Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 10 Januari 2010

KERTAWIJAYA

BRAWIJAYA I (1447-1451)


Dyah Kertawijaya adalah raja Majapahit yang memerintah tahun 1447-1451 dengan gelar Sri Maharaja Wijaya Parakramawardhana. Menurut Pararaton, Kertawijaya adalah putra Wikramawardana dari selir dan merupakan adik tiri dari Suhita Ratu Majapahit Ke VI.


Putra Wikramawardana yang lain adalah Hyang Wekasing Sukha, Bhre Tumapel, dan Suhita. Sebelum menjadi raja, Kertawijaya pernah menjadi Bhre Tumapel, yaitu menggantikan kakaknya yang meninggal awal tahun 1427.

Arca Peninggalan Majapahit


Masa Pemerintahan Kertawijaya



Kertawijaya naik takhta menggantikan Suhita tahun 1447. Pada masa pemerintahannya sering terjadi gempa bumi dan gunung meletus. Juga terjadi peristiwa pembunuhan penduduk Tidung Galating oleh keponakannya, yaitu Bhre Paguhan putra Bhre Tumapel. Dalam Prasasti Waringin Pitu disebutkan bahwa Kertawijaya bersifat Dewa Wisnu, memiliki jiwa yang tinggi dalam pemujaan terhadap para Dewa dan diibaratkan matahari (mentari), menyilaukan mata, bersumarak bersih nirmala yang disebabkan kemegahan beliau karena pada tubuh sang raja mengeluarkan cahaya (aurora).

Sudah b
arang tentu sang raja memiliki ilmu supranatural yang sangat tinggi. Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Dyah Krtanegara ini bernama Raden Hardiwijaya, putra Prabu Murdaningkung.

Arca di Candi Sukuh

Raden Hardiwijaya ini naik tahta dengan sebutan Prabu Brawijaya I, dengan patihnya Panular II (Adipati Patih Demang Panular II-Pangeran Demang). Kehidupan Prabu Brawijaya I ini penuh kemewahan dan kebahagiaan. Bahkan dalam Prasasti Widjaya-parakrama-wardana, sebagaimana ditulis oleh Prof HM Yamin dalam bukunya Negarakrtagama Sapta-parwa, menguraikan:

Dipertuan segala machluk yang menguasai seluruh dunia dan tak ubahnya sperti yang tertua dari segala Dewa, nan mengatasi puncak bangunan segala raja-raja musuh, sehingga tak ubahnya seperti Wisnu yang mengirimkan tentaranya menuju segala penjuru alam, nan berjiwa pemujaan segala pujian seluruh buana, yang menjadi daerah kekaguman tentang sekalian ilmu pengetahuannya, nan berwajah kembang tunjung utama, yang berseri-seri karena kelimpahan pujian dan kemegahan gilang gemilang, yang dihinggapi serangga tabuhan berbondongan, yaitu, seri mahkota sekalian raja-raja yang lain, nan berpelayan orang-orang utama diantara para musuh dikalahkan dan yang bergirang hati sehingga mengganti upah mereka dengan kegembiraan, seperti berlaku dengan para pelayan yang lain, nan bertubuh menjadi pujian segala orang yang mencari perlindungan padanya,

karena gelisah dan berpecah-belah, nan bersifat lemah lembut seperti aliran batang air Gangga yang memiliki pengetahuan dan kemurahan, nan bersemangat dapat dibandingkan dengan suatu bangunan gedung dan yang berkatetapan sebagai kaki raja di gunung (Adri-sja yaitu Himalaya), raja yang mahaluhur dan mahatunggal, serta terpuji sebesar-besar diatas dunia jagad, nan menyedarkan muka segala manusia yang baik-baik, seperti Dang Rembulan mengembang bunga tunjung, nan menghilang gelap gulita pada watak manusia, seolah-olah berlaku sebagai sang mentari, nan mengarahkan wajah-muka kepada kebajikan yang mendekatinya, tetapi yang memalingkan muka dari segala keburukan, nan mengembara di atas bumi menyilaukan mata karena bersumarak bersih-nirmala disebabkan kemegahan beliau, yang bertegak gelar kerajaan berbunyi Wijaya-parakrama-wardana dan bernama kecil Dyah Krtawijaya.

Sedemikian rupa pujian serta penggambaran tentang figur maharaja terhadap sang Prabu Brawijaya I dalam prasati Wijaya-parakrama-wardana yang berasal dari Desa Surodakan (Trenggalek) bertarikh tahun saka 1369 = Masehi 1447.

Dalam
prasati tersebut juga dapat diketahui bahwa sistem pemerintahan yang dijalankan oleh sang Prabu Brawijaya I menganut sistem pembagian kekuasaan (Distribution of Power) dan diatur melalui perintah Sri Paduka Maharaja. Sebagai contoh di bidang sengketa hukum, kewenangannya diberikan kepada Hakim Dharma Upapati. Pekerjan mereka memutuskan sengketa-sengketa hukum dan berbagai perselisihan.

Arca di Candi Sukuh

Adapun perintah Seri Paduka Maharaja dalam hal ini menyebutkan:

  1. Pamegat Kandangan Tua: Dang Acarca Naradaya, yang putus pengajiannya dalam ilmu mantik agama Budha,
  2. Pamegat Manghuri: Dan Acarca Taranata, yang putus pengajiannya dalam ilmu Waisjsika,
  3. Pamegat Pamotan: Dang Arcaca Arkanata, yang putus pengajiannya dalam ilmu mantik dan bahasa,
  4. Pamegat Kandangan Muda: Dang Arcaca Djina-indra, yang putus pengajiannya dalam ilmu mantik dan agama Budha.
Banyak tindakan-tindakan strategis yang diambil Paduka Raja Brawijaya I selama dalam menjalankan pemeritahan kerajaan, baik dalam menindak lanjuti konsep-konsep pemerintahan sebelumnya maupun kebijakan-kebijakan barunya. Tercatat tindakan populernya adalah pembentukan daerah-daerah perdikan (swasembada) yang masih bisa kita lihat sampai tahun 1979, karena setelah tahun tersebut tanah- tanah perdikan maupun tanah-tanah adat lainnya telah terhapus dengan UU No 5 Tahun 1979 Tentang Pemeritahan desa, yang mengatur tentang nama, bentuk, susunan dan kedudukan pemerintahan desa.

Hubungan antara Rajasawarhana dengan Kertawijaya tidak disebut secara tegas dalam Pararaton, sehingga muncul pendapat yang mengatakan kalau Rajasawarhana naik takhta setelah membunuh Kertawijaya. Pendapat lain mengatakan Rajasawarhana adalah putra Kertawijaya yang nama aslinya tercatat dalam prasasti Waringin Pitu sebagai Dyah Wijayakumara.


Akhir Pemerintahan Kertawijaya

Kertawijaya wafat tahun 1451. Ia dicandikan di Kertawijayapura. Kedudukannya sebagai raja digantikan Rajasawarhana. Penyebutan Dyah Krtawijaya sebagai Brawijaya I tersebut karena raja ini memiliki nama yang berunsur Wijaya (keturunan Raden Wijaya) dan memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, sehingga dikagumi rakyatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar