Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tampilkan postingan dengan label Pemecutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemecutan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2011

RAJA PEMECUTAN X

IDA COKORDA NGURAH GDE PEMECUTAN /
KIYAYI ANGLURAH PEMECUTAN X


Pada tanggal 28
Oktober 1939 Purnama kelima Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan abiseka Ratu menggantikan Raja Pemecutan IX yang gugur pada peristiwa heroik Puputan Badung pada hari kamis kliwon wara ukir tanggal 20 September 1906 jam 16.00 wita.

Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan sebagai penguasa wilayah Badung tahun 1947

Kisah B
ayi Dalam Perang Puputan Badung


Raja
Pemecutan IX mempunyai 3 orang saudara dari lain ibu yaitu :
  1. Kyahi Ngurah Putu (Menjabat sebagai Patih Agung)
  2. Kyahi Ngurah Made
  3. Kyahi Ngurah Rai
  4. Kyai Ngurah Ketut/ Bima
Dalam perang puputan tersebut semua Saudara beliau gugur sebagai seorang kesatria demi membela tanah Badung agar tidak jatuh ketangan Belanda. Salah seorang Saudara beliau yaitu Kyahi Ngurah Rai mengambil istri dari Jero Grenceng yaitu Anak Agung Ayu Oka yang merupakan anak kandung dari Kyahi Agung Putu Gde lahir seorang bayi yang baru berumur 3 bulan.

Bayi te
rsebut ditemukan terbaring dan menangis disamping jenazah ibunya yaitu Kyahi Agung Ayu Oka yang turut serta gugur mendampingi suaminya Kyahi Ngurah Rai dalam perang puputan tersebut. Bayi yang masih berusia 3 bulan tersebut diselamatkan oleh bibinya yaitu Anak Agung Kompyang Raka untuk dibawa ke Geria Tegeh Bindu Kesiman.

Adapun pertimbangannya dibawa kesana karena disana ada keluarga dekatnya yaitu Anak
Agung Made Oka yang merupakan putri dari Anak Agung Made Banjar dari Jero Grenceng juga sedang menyusui . Bayi ini dipelihara dan diasuh oleh Ida Putu Grodog hingga berusia lima tahun.

Setelah keadaan dirasa sudah aman maka bayi tersebut dikembalikan lagi untuk selanjutnya diasuh oleh kakek dan pamannya di Jero Grenceng. Bayi tersebut kemu
dian diberi nama Kyahi Ngurah Gde Pemecutan. Menurut sesepuh Jero Grenceng, Kyahi Ngurah Gde Pemecutan setelah berumur 20 tahun pindah dari Jero Grenceng ke Jero Kanginan.



PENOBATAN COKORDA PEMECUTAN X


Setelah Perang puputan Badung terjadi kekosongan pemerintahan selama beberapa tahun di Puri Pemecutan, kemudian atas prakarsa keluarga besar Puri Agung Pemecutan dan Warga Ageng Pemecutan dan untuk melestarikan budaya leluhur terdahulu maka dicarilah kandidat untuk diangkat sebagai Cokorda Pemecutan ke X.

Kyahi Ngurah Gde Pemecutan
merupakan keponakan dari Cokorda Pemecutan IX , dalam Perkembangannya karena Raja Pemecutan IX hanya meninggalan seorang Putri yaitu Anak Agung Sagung Ibu maka berdasarkan hasil Musyawarah Keluarga Puri Agung Pemecutan kemudian memutuskan untuk mengangkat Kyahi Ngurah Gde Pemecutan sebagai Keluarga terdekat dari Raja Pemecutan IX dari Jero Kanginan sebagai Raja Pemecutan X dengan gelar Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan.

Sebagai wakil beliau ditetapkan kakak belaiu dari lain ibu yang berasal dari Desa Munggu yang bernama Kiyayi Agung Gede Lanang Pemecutan/ Anak Agung Gede Lanang Pemecutan. Beliau sebagai kakak beradik menampakkan kehidupan yang rukun dan selalu merundingkan berbagai permasalahan untuk dicarikan jalan pemecahannya sehingga masyarakat sangat segan dan hormat kepada beliau.



PEMBANGUNAN PURI AGUNG PEMECUTAN YANG BARU

Karena Puri Pemecutan yang lama telah hancur dan yang tersisa hanya bale kulkul di sebelah selatan puri maka Jero Kanginan yang berlokasi tepat di depan Puri Pemecutan yang lama (disebelah Timur) direhab untuk dijadikan Puri Agung Pemecutan yang baru.

Bangunan bangunan di Puri Yang lama seperti Pemerajan Agung dipindahkan ke puri yang baru dan dibuatkan upacara Ngeteg Linggih pada tahun 1966. Sebagai Arsitek pembangunan puri tersebut yaitu Anak Agung Made Gde dari Jero Grenceng.

Pada Mandala puri baik saren daje maupun saren kelod juga dibangun (pawongan) puri seperti saren daje, saren delod, saren dangin, saren dauh, bale bali tradisional, begitu pula bale lantang sama seperti di Jero Grenceng.

Pada (palemahan) Puri Agung Pemecutan bagian dari Tri Mandala dibangun Kori Agung dan bhetelan sebagai bagian dari bangunan puri untuk keluar masuk sehari hari. Begitu pula candi bentar menghadap ke barat sebagai gerbang utama Puri Agung Pemecutan yang baru.


KETURUNAN IDA COKORDA NGURAH GDE PEMECUTAN X


  • Istri ke I ( A.A Biyang Putu Raka ) Putri dari Kiyahi Lanang Kepaon - Jero Batanmoning tidak mempunyai keturunan
  • Istri ke II ( A.A. Biyang Raka ) dari Jero Kelodan Peken Pasah tidak mempunyai keturunan
  • Istri ke III ( A.A. Sagung Ibu ) Putri dari Raja Pemecutan IX yang merupakan misan kepurusa tidak mempunyai keturunan namun mengangkat anak dari Istri ke V yaitu
  1. A.A Ngurah Mayun Parwaka
  • Istri ke IV ( A.A. Biyang Made Rai ) putri dari Kiyahi Lanang Tanjung mempunyai anak 4 orang :
  1. A.A. Ngurah Manik Parasara (Dinobatkan sebagai Raja Pemecutan XI)
  2. A.A. Sagung Parasari
  3. A.A. Sagung Mirah Pranyadari
  4. A.A. Sagung Putri Paraniti
  • Istri ke V ( A.A. Biyang Ketut Adi ) Putri Kiyahi Lanang Ketut Meregan dari Jero Pasah Pemedilan mempunyai 8 orang putra :
  1. A.A. Ngurah Gede Parasurama
  2. A.A. Ngurah Rai Parwata
  3. A,A, Sagung Bintang Paranawati
  4. A.A. Ngurah Putra Pranayama
  5. A.A. Ngurah Ketut Parwa
  6. A.A. Ngurah Putu Pranacita
  7. A.A. Ngurah Agung Gde Parmadi
  8. A.A. Ngurah Alit Parasuwanta
  • Istri ke VI ( A.A. Biyang Ketut Rai ) Putri Kiyahi Lanang Kedisan dari Jero Pemedilan mempunyai 4 orang putra :
  1. A.A. Ngurah Alit Partiwa
  2. A.A. Ngurah Oka Partayadnya
  3. A.A. Sagung Bulan Partiwi
  4. A.A. Ngurah Parikesit
  • Istri Ke VII ( A.A Biyang Oka ) Putri Kiyahi Lanang Kerobokan dari Jero Kerobokan Kajanan mempunyai putra 5 orang :
  1. A.A. Ngurah Bagus Paramarta
  2. A.A. Sagung Putra Paramawati
  3. A.A. Sagung Alit Parmita
  4. A.A. Ngurah Made Parwata
  5. A.A. Sagung Istri Parcinti
  • Istri ke VIII ( A.A. Sagung Oka ) Putri Kiyahi Made Tegal dari Jero Ukiran mempunyai putra 1 orang :
  1. A.A. Ngurah Agung Paranaraga


IDA COKORDA NGURAH GDE PEMECUTAN DALAM PERANG KEMERDEKAAN
  • Tanggal 30 September 1927 Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan Magang di Kantor Asisten Residen di Denpasar, kemudian diangkat menjadi juru tulis Pembantu di Kantor yang sama.
  • Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan mengadakan pertemuan dengan I Gusti Ngurah Rai, I Made Wijayakusuma dan I Gusti Putu Merta membahas kesewenang wenangan Jepang
  • Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan dan I Gusti Putu Merta memperkenalkan I Gusti Ngurah Rai dan I Made Wijayakusuma kepada Letnan Hera Uei wakil serei Angkatan Laut Jepang Sunda Kecil di Denpasar
  • Tanggal 23 Agustus 1945, Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan bersama Ida Cokorda Alit Ngurah Raja Badung mendukung terbentuknya Republik Indonesia dan pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan pimpinan pasukan Letkol I Gusti Ngurah Rai.
  • Tanggal 14 Desember 1945 bertempat di Puri Kesiman, Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan bersama Ida Cokorda Alit Ngurah Raja Badung, I Gusti Ngurah Rai, Ngurah Wisnu, Sudiaryo Joko, I Gusti Ngurah Pidha, Ida Bagus Anom Ngurah, Tiaga, Pugeg, Punggawa Kesiman, Guru Reta, Les Subroto Aryo Mataram dikurung tentara Jepang. Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan berkata bahwa penyerangan terhadap Ringsitai Jepang sedikit sekali hasilnya berupa senjata, sekarang kita harus perang habis habisan dengan tentara Jepang.
  • Tanggal 8 April 1946 bertempat di desa Pagutan, Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan bersama I Gusti Putu Merta dan I Gusti Ngurah Rai mengadakan rapat untuk pelaksanaan Serangan Umum di Kota Denpasar.
  • Tanggal 10 April 1946 Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan bersama pengiring beliau ikut serta dalam serangan Umum Kota Denpasar. Ida Bagus Japa (Kakak Prof Dr Ida Bagus Mantra Gubernur Bali) gugur dalam pertempuran.
  • Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan ditangkap pasukan Nika dibawah pimpinan Letnan Jon Yoseph. beliau diintograsi selama 3 jam di penjara Pekambingan Denpasar untuk selanjutnya ditahan selama 8 hari sebagai tahanan politik, namun atas desakan masyarakat beliau dibebaskan kembali.
  • Juli 1946 I Gusti Ngurah Rai menitipkan istrinya yaitu Desak Putu Kari dan 3 putranya kepada Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan untuk tinggal di Puri Pemecutan. Adapun Tiga putra I Gusti Ngurah Rai yaitu I Gusti Ngurah Gde Yudana (4 Th) I Gusti Ngurah Tantera (2 Th) dan I Gusti Ngurah Alit Yudha (2 bln). Upacara 3 bulanan dan Otonan (6 bln) I Gusti Ngurah Alit Yudha dilaksanakan di Puri Pemecutan.
  • Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan mengutus orang kepercayaan beliau yaitu A.A. Kompyang Candri untuk memberi bantuan logistik kepada I Gusti Ngurah Rai.
  • Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan mengutus Ketut Tugir untuk mengadakan hubungan dengan I Gusti Ngurah Rai, namun utusan ini tertangkap di daerah sengkidu sehingga komunikasi antara Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan dengan I Gusti Ngurah Rai menjadi terputus.
  • Tanggal 21 Nopember 1946 pagi harinya ajudan Sibler dari paskan Nica memberitahukan Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan bahwa I Gusti Ngurah Rai sudah gugur pada perang puputan Margarana tanggal 20 Nopember 1946.
  • Tanggal 21 Nopember 1946, Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan bersama A.A. Kompyang Candri dan para pejuang lainnya menuju desa Behe untuk menjemput jenazah pahlawan kemerdekaan I Gusti Ngurah Rai, I Gusti Putu Wisnu dan I Gusti Bagus Sugianyar.
  • Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan bersama I Gusti Putu Merta bertemu dengan Menteri dalam Negeri N.I.T yaitu A.A. Gde Agung mendesak agar segera diadakan aksi untuk keluar dari cengraman pengaruh Belanda dan mendukung berdirinya Negara Republik Indonesia.
  • Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan bersama I Gusti Putu Merta mengecam kepergian A.A. Gde Agung ke PBB mewakili pemerintah Belanda melawan Indonesia, namun dibantah oleh A.A. Gde Agung bahwa kepergiannya hanya sebagai tourist dan tidak turut dalam perdebatan dan pembicaraan di PBB mengenai Indonesia.
  • Tanggal 1 Mei 1947 Cokorda Alit Ngurah dari Puri Satria pensiun sebagai Raja Badung dan digantikan oleh Ida Cokorda Ngurah Gede Pemecutan sebagai Raja Badung


KESALAH PAMAHAN DENGAN PEJUANG KEMERDEKAAN

Satu hal yang kadangkala membingungkan masyarakat apakah beliau sorang penghianat bangsa ataukah seorang pejuang kemerdekaan. Hanya orang yang terkait langsung dengan beliau yang dapat memahami pribadi beliau pada saat perjuangan kemerdekaan di Bali yang dapat membantah dan membenarkan. Berikut kronoli sehingga timbulnya permasalahan tersebut :

Dewan Raja-Raja di Bali pada tanggal 26 Maret 1947 bersama Residen Bali dan Lombok dan Komandan Tentara Belanda yaitu A.A. Panji Tisna, Dr. M Boon dan Kapten Konig bersama sama menandatangani surat selebaran berupa seruan ditujukan kepada para pemuda pejuang agar segera menyerahkan diri karena adanya perjanjian Linggarjati yang telah ditandatangani oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Belanda.

Persetujuan Linggarjati tersebut menempatkan Pulau Bali bukan sebagai bagian dari Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu para pejuan diminta agar turut serta dalam pembangunan di Negara Indonesia Timur. Bagi Para Pejuang yang tidak mau menyerah akan dianggap sebagi pengacau, perusuh dan perampok dan akan ditindak tegas.

Adanya Persetujuan Renville yang ditandatangani oleh wakil wakil Pemerintah Negaa Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda pada tanggal 17 Januari 1948 yang disaksikan lleh komisi Tiga Negara antara lain berisi pengakuan Republik Indonesia terhadap Negara Indonesia Timur.

Presiden Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia dalam pidatonya secara tegas menyatakan bahwa perjuangan sekarang bukan lagi perjuangan bersenjata tetapi perjuangan di tingkat diplomasi atu perundingan. Oleh karena itu mak dilakukan gencatan senjata dan perdamaian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Belanda. Ditegaskan lagi bahwa di Jawa tidak ada lagi perjuangan bersenjata untuk mencapai tujuan tetapi hanya ada perjuangan diplomasi sehingga dengan demikian para pejuang di daerah harus mengikuti cara cara perjuangan di Jawa.

Perdana Menteri Amir Syarifuddin menegaskan bahwa angkatan bersenjata yang sah adalah TNI (Tentara Nasional Indonesia), diluar ketentuan itu adalah pengacau, perusuh dan perampok. Para Pejuang Bali belum masuk Tentara Nasional Indonesia sehingga para pejuang Bali dilanda kebingungan.

Terdapat jaminan tertulis dari Residen Bali dan Lombok bersama Komandan Tentara Belanda di Bali dan Ketua Dewan Raja-Raja bahwa para pejuang yang menyerahkan diri secara sukarela akan mendapat perlakuan yang sebaik baiknya dan yang tidak melakukan pelanggaran kriminal akan dibebaskan dan dikembalikan kepada keluarganya. Tetapi yang melakukan pelanggaran kriminal akan diajukan ke pengadilan sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara Indonesia Timur.

Pada mulanya para pejuang tidak mau menyerahkan diri bahkan melalui Pucuk Pimpinan MBU DPRI Sunda Kecil I Made Wijakusuma mengirim surat kepada Bung Karno, Presiden Republik Indonesia tanggal 14 Maret 1948 minta agar Pemerintah RI mendesak Negara Indonesia Timur mengakui DPRI Sunda Kecil, dengan harapan kalau terjadi pengakuan negara Indonesia Timur terhadap DPRI subda Kecil maka para pejuang tidak harus menyerahkan diri tetapi langsung menjadi Tenatara Negara Indonesia Timur.

Sayang sekali surat tersebut tidak pernah mendapat balasan sehingga nasib para pejuang menjadi terombang ambing karena bantuan logistik dari rakyat sangat sulit didapat karena ancaman dari Belanda akan membakar kampung kampung yang memberi bantuan kepada para pejuang.

Atas Kesepakatan Pimpinan MBU DPRI Sunda Kecil maka setelah berunding dengan Ketua Dewan Raja-Raja yaitu A.A. Panji Tisna maka diberikan jaminan keamanan bagi para pejuang yang akan menyerahkan diri oleh Komandan Belanda.

Maka sejak tanggal 24 Mei 1948 para pemuda pejuang secara berabgsur angsur menyerahkan diri kepada Raja-Raja setempat. Bagi para pejuang yang berasal dari wilayah Badung menyerahkan diri kepada Raja Badung yaitu Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan.

Setelah para pejuang berada dalam perlindungan Raja Raja maka negara Indonesia Timur merintahkan agar para tahanan agar segera dipindahkan ketempat tahanan milik Pemerintah, agar pemuda pejuang lebih mudah diseleksi tingkat pelanggarannya.

Oleh karena Dewan Raja Raja merupakan bagian dari aparat Pemerintah Negara Indonesia Timur, maka dengan berat hati Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan tunduk kepada putusan atasan Beliau yaitu Pemerintah Negara Indonesia Timur sehingga para pemuda pejuang yang berada dalam lindungan beliau terpaksa dipindahkan dari Puri Pemecutan ke tangsi tangsi milik Pemerintah di seluruh Bali.

Dengan demikian tidak benar adanya tuduhan bahwa Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan dengan sengaja atas kemauan beliau sendiri menyerahkan para pejuang ketangan serdadu Nica Belanda. Bahkan Beliau sangat marah kepada Mayor Polak, asisten Residen atas keputusan yang merugikan pejuang. Demikianlah kesalahanpahaman yang terjadi antara Pejuang kemerdekaan dengan Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan sebagai Raja Badung.

Kedudukan terakhir beliau dalam pemerintahan yang tergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebagai Bupati Badung sampai beliau pensiun tahun 1959


PITEKET (IMBAUAN) IDA COKORDA PEMECUTAN X
UNTUK KETURUNAN ARYA DAMAR


Dinyatakan bahwa yang berkuasa di Tabanan dan Badung adalah keturunan Arya Damar, ungkapan ini memberi ketegasan bahwa Arya Kenceng dan keturunannya yang berkuasa di Tabanan dan Badung leluhurnya adalah Arya Damar. Mungkin adanya gunanya ditinjau pura pura pedarman yang ada di pura Besakih yang menjadi sungsungan para warga yang ada di Bali dan dibuatkan pada masa pemerintahan Raja Raja Bali dahulu yang mungkin ada hubungannya dengan Arya Damar.

Setelah diadakan penyelidikan secara langsung pada tahun 1963 pada saat berlangsungnya upacara Eka Dasa Ludra ternyata pedarman yang memuliakan Arya Damar tidak ada. Walaupun demikian masih perlu diadakan penelitian dari sumber sumber kepustakaan yang ada dari penelitian dari buku buku tentang sejarah pura yang dilaksanakan Institut Hindhu Darma Denpasar pada tahun 1980 tentang Pura Besakih ternyata tidak menyinggung masalah pendirian Pura Pedharman.

Demikian pula Dr.A.J. Bernet Kempers dalam bukunya Bali Purbakala yang berisi tentang petunjuk peninggalan purbakala di Bali tahun 1956 dan Dr. R Goris dalam tulisannya tentang arti Pura Besakih namun tidak menyinggung tentang pendirian Pura-Pura Pedharman.

Demikian pula kitab Raja Purana teks dan terjemahannya yang tidak menyinggung sama sekali tentang pura pura Pedharman, walaupun purana ini berkaitan erat dengan Pura Besakih. Raja Purana hanya menyinggung tentang ketentuan dan kewajiban di Pura Besakih yang tercatum dalam Piagam Raja (Dalem) Angurah Kebayan di Besakih dan Sedahan Lor di Selat, mempunyai tugas yang sama untuk memelihara dan menegakkan piagam ini.

Buku Sejarah Bali menyinggung pula perbaikan pura pura secara besar besaran yaitu Pura Dasar Gelgel, Pura Ketel Bumi di Banjar Angkan dan Pura Besakih pada masa pemerintahan Dalem Watu Renggong Raka Gelgel tahun 1460-1550, namun tidak ada menyentuh masalah pembangunan pura pura Pedharman di Besakih, demikian pula tidak ada yang menyinggung Pura Pedharman untuk Arya Damar maupun Arya Kenceng.

Namun suatu kenyataan disekitar Pura Besakih terdapat Pura Pura Pedharman. Tidak ada keterangan yang jelan tentang pendirian Pura pura Pedharma tersebut sehingga ada kemungkinan bahwa tidak semua pemeluk Agama Hindhu di Bali mempunyai Pura Pedharman di pura Besakih. Sekarang sering terdengar di masyarakat bahwa ada warganya yang tidak menemukan pedharmannya di Pura Besakih khususnya warga keturunan Arya Damar. Akhirnya berpegang kepada apa yang telah diwariskan turun temurun secara tradisional dari penglingsir terdahulu, maka Ida Cokorda Pemecutan X menyatakan

  • bahwa di Pura Besakih tidak ada Pura Pedharman untuk Warga Keturunan Arya Damar dan warih Arya Damar hanya bersembahyang di Padma tiga Brahma, Wisnu Siwa di Pura Besakih di Penataran Agung Pura Besakih.
Ida Cokorda Pemecutan X secara tegas menyatakan bahwa leluhur beliau yang beliau yakini sebagai bhatara Kawitannya adalah Arya Damar.

Demikian salinan pernyataan Ida Cokorda Pemecutan X dalam buku sejarah Puri Pemecutan Badung tahun 1993 dan telah disahkan oleh penglingsir Agung Puri Agung Pemecutan Ida Cokorda Pemecutan XI.



IDA COKORDA NGURAH GDE PEMECUTAN X WAFAT


Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X wafat pada tanggal 17 Maret 1986 namun sebelumnya kakak beliau Anak Agung Gde Lanang Pemecutan mendahului beliau wafat pada tahun 1962.

Setelah Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan wafat maka dibuatkan upacara pelebon pada tanggal 27 April 1986, untuk mengisi kekosongan pengelingsir (yang dituakan) maka sesuai rapat para semeton keluarga Puri Agung Pemecutan kemudian memutuskan untuk mengangkat A.A. Ngurah Manik Parasara sebagai Raja Pemecutan XI, abiseka ratu tanggal 16 Juli 1989 dengan gelar Ida Cokorda Pemecutan ke XI dan sebagai wakilnya dipilih A.A. Ngurah Made Darmawijaya dengan gelar Anak Agung Ngurah Gde Lanang Pemecutan.



Jumat, 18 Februari 2011

PURA KERAMAT

Diceritakan Cokorde Pemecutan III dari Puri Pemecutan yang bergelar I Gusti Ngurah Gede Pemecutan/ Ida Bhatara Sakti mempunyai seorang putri yang bernama Gusti Ayu Made Rai. Sang putri ketika menginjak dewasa ditimpa penyakit keras dan menahun yakni sakit kuning. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut, namun tidak kunjung sembuh pula.

Ida Cekorde keti
ka itu mengheningkan bayu sabda dan idep, memohon kehadapan Hyang Kuasa, di merajan puri. Dari sana beliau mendapatkan pewisik bahwa Sang Raja hendaknya mengadakan sabda pandita ratu atau sayembara. Ida Cokorde kemudian mengeluarkan sabda

“barang
siapa yang bisa menyembuhkan penyakit anak saya, kalau perempuan akan diangkat menjadi anak angkat raja. Kalau laki-laki, kalau memang jodohnya akan dinikahkan dengan putri raja”.

Sabda Pandita Ratu tersebut kemudian menyebar ke seluruh jagat dan sampai ke daerah Jawa, yang didengar oleh seorang syeh (guru sepiritual ) dari Yogyakarta. Syeh ini mempunyai seorang murid kesayangan yang bernama Pangeran Cakraningrat IV dari Bangkalan Madura.

Pangeran kemudian dipanggil oleh gurunya, agar mengikuti sayembara tersebut ke puri Pemecutan Bali. Maka berangkatlah Pangeran Cakraningrat ke Bali diiringi oleh empat puluh orang pengikutnya. Singkat ceritanya, Pangeran Cakraningrat mengikuti sayembara. Dalam sayembara ini banyak Panggeran atau Putra Raja yang ambil bagian dalam sayembara penyembuhan penyakit Raden Ayu.

Putra-putra raja tersebut ada dari tanah jawa seperti Metaum Pura, Gegelang, ada dari Tanah Raja Banten dan tidak ketinggalan Putra-putra Raja dari Tanah Bali. Semua mengadu kewisesan atau kesaktiannya masing-masing dalam mengobati penyakit Raden Ayu.

Segala kesaktia
n dalam pengobatan sudah dikerahkan seperti ilmu penangkal cetik, desti, ilmu teluh tranjana, ilmu santet, ilmu guna-guna, ilmu bebai, ilmu sihir, jadi semua sudah dikeluarkan oleh para Pangeran atau Putra Raja, tidak mempan mengobati penyakit dan malah penyakit Raden Ayu semakin parah, sehingga raja Pemecutan betul-betul sedih dan panik bagaimana cara mengobati penyakit yang diderita putrinya.

Dalam situasi yang sangat mecekam, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan yang tidak lain adalah Pangeran Cakraningrat. Setelah Pangeran melakukan sembah sujud kehadapan Raja Pemecutan dan mohon diijinkan ikut sayembara. Raja Pemecutan sangat senang dan gembira menerima kedatangan Pangeran Cakraningrat dan mengijinkan mengikuti sayembara.

Sang Pangeran minta supaya Raden Ayu ditempatkan di sebuah balai pesamuan Agung atau tempat paruman para Pembesar Kerajaan. Pangeran Cakraningrat mulai melakukan pengobatan dengan merapal mantra-mantra suci, telapak tangannya memancarkan cahaya putih kemudian berbentuk bulatan cahaya yang diarahkan langsung ke tubuh Raden Ayu. Sakit tuan putri dapat disembuhkan secara total oleh Pangeran Cakraningrat.

Sesuai dengan janji
sang raja, maka Gusti Ayu Made Rai dinikahkan dengan Pangeran Cakraningrat, ikut ke Bangkalan Madura. Gusti Made Rai pun kemudian mengikuti kepercayaan Sang Pangeran, berganti nama menjadi Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah.

Setelah sekian lama di Madura, Raden Ayu merindukan kampung halamannya di Pemecutan.


Suatu hari ketika ada suatu upacara Meligia atau Nyekah yaitu upacara Atma Wedana yang dilanjutkan dengan Ngelingihan (Menyetanakan) Betara Hyang di Pemerajan (tempat suci keluarga) Puri Pemecutan, Raden Ayu Pemecutan berkunjung ke Puri tempat kelahirannya. Pada suatu hari saat sandikala (menjelang petang) di Puri, Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Kotijah menjalankan persembahyangan di Merajan Puri dengan menggunakan Mukena (Krudung)
.

Ketika itu salah
seorang Patih di Puri melihat hal tersebut, disangka Raden Ayu sedang mempraktekkan ilmu hitam atau ngeleak. Hal tersebut dianggap aneh dan dikatakan sebagai penganut aliran ilmu hitam. Patih Kerajaan melaporkan kejadian tersebut kepada Sang Raja. Dan mendengar laporan Ki Patih tersebut, Sang Raja menjadi murka. Ki Patih diperintahkan kemudian untuk membunuh Raden Ayu Siti Khotijah.

Raden Ayu Siti Khotijah dibawa ke kuburan Badung. Sesampai di depan Pura Kepuh Kembar, Raden Ayu berkata kepada patih dan pengiringnya “aku sudah punya firasat sebelumnya mengenai hal ini. Karena ini adalah perintah raja, maka laksanakanlah. Dan perlu kau ketahui bahwa aku ketika itu sedang sholat atau sembahyang menurut kepercayaan Islam, tidak ada maksud jahat apalagi ngeleak.” Demikian kata Raden Ayu.

Raden Ayu berpesan kepada Sang patih “jangan aku dibunuh dengan menggunakan senjata tajam. Bunuhlah aku dengan menggunakan tusuk konde yang diikat dengan daun sirih (lekesan, Bali). Tusukkan ke dadaku. Apabila aku sudah mati, maka dari badanku akan keluar asap. Apabila asap tersebut berbau busuk, maka tanamlah aku. Tetapi apabila mengeluarkan bau yang harum, maka buatkanlah aku tempat suci yang disebut kramat”.

Setelah meninggalnya Raden Ayu, bahwa memang betul dari badanya keluar asap dan ternyata bau yang keluar sangatlah harum. Perasaan dari para patih dan pengiringnya menjadi tak menentu, ada yang menangis. Sang raja menjadi sangat menyesal dengan keputusan beliau. Jenasah Raden Ayu dimakamkan di tempat tersebut serta dibuatkan tempat suci yang disebut kramat, sesuai dengan permintaan beliau menjelang dibunuh.

Untuk merawat makam kramat tersebut, ditunjuklah Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan. Pada suatu hari gegumuk (kuburan) Raden Ayu tumbuh sebuah pohon tepat di tengah-tengah kuburan tersebut. Pohon tersebut membuat kuburan engkag atau berbelah. Pohon tersebut dicabut oleh Sedahan Moning, istri dari sedahan Gelogor, dan kemudian tumbuh lagi.

Sampai akhirnya yang ketiga kalinya, pohon tersebut tumbuh kembali. Jero sedahan Gelogor bersama Sedahan Moning kemudian bersemedi di hadapan makam tersebut, didapatkan petunjuk agar pohon yang tumbuh di atas kuburan beliau agar dipelihara. Karena melalui pohon tersebut beliau akan memberikan mukjijat kepada umat yang bersembahyang di tempat tersebut.

Pohon tersebut kon
on tumbuh dari rambut Raden Ayu. Sampai sekarang pohon tersebut tumbuh tepat di atas makam tersebut. Pohon itu disebut taru rambut. Mengenai aci atau upacara yang dipersembahkan dimakam kramat tersebut, bahwa odalannya (pujawali) jatuh pada Redite (Minggu) Wuku Pujut, sebagai peringatan hari kelahiran beliau (otonan).

Persembahan (sesaji) yang dihaturkan adalah mengikuti cara kejawen yakni tumpeng putih kuning, jajan, buah-buahan, lauk pauk, tanpa daging babi. Kini makam kramat tersebut banyak dikunjungi oleh para peziarah baik warga muslim untuk nyekar maupun tirakat. Demikian pula dengan warga Hindu banyak yang datang kesana, baik hanya untuk bersembahyang, maupun untuk permohonan tertertentu.



Rabu, 16 Februari 2011

RAJA PEMECUTAN XI


IDA COKORDA PEMECUTAN XI /
A.A. NGURAH MANIK PARASARA, SH


Dengan wafatnya Kiyayi Agung Gede Lanang Pemecutan pada har Senin Wage Julungwangi tanggal 8 Januari 1962 dan wafatnya Kiyayi Anglurah Pemecutan X/ Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan pada haris senin Pon Dungulan tanggal 17 Maret 1986 maka terjadilah kekosongan kepemimpinan bagi warga Ageng Pemecutan.

Kekosongan tersebut sangat terasa bila mana ada kegiatan adat maupun keagamaan di Puri Agung Pemecutan seperti Acara Mekiyis sebelum hari raya Nyepi dan Upacara Pujawali di Pura Tambanan Badung. Warga Ageng merasakan perlunya seorang tokoh atau figur yang dapat memegang kendali kepemimpinan di Puri Agung Pemecutan.

Kekosongan kepemimpinan tersebut telah menjadi bahan pemikiran di kalangan Warga Ageng Pemecutan. Untuk itu sebagai langka awal maka pada hari Kamis Wage Tolu tanggal 29 Oktober 1987 diadakanlah pembahasan tentang suksesi kepemimpinan tersebut bertepatan dengan Pujawali purnama kelima di Pemerajan Agung Puri Pemecutan yang dilanjutkan dengan rapat di Jero Taensiat Denpasar pada hari Minggu umanis langkir tanggal 20 Desember 1987 dan di puri Agung Pemecutan pada selasa paing pujut tanggal 5 januari 1988 dipimpin oleh A.A.Ngurah Oka Moncol Lanang Taensiat.

Ida Cokorda Pemecutan XI

Pembahasan terakhir dilaksanakan di Pura Tambangan Badung yang tanggal 6 Nopember 1988 dengan dihadiri oleh perwakilan warga Ageng Pemecutan dan penglingsir/ Moncol yang menghasilkan keputusan sebagai berikut :

  1. Secara aklamasi menetapkan A.A Ngurah Manik Parasara putra tertua dari Cokorda Pemecutan X sebagai Penglingsir di Puri Agung Pemecutan dengan gelar Ida Cokorda Pemecutan XI dan Anak Agung Ngurah Made Dharmawijaya putera tertua dari Anak Agung Gde Lanang Pemecutan sebagai wakil dengan gelar Anak Agung Ngurah Gede Lanang Pemecutan
  2. Penyusunan awig-awig bagi Warga Ageng Pemecutan untuk menyempurnakan awig-awig yang dibuat pada jaman pemerintahan Belanda
  3. Penyusunan Babad keluarga besar Puri Agung Pemecutan sebagai pedoman bagi generasi yang akan datang.
  4. Penetapan Simbul Warga Ageng Pemecutan
  5. Pengesahan Penglingsir Agung

Dalam rapat tersebut juga dihadiri oleh 14 Pedanda yang pada hakekatnya mendukung keputusan warga Ageng Pemecutan karena kehadiran seorang pemimpin keluarga akan sangat penting artinya dalam kehidupan bermasyarakat khususnya di lingkungan keluarga besar Pemecutan dimana didalamnya masih terkandung nilai nilai budaya tradisional yang luhur yang perlu dilestarikan keberadaanya.

Hadir pula warga semeton Islam dari Kepaon Denpasar yang dipimpin oleh Bapak Muhamad Ali Mansyur dan warga semeton Bugis di Suwung Serangan Sesetan Denpasar dipimpin oleh Bapak Abdul Fatah.



ABISEKA RATU IDA COKORDA XI


Pada hari Minggu tanggal 16 Juli 1989 Redite Kliwon Tolu dilaksanakan Abiseka Ratu A.A Ngurah Manik Parasara sebagai Penglingsir di Puri Agung Pemecutan dengan gelar Ida Cokorda Pemecutan XI dan Anak Agung Ngurah Made Dharmawijaya sebagai wakil dengan gelar Anak Agung Ngurah Gede Lanang Pemecutan


Abiseka Cokorda Pemecutan XI dipuput oleh 21 Peranda Siwa dan Budha yang ada kaitannya dengan sejarah Puri Agung Pemecutan. Adapun Pedanda tersebut antara lain :

  1. Ida Pedanda Geniten / Geria Carik Taensiat
  2. Ida Pedanda Oka / Geria Karang Tampakgangsul
  3. Ida Pedanda Gede Rai / Geria Ngenjung Bindu
  4. Ida Pedanda Gede Oka / Geria Ngenjung Bindu
  5. Ida Pedanda Gede Ngurah / Geria Tegeh Bindu
  6. Ida Pedanda Gede Ngurah Bajing / Geria Bajing Kesiman
  7. Ida Pedanda Gede Putraka Timbul / Geria Timbul Kesiman
  8. Ida Pedanda Gede Putra Bajing / Geria Bajing Lebah
  9. Ida Pedanda Istri Raka Telaga / Geria Telaga Tegal
  10. Ida Pedanda Putra Telaga / Geria Pancoran Tegal
  11. Ida Pedanda Gede Putra / Geria Sari Tegal
  12. Ida Pedanda Istri Raka / Geria Pemedilan
  13. Ida Pedanda Istri Rai / Geria Telabah
  14. Ida Pedanda Made Sukehet / Geria Taman Sari Sanur
  15. Ida Pedanda Gede Putra / Geria Puseh Sanur
  16. Ida Pedanda Gede Buruan / Geria Buruan Sanur
  17. Ida Pedanda Istri Telaga Tawang / Geria Telaga Tawang
  18. Ida Pedanda Gede Telaga / Geria Dalem Kerobokan
  19. Ida Pedanda Istri Kanya / Geria Budha Kaliungu
  20. Ida Pedanda Bodha Jelantik Lilasrsana / Geria Budha Sukawati
  21. Ida Pedanda Gede Beluwangan / Geria Delod Peken Sanur
Warga dari kampung Islam Kepaon Denpasar ikut pula memeriahkan acara tersebut dengan menampilkan tari Rudat yang merupakan suatu sikap dan penampilan yang simpatik dari masyarakat Islam yang masih ada ikatan sejarah dengan Puri Agung Pemecutan.



AWAL KEPEMIMPINAN IDA COKORDA PEMECUTAN XI

Ida Cokorda Pemecutan XI selaku Penglingsir di Puri Agung Pemecutan sangat menyadari bahwa keberadaan awig-awig dan sejarah bagi bagi keluarga Besar Puri pemecutan sangat penting artinya sebagai pegangan dan petunjuk dalam menjalankan kepemimpinan.

Oleh karena itulah maka kedua hal tersebut menjadi prioritas beliau bersama sama dengan para moncol dan para pemuka warga Ageng Pemecutan untuk mewujudkannya. dan Atas Asung wara Nugraha Ida Sanghyang Widhi Wasa maka pada hari Kamis Umanis Gumbreg tanggal 14 Nopember 1989 selesailah penyusunan Awig Awig Lembaga Warga Ageng Pemecutan.

Dengan disahkannya Awig Awig Lembaga Warga Ageng Pemecutan , penglingsir Agung telah mempunyai pegangan dasar sebagai pedoman dalam memimpin Keluarga Besar Pemecutan. Dan sebagai langkah kedua dibentuklah Pengurus pusat yang bertugas membantu Penglingsir Agung dalam mengendalikan organisasi terutama konsolidasi kedalam untuk membenahi kelengkapan organisasi dan pembentukan pengurus Cabang masing masing kelompok atau Kemoncolan.

Untuk itu dibentuk pula pengurus dikalangan pemangku yang terkait langsung dengan Pura Tambangan Badung seperti pemangku pura prasanak Tambangan Badung, Para penyungsung paibon di Pura Tambangan Badung dan juga dilaksankan pendataan jumlah warga di masing masing kemoncolan.


PELAKSANAAN UPACARA PANCA WALIKRAMA DI PURA TAMBANGAN BADUNG

Ida Cokora Pemecutan XI tidak mengabaikan pembinaan mental spritual warga Ageng Pemecutan, beliau menyadari bahwa Pura Tambangan Badung adalah tali pengikat dan mempersatukan segenap warganya karena itulah dilakukan persiapan untuk melaksanakan Karya Panca Walikrama di Pura Tambangan Badung.

Sebagai tahap awal maka dilakukan perbaikan tembok penyengker Pura, gedong pelingih Bhatara Ratu Ayu, pelinggih di pura Taman, Pelinggih para Paibon yang rusak, bale semanggen dan bale gajah. Hal lainnya yaitu memindahkan dan membangun bale Wantilan di Jaba Tengah, memperbesar dapur dan menata halaman tengah dan pura Taman. Selain itu dibangun pula pintu masuk di utara untuk memperlancar jalannya persembahyangan pada saat pujawali.

Setelah perbaikan tersebut selesai, maka dilaksanakanlah upacara Panca Walikrama yang dimulai dari hari Rabu Pon Watugunung tanggal 6 Maret 1991 dan mencapai puncaknya pada purnama sasih kedasa, senin paing warigadian tanggal 29 April 1991 yang berjalan dengan lancar dan aman.

Tari Rudat Muslim kepaon

Dalam Puncak acara tersebut kembali ditampilkan tari rudat dari warga kampung Islam Kepaon yang merupakan suatu bukti keharmonisan hubungan keagamaan antara Warga Hindu di Puri Pemecutan dan Warga Muslim dari sejak dulu yang patut dipelihara dan dikembangkan karena keberadaan Warga muslim di wilayah Badung
sangat besar peranannya dalam perjalanan sejarah Puri Agung Pemecutan.

Tamu kehormatan yang hadir selain Raja Raja dari seluruh Bali, hadir pula Sri Sultan Hamengku Bhuwono X Raja Yogyakarta dan Gubernur Bali Prof Dr. Ida Bagus Oka. Sebagai acara tambahan juga diremikannya Koperasi berbadan Hukum milik warga Ageng Pemecutan yang diberi nama Koperasi Serba Usaha Eka Bandana Pemecutan



UPACARA PELEBONAN ANAK AGUNG BIANG RAI ISTRI KE IV IDA COKORDA PEMECUTAN X IBU DARI IDA COKORDA PEMECUTAN XI

Upacara Pelebon Pengelingsir Puri Agung Pemecutan Anak Agung Biang Rai, Ibunda Cokorda Pemecutan XI tanggal 14 Juni 2009 Di pagi yang cerah dengan sinar matahari yang menyengat, halaman Puri Pemecutan sudah nampak ramai dikerumuni oleh para pemuka Puri dan para keluarga besar puri, mengantarkan jenazah Ibunda dari Cokorda Pemecutan ke Setra Badung untuk melakukan upacara pelebon/pembakaran jenazah.

Iring-iringan pelebon yang sangat panjang dengan deretan barisan tombak (prajurit perang), gadis-gadis cantik dengan aneka pakaian Bali bercorak kuno, tarian sakral seperti baris Ketekok Jago, tarian Rodat yang berasal dari kaum Muslim, serta diiringi tabuh gamelan yang semarak. Kelihatan sangat indah dan menakjubkan.

Saat hari menjelang siang, suasana mulai dipadati dari orang-orang yang ingin menyaksikan perjalanan terakhir dari Almarhum Anak Agung Biang Rai menuju tempat pembakaran.

Beberapa iringan wadah/bade dari para pengiring juga ramai dan sangat meriah, seakan-akan upacara ini tidak ada lelahnya, dan sesampainya di tempat tujuan terakhir, jenazah Anak Agung Biang Rai di masukkan ke dalam Lembu dan di perciki air suci agar perjalanan beliau damai di alam sana.

Minggu, 13 Februari 2011

SILSILAH PURI PEMECUTAN



Minggu, 10 Januari 2010

PURA TAMBANGAN BADUNG

Pura tambangan badung terletak di pusat kota denpasar, tepatnya di banjar pemedilan kerandan, desa pemecutan denpasar. Lokasi pura ini sangat strategis dan sangat mudah dijangkau, tepatnya di sebelah barat pasar pasah pemedilan, yang terletak di jalan gunung batur denpasar.


SEJARAH PURA TAMBANGAN BADUNG

Pura tambangan badung merupakan salah
satu jajaran pura tua yang ada di bali. Pura ini sudah berdiri sebelum anglurah pemecutan pertama berkuasa.Kemudian dalam peralanannya, pura tambangan badung diperluas dan dipugar oleh bhatara sakti raja badung, kemudian diempon oleh puri agung pemecutan.setelah diperluas oleh raja badung, Pura tambangan badung beberapa kali mengali proses perehaban diantaranya adalah pada tahun 1928 dan tahun 1990.

Di dalam tutur babad karana, diceritakan pura tambangan badung dulunya bernama pura taman, kemudian berubah menjadi pura ayu penestaran panembahan badung, sebelum menjadi pura tambangan badung. tutur babad karana juga menceritakan tentang keadaan pura di lingkungan soring jagat badung, yang erat kaitannya dengan puri dan pura panembahan badung dan bebanjaran di lingkungan pemecutan .Dengan luas keseluruhan areal pura berkisar dua hektar, Pura tambangan badung dibagi menjadi tiga mandala dengan komposisi pelinggih lebih banyak terletak di utama mandala. Di mandala pertama yang terletak tepat di depan pasar, terdapat dua buah meriam yang menghiasi candi bentar yang dusebut dengan gora dan gori.

Di mandala kedua, terdapat sebuah bangunan terbuka yang berfungsi sebagai wantilan pura. Lepas dari madya mandala, kita akan memasuki utama mandala dengan melewati sebuah candi kurung unik, dihiasi dengan dua buah arca di kanan kirinya yang disebut dengan arca jaksa dan jaksi.Utama mandala, merupakan areal yang paling luas dan dipenuhi dengan pelinggih pelinggih, termasuk pelinggih pokok pura.

Bila dilihat , utama mandala pura tambangan badung sekilas tampak mirip dengan suasana di sebuah kerajaan. Salah satu keunikan dari pura ini, adalah adanya dua pemedalan yaitu pemedalan siwa dalem tambangan badung di sisi timur, dan pemedalan ida bhatari durga di sisi barat.Jajaran pelinggih yang menghiasi utama mandala tersusun apik sesuai fungsi dan kedudukannya masing masing.

Ada beberapa pelinggih yang sangat unik, diantaranya adalah pelinggih hyang ibu candi yang struktur bangunannya berbentuk candi, yang didalamnya terdapat dua buah lingga. Konon di bawah candi inilah dipendam prasasti prasasti penting yang mengisahkan tentang pura dan kerajaan bali.Pelinggih pokok pura, adalah pelinggih luhur kaler atau yang juga disebut dengan anglayang, linggih ida bhatara siwa ring gunung agung, batur, gunung jati. Bentuk pelinggih ini layaknya padmasana yang dilengkapi dengan bedawang nala dan naga sebagai hiasannya.

Di sebelah pelinggih pokok, berdiri pelinggih gedong dalem tambangan badung yang merupakan stana dari siwa dalem dan ratu ngurah ratu agung kiwa tengen.Selain pelinggih pokok, utama mandala juga dilengkapi dengan pesanggrahan agung yang terdiri dari beberapa pengayatan ke pura sad kahyangan seperti pengayatan ke pura sakenan, pura uluwatu,pura batukaru, pura besakih, dan pura batur.

Pelinggih lain yang berada di areal utama adalah jajaran pelinggih hyang ibu, diantaranya adalah hyang ibu agung, ibu meranggi, ibu ngurah, ibu jembrana, ibu bongani, ibu rurung, ibu tameng, ibu pupuan, ibu bandem, ibu taruna, ibu tojan, ibu mekel bukit, ibu klating, ibu tinggi, ibu janggal, ibu prani gata , ibu pasek agung dan ibu sari. Selain beberapa pelinggih, pura tambangan badung juga dilengkapi dengan beberapa buah bale pelengkap, seperti bale semanggen, bale prasanak, bale penganten genah bhatara manik galih, bale gajah, bale pemiodan peranda sinuhun, bale ban, bale pererepan ratu ayu, pewaregan dan lumbung.

Di sisi utara pura, terdapat sebuah palebahan pura yang merupakan linggih ratu ayu saren taman. pelinggih ini merupakan stana ratu ayu mas meketel, ratu mas mereronce, bhatari gayatri dan bhatari gangga.Ada beberapa tradisi unik yang dilaksanakan di pura tambangan badung, diantaranya adalah tradisi tari baris tangklong yang di pentaskan pada waktu penampahan galungan, dan tradisi unik siyat sampian yang dilaksanakan pada waktu manis kuningan . Tujuan dari tradisi unik ini adalah untuk pembersihan mala dan menanamkan jiwa ksatria.

Piodalan di pura tambangan badung didasarkan atas perhitungan pancawara, saptawara dan pawukon, sehingga piodalan akan berulang setiap 210 hari sekali, tepatnya pada wraspati wuku sungsang yang bertepatan dengan sugian jawa. Sedangkan piodalan yang dilaksanakan satu tahun sekali adalah purnamaning kapat yang disebut ngapat dan purnaming kedase bulan april.Berdasarkan lintas sejarah dan kenyataan yang berkembang, pura tambangan badung merupakan pura yang berstatus sebagai pura kahyangan tiga yaitu pura siwa dan pura kerajaan.

Kepustakaan
Darmawan Mataram Monday, 22 September 2008 14:13

Sabtu, 09 Januari 2010

RAJA PEMECUTAN IX

KIYAYI ANGLURAH PEMECUTAN IX /
KIYAYI NGURAH AGUNG PEMECUTAN
( 1851 - 1906 )


Dengan wafatnya Kiyai Anglurah Pemecutan VIII karena beliau tidak berputra (putung) maka singgasana di Puri Agung Pemecutan menjadi kosong. Maka kalau dilihat dari garis keturunannya maka yang berhak mengisi kekosongan tersebut adalah dari Puri Kanginan Pemecutan sebagaimana yang sudah dilaksanakan pada waktu penobatan Kiyai Anglurah Pemecutan VII yang berasal dari Puri Kanginan. Adapun yang masih tinggal di Puri Kanginan adalah adik dari Kiyai Anglurah Pemecutan VIII yaitu Kiyai Agung Lanang Pemecutan


Peristiwa Penting Pada Masa Pemerintah Kiyai Anguran Pemecutan IX
Perang Kerajaan Badung dengan Kerajaan Mengwi

Pada Waktu Kerajaan Mengwi dibawah pemerintahan putra dari yaitu I Gusti Agung SaktiI Gusti Made Agung Alangkajeng hubungan Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Badung agak membaik, hal tersebut terjadi karena I Gusti Made Agung langkajeng merelakan putrinya yaitu Ni Gusti Ayu Bongan kawin dengan Angurah Pemecutan III/ Ida Bhatara Maharaja Sakti sehingga melahirkan putra yang dibuatkan Anak Agung Gde OkaJero di Kaleran Kawan. Dan sebagai hadiah perkawinan maka daerah pesisir seseh sampai bukit Uluwatu diberikan kepada Kerajaan Badung , tetapi adanya Pura Ulunsuwi dan Pura Uluwatu harus dipelihara oleh Kerajaan Badung.

Semenjak itu Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Badung hidup rukun sebagai suatu keluarga besar demikian seterusnya sampai berjalan empat keturunan. Setelah pemerintahan dipegang oleh I Gusti Agung Bhima Sakti politik pemerintahan Kerajaan Mengwi mengalami perubahan antara lain dengan adanya keinginan untuk mengambil bekas wilayah Mengwi yang diambil oleh kerajaan Badung. Selain itu pada masa pemeritahan I Gusti Agung Bhima Sakti dengan dibantu oleh 2 adipati Agung yaitu Gusti Putu Mayun dan Gusti Made Ngurah timbul kecendrung dari pemuka-pemuka Kerajaan Mengwi untuk bertindak lebih bebas dari kekuasaan Dewa Agung di Klungkung sehingga kerajaan Mengwi mempunyai kedudukan yang sama dengan Kerajaan lain di Bali. Hal demikian tentunya ditentang keras oleh Dewa Agung di Klungkung yang meghendaki agar semua kerajaan di Bali dihimpun dibawah kekuasaan Kerajaan klungkung.

pada awal tahun 1891 mulai timbul kekacauan di Kerajaan Mengwi karena percekcokan antara Raja dengan Adipati Agung Gusti Agung Made Alangkajeng yang terkenal sebagai pimpinan perang yang ulung dan gagah perkasa sehingga beliau mendapat julukan sebagai Macan Kerajaan Mengwi. Gusti Agung Made Alangkajeng mengambil istri dari Puri Arya Tegeh Kuri di Badung dan karena perselisihan tersebut beliau meninggalkan Kerajaan Mengwi dengan membawa pusaka-pusaka Kerajaan dan menetap di Badung.

Selain itu punggawa Sibang juga memperlihatkan sikap bermusuhan dengan Kerajaan Mengwi dan ingin berdiri sendiri, hal tersebut terjadi karena punggawa tersebut dihukum akibat dituduh melakukan tindak pidana melanggar sopan santun. Raja Mengwi minta bantuan Dewa Agung dari Klungkung untuk menengahi persoalan tersebut, akan tetapi campur tangan Dewa Agung ternyata malah merugiakan Kerajaan Mengwi sendiri karena Dewa Agung justru membujuk Punggawa Sibang untuk memberontak terhadap rajanya. Alasan Dewa Agung bertindak demikian karena tindakan raja Mengwi yang menduduki sebagian daerah Negara seusai pemberontakan Cokorde Gde Oka Negara terhadap Dewa Manggis (VII) Raja Gianyar.

Oleh karena itu Dewa Agung dengan didukung oleh Adipati Agung Dewa Agung Rai dengan penasehat Agung Pedanda Ida Ketut Pidada ingin mengail didalam air keruh dan mengadakan campur tangan dalam kekacauan politik di Mengwi. Hubungan Kerajaan Karangasem dan Kerajaan Mengwi erat karena adanya pertalian persaudaraan, maka Dewa Agung Minta bantuan Raja karangasem Gusti Gde Jelantik untuk pergi ke kerajaan Mengwi dengan tujuan untuk mengusahakan perdamaian di sana. Gusti Gde Jelantik bersedia memenuhi permintaan Dewa Agung tersebut. Dewa Agung mengharapkan misi tersebut dapat mencapai hal sebagai berikut :

  1. Permusuhan di Mengwi antara golongan dan ketegangan dengan Kerajaan Badung harus dihentikan.
  2. Menyakinkan Raja Mengwi untuk menghentikan usahanya mendapatkan kebebasan dari Klungkung dan kembali lagi pada keadaan dahulu yaitu Kerajaan Mengwi merupakan bagian dari Kerajaan Klungkung dimana Dewa Agung memegang kekuasaan tertinggi.
  3. Meyakinkan Raja Mengwi agar menarik pasukannya dari daerah Negara dan menghentikan pendudukan di daerah tersebut.
Hasil kunjungan Raja Karangasem menghasilkan kesepakatan bahwa Raja Mengwi bersedia pergi ke Klungkung menghadap Dewa Agung untuk minta Maaf atas keikhlafannya, tetapi dengan syarat Raja Karangasem Gusti Gde Jelantik harus turut serta. Raja Mengwi takut hal yang sama akan menimpanya seperti raja Gianyar Dewa Manggis (VII) pada tahun 1885 diasingkan di Satria ketika akan menghadap Dewa Agung.

Hasil kunjungan Gusti Gde Jelantik telah dilaporkan kepada Dewa Agung dan kedatangan Raja Mengwi ditungu tunggu di Klungkung namun Raja Mengwi tidak muncul muncul. Penundaan keberangkatan Raja Mengwi disebabkan karena Punggawa Sibang tidak bersedia turut serta dengan rombongan Raja Mengwi, Raja Mengwi takut Punggawa Sibang akan mengadakan pemberontakan tatkala dirinya tidak ada di Puri Mengwi. Namun dibalik itu semua ternyata Dewa Agunglah yang memberi nasehat kepada Punggawa Sibang agar tidak ikut dalam rombongan Raja Mengwi ketika menghadap dirinya ke Kerajaan Klungkung.

Ketidakharmonisan hubungan Kerajaan Mengwi dan Badung dimulai ketika Kerajaan Mengwi membendung empelan Tukad Mambal sehingga sawah sawah yang ada di wilayah Kerajaan Badung menjadi kekeringan dan gagal panen yang berkali kali sehingga menimbulkan kepalaran. Dekimian pula di daerah Tegal Linggah , Kerobokan, Mergaya, Abiantimbul, berkali kali Mengwi melakukan pelanggaran dengan memasuki wilayah Badung secara gelap sehingga menimbulkan rasa tidak aman bagi penduduk di wilayah tersebut, untuk mengantisipasi hal tersebut maka Puri Pemecutan mengambil langkah langkah sebagai berikut :

  1. Daerah Mergaya ditugaskan kepada Anak Agung Gde Banjar dari Jero Dawan Kanginan untuk membuat perkemahan di tepat tersebut bersama putra putra beliau.
  2. Daerah Umaduwi ditugaskan kepada Anak Agung Putu Pande untuk membuat perkemahan di Agel Abiantimbul.
  3. Desa Jimbaran ditugaskan Anak Agung Gde Pande dari Jero Dawan Tegal untuk membuat perkemahan di Br tegal Jimbaran.
  4. Daerah Kuta sampai Seminyak ditugaskan kepada Putra putra Kiyai Lanang Ukiran Jero peken Pasah yaitu Jero Seminyak, Jero legian Kaja dan Jero Temacun dipimpin oleh Kiyai Lanang Legian
Diceritakan keadaan disemua fron, infiltrasi laskar Mengwi semakin meningkat, tiap hari terjadi pertempuran kecil-kecilan, masing masing berusaha mengintimidasi satu sama lainnya. Di daerah Sempidi mulai pecah perang antara Pemecutan melawan Mengwi. Laskar andalan Mengwi sudah bersiap-siap disebelah utara sedangkan laskar Pemecutan dipimpin oleh Anak Agung Made Banjar dengan bersenjatakan keris pusaka Rereg Langse, cucu dari Kiyai Agung Lanang Dawan dengan dibantu oleh para Wargi, Tambyak dan laskar Bugis berada di sebelah selatan.

Kedua belah pihak sama sama mengeluarkan senjata andalannya, dari pihak Sempidi mengeluarkan keris Penglipuran dan Ki Sekar Gadung sedangkan laskar Padangsambian mengeluarkan tombak Sableg yang mengeluarkan cahaya biru yang amat ditakuti oleh laskar Sempidi, sebab mereka telah membuktikan keampuhan senjata tersebut pada waktu mereka mengikuti I Kiter menyerang Desa Tegallinggah.

Kiyai Wayan Lemintang di Jero Peguyangan mengirim putranya untuk membantu laskar Padangsambian, mereka menuju desa Benoh dan membuat perkemahan di Petangan Ubung dan sampai sekarang keturunan beliau masih bertempat tinggal di Petangan Ubung. Laskat Bugis diperintahkan maju menuju desa Sibang, disana mereka dihadang oleh laskar Sibang yang sudah siap tempur sehingga pertempuran tidak terelakkan lagi dan menimbulkan korban yang cukup banyak dari kedua belah pihak.

Laskar Bugis menembakkan senjata meriam sehingga tepat mengenai pohon beringin di pasar Sibang sehingga pohon tersebut tumbang dan membuat ketakutan laskar Sibang, Semua laskar Sibang kemudian mengundurkan diri ke Desa Mambal dan laskar Peguyangan dan laskar Bugis terus mengepungnya.Pertemuan di wilayah Sempidi tidak kalah serunya, Laskar Padangsambian dibantu oleh Tambiyak dan laskar Jero Petangan mendesak laskar Sempidi sampai di bencingah Jero Sempidi.

Anak Agung Putu Kuskus, Anak Agung Putu Riyong dan Anak Agung Putu Gde Grejeg pimpinan laskar Pemecutan sedang memburu I Gusti Agung Rai pimpinan laskar Sempidi. I Ngetis dari laskar Pemecutan sedang terlibat pertempuran dengan memutar mutar tombak Sableg sehingga laskar Sempidi banyak yang menemui ajalnya sedangkan sisanya yang masih hidup lari menyelamatkan diri. I Gusti Agung Rai karena sudah terdesak melarikan diri kedalam Jero.Tidak berapa lama dari dalam Jero Sempidi berkibarlah bendera putih tanda menyerah, seorang utusan keluar dari Jero Sempidi membawa bendera putih menuju markas Pemecutan dengan membawa surat.

Dalam surat tersebut I Gusti Agung Rai menyatakan menyerah dan menyatakan tunduk kepada Pemecutan dan siap mengabdi. Anak Agung Made Banjar sebagai pimpinan tertinggi Laskar Pemecutan menerima permohonan tersebut tetapi dengan syarat I Gusti Agung Rai tidak diperkenanan lagi untuk tinggal di Jeronya semula, Jero tersebut akan dihancurkan semua sebagai pembayaran pampasan perang. Untuk pembangunan jero yang baru I Gusti Agung Rai diperkenankan disebelah barat pasar Sempidi. Laskar Padangsambian membongkar semua bangunan di Jero Sempidi.

  • Anak Agung putu Grejeg mengambil keris yang bernama Ki Sekar Gadung dan seperangkat bale gede saka roras meperada. Keris tersebut sampai sekarang masih tersimpan di Pemerajan Jero Dawan Tegal.
  • Putra Kiyai Wayan Lumintang mengambil keris yang bernama Si Penglipuran dan sampai sekarang masih tersimpan di Pemerajan Jero Petangan Ubung.
  • Anak Agung Gde Banjar mengangkut seperangkat bale gede saka roras meperada terus dibangun di Jero Dawan kanginan.
  • Anak Agung Putu Reyong mengangkut bale bale yang telah dibongkarnya dan dibangun kembali di Br Buana Agung.
  • Sedangkan bekas Jero Sempidi disita dibagi oleh 5 kemoncolan Dawan. Masing masing moncol membangun Jero ditempat tersebut.
Setelah pertahan Kerajaan Mengwi di Desa Sempidi, Dalung dan Sibang dapat dihancurkan maka kekuatan induk pertahanan kerajaan mengwi dipusatkan di desa Mengwitani dan diperkuat oleh pasukan andalan Mengwi yaitu Pasukan Terua Batu Bata.

Menlihat situasi demikian Anak Agung Made Banjar sebagai pimpinan tertinggi Laskar Pemecutan berpedapat bahwa jika laskar Pemecutan mengempur daerah tersebut tentunya akan menimbulkan korban yang sangat banyak dari pihak Pemecutan sehingga beliau memutuskan untuk merubah siasat akan menyelinap ke jantung pertahanan musuh didampingi oleh pasukan berani mati laskar Pemecutan.


Anak Agung Made Banjar sendiri yang akan memimpin laskar berani mati tersebut dibantu oleh 4 orang pilihannya dari jero Pekandelan ada yang namanya Nang Semblong. Pada jam 3 pagi berangkatlah Anak Agung Made Banjar bersama 4 orang pengiringnya menuju Mengwi.

Sesampainya di desa Pupuhan, beliau dicegat oleh laskar Mengwi sehingga terjadilah pertempuran namun hal tersebut berhasil diatasninya. Desa tersebut sekarang dinamakan desa Pupuan (Pupuh berarti dikeroyok dan dipukuli)

Pada jam 8 pagi Anak Agung Made Banjar bersama 4 orang pengiringnya telah sampai di bencingah Puri Mengwi, beliau beristirahat sejenak sambil melihat situasi untuk melakukan penyerangan. Anak Agung Made Banjar bersama 4 orang benar benar berjibaku tanpa membawa senjata kecuali kain putih yang dinakan kekudung. Selama berteduh di Bencingan Puri Mengwi sama sekali tidak ada orang yang menaruh curiga kepada Anak Agung Made Banjar bersama 4 orang pengiringnya.

Tanpa disangka sangka keluarlah iringan Raja Mengwi I Gusti Agung Bhima Sakti dengan dikawal oleh pasukan berani mati Taruna Batu Bata yang bermaksud akan muspa ke Pura Taman Ayun. Beliau diusung dengan tandu kebesaran, diapit oleh permaisuri dan para selir semuanya berpakaian serba putih bagaikan orang yang akan maju ke medan perang.

Suasana menjadi sangat hening, rakyat menundukkan kepala memberi penghormatan kepada Raja yang lewat.Kesempatan tersebut tidak disia siakan oleh Anak Agung Made Banjar bersama 4 orang pengiringnya dengan secepat kilat melompat keatas tandu sang Raja. Hal tersebut menimbulkan kepanikan dari Raja dan pengiringnya sehingga pertempuran tidak terelakkan lagi.

I Gusti Agung Bhima Sakti menghunus keris sakti Ki Bintang Kukus yang mengeluarkan cahaya yang gemerlapan langsung ditusukkan ke dada Anak Agung Made Banjar, namun keris tersebut ternyata tidak mampu menembus badan Anak Agung Made Banjar.Perang tanding kemudian dilanjutkan di bawah dan berlangsung dengan sangat hebatnya. Masing masing berusaha secepatnya menjatuhkan lawannya sampai akhirnya Anak Agung Made Banjar mengeluarkan kekudung putih yang membuat Raja Mengwi I Gusti Agung Bhima Sakti jatuh tak sadarkan diri.

Pasukan Taruna Batu Bata kemudian melarikan Rajanya menuju desa Kaba Kaba. Pertempuran kemudian berlanjut antara Anak Agung Made Banjar bersama 4 orang pengiringnya melawan pasukan Taruna Batu Bata, karena lawan yang tidak seimbang 4 orang pengiring Anak Agung Made Banjar tewas dalam pertempuran tersebut. Sedangkan Anak Agung Made Banjar menderita luka yang cukup parah terus mengamuk dengan kekudung putihnya sehingga pasukan Taruna Batu Bata banyak yang menjadi korban, sisanya yang masih hidup lari menyelamatkan diri.

Diceritakan kembali kedaan Raja Mengwi I Gusti Agung Bhima Sakti didalam perjalanan menuju desa Kaba-Kaba masih dalam keadaan belum sadarkan diri, sesampainya beliau di desa Mengwitani menghembuskan nafasnya yang terakhir. Beliau dinyatakan wafat pada tanggal 20 Juni 1891 jam 11 siang. Dengan gugurnya Raja Mengwi I Gusti Agung Bhima Sakti, seluruh masrkas pertahanan Kerajaan Mengwi kehilangan semnagat tempurnya sehingga banyak yang sudah meninggalkan pos pos pertahanannya.

Kedua Adipati Agung Kerajaan Mengwi yaitu Gusti Putu Mayun dan Gusti Made Ngurah dapat menyelamatkan diri ke desa Seseh dan dari tempat tersebut menuju padang cove untuk seterusnya menuju Kerajaan Karangasem menghadap Raja Gusti Gde Jelantik. Pada waktu kedua adipati tersebut menghadap raja Karangasem kontrolir Belanda J.H Liefrinck sedang berada disana dan menurut lasporannya Raja Karangasem memperlihatkan sepucuk surat dari Raja Badung menjawab surat darinya yang mempertanyakan mengapa kerajaan Badung menyerang daerah Sibang.

Jawabannya bahwa hal tersebut dilakukan atas perintah langsung Dewa Agung. Mengetahui hal tersebut kedua adipati sangat menyesalkan sikap Dewa Agung tersebut yang menyarankan kepada Kerajaan Mengwi untuk berdamai dengan kerajaan Badung sehingga Kerajaan Mengwi tidak sempat membangun benteng-benteng pertahanan untuk mengantisipasi serangan tersebut. Raja Karangasem Gusti Gede Jelantik sangat malu karena beliaulah yang menjadi utusan Dewa Agung ke Kerajaan Mengwi untuk menyampaikan amanat dari Dewa Agung tersebut yang ternyata semua itu adalah muslihat untuk menghancurkan Kerajaan Mengwi.

Di Markas besar laskar Dawan Pemecutan di Sempidi setelah mendengar wafatnya Raja Mengwi I Gusti Agung Bhima Sakti, seluruh pasukan diperintahkan maju memasuki Puri Mengwi. Didalam perjalanan menuju Puri Mengwi tidak ada perlawanan yang berarti. Seluruh lascar Dawan Pemecutan sudah berada di sekitar areal Puri Megwi dengan pegelaran bulan sabit, siap tempur sehingga tak satupun warga Mengwi yang berani keluar rumah semuanya bersembunyi di rumah masing-masing.

Sebagian laskar Dawan Pemecutan menyelamatkan pimpinan pasukan Anak Agung Made Banjar yang menderita luka sangat parah untuk dibawa menuju desa Pangsambian. Pada jam 4 sore sampailah rombongan tersebut di Padangsambian dan Anak Agung Made Banjar karena menderita sangat parah akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir pada jam 6 sore. Namun sebelum beliau meninggal beliau masih sempat memberikan petuah-petuah untuk kelurganya.

Hingga saat ini masih dijumpai benda bend peninggalan sejarah yang berkaiatan dengan perang antara Kerajaan Mengwi dan Badung tahun 1891 diantaranya di Pemerajan Jero Padangsambian masih disimpan Keris bernama Rereg Langse dan tulup yang masih disungsung oleh keturunan Kiyayi Agung Lanang Dawan di Padang Sambian demikian pula keris penglipuran yang dirampas dari kerajaan Mengwi yang kalah di Sempidi dibawah pimpinan putra Kiyayi Wayahan Lumintang masih tersimpan di Jero Peguyangan.

Kembali ke keadaan Puri Mengwi, bendera putih berkibar di di pintu gerbang Puri sebagai pertanda Kerajaan sudah menyerah dan tunduk kepada kekuasaan kerajaan Pemecutan. Dan tidak berapa lama 2 orang utusan keluar dari puri dengan membawa bendera putih berjalan menuju markas laskar Dawan Pemecutan yang sedang membuat tenda di Bencingah Puri mengwi. Utusan tersebut bernama I Gusti Agung Kerug dan I Gusti Agung Bedu keduanya masih kerabat Raja Mengwi dan mereka berdua datang sebagai wakil kerajaan Mengwi untuk mengadakan perudingan dengan pimpinan Laskar Dawan Pemecutan yang sekarang diambil oleh Anak Agung Putu Kukus.

Dalam perundingan tersebut kerajaan Mengwi menyatakan menyerah dan mulai saat ini seluruh daerah kekuasaan Kerajaan Mengwi diserahkan kepada Puri pemecutan dan disertai permohonan agar semua keluarga Puri masih tetap diperkenankan diperkenankan untuk tinggal di dalam Puri. Untuk sementara waktu pimpinan laskar Dawan Pemecutan Anak Agung Putu Kukus dapat menerima hal tersebut tetapi dengan catatan apabila terjadi perbuatan yang dapat merugiakan pihak Pemecutan maka Puri Mengwi akan dihancurkan seperti halnya Jero Sempidi diratakan dengan tanah sebagai pampasan perang.

Setelah kerajaan Mengwi menyerah, maka untuk menjalankan pemerintahan sementara diambil oleh Anak Agung Putu Kukus , dan beliau membangun Puri disebelah utara Puri Mengwi menghadap keselatan bernama Puri Dawan Mengwi.

Laskar Kyai Lanang Kemoning dari Jero Bantanmoning Grenceng ikut mematahkan perlawanan Mengwi dari arah barat. Untuk mengantisipasi terjadinya pemberontakan kembali maka laskar Lanang Kemoning diperintahkan membangun Jero disebelah Puri Mengwi. Untuk melestarikan persatuan seluruh laskar Pemecutan di Mengwi maka dibangun Bali banjar diberi nama Banjar Badung.

Dengan kekalahan tersebut hancurlah Kerajaan Mengwi yang pada masa lampau merupakan salah satu kerajaan besar dan Jaya di Bali. Sebagaimana diketahui pada abad ke 18 Badung masih merupakan bagian dari Kerajaan Mengwi dan baru pada awal abad ke 19 Badung dibawah pimpinan Gusti Ngurah Made Pemecutan/ Maharja Bhatara sakti/ Anglurah pemecutan III melepaskan diri dari Kerajaan Mengwi dan muncul sebagai kerajaan yang berdiri sendiri.

Wilayah bekas kerajaan Mengwi sekarang diduduki oleh Kerajaan Pemecutan Badung untuk wilayah selatan dan wilayah barat dikuasai oleh Kerajaan Tabanan. Dengan dikuasainya desa kapal dan Mengwitani oleh kerajaan Pemecutan maka kerajaan ini mempunyai gubungan langsung dengan Kerajaan Tabanan yang senantiasa diidam-idamkan oleh dua kerajaan ini. Daerah Sibang diperintah langsung oleh Dewa Agung dari Klungkung sedangkan desa Bongkasa, Carangsari dan Angantaka dikuasai oleh Punggawa Ubud Cokorde Gde Sukawati.

Mengapa kerajaan Tabanan ikut serta memperoleh pembagian wilayah dengan jatuhnya Kerajaan Mengwi, karena pada Perang antara Badung dengan Mengwi Kerajaan Tabanan dibawah pemerintahan Raja Singasana ikut serta membantu laskar Badung untuk menundukkan Kerajaan Mengwi. Hubungan antara Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Tabanan dalam beberapa tahun terakhir memang kurang baik yang disebabkan oleh beberapa hal.

Ki Gusti Ngurah Teges dari Puri Kaba-Kaba yang ikut berperang dibawah panji Kerajaan Mengwi berhasil ditundukkan dan menyerah pada Puri Kaleran Tabanan, sehingga rakyat dan seluruh wilyah kekuasaanya jatuh ke tangan Kerajaan Tabanan. Melihat keadaan yang demikian Raja Karangasem Gusti Gde Jelantik yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Kerajaan mengwi merasa mempunyai tanggung jawab untuk bertindak.

Raja Karangasem ingin pergi ke Mengwi dengan pasukan yang lebih besar untuk memulihkan keadaan dan keamanan di wilayah Mengwi. Untuk itu raja Karangasem minta ijin kepada Dewa Agung untuk melewati wilayahnya dalam perjalanan menuju Mengwi. Permintaan tersebut ditolak oleh Dewa Agung dan hanya 50 orang orang yang dijinkan melalui daerahnya untuk pergi ke Mengwi, itupun tanpa membawa senjata kecuali keris. Dewa Agung khwatir apabila hal tersebut dibiarkan maka keadaan akan semakin kacau dan perang besar tidak akan bisa dihindarkan antara Kerajaan Karangasem dengan Kerajaan Pemecutan Badung.

Dewa Agung kemudian memerintahkan menutup perbatasan Klungkung dengan Karangasem dan memerintahkan dibangun kubu-kubu pertahanan untuk mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi.. Hal tersebut menimbulkan reaksi dari Kerajaan karangasem yang kemudian membangun pula benteng-benteng pertahanan dan pertempuran kecil-kecilan tidak terhindarkan sehingga menyebabkan kedua kerajaan dalam keadaan perang.

Kerajaan Lombok ingin membantu Kerajaan Karangasem dalam peperangan melawan Klungkung, namun hal tersebut diketahui oleh Residen/Komisaris pemerintah Hindia-Belanda di Singaraja M.C Dannenbargh yang mengkwatirkan Raja Selaparang Lombok akan mengail di air yang keruh memanfaatkan setuasi yang demikian. Dalam kunjungannya ke Lombok, M.C Dannenbargh berhasil meyakinkan Raja Selaparang untuk membatalkan keinginannya tersebut sehingga terhindarlah perang yang lebih besar terjadi di daerah Bali.

Sebagai balasan atas tindakan Dewa Agung, maka Raja Karangasem Gusti Gde Jelantik diam-diam memberi ijin kepada punggawa-punggawa Kerajaan Gianyar yang mengalami pengasingan di Karangasem kembali ke daerah asalnya. Oleh karena itu punggawa Abianbase, Punggawa Blahbatuh Gusti Ngurah Made dan Punggawa Sukawati Anak Agung Gde Agung bertolak kembali ke daerah asalnya masing-masing sehingga memaksa punggawa-punggawa yang diangkat oleh Dewa Agung terpaksa kembali ke Klungkung seperti Cokorde Lingsir yang bertugas di Blahbatuh.

Ketiga Punggawa-punggawa tersebut telah kembali ke Gianyar dan menempatkan diri dibawah kekuasaan Raja KarangasemKembali ke keadaan di wilayah Badung Pemecutan, Setelah perang antara Badung dengan megwi berakhir maka tiga serangkai Raja Tabanan, Raja Badung Pemecutan dan Raja Gianyar sepakat untuk mengadakan perjanjian kerjasama di bidang pertahanan. Perjanjian tersebut dilaksanakan di daerah Badung dan Raja Tabanan diwakili oleh Sirarya Ngurah Made Kaleran, sedangankan Raja Gianyar I Dewa Pahang hadir secara langsung dalam acara tersebut.

Di Badung tepatnya di Pura Nambangan Badung ketiga raja tersebut beserta Manca dan pejabatnya masing masing mengangkat sumpah (padewa Saksi) untuk menjalin hubungan persahabatan untuk saling membantu satu sama lainnya. Setelah acara selesai Raja Gianyar I Dewa Pahang kembali ke Puri Gianyar sedangkan wakil Raja Tabanan Sirarya Ngurah Made Kaleran menginap semalam di Puri Pemecutan.

Keesokan harinya rombongan mampir ke Puri Denpasar dan disuguhi hidangan. Ketika rombongan sedang bersantap tiba tiba Sirarya Ngurah Made Kaleran ditikam oleh Kiyai Ngurah Rai dari Jero Beng Kawan dengan keris yang bernama I Ratu Puri kaleran yang merupakan keris anugrah dari Dalem Klungkung. Sirarya Ngurah Made Kaleran tewas ditempat dan seisi puri menjadi panik dan kentongan tanda bahayapun di bunyikan sehingga pengawal Puri berhamburan masuk ketempat kejadian. Kyai Ngurah Rai kemudian ditangkap dan dibunuh di tempat tersebut dan mayatnya ditarik lewat sombah (lubang pembuangan air dibawah tembok) karena saking marahnya rakyat Badung karena kejadian tersebut.

Peristiwa tersebut menyisakan duka yang dalam bagi Kerajaan Badung dan Tabanan dan jenazah Sirarya Ngurah Made Kaleran diusung kembali ke Tabanan dan dimakamkan di tanah kelahirannya. Sirarya Ngurah Made Kaleran setelah meningal diberi julukan I Ratu Karuwek Ring Badung.

Kembali kedaerah Mengwi setelah pemerintahan Anak Agung Putu Kukus berjalan 5 tahun mulai terjadi pemberontakan kecil kecilan oleh rakyat Mengwi yang dipimpin oleh I Gusti Agung Kerug. Namun pemberontakan tersebut dapat dipadamkan dan I Gusti Agung Kerug dapat meloloskan diri menuju desa Angantaka. Keadaan dapat dipulihkan kembali berkat kesigapan laskar Pemcutan mengantisiasi hal tersebut.


Pewaris Kerajaan Mengwi Gusti Gde Agung masih mencoba untuk mengadakan pemberontakan terhadap kekuasaan Kerajaan Badung dengan bantuan rakyat mengwi yang yang masih setia, akan tetapi dalam pertempuran di desa Penarungan pada tahun 1895 pasukan yag dipimpinnya dapat dihancurkan oleh pasukan Badung dibawah panglimanya yang terkenal yaitu Gusti Alit Raka Debot.

Dengan kekalahan tersebut Gusti Gde Agung terpaksa hijrah lagi ke Ubud dan menempatkan dirinya dibawah perlindungan Cokorda Gde Sukawati sambil menunggu kesempatan lagi untuk merebut Mengwi kembali.

Pada tahun 1898 Gusti Gde Agung meninggalkan Ubud menuju Desa Carangsari Tabanan dan beliau berhasil meyakinkan Manca Sarangsari untuk membantunya. Dengan bantuan Manca tersebut beliau menerukan perjalanan ke Desa Abiansemal dan selanjutnya menetap disana. Beliau menamakan dirinya Cokorda Abiansemal sebagai penguasa yang berdiri sendiri tidak dibawah kekuasaan Kerajaan Badung. Kerajaan Badung tidak bermaksud mengirimkan pasukan untuk menggempur Cokorda Abiansemal namun lebih condong untuk mengadakan kompromi yang menghasilkan kesepakatan bahwa kerajaan Badung tidak akan mengganggu kedudukan Cokorda Abiansemal asalkan beliau berjanji tidak akan melebarkan pengaruhnya keluar dari wilayah Abiansemal.

Demikianlah akhir dari peperangan antara Kerajaan Badung dan Kerajaan Mengwi dimana Kerajaan Mengwi tidak berhasil dikembalikan lagi dalam bentuk dan susunan yang terdahulu dan wilayahnya tetap terpecah belah dibawah kekiuasaan beberapa penguasa dan golongan tertentu.


Daftar Pustaka :

  1. Lahirnya Puri Agung Pemecutan Badung / A.A. Oka Puji - Jero Dawan Tegal
  2. Bali Abad XIX / Anak Agung Gde Agung Puri Gianyar
  3. Sejarah Puri Gerenceng Pemecutan / A.A. Made Kaler
  4. Babad Arya Tabanan/ Puri Tabanan
  5. Sejarah Raja Raja di Tabanan dan Badung
  6. Cikal Bakal Raja Badung / Ida Cokorda Ngurah Agung - Puri Denpasar
  7. Babad Arya Tabanan dan ratu Tabanan / A.A. Gde Darta

Om Swasti Astu Sebelumnya penulis mohon maaf bila ada kekeliruan atas penulisan sejarah ini, untuk itu mohon koreksi serta masukan untuk menyempurnakan blog ini sehingga diperoleh fakta sejarah yang nantinya benar benar diterima oleh semua pihak dan beguna bagi generasi yang akan datang. Om Canti Canti Canti Om

RAJA PEMECUTAN VIII


KIYAYI ANGURAH PEMECUTAN VIII /
KIYAYI AGUNG GDE OKA /
KYAYI ANGLURAH MURING MADARDA
( 1840 - 1851 )


Kiyai Angluran Pemecutan VIII menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Angluran Pemecutan VII sebagai Raja di Puri Agung Pemecutan tahun 1840 - 1851 M.
Sebagaimana disebutkan bahwa Kiyai Anglurah Gede Oka/ Kyai Agung Gede Oka setelah pernikahannya dengan kedua Raja Putri yaitu Ratu Istri Adi/ Sagung Adi dan Ratu Istri Oka/ Sagung Oka yang merupakan anak dari Kiyai Anglurah Pemecutan VII menjadi Kiyai Anglurah Pemecutan VIII.



Kiyai Anglurah Gede Oka/ Kyai Agung Gede Oka mempunyai seorang adik yang mempunyai nama seperti leluhur beliau yaitu Kiyai Agung Lanang Pemecutan menempati dan mewarisi Puri Kanginan Pemecutan.


Kiyai Anglurah Pemecutan VIII hingga beliau wafat tidak berputra (putung). Kiyai Anglurah Pemecutan VIII setelah wafat diberi gelar Raja Dewata yang wafat di Mardharda.

RAJA PEMECUTAN VII


KIYAI ANGLURAH PEMECUTAN VII /
KYAI ANGLURAH MURING GEDONG
( 1813 - 1829 )


Kiyai Anglurah Pemecutan VII menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Raja di Puri Pemecutan. Kiyai Anglurah Pemecutan VII tidak mempunyai putra sehingga untuk mengendalikan jalannya pemerintahan setelah beliau wafat di percayakan kepada 2 putri beliau yaitu Ratu Istri Adi/ Sagung Adi dan Ratu Istri Oka/ Sagung Oka.

Untuk memperkuat kedudukan kedua raja putri tersebut akhirnya keduanya dinikahkan dengan Kiyai Anglurah Gede Oka/ Kyai Agung Gede Oka yang merupakan anak dari Kiyai Agung Gede Rai/ Kiyai Agung Lanang Pemecutan dari Puri Kanginan Pemecutan
Kiyai Anglurah Pemecutan VII mempunyai 9 orang putri :
Dari pernikahan dengan Putri dari Kiyai Agung Gede Ngurah dari Puri Denpasar lahir 3 orang Putri :
  1. Ratu Istri Adi/ Sagung Adi
  2. Ratu Istri Oka/ Sagung Oka
  3. Sagung Made diperistri oleh I Dewa Manggis Raja Kerajaan Gianyar
Dari pernikahan lainnya lahir 6 orang putri :
  1. Seorang Putri (tidak disebutkan namanya) keterimen di Jero Kaleran Kawan
  2. Seorang Putri (tidak disebutkan namanya) keterimen di Jero kaleran Kanginan
  3. Seorang Putri (tidak dsbt) diperistri oleh Kiyai Alit Ngurah dari Puri Denpasar
  4. Seorang Putri (tidak disebutkan namanya) keterimen di Jero Kesiman
  5. Seorang Putri (tidak disebutkan namanya) keterimen di Jero Belaluan
  6. Seorang Putri (tidak disebutkan namanya) keterimen di Jero Jambe



AKHIR PEMERINTAHAN KIYAI ANGLURAH PEMECUTAN VII


Kiyai Anglurah Pemecutan VII stelah wafat diberi gelar Sang Adi Hyang Ing Kurbhasana atau Mur Ring Gedong.