Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kamis, 28 April 2011

KIYAI ANGLURAH WAYAHAN LUMINTANG

SEJARAH JERO GDE PEGUYANGAN


Diceritakan Mpu Ketek mempunyai putra bernama Kiyai Agung Pasek Padang Subadra bertempat di lereng gunung Lempuyang Karangasem. Setelah beliau mediksa bergelar Ki Dukuh Sakti sehingga beliau sangat dihormati oleh penduduk setempat.

Beliau menurunkan putra sebnayak 5 orang :
  1. Ki Pasek SubrataKi Pasek Tegalwangi
  2. Ki Pasek Sadra Kusamba
  3. Ki Pasek Suladri
  4. Ki Pasek Kuru Badra
Ki Dukuh Suladri berpindah tempat ke sungai melangit sehingga lama kelamaan tempat beliau berubah nama menjadi Tirta Harum karena ditempat itu Ki Dukuh Suladri mengasuh anak kecil yang bernama Sang Anggatirta, selanjutnya anak ini akan menurunkan Kesatriya Taman Bali di Bangli.

Ki Dukuh Suladri banyak menurunkan para sentana dan ada para sentana beliau yang berpindah ke Badung yaitu didaerah Kesiman, Pahang Penatih dan Desa Intaran Sanur. Yang bertempat tinggal di daerah Kesiman banyak menurunkan Sentana sehingga ada yang berpindah ke Serangan, Pecatu, Ungasan, Kedonganan dan Kelan.

Yang tinggal di kedonganan mempunyai putra 2 orang :
  1. I Wayan Kedonganan
  2. I Made Klan
Kedua Putra ini dididik dengan baik oelh kedua orang tuannya untuk menjadi petani yang ulet. Tidak berapa lama I Wayan Kedonganan memutuskan pindah ke Desa Pedungan. I Wayan Kedonganan menurunkan 2 orang Putra yaitu :

  1. I Wayan Tektek
  2. I Made Pitik
Karena sudah kehendak dari yang Maha Kuasa maka I Wayan Kedonganan dan istrinya meninggal dunia ketika anaknya baru umur 4 tahun dan 2 tahun. Untunglah ada orang yang berbaik hati mau mengasuh kedua anak tersebut. Oleh karena itulah maka anaknya yang sulung dinamakan Tektek yang artinya tiwas sedangkan yang bungsu bernama pitik yang artinya anak ayam kehilangan induknya. Sehingga lama kelamaan termpat tersebut dinamakan Desa Pitik di daerah Pedungan.

Setelah keduanya meningkat dewasa kedua anak tersebut dikagumi oleh penduduk setempat karena tingkah lakunya yang hormat dan suka menolong. Karena tekatnya untuk maju dan merubah nasibnya maka kedua anak ini meninggalkan desa Pitik menuju kearah utara sampai akhirnya menjumpai suatu tegalan yang tidak ada penghuninya.

Tepat yang baru dujumpai tersebut menarik hati mereka sehingga bermaksud membuat tegalan di daerah tersebut. Dimana mana ditempat tersebut dilihat ada ada bekas kubangan kerbau, sapi dan kuda dan banyak kotoran hewan. Maka I Wayan Tektek mengambil kesimpulan bahwa pasti tanah ini subur.

Keduanya mulai membuka lahan berkebunan dan persawahan ditempat tersebut sehingga lama kelamaan tempat tersebut menjadi sangat makmur sehingga pendatang pendatang baru mulai berdatangan ke tempat tersebut sehingga lama kelamaan tempat tersebut menjadi suatu perkampungan.

Untuk menjaga ketertiban kampung tersebut maka dibangunlah Bale Banjar Tektekan yang keberadaanya sekarang disebelah selatan desa Peguyangan. Karena I Wayan Tektekan yang pertama kali membuka lahan tersebut maka oleh penduduk setepat beliau dpanggil Ki Dukuh Tektek. Demikian pula tempat kubangan kerbau tersebut kemudian menjadi perkampungan sehingga diberi nama Peguyangan .

Desa Tektek, Peguyangan dan Peraupan adalah merupakan daerah kekuasaan Kerajaan badung Memburuknya hubungan antara Kerajaan Badung dan Mengwi ternyata mempunyai pengaruh terhadap daerah yang baru dibuka tersebut. Desa Peraupan yang berada disebalah timur peguyangan merupakan daerah kekuasaan Kiyai lanang Karang Putra Kiyai lanang Cempaka Jero Tegal Denpasar.

Sebelumnya Desa Peraupan berada dibawah kekuasaan I Gusti Pinatih Kiyai Lanang Karang tidak sanggup menjaga keamanan daerah tersebut sampai Desa Peguyangan sehingga sering terjadi pelanggaran didaerah perbatasan oleh Kerajaan mengwi. Diceritakan Ki Dukuh tektek sudah berada di Puri Pemecutan menghadap Ida Bhatara Sakti Raja Pemecutan III untuk melaporkan permasalahan tersebut minta salah seorang putra Raja agar ditempatkan diwilayah tersebut untuk menjamin keamanan di wilayah tersebut.

Daerah peguyangan merupakan daerah yang sangat rawan karena merupakan perbatasan wilayah Kerajaan Badung dn Kerajaan Mengwi dan wilayah Sibanang adalah merupakan basis pertahanan Kerajaan Mengwi. Setelah melalui pertimbangan yang matang maka Ida Bhatara Sakti kemudian memerintahkan kepada salah satu putranya yaitu Kiyai Lanang Wayahan Lumintang untuk pindah ke Desa Peguyangan dan mendirikan Jero di tempat tersebut.

Ikut seta mengiringi Kayai Wayahan Lumintang 5o orang pilihan yang dianggap mempunyai kemampuan untuk beradaptasi di tempat tersebut. Jero tersebut kemudan dibangun disebelah timur jalan dengan Kuri Agung Menghadap ke barat dan diberi nama Jero Gde Peguyangan.

Pada waktu pecah perang anatara Badung dan Kerajaan mengwi, Putra putra Kyai Wayahan Lumintang ikut serta mempertahankan wilayah Badung sampai akhirnya Jero Sibang dapat direbut dan sebagian lainnya membantu Laskar Dawan bertempur dengan laskar Mengwi di Sempidi.

Demikianlah sejarah Keberadaan Kyai Lanang Wayahan Lumintang di Desa Penguyangan dan berdirinya Jero Gde Peguyangan.

2 komentar:

  1. marga saya Lumintang, dari Manado, Sulut. Tanya: apakah "Lumintang" dalam nama Kyai Lanang Wayahan Lumintang punya arti dalam bahasa Bali. Maksud saya, apakah kata "Lumintang" itu adalah kata dalam bahasa Bali? Ataukah, memang pernah ada Lumintang singgah di Bali pada masa dulu. Ayah saya pernah cerita bahwa kakek buyutnya bermarga "Lumintang" pernah jadi "marsose" pada perang Sasak. Apakah mungkin ia pernah singgah di Bali?

    BalasHapus
  2. Yth. Penulis,
    Saya keturunan Dukuh Sakti Tektek. Suksma atas cerita bersejarah ini/Babad. Saya berharap ada babad yg lebih rinci tentang Dukuh Sakti sampai saat ini. Mohon hubungi saya.
    Suksma,
    Yude
    gedberly@gmail.com

    BalasHapus