Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 12 Januari 2010

GUNUNG LAWU

( Pertapaan Raja Brawijaya V )
Raja Majapahit Terakhir


Terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, Lawu memiliki panorama alam yang indah. Banyak wisatawan minat khusus yang mendakinya. Gunung ini pun kerap disambangi para peziarah karena menyimpan obyek-obyek sakral bersejarah.

Di gunung berketin
ggian 3.265 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini memang menyimpan berbagai peninggalan sejarah kerajaan Majapahit seperti, Candi Ceto, Candi Sukuh yang Tempat sakral di sekitar Gunung Lawu terutama petilasan-petilasan Raden Brawijaya seperti Pertapaan Raden Brawijaya, dan Cengkup (rumah kecil yang ditengah-tengahnya terdapat kuburan).

Konon nisan yang ada di Cengkup itu adalah Petilasan Prabu Brawijaya, bekas Raja Majapahit yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Lawu. Cangkup dan tempat pertapaan Raden Brawijaya ini terletak di Hargo Dalem, puncak tertinggi kedua Gunung Lawu merupakan peninggalan Raden Brawijaya selama dalam pelariannya.

Gunung Lawu adalah gunung yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar terutama penduduk yang tinggal di kaki gunung. Tidak heran bila pada bulan-bulan tertenu seperti bulan Syuro penanggalan Jawa, gunung ini ramai didatangi oleh para peziarah terutama yang datang dari daerah sekitar kaki Gunung Lawu seperti daerah Tawamangun, Karanganyar, Semarang, Madiun, Nganjuk, dan sebagainya.

Mereka sengaja datang dari jauh dengan maksud terutama meminta keselamatan dan serta kesejahteraan hidup di dunia. Lokasi yang dikunjungi para peziarah terutama tempat yang dianggap keramat seperti petilasan Raden Brawijaya yang dikenal oleh mereka dengan sebutan Sunan Lawu. Selain itu Sendang Derajat, Telaga Kuning, dsb.

Peninggalan-peninggalan besejarah itu menjadi salah satu saksi sejarah bahwa bangsa kita sejak dahulu berbudaya tinggi oleh karenanya patut dilestarikan karena memberi nilai lebih pada gunung ini. Di puncak Gunung Lawu ini, menurut cerita yang berkembang di masyarakat yang tinggal di kaki, bahwa Raden Brawijaya lari ke Gunung lawu untuk menghindari kejaran pasukan Demak yang dipimpin oleh putranya yang bernama Raden Patah, serta dari kejaran pasukan Adipati Cepu yang menaruh dendam lama kepada Raden Brawijaya.

Konon Raden Brawijaya meninggal di puncak Gunung Lawu ini dibuktikan dengan adanya Cengkup serta petilasan-petilasannya di puncak Gunung Hargo Dalem dengan ketinggian

Menurut kisah, se
telah runtuhnya Kerajaan Majapahit, muncul kerajaan Islam yang berkembang cukup pesat yaitu Kerajaan Demak yang dipimpin oleh seorang raja bernama Raden Patah, masih merupakan putra Raden Brawijaya.

Beliau menjadikan Kerajaan Demak menjadi kerajaan besar di Jawa. Pada saat itu Raden Patah bermaksud mengajak ayahnya yaitu Raden Brawijaya memeluk agama Islam, akan tetapi Raden Brawijaya menolak ajakan anaknya untuk memeluk ajaran yang dianut Raden Patah.


Raden Brawijaya tidak ingin berperang dengan anaknya sendiri dan kemudian Raden Brawijaya melarikan diri. Penolakan ayahnya untuk memeluk agama Islam membuat Raden Brawijaya terus dikejar-kejar oleh pasukan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah.

Untuk menghindari kejaran pasukan Demak, Raden Brawijaya melarikan diri ke daerah Karanganyar. Disini Raden Brawijaya sempat mendirikan sebuah candi yang diberi nama Candi Sukuh yang terletak di Dusun Sukuh Desa Berjo Karanganyar. Tetapi belum juga merampungkan candinya, Raden Brawijaya keburu ketahuan oleh pasukan Demak, pasukan Demak dan pengikut-pengikut Raden Patah terus mengejarnya sehingga Raden Brawijaya harus meninggalkan Karanganyar dan meninggalkan sebuah candi yang belum rampung.

Kemudian Raden B
rawijaya melarikan diri menuju kearah timur dari Candi Sukuh. Di tempat persembunyiannya, Raden Brawijaya sempat pula mcndirikan sebuah Candi, tetapi sayang tempat persembunyian Raden Brawijaya akhirnya diketahui oleh Pasukan Demak.

Arca Babi di Candi Sukuh

Raden Brawijaya melar
ikan diri lagi dengan meninggalkan sebuah candi yang sampai sekarang dikenal masyarakat dengan sebutan Candi Ceto. karena merasa dirinya telah aman dari kejaran Pasukan Demak, Raden Brawijaya sejenak beristirahat akan tetapi malapetaka selanjutnya datang lagi kali ini pengejaran bukan dilakukan oleh Pasukan Demak tetapi dilakukan oleh pasukan Cepu yang mendengar bahwa Raden Brawijaya yang merupakan Raja Majapahit bermusuhan dengan kerajaan Cepu masuk wilayahnya sehingga dendam lama pun timbul.

Candi Sukuh

Pasukan Cepu yang dipimpin oleh Adipati Cepu bermaksud menangkap Raden Brawijaya hidup atau mati. Kali ini Raden Brawijaya lari ke arah puncak Gunung Lawu menghindari kejaran Pasukan Cepu tapi tak satu pun dari pasukan Cepu yang berhasil menangkap Raden Brawijava yang lari ke arah puncak Gunung Lawu melalui hutan belantara.

Didalam persembunyian di Puncak Gunung Lawu, Raden Brawijaya merasa kesal dengan ulah Pasukan Cepu lalu ia mengeluarkan sumpatan kepada Adipati Cepu yang konon isinya jika ada orang-orang dari daerah Cepu atau dari keturunan langsung Adipati Cepu naik ke Gunung Lawu, maka nasibnya akan celaka atau mati di Gunung Lawu.

Dan katanya bahwa sumpatan dari Raden Brawijaya ini sampai sekarang tuahnya masih diikuti oleh orang-orang dari daerah Cepu terutama keturunan Adipati Cepu yang ingin mendaki ke Gunung Lawu, mereka masih merasa takut jika melanggarnya
.


Sendang Panguripan & Drajat

Tempat yang sering didatangi oleh para peziarah selain tempat yang ada di puncak Hargo Dalem dan Hargo Dumilah adalah Sendang Panguripan dan Sendang Drajat. Konon di Sendang Panguripan memiliki kekuatan supernatural. Di Sendang Panguripan ini sumber airnya sering dimanfaatkan oleh para peziarah untuk mencari kehidupan.

Mereka percaya sumber air yang ada di sana, airnya pernah dimanfaatkan oleh Raden Brawijaya ketika mendaki Gunung Lawu dan sampai sekarang masyarakat percaya bahwa air yang digunakan oleh Raden Brawijaya di Sendang Panguripan sangat berkhasiat. Sama seperti Sendang Panguripan di Sendang Drajat pun airnya sering dimanfaatkan oleh para peziarah. Konon airnya memiliki kekuatan supernatural untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Disam
ping kaya dengan sejarah dan misteri Kerajaan Majapahit, Gunung Lawu juga kaya akan berbagai obyek wisata alam seperti objek wisata alam Tawangmangu dengan air terjun Grojogan Sewu, Telaga Sarangan dengan keindahan danaunya yang begitu memesona, Candi Ceto dan Candi Sukuh yang merupakan Candi yang dibuat oleh Raden Brawijaya selama dalam pelarian, serta tidak kalah menariknya adalah wisata alam mendaki Gunung Lawu.

Arca candi Sukuh

Berbagai fasilitas menuju Puncak Gunung Lawu tersedia dengan baik. Untuk mendaki Gunung Lawu terdapat beberapa rute Pendakian seperti Cemoro kandang, Cemoro Sewu, Ceto, dan Jogorogo yang memasuki wilayah Ngawi Jawa Timur. Tetapi disarankan untuk melalui jalur Cemoro Kandang. Kalau melalui Cemoro Kandang waktu yang dibutuhkan sekitar 9 sampai 10 jam pe
rjalanan pendakian, dan untuk turun dibutuhkan waktu sekitar 5 sampai 6 jam.

Jika mele
wati Cemoro Kandang terlebih dahulu kita akan melewati beberapa rute pendakian seperti Pos pendakian Cemoro Kandang, Taman Sari Bawah, Taman Sari Atas, Parang Gupito, Jurang Pangarif-ngarif, Ondorante, Cokro Srengenge yang termasuk Pos IV serta Pos terakhir yaitu Pos V. Di sini terdapat pertigaan, kalau berbelok ke kanan kita akan menuju Puncak Hargo Dumilah yang merupakan puncak tertinggi dengan ketinggian 3.265 meter dpl, dan jika lurus kita akan menuju Puncak Hargo Dalem 3.148 meter dpl.

Dari puncak Gunung Lawu
kita akan disuguhi peristiwa alam matahari terbit yang indah. Bila memandang kearah Barat akan tampak terlihat puncak Gunung Merapi, Merbabu.

Umat Hindu Melaksanakan persembahyangan di Candi Ceto

Dan kalau melihat ke arah Timur akan terlihat keindahan Puncak Gunung Kelud, Butak, dan Gunung Wilis yang membentuk lukisan alam menawan. Jika ingin mendaki menuju Puncak Gunung Lawu tidak terlalu ramai sebaiknya pada hari Senin sampai Jumat.

Beberapa jenis burung bisa ditemui di kawasan Gunung Lawu, sepcrti Burung Anis, Perjak, Kaca Mata, dan Burung Kerak. Tumbuhannya antara lain Cemara gunung, Bunga Eidelweiss, Cantigi, pohon karet hutan, Beringin, Rustania, dan Puspa. Bunga Eidelweiss tumbuh subur terutama di lembah dan lereng Gunung Lawu, mulai dari jalur antara Pos IV dan Pos V.

Sampai sekarang ekosistem tumbuhan dan binatang yang hidup di kawasan Gunung Lawu masih terjaga dengan baik karena masyarakat yang tinggal di kaki Gunung merasa takut jika hutannya dirusak, maka penguasa Lawu yakni Sunan Lawu yang tak lain adalah Sang Prabu Brawijaya, akan marah besar. Warga yang berdiam di sekitar Gunung Lawu dominan pelakon utuh ajaran Kejawen .

Mereka amat menyucikan candi di kawasan berketinggian 1.400 meter dari atas permukaan laut ini. Tidak sembarang warga diizinkan masuk, lebih-lebih yang sedang datang bulan. Masyarakat tak hendak mengabaikan peringatan yang ada. Jika dilanggar, tentu akan ada akibat kurang baik bisa dialami.



Perjalanan Akhir Prabu Brawijaya V
( Pindahnya Keraton Majapahit Ke Gunung Lawu )

Perbedaan pendapat antara Raja Brawijaya V dengan anaknya Raden Patah menjadikan sebuah kegelisahan tersendiri. Ketika perbedaan itu diperuncing, sebuah tantangan bagi seorang ayah untuk menyelesaikan dengan arif dan bijak. Bagaimana Prabu Brawijaya V, menyelesaikan konflik tersebut ?.

Mendengar penuturan utusan-utusannya bahwa Raden Patah tidak mau menghadap ( marak sowan ) ke keraton Majapahit, Sang Prabu memerintahkan menyiapkan kapal untuk ke Demak. Semua bhayangkara, senopati, empu dan brahmana serta prameswari ikut dalam rombongan perjalanan.

Dalam perjalanan kemanapun dampar atau singgasana yang berupa " watu gilang ( batu )" selalu dibawa, karena merupakan simbol kedudukan sebagai seorang ratu. Puluhan kapal besar berangkat menyusuri sungai brantas menuju laut jawa dan kearah barat. Di haluan setiap kapal terpasang replika " Rajamala " dengan mata yang tajam.

Masuk ke Demak dengan men
yusuri sungai Demak, Sang Prabu mengutus utusan memanggil Raden Patah. Tetapi Raden Patah tidak mau menemui ayahnya yang berada diatas kapal di tepi sungai. Sang Prabu segera memerintahkan meneruskan perjalanan, guna mencari tempat untuk persinggahan. Sampailah Rombongan di desa Dukuh Banyubiru Salatiga. Para pengikut raja membangun singgasana diatas sebuah bukit kecil, sekarang disebut candi Dukuh.

Di lokasi ini, seluruh senopati menyarankan untuk membawa paksa Raden Patah menghadap Sang Prabu. Para brahmana dan empu menyarankan agar Sang Prabu bersikap arif dan bijak, karena Raden Patah adalah anak kandungnya sendiri. Dialog yang panjang dilakukan guna mencari sebuah solusi yang tepat.

Sang Prabu melakukan ritual spiritual bersama para brahmana, guna mencari akar persoalan ( susuh angin ). Maka didapat kesimpulan bahwa ada kesalahan Sang Prabu di hadapan Sang Pencipta. Berbulan-bulan lamanya Sang Prabu melakukan refleksi diri, seluruh putra-putri dan menantunya dipanggil untuk menghadap ke banyubiru keraton dikosongkan
.
Refleksi diri adalah wahana menanam pohon kejernihan pikir yang berbunga arif dan berbuah bijaksana. Lahirlah sebuah keputusan, bahwa Sang Prabu tidak merasa pantas mengenakan mahkota dan kemegahan busana. Mahkota adalah simbol manusia berbudaya, kemegahan busana adalah simbol kemegahan raga sebagai seorang pemimpin. Hal tersebut disebabkan oleh sebuah pernyataan " jika sebagai bapak dan pemimpin harus berhadapan dan berperang dengan anak kandungnya sendiri.

Maka seorang bapak bukanlah manusia yang berbudaya ".
Sang Prabu memerintahkan seluruh pengikut setianya untuk berganti busana dengan lurik, dan mahkota nya dengan ikat kepala. Adipati terdekat adalah Pengging yang dijabat oleh menantu tertuanya, diperintahkan memintal benang " lawe " ( bermakna laku gawe ) menjadi bahan lurik.

Sebagai ikat kepala berwarna biru tua dengan pinggirnya bermotif " modang " ( bermakna ngemut kadang ). Seluruh putra-putrinya diperintahkan berganti gelar dan nama. Maka bergantilah nama mereka menjadi seperti, Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Getas, Ki Ageng Batoro Katong, Ki Ageng Bagus dll.

Penggantian tersebut bertujuan melakukan perjalanan ( laku gawe ) mengoptimalkan pola pikir yang seimbang dan jernih, dengan sebutan " ki " ( singkatan dari kihembu ). Sang Prabu berganti gelar dan nama menjadi Ki Ageng Kaca Negara.


Nama tersebut mengisyaratkan pada refleksi diri, negara diartikan sebagai diri pribadi. Keraton Majapahit telah berpindah ke Banyubiru. Buah maja yang pahit harus dimakan untuk memperbaiki sebuah tatanan kehidupan. Ditempat ini pulalah dialog antara Prabu Brawijaya V/ Pamungkas dengan ' Sabdo Palon ' dan ' Naya Genggong ' yang ada di dalam dirinya.

Selama tiga tahun Ki Ageng Pengging membangun papan untuk mertuanya, setelah selesai keraton berpindah dari Banyubiru ke Pengging. Pengging berkembang dengan pesat. Sang Prabu memerintahkan seluruh prajuritnya ke wilayah gunung kidul, hingga sekarang banyak anak-turun prajurit majapahit tinggal disana. Harta karun berupa bebatuan tak ternilai harganya ada disana. Di Pengging banyak peninggalan artefak-artefak dan candi-candi kecil majapahit. Tersebar di tengah pasar, ditengah rumah


Benteng Pertahanan Brawijaya V

Bisa jadi tak ba
nyak yang tahu bahwa kemajuan peradaban Majapahit juga meninggalkan sisa di Jember, tepatnya di Dusun Beteng, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Jember. Seperti apa jejak sejarah kerajaan yang disebut-sebut pernah menyatukan Nusantara itu.

DI sebuah pela
taran luas itu, dua pohon beringin besar seolah tertancap kokoh. Di bawahnya, fondasi dengan batu bata besar membujur ke segala arah. Di ujung pelataran tersebut, terlihat sebuah rumah sederhana. Di bagian dinding rumah itu masih tegak berdiri batu bata dengan ukuran sangat besar. Siapa pun tentu mafhum bahwa pelataran itu merupakan komplek peninggalan sejarah
.
“Daerah ini disebut Beteng. Dan, dari sini nama Dusun Beteng, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, berasal. kondisinya saat ini tidak menggambarkan sebuah bangunan benteng pertahanan. Di areal itu hanya terdapat pohon-pohon besar dari sebuah rumah yang ditempati seorang lelaki tua .

Menurut sang juru kunci, daerah itu disebut dengan Beteng. “Ini sisa kejayaan Kerajaan Majapahit. Beteng dalam bahasa Jawa atau benteng dalam bahasa Indonesia ini dibangun oleh Raja Kertabumi atau terkenal dengan sebutan Brawijaya V Konon kala itu Majapahit diserang oleh kerajaan Demak. Penyerangan itu dipimpin Raden Patah yang juga masih anak turun Raden Brawijaya V.

Setelah kerajaan M
ajapahit berhasil dikalahkan, Raja Brawijaya dan seluruh pasukannya lari ke Tengger. Raden patah belum puas dan nekat mengejar Brawijaya sampai ke Tengger. Terus terdesak, Brawijaya lari ke arah timur dan akhirnya masuk ke Jember dan menemukan daerah lapang di daerah ini.

Kemudian dia mendirikan benteng pertahanan. elama di tempat tersebut yang tidak lain adalah asal muasal Dusun Beteng, Brawijaya membangun peradababan baru.

Dia juga menciptakan sebuah kota yang akhirnya diberi nama Kedawung, yang sekarang menjadi nama sebuah dusun di sebelah utara Dusun Beteng. “Lokasinya tak jauh dari beteng ini. Dan dulunya berfungsi sebagai pasar. Keberadaan benteng ini kian ramai hingga terdengar oleh pasukan Raden Patah. Pengejaran dilakukan. Namun Brawijaya terus berlari hingga masuk ke Blambangan, Banyuwangi. “Seluruh peralatan dan beberapa benda pusaka pun ditinggal di sini. Termasuk bendera merah putih dan bangunan beteng ini.

Akibat kalah perang, lokasi ini ditinggal begitu saja. Banyak barang-barang warisan sejarah yang ditinggalkan rombongan Brawijaya V. “Saya berhasil mengamankan barang yang ada. Namun semua berbentuk batu yang gunanya untuk peralatan membuat ramuan jamu. Di tempat itu terdapat banyak peralatan dari batu. S

eperti lumpang (alat penumbuk), batu pipisan, gerusan, bengkok (alat pembuat jamu, ) dan serpihan keramik. “Sebetulnya banyak peninggalan. Sisa benteng pertahanan itu, sempat tidak terurus. Setelah itu, benteng kembali ditemukan pada 1908 seorang warga Pagerwojo . Kedatangannya ke lokasi itu sebetulnya bukan untuk mencari situs sejarah Majapahit. Namun nyantrik (berguru, ) ke Markonah, warga Semboro. “Saat itu Markonah tengah menikahkan anaknya. Dan Mat Salam di suruh mencari kayu bakar.

Karena di dalam hutan tidak ada kayu yang kering, Mat Salam pun mencari lebih jauh lagi. Sampai kemudian dia menemukan hamparan lahan seluas 2 hektare. Dan di tengah hamparan itu ada sebuah gundukan tanah setinggi 2,5 meter yang tidak lain adalah sisa benteng pertahanan tersebut.

Kemudian di dalam gundukan itu terdapat bangunan yang temboknya memiliki tebal 20 cm. Bahan yang digunakan sebagai tembok dari batu bata dengan ukuran 30-55 cm. “Dan batu bata itu masih banyak yang utuh. Lihat di dinding rumah itu,” katanya sambil menunjuk bukti batu bata sisa situs Majapahit.

Mat Salam pun akhirnya menjadikan tempat itu sebagai lokasi peristirahatan. Dan, masih cerita Ngadulgani, dia sering menjumpai peristiwa aneh di luar akal manusia. Kemudian setahun kemudian Mat Salam menjadikan lokasi itu sebagi tempat ritual larung sukerto (penyucian benda pusaka di situs Majapahit, Red). Seiring dengan perkembangan, lokasi itu dibersihkan. Dan sangat jelas bahwa lokasi itu merupakan benteng pertahanan. “Dahulu ada tembok keliling,” katanya.

Dari tempat itu, banyak ditemukan benda-benda bersejarah warisan dari Majapahit. Seperti tombak yang berdiri dengan sudut 45 derajat kemudian keris lekuk sembilan ditemukan Mat Salam pada 1958, batu lempeng yang ditemukan berjarak 500 meter dari lokasi pada 1961. Selain itu, lumpang ukuran besar ditemukan 150 meter dari pusat situs pada 1991, 1992, dan 1994. Dan, pada 1995 ditemukan batu akik warna merah. Selain itu beberapa kotak, uang logam mata uang China. Bahkan dari informasi di lokasi tersebut masih tersimpan beberapa senjata pusaka.

Di antaranya pedang Kongkam Pamor Kencono yang menjadi senjata Brawijaya V, bendera Merah Putih sebagai simbol kejayaan Majapahit, mahkota raja, Bokor Kencono, dan beberapa peti senjata. Itu terlihat ada kesamaan dari peningggalan yang ada di Trowulan, Mojokerto.

Selain itu dari bentuk prakiraan bangunan, semua mirip dengan arsitek khas Majapahit. Di dalam beteng itu, terdapat tempat pemujaan, podium, gapura, dan kebun kelapa. Dan ciri yang tidak bisa hilang adalah kelapa bercabang dua dan tiga. “Jika dijumlah, hasilnya lima dan itu merupakan Bhineka Tunggal Ika yang disimbolkan dengan Pancasila. Ini sudah ada sejak zaman Majapahit. Meski hanya sebatas pelataran, namun sampai saat ini daerah tersebut masih banyak dikunjungi orang.

Penemuan benda peninggalan purbakala di Dusun Jegles, Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri menggemparkan warga sekitar. Pasalnya, warga meyakini benda tersebut merupakan Lingga Yoni peninggalan Kerajaan Majapahit dan merupakan lambang kesuburan. enda bersejarah tersebut berbentuk batu yang menyerupai lesung dengan lubang di tengahnya.

Tak jauh dari benda tersebut, juga ditemukan sebuah alat penumbuk yang telah terpecah. edua benda itu ditemukan warga desa setempat saat melakukan penggalian tanah sebagai bahan baku pembuatan batu bata. Bukan hanya lesung dengan alat tumbuk yang ditemukan, namun sebuah benda menyerupai tempayan tumpuk yang ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan pertama. Namun sayang, benda menyerupai tempayan tumpuk tersebut sudah dalam kondisi pecah sehingga sulit untuk dikenali.

19 komentar:

  1. jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, ingat terus untuk pelajaran dan membedah ilmu pengetahuan akan datang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejarah Bumi Nusantara sangat Kaya dan Beraneka ragam, mari Kita lestarikan...masih Banyak lagi Situs yang belum Terkuak..Puri Pamecutan Mari Kita Lestarikan Budaya Bangsa...Kita sanggup Membantu apa yg bisa menguak Peninggalan itu. Ngatur Suksma...Rahayu. KI Ageng Wiro Guno Jati.

      Hapus
    2. saya mengucapkan banyak terimakasih kepada MBAH KABOIRENG yang telah menolong saya dalam kesulitan,ini tidak pernah terfikirkan dari benak saya kalau nomor yang saya pasang bisa tembus dan ALHAMDULILLAH kini saya sekeluarga sudah bisa melunasi semua hutang2 kami,sebenarnya saya bukan penggemar togel tapi apa boleh buat kondisi yang tidak memunkinkan dan akhirnya saya minta tolong sama MBAH KABOIRENG dan dengan senang hati MBAH KABOIRENG mau membantu saya..,ALHAMDULILLAH nomor yang dikasi MBAH KABOIRENG semuanya bener2 terbukti tembus dan baru kali ini saya menemukan dukun yang jujur,jangan anda takut untuk menhubungiya jika anda ingin mendapatkan nomor yang betul2 tembus seperti saya,silahkan hubungi MBAH KABOIRENG DI nomor barunya 085=260=482=111 mohon maaf MBAH KABOIRENG telah ganti nomor soalnya nomor yang satunya tidak bisa dipergunakan lagi dan ingat kesempat tidak akan datang untuk yang kedua kalinga dan perlu anda ketahui kalau banyak dukun yang tercantum dalam internet,itu jangan dipercaya kalau bukan nama MBAH KABOIRENG KLIK TOGEL 2D 3D 4D 6D DISINI













      saya mengucapkan banyak terimakasih kepada MBAH KABOIRENG yang telah menolong saya dalam kesulitan,ini tidak pernah terfikirkan dari benak saya kalau nomor yang saya pasang bisa tembus dan ALHAMDULILLAH kini saya sekeluarga sudah bisa melunasi semua hutang2 kami,sebenarnya saya bukan penggemar togel tapi apa boleh buat kondisi yang tidak memunkinkan dan akhirnya saya minta tolong sama MBAH KABOIRENG dan dengan senang hati MBAH KABOIRENG mau membantu saya..,ALHAMDULILLAH nomor yang dikasi MBAH KABOIRENG semuanya bener2 terbukti tembus dan baru kali ini saya menemukan dukun yang jujur,jangan anda takut untuk menhubungiya jika anda ingin mendapatkan nomor yang betul2 tembus seperti saya,silahkan hubungi MBAH KABOIRENG DI nomor barunya 085=260=482=111 mohon maaf MBAH KABOIRENG telah ganti nomor soalnya nomor yang satunya tidak bisa dipergunakan lagi dan ingat kesempat tidak akan datang untuk yang kedua kalinga dan perlu anda ketahui kalau banyak dukun yang tercantum dalam internet,itu jangan dipercaya kalau bukan nama MBAH KABOIRENG KLIK TOGEL 2D 3D 4D 6D DISINI


      Hapus
  2. cerita perang antara raden patah dan prabu brawijaya yang dianggap perang antara anak yang memerangi orang tuanya karena perbedaan agama adalah cerita bohong yang sengaja dihembuskan oleh orang-orang yang memusuhi islam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan selalu membenarkan keyakinan
      Tapi yakinkan kebenaran itu!!!

      Hapus
  3. salam, tidak perlu membela tanpa mengetahui kebenaran dan bukti-bukti yang ada. kejernihan dan wawasan luas untuk menapaki masa depan lebih berguna daripada menuduh atau membuat sejarah tambah berliku-liku, hanya karena merasa perlu membela suatu keyakinan karena hanya membela dan mengkeramatkannya sebagai suatu yang dipaksakan. Percayalah Tuhan yang Maha Kuasa tidak perlu dibela atau diajari tentang sejarah apapun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. brow, nusantara ini sejarah suram, jngkn zmn majapahit yg udh ratusan tahun silam, sjarah PKI aja remang2, org indonesia ini trlalu bnyk memutar balikan sejarah, jd ckp baca sbgi pngetahuan bkn untuk brdebat

      Hapus
  4. pembelaan yang bodoh.. Agama apapun dan Keyakinan apapun bermaksud baik.. cuma oknum oknumnya aja yang kelewatan...yang jelas siapa yang masuk surga adalah yang dikehendaki Tuhan... getol kaya apapun kalau tidak dikehendaki ya tetap enggak.. namanya gemar wayang kok kelakuannya kaya gitu.. hahhaha Kasihan Sunan Kalijogo yang sudah berusaha berdakwah dengan wayang..

    BalasHapus
  5. Bisa jadi tidak ada konfrontasi antara agama budha majapahit dengan islam mataram. Yang ada adalah masa keruntuhan majapahit yg lebih banyak disebabkan oleh konflik internal yg dipicu oleh harta, tahta dan wanita. Para wali yang muncul membawa agama islam sejatinya berupaya menyiapkan secara tepat dan cepat kekuasaan pengganti keruntuhan majapahit, yaitu mataram islam.
    Seperti layaknya diketahui dalam kehidupan dunia ini, masa jaya setiap bangsa pasti akan berakhir, sudah kodrat Tuhan demikian adanya.

    Persiapan dan penyiapan dari status quo penguasa jawa tentu sangat perlu dilakukan untuk menjaga dan mempertahankan kesejahteraan dan kedamaian rakyat.
    Tidak ada konflik di sini. Masa majapahit adalah masa kerukunan antar penganut agama yg sedemikian tinggi.

    BalasHapus
  6. Menurut Buku yang saya baca: Brawijaya Muksso...........akhirnya Barawijaya menerima kebenaran Islam dan bersahadat didepan sunan Kalijaga yang menda'wahi dan membimbing keislamannya....kemudian mukso....Dan raden patah sebagai anaknya dari istri yang beragama islam telah disiapkan sebagai penggantinya.........jadi tidak ada konflik ayah bapak....semuanya atas rencana yang matang dalam masa transisi dan suksesi kerjaan majapahit oleh rajanya sendiri....ini tidak lepas peran walisongo yang mampu menyebarkan islam yang damai dan toleran...Atas siakf yang bijak ini pula tidak ada konflik agama budha dan hindu di Nusantara....Umat Hindu Bali pun sangat respek terhadap Islam.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut Buku..? Dalam ajaran Islam tidak mengenal Mukso!!,
      Dalam ajaran Hindu,
      Angin dalam gentong sama dengan angin di luar gentong,
      air dalam botol berasal dari samudra,
      roh dalam badan manusia, semua mahkluk hidup berasal dari satu sumber superRoh yg disebut Tuhan, Bagi manusia yg tidak mempunyai kesadaran menganggap Tuhan hanya punya satu nama dan Rupa, tidak bisa di samakan, Harga mati ..berani menanyakan siap di sebut kafir,
      Hindu bukan seperti itu, kita bagian dari Tuhan, kita adalah saudara,
      Bersatunya atman dengan Paratman itu yg di sebut Moksartham Jagadnitha
      Tentang kesadaran Tuhan Siva-Budha : http://spiritual-sanatadharma.blogspot.com/

      Hapus
    2. klwpun manusia itu bs mukso coba jelaskan secara ilmiah

      Hapus
  7. Intinya cuma satu....Kerajaan Majapahit Runtuh Karena Diserang Anak Kandung Brawijaya sendiri karena tidak mau memeluk Islam,,,,Sungguh Kejam,,,,Oh Majapahit.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. MAJAPAHIT runtuh karena adanya pemberontakan dari seorang demang wengker (ponorogo) yang bernama ki ageng kutu surya alam seorang pimpinan warok, karena sang raja telah korup, paceklik yang tiada solusi dan bantuan serta terpengaruh istrinya yang dari china beragama muslim.

      warok era majapahit ialah seorang bala tentara militer handal majapahit di bawah naungan gajah mada di aratan-laut-maupun udara, karena kekuatan warok yang agdidaya menjadi alasan tersendiri untuk mengeyam sumpah palapa.

      jadi tidak salah kerajaan sebesar majapahit yang besar kalah dengan sejumlah warok yang mempunyai fungsi inti dari sebuah kota kecil. maka dari itu sejarah indonesia menyembunyika kronologi ini, karena sangat memalukan.

      peperangan terjadi karena surya alam menghina raja dengan sebuah tarian barongan(reyog) yang menggambarkan lemahnya sang raja terhadap istri, penari kuda kepang pria berparas perempuan yang menggambarkan prajurit majapahit tanpa ponorogo hanyalah banci, dan tarian akrobatik topeng bujang ganong yang menggambarkan kekuatan surya alam yang akan menghancurkan majapahit karena membawa pusaka tombak yang di curi surya alam hasil penaklukannya atas pemberontakan ronggolawe di tuban. dan ini membuat sang raja marah dan mengirimkan surat kepada para wali singo yang berpusat di demak untuk menghancurkan perkumpulan surya alam....

      kerajaan demak atas perintah sunan kalijaga mengutus batara katong yang merupakan putera dari sang raja untuk menaklukan surya alam yang beragama budha untuk masuk islam dan tunduk,,, sebelumnya sunan kalijaga hendak berdakwah di wilayah ponorogo tak berhasil karena halangan para warok yang kuat.

      alkisah calon suami gandini (anak tertua surya alam) telah dijadikan budak homo atau biasa disebut gemblak, dan gandini hendak bunuh diri, disinilah batara katong melarangnya dan menasehati pada akhirnya gandini masuk islam dan di nikahi oleh batara katong apabila gandini mau mengambil pusaka majapahit, akhirnya peperangan terjadi dan kalahlah tipis para warok, hal ini membuat sedih sang raja beserta jajaran kerajaan terutama penasihat kerajaan sabdo palon. putra surya alam bernama suro menggolo pun masuk islam.

      dan di saat pusat kekuatan majapahit lemah, kerajaan demak pun menyerbu kerajaan majapahit yang sudah amat lemah.


      Hapus
    2. Komentar diatas apa maksudnya...
      Pasukan inti itu ya pasukan Bhayangkara bos

      Hapus
  8. barangkali bicara kebenaran masa yang telah lampau butuh keheningan juga agar terbebas dari kepentingan hawa nafsu ... semoga kita semua mengambil hikmah dari jerih payah semua sedulur di atas .... salam

    BalasHapus
  9. jangan diperdebatkan... terimalah sebagai pengetahuan yang menambah wawasan kita... karena kalau kita mempertahankan pendapat masing tanpa ada yang mau mengalah, akan timbul konflik...

    BalasHapus