Majapahit kembali ke daerahnya masing-masing.

Pada waktu itu pula Dalem Ketut Ngulesir mengutus seseorang untuk mencari seorang Brahmana dari Keling yang konon sangat sakti dan termasyur. rencana raja Bali untuk melakukan "Podgala". Mengundang pendeta dari Keling bernama Jangganing Kayu Manis untuk "Nabe".


MENYELESAIKAN KESALAH PAHAMAN

Suatu kisah permohonan Kyayi Nyuhaya untuk membunuh Kyayi Gusti Abian Tubuh karena terjadi salah paham yang diakibatkan oleh perkawinan dengan Kyayi Gusti Abian Tubuh dengan I Gusti Ayu Adi, kakak kandung Kyayi Nyuhaya. Pertikaian itu, diselesaikan dengan cermat oleh raja Sri Smara Kepakisan, tercipta kekeluargaan yang terjalin akrab antara mereka.

Menyusul pengacauan harimau hitam di Blambangan, Raja Bali mengutus Kyayi Kubon Tubuh yakni untuk menumpasnya, harimau itu dapat dibunuh oleh Kyayi Kubon Tubuh. Kemudian raja Bali menghadiahkan "Piagam" dan Pura Dalem Tlugu, kepada Kyayi Gusti Kubon Tubuh, dan sebilah sumpitan bernama Ki Macan Guguh.


AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Baginda raja Sri Smara Kepakisan wafat, diganti oleh putranya yang sulung Dalem Waturenggong. Para menteri yang telah tiada, diganti oleh putra-putranya.

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Ampura. Pertanyaan bodoh. Kalo semua kita adalah turunan para empu/dhanghyang itu, padahal pada masa beliau itu hidup tentu juga sdh ada (banyak) manusia/masyarakat lain, lalu siapa turunan mereka? Apakah mereka mandul semua?

    BalasHapus