Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 11 Januari 2010

CANDI JAWAR

( TEMPAT PERTAPAAN RADEN WIJAYA )


Candi Jawar yang di lereng selatan Gunung Semeru, Jawa Timur, merupakan peninggalan purbakala sebagai tempat yang sangat baik bagi siapa saja untuk memuja kebesaran Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Hyang Pasupati. Menurut beberapa sumber, candi ini ditemukan o
leh penduduk setempat sekitar tahun 1982-1983.

Konon, tempat ini dulunya digunakan oleh para pandita, tokoh spiritual, raja-raja -- termasuk Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Di candi inilah konon pula Raden Wijaya memuja dan menodakan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keajegan Nusantara yang kemudian terwujud melalui kebesaran Majapahit.

Candi ini merupakan sebuah penemuan purbakala berupa bangunan yang bagian atasnya bertiang lima (soko limo). Jika diperhatikan lebih teliti, pada bagian terasnya atau bataran-nya kelihatan ada 12 pondasi tiang (soko). Pondasi tiang-tiang ini, menurut penduduk di sana, dulunya berisi ukiran patung gajah yang hampir kesemuanya telah hilang.

Candi Jawar diyakini dulunya berupa sebuah pendopo agung tempat para pandita maupun para raja tanah Jawa untuk membicarakan dan memohon kebesaran Nusantara di hadapan Hyang Pasupati yang diyakini bertahta di puncak Gunung Semeru. Keyakinan ini berkaitan juga dengan lokasi Candi Jawar di sebelah barat yang tepat menghadap ke arah matahari terbit dan arah barat daya menghadap puncak Gunung Semeru.

Di samping sebuah bataran candi, juga terdapat sebuah petilasan yang diyakini sebagai tempat penjaga candi yang bernama Mbah Wali dan sebuah petirtan atau sumber air ke arah timur yang jaraknya sekitar 1 km dari lokasi Candi Jawar.


Terkait Majapahit

Menurut Katiran, juru sapu dari Desa Mulio Asri dan beberapa penduduk di sana, Candi Jawar ditemukan pada sekitar tahun 1982-1983 oleh penduduk yang bermata pencarian di hutan. Penduduk setempat maupun beberapa pengunjung yang menekuni bidang spiritual, yang datang dari Desa Dampit maupun dari Kabupaten Jember, menemukan candi ini serangkaian penemuan uang kepeng, guci, dan patung-patung kuno di kawasan tersebut.

Benda-benda purbakala ini ada kaitannya dengan Kerajaan Majapahit. Penduduk setempat pun meyakini bahwa di Candi Jawar dan kawasan sekitarnya, secara niskala, masih Raden Wijaya pendiri mojopahit pernah melakukan laku untuk memohon kejayaan serta keajegan Nusantara yang akhirnya pernah terwujud pada saat kebesaran Majapahit.


Nuansa Spiritual

Dari mata Batin paranormal Mpu Beradah sering muncul di Jawa Tengah di mata orang-orang tertentu dan mengisyaratkan diri akan muncul kembali di dunia nyata dengan perwujudan manusia berumur berkisar 60-an tahun, untuk menata Nusantara ini.

tempat mencari air suci yang menurut beberapa orang yang sering ke sana dijaga oleh ular besar berwarna hitam. Setelah melakukan doa dan melakukan pembersihan diri dengan air di sana, pada saat mengambil air dengan jerigen dan botol-botol plastik, pemangku tiba-tiba kerasukan dan anehnya suara diucapkan seperti suara ular besar mendesis-desis.

Beberapa hal mengenai Candi Jawar

  1. Peninggalan purbakala yang disebut Candi Jawar merupakan tempat yang sangat baik bagi siapa saja untuk memuja kebesaran Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Hyang Pasupati, ditemukan oleh penduduk setempat sekitar tahun 1982-1983.
  2. Tempat ini dulunya digunakan tidak saja oleh para pandita, tokoh spiritual, raja-raja -- termasuk Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Kehadiran Raden Wijaya diyakini secara niskala ada di sana, di saat memuja Tuhan Yang Maha Esa (Hyang Widhi, sebutan saat itu) untuk membenahi Nusantara yang kemudian terwujud melalui kebesaran Majapahit.
  3. Lokasi pendopo soko limo tersebut tepat mengarah ke matahari tebit dan mengarah timur laut ke puncak Gunung Semeru.
  4. Terdapat pula sebuah petilasan (kuburan) bekas penjaga candi yang dipanggil Mbah Wali yang petilasan-nya diberi nama Padmo Nopo.
  5. Tempat yang seharusnya ditata kembali adalah soko limo itu sendiri, dimana tempat berlangsungnya pertemuan dan pemujaan dilakukan oleh para pandita dan raja-raja tanah Jawa pada khususnya termasuk para pandita yang sudah menetap di Pulau Bali.
  6. Berbekal pada keyakinan sekelompok orang, termasuk tim rombongan dari Bali, tempat tersebut adalah peninggalan purbakala/sejarah dan diyakini sebagai tempat yang sangat baik di saat memuja kebesaran Tuhan (Hyang Pasupati) untuk kebesaran bangsa dan negara Indionesia. Maka, tempat tersebut perlu penataan yang baik, menyangkut pawongan (penduduk Dukuh Kali Putih dan Desa Mulio Asri sebagai pengempon), palemahan (bercorak dan dengan bahan-bahan setempat yang sifatnya serasi dengan alam sekitarnya) dan parahyangan-nya (sebuah candi tempat persembahyangan semua umat).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar