Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 10 Januari 2010

PURA TAMBANGAN BADUNG

Pura tambangan badung terletak di pusat kota denpasar, tepatnya di banjar pemedilan kerandan, desa pemecutan denpasar. Lokasi pura ini sangat strategis dan sangat mudah dijangkau, tepatnya di sebelah barat pasar pasah pemedilan, yang terletak di jalan gunung batur denpasar.


SEJARAH PURA TAMBANGAN BADUNG

Pura tambangan badung merupakan salah
satu jajaran pura tua yang ada di bali. Pura ini sudah berdiri sebelum anglurah pemecutan pertama berkuasa.Kemudian dalam peralanannya, pura tambangan badung diperluas dan dipugar oleh bhatara sakti raja badung, kemudian diempon oleh puri agung pemecutan.setelah diperluas oleh raja badung, Pura tambangan badung beberapa kali mengali proses perehaban diantaranya adalah pada tahun 1928 dan tahun 1990.

Di dalam tutur babad karana, diceritakan pura tambangan badung dulunya bernama pura taman, kemudian berubah menjadi pura ayu penestaran panembahan badung, sebelum menjadi pura tambangan badung. tutur babad karana juga menceritakan tentang keadaan pura di lingkungan soring jagat badung, yang erat kaitannya dengan puri dan pura panembahan badung dan bebanjaran di lingkungan pemecutan .Dengan luas keseluruhan areal pura berkisar dua hektar, Pura tambangan badung dibagi menjadi tiga mandala dengan komposisi pelinggih lebih banyak terletak di utama mandala. Di mandala pertama yang terletak tepat di depan pasar, terdapat dua buah meriam yang menghiasi candi bentar yang dusebut dengan gora dan gori.

Di mandala kedua, terdapat sebuah bangunan terbuka yang berfungsi sebagai wantilan pura. Lepas dari madya mandala, kita akan memasuki utama mandala dengan melewati sebuah candi kurung unik, dihiasi dengan dua buah arca di kanan kirinya yang disebut dengan arca jaksa dan jaksi.Utama mandala, merupakan areal yang paling luas dan dipenuhi dengan pelinggih pelinggih, termasuk pelinggih pokok pura.

Bila dilihat , utama mandala pura tambangan badung sekilas tampak mirip dengan suasana di sebuah kerajaan. Salah satu keunikan dari pura ini, adalah adanya dua pemedalan yaitu pemedalan siwa dalem tambangan badung di sisi timur, dan pemedalan ida bhatari durga di sisi barat.Jajaran pelinggih yang menghiasi utama mandala tersusun apik sesuai fungsi dan kedudukannya masing masing.

Ada beberapa pelinggih yang sangat unik, diantaranya adalah pelinggih hyang ibu candi yang struktur bangunannya berbentuk candi, yang didalamnya terdapat dua buah lingga. Konon di bawah candi inilah dipendam prasasti prasasti penting yang mengisahkan tentang pura dan kerajaan bali.Pelinggih pokok pura, adalah pelinggih luhur kaler atau yang juga disebut dengan anglayang, linggih ida bhatara siwa ring gunung agung, batur, gunung jati. Bentuk pelinggih ini layaknya padmasana yang dilengkapi dengan bedawang nala dan naga sebagai hiasannya.

Di sebelah pelinggih pokok, berdiri pelinggih gedong dalem tambangan badung yang merupakan stana dari siwa dalem dan ratu ngurah ratu agung kiwa tengen.Selain pelinggih pokok, utama mandala juga dilengkapi dengan pesanggrahan agung yang terdiri dari beberapa pengayatan ke pura sad kahyangan seperti pengayatan ke pura sakenan, pura uluwatu,pura batukaru, pura besakih, dan pura batur.

Pelinggih lain yang berada di areal utama adalah jajaran pelinggih hyang ibu, diantaranya adalah hyang ibu agung, ibu meranggi, ibu ngurah, ibu jembrana, ibu bongani, ibu rurung, ibu tameng, ibu pupuan, ibu bandem, ibu taruna, ibu tojan, ibu mekel bukit, ibu klating, ibu tinggi, ibu janggal, ibu prani gata , ibu pasek agung dan ibu sari. Selain beberapa pelinggih, pura tambangan badung juga dilengkapi dengan beberapa buah bale pelengkap, seperti bale semanggen, bale prasanak, bale penganten genah bhatara manik galih, bale gajah, bale pemiodan peranda sinuhun, bale ban, bale pererepan ratu ayu, pewaregan dan lumbung.

Di sisi utara pura, terdapat sebuah palebahan pura yang merupakan linggih ratu ayu saren taman. pelinggih ini merupakan stana ratu ayu mas meketel, ratu mas mereronce, bhatari gayatri dan bhatari gangga.Ada beberapa tradisi unik yang dilaksanakan di pura tambangan badung, diantaranya adalah tradisi tari baris tangklong yang di pentaskan pada waktu penampahan galungan, dan tradisi unik siyat sampian yang dilaksanakan pada waktu manis kuningan . Tujuan dari tradisi unik ini adalah untuk pembersihan mala dan menanamkan jiwa ksatria.

Piodalan di pura tambangan badung didasarkan atas perhitungan pancawara, saptawara dan pawukon, sehingga piodalan akan berulang setiap 210 hari sekali, tepatnya pada wraspati wuku sungsang yang bertepatan dengan sugian jawa. Sedangkan piodalan yang dilaksanakan satu tahun sekali adalah purnamaning kapat yang disebut ngapat dan purnaming kedase bulan april.Berdasarkan lintas sejarah dan kenyataan yang berkembang, pura tambangan badung merupakan pura yang berstatus sebagai pura kahyangan tiga yaitu pura siwa dan pura kerajaan.

Kepustakaan
Darmawan Mataram Monday, 22 September 2008 14:13

1 komentar:

  1. Bligung....setelah tiang coba tautkan dengan blognya IGP Agus Kurniawan banyak kesamaan dengan ceritera pengelingsir kita di Desa Pedamaran SUMSEL (3 jam dari Palembang - desa tempat lahir dan moksahnya Sri Arya Damar versi Palembang) terutama soal putra Sang Arya Damar yang bernama Arya Ngurah Barak, nama itu dikenal juga di Palembang yang mana Arya Ngurah Barak yang lahir di Desa Pedamaran diajak ke Bali dengan cara digendong oleh Gurunya yang kelak menurunkan keluarga Puri Kelungkung, makom (tempat pemujaan yang berbentuk seperti makam) beliau masih ada di Palembang, beliaulah yang membawa pecut dari siguntang ke Bali yang kemudian menjadi simbol Puri pemecutan dan sekarang pecut itu masih rapi ditopang bambu kuning bukit siguntang... semua sejarah itu nantinya akan terungkap, tetapi belum bisa disebarkan sekarang mengingat banyak sekali yang harus dihubungkan, karena jaraknya terpisah sangat jauh (jarak di Sumatera bisa ribuan kilometer). Ada satu tempat di pinggiran sungai Musi Palembang yang nantinya akan menjadi pusat berita Arya Damar, berhubungan dengan peninggalan batu dermaga di Lampung dan Sunda yang berjarak lebih 1000 km, tiga dermaga : Sunda-Lampung-Palembang adalah wilayah pusat pasukan armada barat Majapahit dibawah kendali Arya Damar). Paranormalnya yang menetap disana yang bernama Eyang......(belum bisa disebutkan sekarang) sedang berada di puncak Gunung Dempo (9 jam dari Palembang) sebuah lempengan batu berbentuk burung sebagai tempat moksahnya Gajah Mada. Sampai saat ini tiang telah mengenal 24 paranormal dari Jawa khususnya yang sedang mencari jejak Arya Damar yang sangat misterius, semuanya dituntun oleh Sri Arya Damar untuk mencari kembali jejak leluhur... Kita tunggu saja semua akan terungkap jelas... nanti tiang bagi beberapa informasi yang sudah boleh disebarkan berikut foto-fotonya untuk referensi blog bligung...tiang masih mengumpulkan jejak leluhur di sumatera sebagai penyambung lidah para waskita, tetapi mereka masih belum selesai mencari, jadi informasinya belum lengkap. Sekitar 25-29 Maret 2009 Arya Damar dan Gajah Mada beserta Sabdopalon-Naya Genggong sudah turun di Bukit Siguntang sebagai awal turunnya kembali para leluhur. Saat itu sekitar 3 bus dan puluhan mobil dari kesultanan Solo, Jogja dan beberapa paranormal datang kesana. Mereka semua tersadar bahwa sudah saatnya mengucapkan "OM NAMA KALKI YA" untuk mencari keselamatan saat pralaya tiba. Pulang dari sana mereka seperti tersadar kembali, tgl 22 April 2009 tiang berkunjung ke Solo dan Klaten, banyak candi baru bermunculan dan yang membuat bulu kuduk berdiri, ditengah-tengah keraton Solo yang notabene pusat Islam fanatik tempat dilindunginya Nurdin M Top, orang2 berbondong bondong ke sebuah pura kuno ditengah keraton yang ada patung SEMAR (Bali : TWALEN) dengan tulisan "OM NAMA KALKI YA", bahkan yang terbaru ditengah kampus Universitas Islam Indonesia Jogjakarta ditemukan Candi Siwa dengan Patung Ganesha dan Lingga Yoninya.... semuanya adalah pertanda untuk kita, dan sekarang kembali lagi kepada kita semua, apakah kita akan menangkap pertanda alam itu atau cuek saja.... "OM NAMA KALKI YA - WAKRATUNDA MAHAKAYA SURYAKOTI SAMAPRABA NIRWIGNAM KURUMU DEVA SARWA KARYESU SARWADA"...Kalau leluhur sudah datang kita akan seperti orang gila bagi banyak orang, padahal sebenarnya merekalah yang gila karena tidak bisa melihat kedatangan leluhurnya...Maju terus bli, blognya bagus. Kalau sempat berkunjunglah ke pura Keraton Solo, pasti akan dapat sesuatu penerangan tentang leluhur...

    BalasHapus