Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 23 November 2009

RAJA PEMECUTAN III


IDA BHATARA MAHARAJA SAKTI/ KYAI ANGLURAN PEMECUTAN III/
COKORDA PEMECUTAN III( 1718 - )

Kerajaan Badung yaitu Puri Agung Pemecutan mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan
Kiyai Arya Ngurah Pemecutan, Beliau menggantikan kedudukan Anglurah Pemecutan II sebagai Raja di Kerajaan Badung, abiseka ratu tahun tahun 1718 Masehi bergelar Ida Bhatara Maharaja Sakti. dengan pusat pemerintahan di Puri Agung Pemecutan yang berlokasi di Barat Puri Agung Pemecutan yang sekarang.
Ida Bhatara Maharaja Sakti merupakan cikal bakal seluruh keturunan Arya di Badung Pemecutan dan juga merupakan tokoh pemersatu para warih perti sentana dan para pendukung rakyatnya dalam lingkup prasanak -prasanak Pura Tambangan Badung atau dalam Eka Bhandana Pemecutan para Warga Ageng Pemecutan

Uraian Kontrolir Belanda pertama di Bali tahun 1855 disebutkan bahwa Raja yang pertama kali mendirikan Kerajaan Puri Agung Pemecutan secara utuh bernama I Gusti Ngurah Sakti Pemecutan. hal tersebut diperkuat dan dipertegas oleh Prof Dr. Litt, Dr. Gusti Putu Phalgunadi dalam bukunya yang berjudul "Evolution Of Hindu Cunture In Bali yang menyebutkan bahwa Maharaja Bhatara Sakti Pemecutan adalah Wangshakarta (pendiri) Dynasti Pemecutan. Gelar sakti yang diperolehnya karena beliau mempunyai pusaka yang amat bertuah yaitu keris Pusaka Singa Praga yang sangat dimuliakan oleh seluruh keturunan bangsawan dari Puri Pemecutan, disamping sangat teliti dengan catur Kanda (Nyama lahir Beliau bernama I Brego)

Pada suatu hari perwakilan kompeni yang bernama Mr Lange
berkunjung ke Puri Agung Pemecutan. Dalam kunjungannya Mr Lange membawa 6 butir telur dan bermaksud menguji sampai dimana kesaktian Ida Bhatara Maharaja Sakti. Mereka memperlihatkan kepinterannya menyusun telur tersebut satu persatu sehingga tersusunlah 6 butir telur keatas.

Ida Bhatara Maharaja Sakti tiada heran melihatnya malahan beliau memanggil pengawal istana untuk mengambil 6 butir telur lagi dan menyusunnya diatas 6 telur tadi sehingga 12 telur akhirnya tersusun keatas. Mr Lange teramat kagum atas kesaktian Ida Bhatara Maharaja Sakti dan menyerah kalah dalam permainan tersebut.


MENDAPAT SEBUTAN IDA BHATARA SAKTI
Apa sebab beliau disebut Bhatara Sakti ternyata ada sejarahnya. Sebelum beliau kabiseka Ratu beliau bernama Kiyai Arya Ngurah Pemecutan. Kerajaan Badung pada waktu itu sudah terbagi 2 yaitu
  • Wilayah sebelah Barat sungai - Kiyai Arya Ngurah Pemecutan
  • Wilayah sebelah Timur sungai - Kiyai Jambe Haeng.
Sungai yang menjadi patokan pembagian wilayah ini yaitu sungai Badung. Kedua kerajaan ini hidup rukun dan saling membantu bila ada musuh dari luar karena pada dasarnya kedua kerajaan ini masih memiliki hubungan kekeluargaan. Diceritakan kerajaan Buleleng dibawah kekuasaan Ki Panji Sakti memiliki angkatan perang yang sangat kuat yaitu Taruna Gowak. Dengan angkatan perang yang demikian besar kerajaan Buleleng dapat menaklukkan Kerajaan Blambangan dan Jembrana.

Selanjutnya yang menjadi incaran yaitu kerajaan Badung. Pada suatu hari datanglah surat ancaman yang ditujukan kepada Kiyai Jambe Haeng dari Puri Satriya, agar Raja Badung tunduk kepada kekuasaan Ki Panji Sakti, karena bila acaman tersebut tidak dipenuhi maka Kerajaan Badung akan digempur habis habisan.

Mendapat ancaman tersebut Kiyai Jambe Haeng / Kyahi Jambe Satria (Raja Puri Satria) kemudian mengadakan perundingan dengan Kiyai Anglurah Anglurah Pemecutan III untuk membahas permasalahan tersebut. Melalui rapat tersebut akhirnya diputuskan bahwa Kerjaan Badung akan dipertahankan mati matian sampai titik darah penghabisan.

Namun untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak maka Kiyai Anglurah Anglurah Pemecutan III akan menantang Ki Panji Sakti untuk berperang tanding satu lawan satu dengan taruhan yang kalah akan kehilangan kerajaannya. Ki Panji Sakti menyetujui tantangan tersebut dan diputuskan perang tanding akan diadakan di suatu daerah di Kesiman.

Pada hari yang telah ditentukan Ki Panji sudah siap ditempat untuk menyambut kedatangan Kiyai Anglurah Anglurah Pemecutan III. Ki Panji Sakti datang dengan busana perang lengkap dengan keris di pinggangnya, sedangkan Kiyai Anglurah Anglurah Pemecutan III juga memakai busana perang namun dipinggangnya tidak terselip sebuah keris, namun sebuah pecut yang biasa dipakai pengembala sapi.

Ki Panji Sakti sangat heran melihat hal tersebut karena bagaimana mungkin Kiyai Anglurah Anglurah Pemecutan III menantang perang tanding namun tidak membawa senjata, Menurut beliau itu hanya akan menyerahkan diri namanya. Kedua Kesatria tersebut sudah mengambil tempatnya dan perang tanding akan segera dimulai. Ki Panji Sakti berinisiatip untuk memulai serangan dengan kerisnya yang mengeluarkan sinar gemerlapan yang dapat menyilaukan mata yang memandangnya.

Ki Panji Sakti dapat menusukkan keris tersebut tepat didada Kiyai Anglurah Anglurah Pemecutan III, namun keris tersebut tidak mampu menembus dada tersebut sampai berulang kali sehingga Ki Panji Sakti menjadi kepayahan dibuatnya.Tiba giliran Kiyai Anglurah Anglurah Pemecutan III untuk melakukan serangan dengan memutar mutar pecut saktinya diatas kepala Ki Panji Sakti.

Tiba tiba datanglah angin topan yang sangat dahsyat yang menghempaskan seluruh busana yang melekat di tubuh Ki Panji Sakti. Dengan keadaan yang sangat menyedihkan Ki Panji sakti akhirya menyerah dan serangan dari Kerajaan Buleleng dapat dipatahkan oleh Kiyai Anglurah Anglurah Pemecutan III.


Dengan Kemenangan tersebut mulai saat tersebut Kiyai Anglurah Anglurah Pemecutan III mengganti namanya menjadi Kiyai Arya Ngurah sakti atau Ida Bhatara Maharaja Sakti, Demikianlah asal usul nama Bhatara Maharaja Sakti. Dengan kemenangan Kerajaan Badung tersebut menjadikan kerajaan Mengwi lebih bersikap hati hati. Untuk menjaga perdamaian antara Kerajaan Pemecutan dengan Kerajaan Mengwi diadakanlah perkawinan antara Ida Bhatara Maharaja Sakti dengan Ni Gusti Ayu Bongan putri dari Kerajaan Mengwi.
Pada waktu pemerintahan Kyai Anglurah Pemecutan III yang mengambil istri dari Kerajaan Mengwi yaitu Ni Gusti Ayu Bongan Kerajaan Mengwi dan Badung merupakan suatu keluarga besar, pada waktu mendapat kesusahan saling membantu sehingga kedua kerajaan hidup rukun dan keamanan berjalan dengan baik. Demikianlah keadaannya sampai berjalan lebih kurang 4 keturunan.


BERDIRINYA PURI KEDATON KESIMAN

Pada Zaman Pemerintahan Dalem Sri Kresna Kepakisan tahun 1350 dari Kerajaan Gelgel maka salah satu patih beliau yang bernama Kirarya Wang Bang Pinatih Mantra atau Arya Demung Wang bang Pinatih mendirikan Puri kertalangu yang berlokasi sekarang di Kantor Bappeda – Balitex. Kertalangu mengandung arti sempurna dan indah.

Pada lokasi yang sama juga dibangun sebuah pura disebelah selatan puri yang sekarang menjadi pura Dalem Kesiman yang terletak di sebelah barat Tukad Ayung. Asal usul Kesiman berawal dari ajaran mendesa dimana Kesiman berasal dari kata Sima yang artinya adat-istiadat. Wilayah yang menjadi kekuasaan Puri Kertalangu adalah Batan Buah, Kedaton sebelah timur, Kebon Kuri dan wilayah sekitarnya termasuk Kehen.

Runtuhnya Puri Kertangu berawal dari perselisihan antara Raja Kertalangu I Gusti Ngurah Agung Pinatih dengan metuanya I Dukuh Pahang. Dalam perselisihannya Raja Kertalangfu tidak percaya bahwa I Dukuh Pahang apabila nantinya meninggal tidak dengan jalan moksah sehingga Raja Kertalangu mengatakan kalau itu benar terjadi maka beliau tidak akan menjadi Raja lagi di Puri kertalangu.

Karena ucapannya tersebut I Dukuh Pahang merasa tersinggung dan mengeluarkan kata kata “ Dumadak I Ratu Kakawonang antuk semut, agelis Ratu Kesah saking panegara Badung, kerebut dening semut ( Semoga raja diserang oleh semut dan segera meninggalkan wilayah Badung ). Semenjak saat itu Puri Kertalangu mengalami kemunduran dan terbukti Puri Kertalangu diserang oleh beribu ribu semut sehingga menyebabkan Raja Kertalangu I Gusti Ngurah Agung Pinatih dengan diiringi oleh rakyatnya yang masih setia meninggalkan Puri Kertangu menuju kearah selatan menuju pantai dan berakhir di desa Tulikup dan Desa Sulang.

Adanya kekosongan kepemimpinan di wilayah Kertangu menyebabkan suasana menjadi kacau balau dan ketidak hadiran seorang pemimpin sangat dirasakan pada saat upacara keagamaan dimana banyak pelinggih pelingih yang rusak karena tidak ada lagi yang bertanggung jawab untuk hal tersebut. Kehancuran Puri kertalangu diperkirakan terjadi pada tahun saka 1527 atau tahun 1604 Masehi.

Melihat kedaan yang demikian maka Raja Badung Ida Bhatara Sakti kemudian memerintahkan salah satu Putra beliau yang bernama Kiyayi Agung Pemayun adik seibu dari Kiyayi Anglurah Pemecutan IV untuk membangun puri di wilayah Kesiman untuk meredakan kekacauan tersebut.

Kiyayi Anglurah Pemayun kemudian mendirikan Puri di Kesiman bertempat disebelah barat Pura Pengerebongan yang disebut Puri Kedaton kesiman. Puri menghadap kesebelah Barat di jalan menuju bukit Buwung dan beliau juga membangun tempat suci untuk persembahyangan di aeral puri di bagian utara-tumur (Kaja Kangin).

Dalam Babad Kiyayi Agung Lanang Dawan disebutkan bahwa Ida Bhatara Sakti pemecutan menugaskan Kiyayi Agung Pemayun untuk mengamankan Desa Petilan Pengerebongan Kesiman karena desa tersebut baru saja dikalahkan oleh Raja Badung karena itu untuk membangun pertahanan di bagian timur sangat penting keberadaanya untuk mengantisipasi serangan dari wilayah Batubulan. Puri kesiman didirikan tahun saka 1539 atau tahun 1617 kurang lebih sekitar 12 tahun sejak terjadinya kekosongan di wilayah kertalangu karena runruhnya Puri kertalangu.

Kiyayi Anglurah Pemayun setelah menempati Puri Kesiman mengambil istri dari warga Pande di Wangaya Kaja dan melahirkan keturunan Anak Agung Lanang Wangaya / A.A Lanang Wayahan Pemayun. Kemudian beliau juga m3ngambil istri kedua dari Puri Gelogor menurunkan 2 orang putra yaitu A.A. Pemayun Putra dan A.A. Ngurah Made dan dari itri ke 3 beliau mempunyai seorang putra yang bernama A.A. Ketut Pagan.

Setelah putra beliau berempat dewasa maka dibuatkan tempat tinggal masing masing Anak Agung Ngurah Pemayun dan adiknya Anak Agung Ngurah Made mewarisi Puri Kedaton Kesiman

  • Anak Agung Lanang Wangaya/ A.A. Lanang Wayahan Pemayun dibuatkan puri disebelah barat sungai yang bernama Puri Abiantubuh Kesiman
  • Anak Agung. Ketut Pagan dibuatkan puri disebelah utara Puri Kedaton Kesiman yang bernama Puri Kajanan Batan Buah.


  • PENYERANGAN KE JEMBRANA

    Namun demikian walaupun sudah terjalin suatu ikatan perkawinan jajahan Kerajaan Mengwi di Jembrana tidak luput dari gempuran laskar Badung. I Gusti Ngurah Jembrana dapat dikalahkan oleh lascar Badung tahun 1800 M. Para keluarga Ki Gusti Ngurah Jembrana diturunkan kastanya menjadi rakyat biasa dan ada juga yang dibawa ke Badung dan diberikan tempat di tegal linggah Pemedilan.

    Setelah mengabdi kepada Pemecutan banyak sekali jasa jasa yang mereka perbuat maka Ida Bhatara Maharaja Sakti memberikan penghargaan dengan gelar Meranggi/ Jembrana. Demikian pula daerah Buduk dan Seseh tidak luput dari gempuran lascar Pemecutan.



    CIKAL BAKAL WARGA AGENG PEMECUTAN


    Kyai Anglurah Pemecutan III mempunyai istri lebih kurang 500 orang sehingga keturunan beliau empat tingkat ke bawah mencapai 800 orang. Dengan jumlah keluarga yang demikian banyak maka beliaulah yang menjadi cikal bakal Warga Ageng Pemecutan sehingga Kerajaan Pemecutan menjadi semakin kuat.
    Berdasarkan tulisan Riwayat Kerajaan Badung disebutkan bahwa Permaisuri dan istri istri beliau serta Putra putra Kyai Anglurah Pemecutan III sebagai berikut :Dari Puri Tabanan yaitu Ratu Istri Subamia anak dari Raja Tabanan yang bergelar Sri Ngada Sakti – tidak mempunyai keturunan (putung)
    • Dari Kerajaan Mengwi yaitu Ratu Istri Bongan, putri dari I Gusti Agung Made Agung Alangkajeng dari Puri Mengwi dan Ni Gusti Ayu Mimba putri dari Kiyayi Tegeh Kori Tegal Badung mempunyai putra I Gusti Ngurah Kaleran/ Kyai Agung Gede Oka – membuat jero di Kaleran Kawan sebelah utara Puri Agung Pemecutan. Beliau merupakan cikal bakal berdirinya Puri Denpasar.
    • Dari Tangkeban bergelar Sadampati yaitu anak dari Sri Aji Jambe Ketewel dari Alang Badung mempunyai putra yang bernama Nararya Anglurah Bagus Anulus/ Sang Adi Hyang Anulus (dibuatkan pelinggih No 2 dari gedong Menjang Sluwang di Puri Agung Pemecutan.
    • Jero Gelogor yaitu Ratu Istri yang merupakan putri dari Kyai Anglurah Tumbak Bayuh mempunyai putra 2 orang :- I Gusti Ngurah Gede Pemecutan (Dewata di Ukiran) menggantikan kedudukan Anglurah Pemecutan III sebagai Raja Badung.-dan Gusti Ngurah Mayun – membuat jero di Puri Abian Tubuh Kesiman sebelah timur Kesiman kemudian ke Puri Kedaton Kesiman.

    • Dari Wangsa Belaluan keturunan Tangkas berputra 2 orang yaitu Kiyayi Agung Lanang Dawan di tempatkan di Jero Dawan Tegal dan Kiyayi Agung Belaluan atau Kiyayi Anglurah Taensiat di tempatkan di Taensiat setelah wafat bergelar Kiyayi Jayengrana karena jaya dalam peperangan
    • Dari Wangsa Palasari bernama Jero Palasari berputra Kiyayi Gde Tanjung atau Kiyayi Anglurah Nengah Tanjung ditempatkan di Puri Tanjung Pemecutan sebelah selatan Bale Lantang

    • Kiyayi Anglurah Wayahan Munang / Jero Legian Tengah sebelah timur jalan Legian berganti nama Kiyayi Anglurah Lanang Legian

    • Kiyayi Anglurah Wayahan Pesaji / Puri Pesaji Tegallinggah Jl Gunung Merapi tidak mempunyai keturunan
    • Kiyayi Anglurah Tengah / Puri Tegallantang - Padangsambian Kelod sebelah Barat Jl Gunung Salak
    • Kiyayi Lanang Wayahan Celuk/ Jero Kerobokan Kelod - Pemecutan sebelah barat jalan raya Kerobokan
    • Kiyayi Lanang Ketut Kerobokan/ Jero Kerobokan Kaja - Pemecutan sebelah Timur jalan raya Kerobokan
    • Kiyayi Lanang Kedaton/ Jero Abasan - Pemecutan sebelah utara jalan Sugianyar dibelakang Musium Bali
    • Kiyayi Lanang Gulingan / Jero Singgi Sanur - Pemecutan sebelah barat jalan Danau Tamblingan Sanur
    • Kiyayi Anglurah Kemoning / Puri Kepaon - jalan P / Jero Pedungan jalan Pulau Bungin Pedungan
    • Kiyayi Anglurah Wayahan Busungyeh / Jero Pedungan sebelah Barat Jalan Pulau Bungin
    • Kiyayi Anglurah Kca (Keceha) / Jero Kca Celagigendong sebelah selatan jalan gunung Tambora
    • Kiyayi Anglurah Wayahan Cerancam / Jero Manik Makeplag Alangkajeng jalan Hasanuddin
    • Kiyayi Anglurah Nengah Cerancam / Jero Perubungan Alangkajeng jalan Hasanuddin
    • Kiyayi Anglurah Ketut Tegal Wangi / Jero Tegalwangi Meregan sebelah barat jalan Gunung Kawi
    • Kiyayi Anglurah Hyang Batu / Jero Tampakgangsul seblah utara jalan Nakula sebelumnya bertempat tinggal di daerah Hyang Batu
    • Kiyayi Anglurah Ketut Kalanganyar / Jero Kalanganyar Tegallinggah sebelah timur jalan Merapi
    • Kiyayi Anglurah Batan Juwuk / Jero Balelantang sebelah selatan Jalan Hasanuddin
    • Kiyayi Anglurah Wayahan Lumintang / Jero Peguyangan sebelah timur jalan Ahmad Yani
    • Kiyayi Anglurah Tegeh Lumintang / Jero Lanang Tegeh Lumintang jalan Ahmad Yani
    • Kiyayi Anglurah Puseh / Jero Panjer sebelah selatan jalan waturenggong
    • Kiyayi Agung Tegallayu / lokasi jero tidak diketahui - tidak mempunyai keturunan
    • Kiyayi Belayu / lokasi jero tidak diketahui
    • Kiyayi Agung Wayahan Karang / lokasi Jero tidak diketahui - tidak mempunyai keturunan
    • Kiyayi Agung Dangin / lokasi Jero tidak diketahui - tidak mempunyai keturunan
    • Kiyayi Agung Pupwan / Jero Pemamoran - tidak mempunyai keturunan
    • Kiyayi Agung Dawuh / lokasi Jero tidak diketahui - tidak mempunyai keturunan
    • Kiyayi Agung Sinapahan / Jero Gemeh camput - tidak mempunyai keturunan

    Selain mempunyai putra putra yang demikian banyak, Kyai Anglurah Pemecutan III juga mempunyai putri – putri yang dikawinkan di lingkungan wilyaah Bali maupun luar Bali, diantaranya :
    1. Saudara Putri dari Kyai Agung Pemayun diambil istri oleh Kiyayi Anglurah Jambe di Alang Badung.
    2. Dikawinkan dengan Rkyan Anglurah Den Bencingah di Taman Bali
    3. Dikawinkan dengan Brahmana dari Gria Wanasari Sanur
    4. Dikawinkan dengan Brahmana dari Geria Bindu Kesiman
    5. Raden Ayu Dikawinkan ke Bangkalan Madura setelah wafat dibuatkan Pura Keramat Agung Pemecutan.
    Saat ini keturunan Ida Bhatara Maharaja Sakti diperkirakan mencapai 2000 orang tersebar luas di wilayah Badung. Selain itu beliau juga mengangkat anak dari arya arya di luar Badung dengan tujuan untuk memperkuat Keberadaan Puri Pemecutan. Anak angkat beliau antara lain :
    1. Kiyahi Agung Kedisan bertempat di Jero Kedisan sebelah utara jalan gunung Merapi
    2. Kiyayi Agung Ketut Badung keturunan dari Arya Pinatih dari Puri Bun Sukawati Gianyar ditempatkan di areal Jabe Tengah Puri Taensiat disebut juga Jeroan Gde Taensiat.

    KETURUNAN WANGSA BRAHMANA DI PURI AGUNG PEMECUTAN

    Jalinan pertalian kekeluargaan antara Puri Agung Pemecutan dengan Geriya Bindu Kesiman dimana seorang putri dari Ida Bhatara Sakti Pemecutan dikawinkan dengan brahmana Geriya Bindu Kesiman dikuatkan oleh pemancanggah geriya cutan Pemedilan Denpasar yang masih tersimpan di Geriya cutan Pemedilan menguraikan bahwa Ida Bhatara Sakti memberikan putrinya yaitu A.A. Ayu Anom kepada Ida Wayahan Karang seorang brahmana yang beribu dari Wangaya dari keluarga wangsa Pasek Mendesa istri dari Ida Pedanda Made Mendesa yang tinggal di Geriya Bindu Kesiman.

    Hubungan kekeluargaan yang sangat akrab dan saling hormat menghormati terjalin dalam ikatan kekeluargaan dan kekrabatan diperkuat dengan bisama yang berbunyi " Tunggal Saka Wangsa Nira Sang Arya Nambangan, Nambangan Badung"

    Adapun pendiri Geriya di Kerajaan Badung adalah para pretisentana (keturunan) Ida Wayahan Karang dengan Putri Ida Bhatara Sakti Pemecutan. Geriya tersebut antara lain Geriya Penyaitan, Geriya Padangsumbu, Geriya Beraban, Geriya Pemedilan dari dulu hingga sekarang masih memegang teguh bisama tersebut.

    Hal tersebut dibuktikan bahwa keturunan beliau selalu terlibat langsung dalam setiap kegiatan di Puri Agung Pemecutan sebagai berikut :
    • Ikut para semetonan Agung Pemecutan dalam pemaksan ring Pemerajan Agung Pemecutan tempo dulu
    • Ikut menyungsung Pura Tambangan Badung tempo dulu
    • Geriya Cutan Pemedilan menghaturkan upakara pejati dan mohon tirta di merajan Agung Pemecutan tempo dulu.

    • Geriya Cutan Pemedilan setiap "Mesuci-mediksa-Mapodgala" penglisir pedanda sebagaian upacaranya dilaksanakan di Pura Tambangan Badung.

    PENYERANGAN DESA DAWAN KELUNGKUNG

    Diceritakan Ida I Dewa Agung Jambe Sakti di Puri Agung Kelungkung yang beribu dari Pemecutan yaitu Anak Agung Istri Jambe yang merupakan adik dari Kiyai Macan Gading Raja Pemecutan Ke II. Ida I Dewa Agung Jambe Sakti bermaksud untuk mengadakan upacara Pitra Yadnya sehingga dipanggillah Bagawanta Kemenuh dan Bagawanta Manuaba serta para sulinggih dan patih Agung.

    Didalam pertemuan tersebut beliau menyampaikan maksudnya untuk mengadakan upakara Pitra Yadnya, namun sebelumnya beliau ingin berbicara dengan leleuhur beliau yang sudah meninggal, namun tidak seorangpun yang sanggup melakukan hal tersebut.

    Setelah berjalan beberapa bulan lamanya Ida I Dewa Agung Jambe Sakti termenung memikirkan siapa gerangan yang dapat melaksanakan tugas tersebut, beliau teringat akan cerita orang-orang di tepi siring Tabanan tentang kesaktian Ida Pranda Sakti Ender keturunan Brahmana Keniten yang selalu mengembara keseluruh daerah Bali sehingga tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.

    Maka dikirimlah utusan keseluruh penjuru Bali untuk mencari keberadaan Ida Pranda Sakti Ender. Setelah berselang beberapa lama maka utusan yang dikirim ke Badung menemukan Ida Pranda Sakti Ender sedang memuput upacara manusia yadnya di desa Sida Karya Sesetan. Para utusan kemudian menyampaikan maksud dan tujuannya menemui Ida Pranda Sakti Ender atas perintah dari Ida I Dewa Agung Jambe Sakti.

    Setelah mendengar penjelasan utusan tersebut beliau menyanggupi dan minta diantar ke Puri Kelungkung.Setelah sampai diPuri Kelungkung, Ida Pranda Sakti Ender diterima langsung oleh Ida I Dewa Agung Jambe Sakti dan menyampaikan prihal upakara Pitra Yadnya yang akan dilaksanakan tersebut.

    Segala persiapan telah dilaksanakan dan setelah semuanya siap mulailah Ida Pranda Sakti Ender melaksanakan puja wali. Pada waktu Ida Peranda mengadakan puja layang-layang yang tergantung di Penjor sunari bergerak gerak seperti bersuara manusia.

    Ida I Dewa Agung Jambe Sakti kemudian bercakap cakap dengan leluhurnya melalui layang layang tersebut.Demikianlah karena kesaktian dari Ida Pranda Sakti Ender maka apa yang menjadi keinginan dari Ida I Dewa Agung Jambe Sakti akhirnya dapat terwujud dan sebagai rasa terima kasih Ida Pranda Sakti Ender kemudian diangkat sebagai Bagawanta Kerajaan Kelungkung.

    Brahmana Kemenuh yang merasa tersisih memilih meninggalkan Kelungkung menuju desa Den Bukit namun dalam perjalanan beliau bertemu dengan Ki Barak Panji Sakti. Dalam pertemuannya tersebut Ki Barak Panji Sakti menawarkan kepada Brahmana Kemunuh untuk menetap di desa Panji. Sedangkan Brahmana Manuaba juga meninggalkan Kelungkung menuju desa Dawan dan membuat pesraman di bukit Abah.

    Karena merasa tersisih dan kehilangan kepercayaan dari Kerajaan Kelungkung, timbullah rasa kecewa dan sakit hati dari Brahmana Manuaba. Beliau mulai mengabaikan semua perintah Raja Kelungkung. Ida I Dewa Agung Jambe Sakti mendapat laporan tentang pembangkangan Brahmana Manuaba kemudian memutuskan untuk menghukum Brahmana Manuaba, namun tidak seorangpun utusan yang berhasil mendekat ke desa Dawan, karena baru saja utusan menginjak perbatasan Dawan, mereka sudah dihadang oleh ribuan tabuan sirah (tawon) karena beliau mempunyai senjata yang sangat ampuh yaitu sebuah tongkat sakti dan sebuah Kulkul yang berisi rumah tawon.

    Bila ada musuh yang mendekat maka dengan sendirinya tanpa dipukul kulkul tersebut akan berbunyi dan semua tabuan sirah yang ada didalamnya akan terbang menyerang musuh dan menyengat sampai mati. Setelah mendapat laporan tersebut, Ida I Dewa Agung Jambe Sakti menjadi sangat marah dan memerintahkan pasukan Kerajaan kelungkung untuk menggempur desa Dawan dari segala arah.


    Pasukan Klungkung kemudian disambut oleh ribuan tabuan sirah dan korban dari pihak Klungkung sangat banyak sehingga sisanya memilih mengundurkan diri kembali ke Klungkung. Ida I Dewa Agung Jambe Sakti sangat kesal menyaksikan kekalahan yang dialami laskar Klungkung dan memikirkan cara lain untuk mengalhkan Brahmana Manuaba. Pada suatu hari beliau mendapat firasat bahwa yang dapat mengalahkan Brahmana Manuaba adalah Kerajaan Badung, maka dikirimlah utusan untuk menghadap Raja Badung Ida Bhatara Maharaja Sakti di Puri Agung Pemecutan.
    Setelah menghadap utusan kemudian menyampaikan maksud dan tujuannya diutus oleh Ida I Dewa Agung Jambe Sakti untuk meminta bantuan untuk mengalahkan Brahmana Manuaba yang bermukim di desa Dawan. Ida Bhatara Maharaja Sakti minta waktu beberapa hari untuk mempertimbangkan hal tersebut karena hal tersebut akan dibicarakan terlebih dahulu dengan putra putra beliau.

    Dalam rapat yang diadakan dengan pembesar Puri Pemecutan dan putra putranya beliau menyampaikan permohonan dari Kerajaan Klungkung yang minta bantuan dari Puri Pemecutan untuk mengalahkan Brahmana Manuaba di desa Dawan. Dalam rapat tersebut akhirnya diputuskan bahwa putra beliau yang bernama kiyai Agung Anom diberikan kepercayaan untuk melaksanakan tugas tersebut.

    Setelah adanya keputusan tersebut utusan Kerajaan Klungkung sangat gembira dan mohon pamit untuk menyampaikan kesediaan Puri Pemecutan membantu Kerajaan Klungkung. Setelah mendapat kepercayaan dari ayahnya untuk melaksanakan tugas tersebut, Kyai Agung Anom mohon pamit untuk kembali ke Desa Nyitdah Kediri Tabanan tempat pos pasukannya ditempatkan.

    Di Pura Gegelang desa Nyitdah, Kyai Agung Anom bertapa semedi mohon petunjuk dari Ida Sanghyang Widhi untuk mengalahkan Brahmana Manuaba di desa Dawan. Dalam semedinya beliau mendapat petunjuk bahwa Brahmana Manuaba hanya dapat dikalahkan oleh api unggun dan dalam melaksanakan tugas tersebut harus bekerjasama dengan cucu dari Brahmana Keniten yang sudah lama bermukim di desa Dawan Kaja (utara). Kyai Agung Anom sangat gembira mendapat petunjuk tersebut dan segeralah dilakukan persipan untuk menuju desa Dawan.

    Setelah sampai di desa Dawan segeralah diatur strategi penyerangan dengan cucu brahmana Keniten yaitu penyerangan akan dilakukan tepat pada tengah hari dan dilarang melakukan penyerangan sebelum api unggun dinyalakan. Setelah melalui persiapan yang matang maka mulailah penyerangan desa Dawan pada tengah hari, api unggun dinyalakan oleh Brahmana Keniten di puncak bukit Abah dan terlihat sangat jelas dari pos pertahanan Kayai Agung Anom dan memerintahkan pasukannya untuk menyerang desa Dawan dari segala arah.


    Mendapat serangan yang mendadak tersebut rakyat desa Dawan sangat terkejut dan tidak sempat sempat memberikan perlawanan sedangkan senjata andalan Brahmana Manuaba berupa tongkat sakti dan tabuan sirah tidak berfungsi karena api ungun yang dinyalakan telah membuat takut tabuan sirah. Brahmana Manuaba akhirnya mengaku kalah dan menyerahkan seluruh desa Dawan beserta rakyatnya kepada Kiyai Agung Anom.


    Berita kemenangan pasukan Kiyai Agung Anom akhirnya sampai kehadapan Ida I Dewa Agung Jambe Sakti dan sebagai rasa terima kasih beliau mengundang seluruh laskar Badung ke Puri Klungkung. Ida I Dewa Agung Jambe Sakti minta kepada Kyai Agung Anom untuk menetap di desa Dawan dan akan diangkat sebagai kepala Pemerintahan, namun beliau menolak hadiah tersebut.

    Untuk mengenang hal tersebut Kyai Agung Anom memutuskan mengambil nama Desa Dawan sebagai namanya sehingga mulai saat itu Kyai Agung Anom berganti nama menjadi Kiyai Agung Lanang Dawan
    . Oleh karena tugas telah selesai maka Kiyai Agung Lanang Dawan mohon diri kehadapan Ida I Dewa Agung Jambe Sakti untuk kembali ke Puri Pemecutan.



    KEBERADAAN BRAHMANA KENITEN DAN MANUABA
    DI KERAJAAN BADUNG

    Atas Keberhasilan Kiyayi Agung Anom yang telah berganti menjadi Kyayi Agung Lanang Dawan menaklukkan Desa Dawan maka oleh I Dewa Agung Jambe Sakti beliau diberikan iringan 40 KK yang terdiri dari Brahmana Keniten, Brahmana Manuaba dan Warga Tangkas.

    Singkat cerita setelah iringan tersebut mencapai daerah Sanur Brahmana Keniten minta persetujuan dari Kiyayi Agung Lanang Dawan untuk membuat Pesraman/ Geriya di daerah Karang Ngenjung. Selanjutnya Brahmana Keniten kawin dengan putri dari Geriya Telaga Tawang sehingga lahir seorang putra yang diberi nama Brahmana Keniten Telaga.

    Brahmana Keniten Telaga pernah berpindah tempat ke Belaluan tempat tinggal ibu dari Kiyayi Agung Lanang Dawan kemudian berpindah ke Tegalayu mengiringi kepindahan Kiyayi Agung Lanang ke Desa Tegal. Sekarang Geriya tersebut dinamakan Geriya Tegal/ Geriya Telaga dan Geriya Tegal Baleran. Begitupun Keluarga Brahmana Keniten yang menetap di Sanur ikut serta mengikuti kepindahan Kiyayi Agung Lanang Dawan ke Tegal membuat Griya di daerah Tegal diberi nama Geriya Beji

    Begitu pula Ida Bagus Sari (Geriya Ngenjung Sanur) keturunan Brahmana Keniten ikut pindah ketegal, beliau membuat geriya di sebelah timur peranda geriya Telaga, sedangkan Ida Nyoman Ngenjung menuju ke desa Sibang membuat pesraman disana bernama Geriya Sibang Gede. Keturunan beliau Ida Wayahan Sibang menuju geriya Telaga di Tegal Badung kawin dengan putri Ki Pasek Kedangkan (wakil dalem gelgel untuk wilayah badung sebelum Arya Tegeh Kori berkuasa di Badung) membuat pesraman di bekas jero Agung Tegehkuri bernama Geriya Jero Agung.

    Adapun keturunan putra Brahmana Geriya Telaga mendapat jodoh dari keturunan Arya Dawan Kanginan putri A.A. Gde Banjar membuat geriya disebelah timur Jero Dawan Kanginan diberinama Geriya Beji. Geriya Beji pecah menjadi 2 yaitu Geriya Tegallayu dan Geriya Sari.



    BRAHMANA KENITEN MENJADI BAGAWANTA
    PURI AGUNG PEMECUTAN


    Atas jasa Brahmana Keniten membantu Kyayi Agung Lanang Dawan mengalahkan Desa Dawan tahun 1780 setelah diterima oleh Ida Bhatara Sakti Pemecutan beliau diberikan anugrah putri dari Ida Bhatara Sakti Pemecutan yang bernama A.A. Istri Agung sebagai istri dari Ida Bagus Gde Ngenjung dan diangkat sebagai Bagawanta Puri Agung Pemecutan dan Geriya Ngenjung diganti namanya menjadi Geriya Jero Gede Sanur sekarang.

    Ida Nagus Gde Ngenjung adalah putra dari Ida Pedanda Made Ngenjung yang beristri dari puri kaleran yang diangkat sebagai moncol penglisir brahmana Keniten Sanur. Keturunan beliau berkembang menurunkan para barahmana geriya tampakgangsul, geriya renon dan seterusnya.



    MENUNDUKKAN PURI SUKAWATI

    Dikisahkan Manca Agung Puri Grenceng yang beranama Kiyayi Anglurah Wayahan Grenceng salah satu cucu Ida Bhatara Sakti Pemcutan yang merupakan putra tertua Kiyayi Anglurah Nengah Tanjung dari Jero Dlod Bale Lantang Pemecutan pernah mengalahkan Raja Sukawati yang bernama I Dewa Agung Gde Sukawati.

    Berawal dari I Dewa Agung Jambe dari Puri Kelungkung yang beribu dari Putri Kyayi Anglurah Pemecutan I/ Kiyayi Jambe Pule mempunyai 3 putra :

    1. I Dewa Agung Made - menggantikan kedudukan I Dewa Agung Jambe sebagai raja di Kerajaan Kelungkung
    2. I Dewa Agung Anom - mendirikan Puri Sukawati
    3. I Dewa Agung Ketut Agung - kembali ke puri lama Gelgel
    I Dewa Agung Anom raja Sukawati mempunyai 2 orang putra yang sulung I Dewa Agung Gde dan yang bungsu I Dewa Agung Made. Setelah dewasa kedua putranya kurang memperhatikan masalah pemerintahan dan jarang sekali berada di Puri sehingga membuat Raja Sukawati sangat khawatir akan kelanjutan pemerintahan di Puri Sukawati.

    Pada sutu hari datanglah menghadap Dewa Manggis Api dari Desa Beng untuk mengabdi di Kerajaan Sukawati. Raja Sukawati menerima dengan baik permohonan Dewa Manggis Api dan setelah diterima mengabdi di Kerajaan Sukawati Dewa Manggis Api dapat menempatkan diri sebagai abdi yang setia dan sangat membantu kelangsungan pemerintahan Kerajaan Sukawati.

    Oleh karena itu lambat-laun Dewa Manggis Api mendapat kepercayaan besar dari Raja Sukawati untuk mengurus jalannya pemerintahan karena kedua putranya kurang memperhatikan masalah pemerintahan Kerajaan Sukawati.

    Pada suatu ketika Raja Sukawati menderita sakit yang sangat parah dan Dewa Manggis Api sebagai Abdi yang setia berusaha dengan segala cara untuk mencarikan pengobatan untuk Raja Sukawati, namun usahanya sia-sia sampai Akhirnya raja Sukawati kembali ke alam baka.

    Setelah Raja Sukawati meninggal terjadilah perebutan kekuasaan antara kedua putra Raja Sukawati yaitu I Dewa Agung Gde dan I Dewa Agung Made, masing masing ingin menggantikan kedudukan ayahnya sebagai kepala pemerintahan di Kerajaan Sukawati. Perselisihan yang akhirnya menyulut perang saudara dan menimbulkan banyak korban di kalangan rakyat Sukawati.

    Didalam peperangan ini I Dewa Agung Made menderita kekalahan yang menyebabkan beliau menyingkir dari wilayah Sukawati menuju desa Peliatan dan mendirikan Puri baru yang bernama Puri Peliatan. Walaupun I Dewa Agung Gde sudah mendapat kemenangan hati beliau belum puas sebelum dapat menyingkirkan adik beliau selama lamanya, maka diseranglah kembali Puri Peliatan.

    Dalam peperangan tersebut I Dewa Agung Made dapat meloloskan diri dari kepungan pasukan I Dewa Agung Gde dan minta perlindungan ke Kerajaan Badung. Ida Bhatara Sakti sebagai penguasa di wilayah Badung menerima dengan baik I Dewa Agung Made yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Puri Agung Pemecutan. Sekian lama I Dewa Agung Made di Kerajaan Badung dan Puri Peliatan telah dikuasai oleh kakaknya yaitu I Dewa Angung Gde.

    Kembali kepada Dewa Manggis api yang mengabdi di kerajaan Sukawati, beliau adalah keturunan Ida Dalem Segening (Raja Gelgel) yang beribu dari penawing (rakyat biasa). Ayah beliau bernama Dewa Manggis Bengkel yang mendirikan desa Beng. Ayahnya mempunyai 2 orang saudara dari lain ibu yaitu Dewa Ketut Pinatih dari Puri Serongga dan Dewa Gde Kesiman dari Puri Bitra.

    Sesudah Raja Sukawati meninggal maka Dewa Manggis Api meninggalkan Kerajaan Sukawati kembali ke asalnya yaitu desa Beng. Kembalinya Dewa Manggis Api ke Desa Beng ternyata menimbulkan masalah dengan Cokorda Anom Bende yang merupakan saudara angkatnya dari Puri Pejeng. Perselihan tersebut menyebabkan Dewa Manggis api mengalah dan pergi dari Desa Beng menuju Desa Taman Bali untuk mengabdi kepada Raja Taman Bali yaitu I Dewa Gde Ngurah Pemecutan yang beribu dari keluarga Puri Agung Pemecutan.

    Setelah beberapa lamanya Dewa Manggis Api mengabdi di Kerajaan Taman Bali, beliau dijemput oleh pamannya yaitu Dewa Ketut Pinatih dan Dewa Gde Kesiman yang mempunyai maksud untuk mendirikan kerajaan Baru sebab banyak rakyat Sukawati yang dulunya setia kepada Dewa Manggis Api apada waktu mengabdi di Kerajaan Sukawati yang pindah ke Puri Serongga,

    Adapun Maksud kedua paman Dewa Manggis Api mendapat dukungan penuh dari I Dewa Gde Ngurah pemecutan asalkan kerajaan tersebut tidak dibangun di Desa Beng. Akhirnya diputuskan bahwa kerajaan baru tersebut akan dibangun agak keselatan di tempat Griya Ida Pedanda Tarukan.
    Puri Gianyar

    Untuk mendukung rencana tersebut maka I Dewa Gde Ngurah pemecutan menyediakan ahli bangunan dari Kerajaan Taman Bali diantaranya I Tarukan, I Karang dan I Gunung. Tidak berapa lama Kerajaan Baru telah selesai didirikan dan diberi nama Geriya Anyar karena didirikan diatas Geriya Ida Pedanda Tarukan. Lama kelamaan Geriya Anyar berubah menjadi Puri Agung Gianyar dan Dewa Manggis Api
    dinobatkan sebagai Raja I Puri Gianyar dengan gelar I Dewa Manggis Sukawati tahun 1771 Masehi.

    Kembali lagi kepada I Dewa Agung Made setelah sekian lama beliau berdiam di Kerajaan Badung minta perlindungan Ida Bhatara Sakti, beliau ingin mengembalikan kedudukannya sebagai raja di Puri Peliatan. Ida Bhatara Sakti dapat mengerti hal tersebut dan setelah dilakukan perundingan dengan putra putra beliau maka diputuskan untuk memberi tugas kepada Kiyayi Anglurah Wayahan Gerenceng untuk melaksanakan tugas tersebut.

    Ida Bhatara Sakti memerintahkan untuk mengempur kerajaan Sukawati sampai bertekuk lutut
    , Kiyayi Anglurah Wayahan Gerenceng mohon restu Ida Bhatara Sakti dan meninggalkan bale penangkilan puri Agung Pemecutan dan mempersiapkan laskar Badung untuk menggempur Kerajaan Sukawati dengan kekuatan inti warga Pulasari karena ibu beliau berasal dari warga Pulasari, maka Kiyayi Anglurah Wayahan Gerenceng dianggap sebagai kewangen oleh warga Pulasari dan mereka akan membantu sampai titik darah penghabisan.

    Diceritakan laskar Pemecutan dibawah pimpinan K
    iyayi Anglurah Wayahan Gerenceng sudah berada di seberang sungai disebelah Barat Puri Sukawati, Rakyat Sukawati yang sudah mengetahui kedatangan musuh tersebut mengadakan perlawanan dengan hebat, korban berjatuhan diantara kedua belah pihak. Karena kewalahan menghadapi serangan tersebut laskar Sukawati yang ada di Puri Peliatan terpaksa ditarik untuk mempertahankan Puri Sukawati.

    Namun usaha tersebut gagal karena kuatnya perlawanan dari laskar Badung maka Raja Sukawati I Dewa Agung Gde merintahkan kepada seluruh pasukannya untuk mundur dan menyingkir ke Tojan Blahbatuh. Namun karena di desa Blahbatuh dirasa masih kurang aman
    maka beliau memutuskan untuk minta perlindungan kepada I Dewa Manggis Sukewati yang baru dinobatkan sebagai Raja Gianyar.

    Laskar Badung terus menyerbu kedalam Puri Sukawati dan berhasil menduduki Puri Sukawati. Sungai yang dipakai untuk medan pertempuran kemudian dinamakan sungai Gerenceng dan lama kelamaan disebut sungai Cengceng. Kembali kepada adik Raja Sukawati yaitu I Dewa Agung Made yang minta perlindungan kepada Raja Pemecutan, setelah mendengar kekalahan I Dewa Agung Gde, beliau kemudian mohon pamit kepada Ida Bhatara Sakti untuk kembali ke Purinya di Peliatan.

    I Dewa Agung Gde yang minta perlindungan kepada Raja Gianyar I Dewa Manggis, disana beliau diterima dengan sangat baik karena I Dewa Manggis merasa berhutang budi kepada ayah beliau semasa I Dewa Manggis mengabdi di kerajaan Sukawati. Dibawah bimbingan raja Gianyar tersebut tingkah laku
    I Dewa Agung Gde banyak mengalami perubahan, dimana dulunya tidak hirau dengan ilmu kenegaraan maka sekarang beliau dapat belajar banyak dari I Dewa Manggis tentang bagamana seharusnya tingkah laku sebagai seorang Raja sehingga dicintai oleh rakyat.

    Melihat perubahan sikap I Dewa Agung Gde tersebut timbul niat Raja Gianyar I Dewa Manggis untuk mengembalilan posisi I Dewa Agung Gde sebagai Raja Sukawati. Untuk maksud tersebut sebagai tahap awal I Dewa Manggis mengadakan kontak dengan I Dewa Agung Made Raja Peliatan untuk menjelaskan maksud beliau agar kedua Raja bersaudara tersebut bisa hidup rukun kembali.

    I Dewa Manggis mengharapkan keiklasan I Dewa Agung Made untuk datang ke Kerajaan Badung mohon kepada Ida Bhatara Sakti untuk menarik laskar pemecutan dibawah pimpinan Kiyayi Anglurah Wayahan Gerenceng di Kerajaan Sukawati.

    I Dewa Agung Made dapat menyetujui saran tersebut dan setelah melalui beberapa kali perundingan antara Raja Peliatan dengan Raja Badung maka akhirnya diputuskan untuk menarik laskar Badung dari Kerajaan Sukawati.
    Kiyayi Anglurah Wayahan Gerenceng selama menjalankan pemerintahan di Kerajaan Sukawati pernah membangun Banjar Pemecutan dan peninggalan tersebut masih ada sampai sekarang.

    Dan sebagai rasa terima kasih raja Gianyar I Dewa Manggis Sukawati kepada pimpinan laskar Badung
    Kiyayi Anglurah Wayahan Gerenceng maka seorang gadis keturunan Meranggi putri pembesar kerajaan Gianyar diserahkan kepada Kiyayi Anglurah Wayahan Gerenceng. Putri tersebut akhirnya diberikan kepada Putra beliau yaitu Kiyayi Agung Made Gerenceng sehingga melahirkan keturunan Kiyayi Agung Gde Meranggi.

    Untuk menjamin suasana perdamaian tersebut maka Raja Gianyar I Dewa Manggis memberikan maklumat kepada kedua raja bersaudara tersebut bahwa bila ada salah satu dari Raja tersebut menyerang Raja lainnya maka Raja Gianyar akan memihak kepada Raja yang diserang. Maka mulai saat itu kedua kerajaan bersaudara tersebut ada dibawah kekuasaan Raja Gianyar.

    I Dewa Agung Gde kemudian kembali memerintah kerajaan Sukawati dan menurukan pertisentana (keturunan) Cokorda Ubud, Cokorda Payangan dan Cokorda Singapadu. Demikianlah akhir dari ekspedisi Laskar Pemecutan ke daerah Sukawati dan Kiyayi Anglurah Wayahan Gerenceng kembali ke Puri Pemecutan.


    MENGADAKAN HUBUNGAN DENGAN HINDIA BELANDA
    Semasa Pemerintahan Kiyayi Anglurah Pemecutan III telah terjadi Kontak langsung dengan Pemerintah Hindia Belanda yang berpusat di Batavia. Pada tahun 1808 Herman Willem Deandles, Gubernur Jendral Hindia Belanda mengirimkan utusan Letnan Lesnet ke Bali untuk merekrut putra putra Bali untuk dijadikan prajurit Belanda.
    Direkrutnya putra putra bali sebagai prajurit belanda karena putra putra Bali terkenal dengan keberanian dan ketangkasannya. Letnan Lisnet tiba di Bali pada pertengahan tahun 1808 dan langsung berhubungan dengan I Gusti Ngurah Made Pemecutan. Namun usaha Lisnet untuk mengumpulkan putra putra Bali mengalami hambatan sehingga hanya 37 orang yang berhasil direkrut untuk menjadi prajurit Belanda.

    Gubernur Jendral Deandles

    Lebih lanjut kiranya perlu diketahui lebih banyak tentang kepemimpinan serta kepribadian Kiyayi Anglurah Pemecutan III/ Ida Bhatara Sakti Pemecutan dalam usaha beliau mempersatukan wilayah Badung dibawah kekuasaan Puri Agung Pemecutan. Menurut lontar Babad Badung yang disusun oleh Kiyayi Anglurah Kurambitan X disebutkan bahwa Kiyayi Anglurah Pemecutan III terkenal dengan ketampanan wajahnya demikian pula prilakunya yang bijaksana, memhami ajaran agama dan tatwa tatwa yang berkaitan dengan kehidupan lahir batin atau sekala niskala karena itu beliau diberikan gelar Ida Bhatara Sakti.

    Penyatuan seluruh warga di wilayah Badung diwujudkan dalam bentuk pembangunan pelinggih-pelinggih paibon dari semua warga yang berjasa terkait sejarah berdirinya dan tegaknya kerajaan Badung di Pura Tambangan Badung. Apa yang beliau lakukan kemudian diteruskan oleh keturunan beliau hingga saat ini sehingga kita mewarisi Pura Tambangan Badung.


    Prajurit Bali

    karena demikian besar fungsi pura Tambangan Badung tersebut maka Pura Tambangan Badung ditetapkan sebagai Pura Kerajaan Badung. Hubungan langsung antara raja dengan warga penyungsung pelinggih pelinggih penyunngsung pura tersebut terwujud terutama pada hari hari besar keagamaan seperti hari raya mekiyis atau melis ke segara kuta sebelum hari raya Nyepi dan pada saat pujawali di Pura Tambangan Badung.

    Demikianlah Ida Bhatara Sakti berhasil memepersatukan seluruh wilayah Badung menjadi satu Kerajaan yang kuat bahkan pengaruh beliau sampai keluar wilayah Badung dengan berhasil mengalahkan beberapa Kerajaan di luar wilayah Badung.

    SEJARAH WARGA BUGIS DI PEMECUTAN

    Warga Bugis memiliki kaitan erat dan sejarah panjang dengan Puri Pemecutan Denpasar, karena para pemuda perantauan dari Bugis yang merantau ke Bali juga ikut serta berperang melawan penjajah bersama para prajurit Puri Pemecutan Denpasar dalam perang Puputan Badung.

    Prajurit Bugis

    Kampung Islam Bugis, begitulah desa ini lebih dikenal masyarakat. Desa yang merupakan salah satu saksi sejarah keberadaan agama Islam di Bali ini terletak di Pulau Serangan, pulau kecil yang terpisah dengan daratan Pulau Bali berjarak 17 Kilometer arah selatan kota Denpasar. Namun kedua pulau ini tidak lagi terpisah, sebab pada tahun 1995 dibangunlah sebuah dermaga kecil dan jembatan yang menghubungkan Pulau Bali dan pulau Serangan.

    Kampung seluas 2,5 hektar ini dihuni oleh sekitar 70 kepala keluarga atau 280 warga muslim. Warga kampung yang dikelilingi oleh perkampungan Hindu dengan sejumlah Pura ini memiliki mata pencaharian sebagai nelayan karena letaknya yang dekat dengan pesisir pantai.

    Kesenian Rodat

    "Beberapa peniliti mengatakan kampung ini sudah ada sejak abad ke-17 masehi, Menurut cerita, keberadaan kampung ini berawal dari kedatangan seorang bangsawan bernama Syeikh Haji Mu dan 40 anak buah kapalnya (ABK) melarikan diri dari Makasar, Ujung Pandang karena tidak sefaham dengan Belanda sebagai efek dari perjanjian Bongaya.

    Kedatangan mereka didengar oleh Raja Badung yang menguasai Pulau Serangan. Kelompok Syekh Haji Mukmin diundang ke kerajaan dan dimintai keterangan maksud datang ke Pulau Serangan. "Tapi, saat Syeikh Haji Mu tiba di pulau ini justru dicurigai pihak kerajaan Badung Bali sebagai mata-mata Belanda. Kemudian ditawanlah Syeikh Haji," jelas Mansyur.

    Makam Tua di Serangan

    Selama ditawan oleh kerajaan Badung Bali, Syeikh Haji Mu dan anak buahnya berhasil meyakinkan Raja Badung, Ida Cokorda Pemecutan III, bahwa Syeikh bukanlah mata-mata Belanda. Akhirnya rombongan Syeikh Haji Mu dibebaskan dan tinggal di Istana Puri Pemecutan untuk sementara. "Hingga kemudian mendiami kampung Gelagi Gendong, sebelah barat kerajaan agar tidak bercampur dengan warga. Kebiasaan dan keahlian perantau Bugis itu melaut, membuat mereka semakin di senangi. Hingga akhirnya mereka dipindahkan dari Kampung Gelagi Gendong ke Pulau Serangan yang saat itu masih berupa hutan.

    Sejak itulah Syiekh Haji Mu dan pengikutnya menetap Pulau Serangan. Hubungan antara perantau Bugis dengan Kerajaan Badung yang terus terjalin dengan baik. Karena hubungannya yang erat dengan kerajaan Badung, Haji Mu meminta ijin kepada Raja Pemecutan untuk membuatkan satu tempat kecil untuk beribadah, atau mushola. Hingga kini masih berdiri kokoh, namun sudah direnovasi dan berubah menjadi masjid yang diberi nama As-syuhada.

    Dikampung itu pula terdapat sebuah kuburan Bugis Kuno yang saat ini khusus digunakan untuk mengubur warga kampung Islam Bugis. Di makam yang kuno tersebutlah Syeikh Haji Mu dimakamkan, beserta pengikutnya, hingga turun temurun.

    Makam Syeikh Haji Mu

    Toleransi dan sikap saling menghormati diantara warga Hindu dan Islam berjalan dengan sangat baik sejak berabad-abad lalu. Kehidupan disepanjang pesisir Pulau Serangan telah melahirkan generasi-generasi keturunan Bugis, Makassar. Di perkampungan Islam Bugis, bahasa yang dipergunakan sehari-hari menggunakan bahasa Bugis. Dahulu, rumah-rumah di pesisir Serangan memiliki bentuk dan corak khas Bugis.

    Namun, sejak pembangunan terus berlangsung, kini warga Muslim Pulau Serangan hanya menyisakan satu-satunya rumah asli Bugis di tengah-tengah perkampungan Islam. Rumah asli Bugis tersebut telah berusia hampir 3 abad dan masih dalam kondisi terawat milik salah seorang tokoh Bugis Serangan.

    Pelabuhan tua Pulau Serangan nenjadi saksi bisu kedatangan Ulama dan saudagar Bugis sudah tidak berfungsi lagi. Pelabuhan tua Serangan tinggal menyisakan kenangan sejarah awal kedatangan Laskar Bugis, pendiri dan Ulama penyebar Islam di Kampung Islam ini.

    Masjid tua bernama Assyuhada konon dibangun akhir Abad XVII itu menyimpan bukti-bukti peninggalan bersejarah Islam. Salah satunya mimbar yang dibuat oleh para ulama-ulama pendahulu perintis Kampung Islam Pulau Serangan.

    Masjid yang awalnya hanya dibangun di atas tanah seluas 8 meter x 7 meter tersebut sangat sederhana. Terbuat dari bahan kayu menyerupai rumah panggung (bangunan khas Bugis). Akibat kondisi Masjid tua sudah termakan usia, pembangungan serta renovasi pun dilakukan. Masjid Assyuhada kini berdiri cukup megah ditengah perkampungan. Sumber Jazirah menjelaskan, masih terdapat bukti-bukti bersejarah lainnya berupa tombak, panji-panji perang, pedang dan Al-Qur'an yang kini tersimpan di kediaman seorang tokoh Bugis.
    Raja Badung, Ida Cokorda Pemecutan XI membenarkan, masyarakat Pulau Serangan punya ikatan sejarah dan darah dengan orang-orang Bugis. “Leluhur kami ada menikah dengan seorang putri raja di Jawa. Ini bukan soal Bugis saja. Maduranya ada, masih campur mereka. Tapi apapun masa lalunya, kita ada hubungan erat dengan Bugis,” kata Ida Cokorda.

    Pakaian Adat Bugis

    Ida Cokorda menunjukkan lokasi di luar Pulau Serangan, namun karena pada dasarnya mereka merupakan suku yang dekat dengan laut. Mereka memohon untuk pindah kembali ke Pulau Serangan. Permohonan mereka dikabulkan. Usman dan Ali juga merupakan contoh orang-orang yang tetap menekuni dunia nelayan.

    AKHIR PEMERINTAHAN IDA BHATARA MAHARAJA SAKTI

    Kyai Anglurah Pemecutan III wafat pada tahun 1813 M dan dibuatkan pelinggih di Pemerajan Puri Agung Pemecutan sebagai tempat beliau di puja dan disembah oleh seluruh keluarga Besar Pemecutan hingga saat ini. Setelah akhir pemerintahan Ida Bhatara Sakti maka kekuasaan wilayah Badung diberikan kepada ketiga putra beliau dari dari istri keturunan prami (keluarga Raja ) yaitu :
    1. I Gusti Gede Pemecutan di Puri Pemecutan - Ibu dari Puri Gelogor anak dari Kiyayi Anglurah Tumbak Bayuh
    2. I Gusti Made Pemecutan/ I Gusti Ngurah Kesiman di Puri Kesiman- Ibu dari Puri Gelogor anak dari Kiyayi Anglurah Tumbak Bayuh
    3. I Gusti Jambe Denpasar/ I Gusti Ngurah Kaleran di Jero Kaleran Kawan- ibu dari Ibu Bongan putri Raja Mengwi
    Sedangkan putra putra beliau dari ibu penawing (para Lanang) telah keluar dari lingkungan Puri Pemecutan dan mendirikan jero masing masing tersebar di seluruh wilayah Badung untuk menjaga wilayah Kekuasaan Puri Agung Pemecutan.
    Kiyayi Anglurah Pemecutan III telah mempersatukan semua warga terutama para penyungsung paibon, semua prasanak Dalem Tambangan Badung dan warga warga lainnya yang terkait dalam sejarah Pemecutan sehingga patutlah beliau mendapat julukan sebagai Cikal Bakal Warga Ageng Pemecutan dan pendiri Kerajaan Badung seutuhnya sebgai Raja yang pertama berpuri di Puri Agung Pemecutan.


    Daftar Pustaka :
    1. Lahirnya Puri Agung Pemecutan Badung / A.A. Oka Puji - Jero Dawan Tegal
    2. Sejarah Kyahi Agung Lanang Dawan / A.A. Bagus Saputra - Jero Dawan Kanginan
    3. Sejarah Puri Gerenceng Pemecutan / A.A. Made Kaler
    4. Babad Arya Tabanan/ Puri Tabanan
    5. Sejarah Raja Raja di Tabanan dan Badung
    6. Babad Keluarga Besar Puri Agung Pemecutan / Drs. A.A. Putu Murya, A.A. Gde Ngurah Mayun Inggas, A.A. Ngurah Oka
      Om Swasti Astu . Sebelumnya penulis mohon maaf bila ada kekeliruan atas penulisan sejarah ini, untuk itu mohon koreksi serta masukan untuk menyempurnakan blog ini sehingga diperoleh fakta sejarah yang nantinya benar benar diterima oleh semua pihak dan berguna bagi generasi yang akan datang. Om Canti Canti Canti Om

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar