Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sabtu, 14 Mei 2011

KESARI WARMADEWA

SRI WIRA DALEM KESARI (TH 913 - 924) M

Setelah jatuhnya Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang dari wangsa Sanjaya akibat peperangan dengan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan maka mulailah kekuasaan Dinasti Wangsa Warmadewa di Pulau Bali.

Sri Kesariwarmadewa adalah raja pertama di Bali dari Dinasti Warmadewa yang didirikan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan lokasi Kerajaan di sekitar Besakih. Beliau merupakan keturunan wangsa Warmadewa yang berasal dari Kerajaan Kutai

Prasasti Blanjong

Sri Kesari dianggap sebagai pendiri sebagai dinasti Warm
adewa , yang makmur selama beberapa generasi, salah satu keturunan yang menjadi terkenal raja Udayana .

Menurut prasasti, Sri Kesari adalah seorang raja Buddha dari Dinasti Syailendra memimpin sebuah ekspedisi militer, untuk membangun Mahayana pemerintah Buddha di Bali. Sri Kesari Warmadewa adalah raja pertama Bali untuk meninggalkan prasasti yang ditulis. Dia menulis prasasti di 914 CE pilar Belanjong ("Prasasti Blanjong") di selatan Sanur dan prasasti Penempahan, dan prasasti Malet Gede (835 Saka)9.

Keadaan ketiga prasasti itu telah aus. Banyak bagiannya tidak terbaca lagi secara utuh, termasuk nama raja yang disebut di dalamnya. Bagian nama raja yang terbaca pada isi A.4 prasasti Blanjong adalah ... sri kesari .
.. sedangkan pada sisi B.13 terbaca ... sri kesariwarmma (dewa) (Goris, 1954a : 64-65). Bagian nama raja dalam prasasti Penempahan yang masih terbaca adalah ... sri ke ... dan pada prasasti Malet Gede berbunyi ... sri kaesari ... (Kartoatmodjo, 1977 : 150-151 ; cf. Damais, 1959 : 964). Prasasti ditulis baik dalam India Sansekerta bahasa dan bahasa Bali Lama, menggunakan dua script, yang Nagari script dan orang Bali script Lama (yang digunakan untuk menulis baik Bali dan bahasa Sansekerta).

pilar yang menyaksikan pada koneksi dari Bali dengan Dinasti Sanjaya di Jawa Tengah . Ini adalah tanggal menurut India kalender Saka . Hal lain yang menarik perhatian ialah ketiga prasasti tersebut pada hakikatnya menggambarkan kem
enangan raja Sri Kesari terhadap musuh-musuhnya. Sebagai akibat prasasti-prasasti itu telah aus, hanya dua di antara musuh-musuh itu dapat diketahui, yakni di Gurun dan di Suwal.

Pura Besakih

Perlu ditambahkan bahwa lokasi Gurun dan Suwal sampai dewasa ini belum diketahui secara pasti. Di antara para ahli, ada yang berpendapat bahwa Gurun mungkin sama dengan Lombok dewasa ini. Pendapat lain menyatakan bahwa Gurun mungkin identik dengan Nusa Penida. Sri Kesari Warmadewa dikenal sangat tekun beribadat untuk memuja dewa dewa yang bersemayam di Gunung Agung. Tempat pemujaan beliau disebut Merajan Selonding atau Merajan Kesari Warmadewa.

Beliaulah yang mengadakan perluasan atas pura Penataran Agung Besakih yang tadinya sangat sederhana. Beliau kemudian membangun pura –pura di besakih untuk melengkapai bangunan suci yang telah ada diantaranya :

  1. Pura Gelap untuk memuja Dewa Iswara
  2. Pura Kiduling Kreteg untuk memuja Dewa Brahma
  3. Pura Ulun Kulkul untuk memuja Dewa Mahadewa
  4. Pura Batumadeg untuk memuja Dewa Wisnu
  5. Pura Dalem Puri untuk memuja Dewi Durga
  6. Pura Basukihan untuk memuliakan Naga Basukihan
Beliaulah yang memerintahkan masyarakat untuk merayakan hari Nyepi pada sasih Kesanga.


ASAL USUL KETURUNAN


Pada abad ke-4 di Campa, Muangthai bertahta Raja Bhadawarman. Beliau diganti oleh anaknya bernama Manorathawarman, selanjutnya Rudrawarman. Anak Rudrawarman bernama Mulawarman merantau, mendirikan kerajaan Kutai. Mulawarman diganti Aswawarman. Anaknya bernama Purnawarman mendirikan kerajaan Taruma Negara. Anak Purnawarman bernama Mauli Warmadewa mendirikan kerajaan Sriwijaya. Anak Mauli Warmadewa bernama Sri Kesari Warmadewa pergi ke Bali, pertama-tama mendirikan Pura Merajan Salonding dan Dalem Puri di Besakih.

dikisahkan keadaan Pulau Bali, semua pura rusak terbakar, yang masih tertinggal hanya dasar bangunan saja. Dikisahkan para Arya Hindu memugar dan membangun kembali semua pura yang sudah rusak bersama masyarakat Bali Aga. Adapun yang diberi gelar awatara dewata ialah Baginda Sri Kesari Warmmadewa.

Sesudah selesai membangun semua pura, baginda bermaksud melaksanakan upacara, upacara itu dimulai pada hari Rabu Kliwon Sinta, yang bermakna mengupacarakan benteng pertahanan, selanjutnya mengadakan untuk segala perlengkapan senjata perang yang jatuh pada hari Sabtu Kliwon Landep selanjutnya disebut Hari Raya Tumpek Landep.

    Pura Besakih

Pada hari Sabtu Kliwon Wariga, juga melaksanakan upacara yang disebut Tumpek Uduh, Baginda juga bermaksud melaksanakan upacara Dewa Yadnya serta upacara para dewata yang gugur di medan perang, yang jatuh pada hari Rabu Kliwon Dungulan, yang disebut Hari Raya Galungan. Pemasukan pajak hasil bumi dari luar Pulau Bali yakni, Makasar, Sumbawa, Sasak, dan Blambangan, yang dibawah kekuasaan Baginda Raja di Bali, di upacarakan pada hari Kamis Wage Sungsang yang selanjutnya disebut Hari Raya Sugian Jawa.

Khusus bagi penduduk Bali Mula upacara itu dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon Sungsang, selanjutnya bernama Hari Raya Sugian Bali. Adapun pelaksanaan Hari Raya Galungan bermula pada hari Rabu Kliwon Dungulan, sekitar bulan Oktober saat bulan purnama, pada tahun Saka 804/882 Masehi. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indraloka, menyuarakan bunyi-bunyian yang tak henti-hentinya siang malam memuja Sang Hyang Widhi dan para dewata.

Pulau Bali aman dan makmur sejak Maharaja Sri Kesari Warmmadewa sebagai penguasa tunggal yang diberi gelar awatara Dewata. ketika datangnya arya-arya Hindu yang menguasai bumi Bali juga ikut membangun dan memperbaiki kahyangan jagat seperti yang bernama Sri Wira Dalem Kesari kembali memperbaiki Pura Sad Kahyangan, antara lain:


  1. Pura Penataran Besakih
  2. Pura Bukit Gamongan
  3. Pura Batukaru
  4. Pura Uluwatu
  5. Pura Erjeruk
  6. Pura Penataran Pejeng.

AKHIR PEMERINTAHAN

Beberapa tahun kemudian karena sudah tua mangkatlah Sri Aji Bali pada tahun Saka 837/915 Masehi Putra beliau yang menggantikan tahta, tidak beda dengan beliau yang sudah menyatu dalam Sunya, selalu taat berbakti kehadapan Sanghyang Widhi dengan bersembahyang di pura-pura Sri Ugrasena Warmmadewa nama beliau sang Prabu, bijaksana dan termasyur di dunia beliau memerintah, aman sentosa pulau Bali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar