Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 11 Januari 2010

CANDI SIMPING

( PEDHARMAAN RADEN WIJAYA )


Candi simping adalah Pedharman Raden Wijaya (raja pertama dari dinasti Majapahit) yang bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana. Keterangan ini terdapat pada kitab Negara Kertagama yang ditulis Empu Praspanca.

Oleh karena itu bisa dipahami raja Hayam Wuruk dalam kunjungannya ke daerah Blitar beberapa kali mampir di candi ini. Bahkan Hayam Wuruk dan Mahapatihnya, Gajahmada pernah menginap di candi ini.

Disebut juga candi Sumberjati, terletak didesa Sumberjati, Kecamatan Surah Wadang, Daerah Kademangan, Blitar Selatan. Dari arah Blitar kita ke jalan raya ke Tulung Agung, setelah melewati jembatan sungai Brantas, melintas ke kiri melalui jalan desa, penduduk setempat cukup faham lokasinya.

Saat ini candi Simping masih dalam keadaan berupa reruntuhan, namun pada saatnya, merupakan persemayaman abu jenazah Raden Wijaya (1293 – 1309 M), negeri kerajaan Majapahit dalam perwujudannya sebagai Hari-Hara (gabungan Wishnu dan Shiwa). Candi ini disebut-sebut di naskah Negarakertagama, dan direnovasi oleh Raja Hayamwuruk pada tahun 1285 Syaka (1363 M), kontruksi gambar yang dibuat oleh Dinas Kepurbakalaan menggambarkan candi ini indah dan ramping meninggi.

Pada batur candi setinggi 75 cm, panjang 600 cm dan lebar 750 cm ini terpahat relief berbagai macam binatang. Di antaranya Singa, angsa, merak , burung garuda, babi hutan dan kera. Di sisi barat ada tangga (flight step) yang dulu digunakan sebagai jalan masuk ke ruang candi. Di tengah-tengah batur candi ini terdapat batu berbentuk kubus dengan ukuran 75 cmx 75 cm x 75 cm. Pada bagian atas batu ini dipahat relief kura-kura dan naga yang saling mengkait mengitari batu tersebut. Tak jelas apa guna atau fungsi batu berbentuk kubus ini.

Para sejarawan memperkirakan batu ini berfungsi sebagai tempat sesajian untuk para desa. Pada badan candi yang direkontruksi di halaman candi terdapat hiasan-hiasan bermotif sulur-suluran dan bunga. Sementara pada mustaka candi terdapat pelipit-pelipit garis dan bingkai padma (bunga teratai).

Dari rentuhan yang ada diperkirakan bentuk candi Simping ini ramping (slime) sebagaimana bentuk jandi-candi Jawa Timuran. Di atas pintu utama dipahat kepala Kala yang kelihatan menyeramkan sebagai penjaga pintu Pahatan kepala kara ini, seperti umumnya kepala Kara model Jawa Timuran, tidak dilengkapi dengan Makara. Pada sisi utara, timur dan selatan terdapat cerukan yang masing-masing di atasnya juga terpahat patung Kala. Pahatan (patung) kepala Kala ini sekarang nampak berserakan di halaman candi.

Di halaman c
andi sebelah timur laut terdapat tiga buah Lingga-Yoni kecil. Tak jelas Lingga-Yoni ini dulu ditempatkan dimana. Hanya saja anehnya, pada bagian bawah Lingga untuk menancapkan ke Yoni ini tidak berbentuk silinder, tetapi segi empat. Sedangkan dibagian atas bersegi delapan.

Di dekat Lingga-Toni ini ada beberapa patung yang tak jelas patung siapa karena kepalanya sudah tidak ada sehingga tidak bisa dikenali. Di sudut tenggara halaman candi terdapat patung singa yang duduk di atas padmasana. Sayang patung singa ini kepalanya sudah tidak ada, tinggalm badanya saja. Sedangkan di sebelah selatan batur candi terdapat sebuah lingga miniatur c
andi. Diduga kuat di sini ada patung Hari Hara yang kini tersimpan di musium Jakarta.

Kondisi Candi Simping tidak memungkinkan untuk dipugar. karena terlalu banyak bagian candi yang hilang Kitab Negarakretagama menyebutkan candi itu merupakan tempat Raden Wijaya diperabukan. ”Akan tetapi, kitab itu juga menyebutkan bahwa Raden Wijaya diperabukan di Candi Brau Trowulan. Candi itu juga memiliki relief jenis pradasina, relief yang dibaca searah jarum jam. Biasanya relief pradasina tidak digunakan pada candi yang berfungsi sebagai makam

Peneliti di Balai Arkeologi Yogyakarta menulis bahwa kakawin Nagarakretagama mencatat Krtarajasa meninggal pada tahun Saka 1231 (1309 M) dan di-dharma-kan di Simping dengan sifat Siwaitis dan di Antapura dengan sifat Budhistis

Di Candi Simping itu sebenarnya ada arca setinggi 2 meter yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Dalam Negarakretagama disebutkan Hayam Wuruk berkunjung beberapa kali, hingga pada tahun Saka 1285 (1363 M) memindahkan candi makam Krtarajasa.

3 komentar:

  1. Penjelasan anda salah ..., tolong dipelajari di dalam kitab Negarakertagama, tidak pernah ditemukan kalimat yang menjelaskan bahwa Sanggrawijaya (R. Wijaya) diperabukan di Candi Brahu (Brau).
    Perhatikan kitab Negarakertagama pupuh XLVII/3 disebutkan : 'Tahun saka surya mengitari tiga bulan (1231) Sang Prabu (Wijaya) mangkat, ditanam di dalam pura Antahpura, begitu nama makam beliau dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa'.

    http://wongjawa670.blospot.com

    BalasHapus
  2. Simping adalah tempat pengabuan Raden Wijaya dalam wujud Harihara. Kunjungan Hayam Wuruk untuk nyekar ke Simping adalah bukti tertulis dalam Desa Warnana. Tradisi Chiwa masa Hindu memang terkesan memberikan pemujaan terhadap leluhur dalam berbagai bentuk yang tersebar di sepanjang kepulauan Jawa. Membaca masa lalu tidak bisa dengan metode pemutlakan pendapat. Menerjemahkan Negarakertagama atau Desa Warnana tidak bisa sepenggal-sepenggal. Demikian juga menenelusuri sejarah yang ada, perlu dipadukan dengan artefak, data arkeologi lainnya. Pendek kata, pendapat tentang sejarah Majapahit masih jauh dari upaya restorasi esensial.tnk

    BalasHapus
  3. Saya perjelas juga. Candi Simping terletak di desa tempat saya tinggal ini Kecamatan Kademangan bukan Suruhwadang. Mohon bila menuliskan blog dengan informasi yang benar. Apalagi yang anda bahas adalah menganai sejarah.

    BalasHapus