Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 10 Januari 2010

ARCA PENINGGALAN SINGHASARI

Dvarapala,
( Patung Penjaga Dewa/ Candi )

Nuansa kehidupan zaman kerajaan, masih terasa di Kecamatan Singosari. Telebih lagi, ketika memasuki perkampungan di Desa Candirenggo, tepatnya di Jl Kertanegara Barat I. Saat memasuki kawasan yang juga dikenal dengan kawasan santri itu, mata akan langsung tertuju pada dua arca yang berada di di sisi kiri dan kanan jalan.
Arca Dwarapala
Satu arca menghadap ke arah utara, dan satu patung menghadap ke timur. Kedua benda peninggalan sejarah yang berusia ratusan tahun itu, seolah-olah memantau setiap orang yang melintasi jalan itu. Tidak hanya pada tatapan matanya, tapi juga dengan senjata yang dipegang, gada (pentungan). Satu gada dihadapkan ke bawah oleh patung yang berada di sisi kiri jalan. Sedangkan, satu gada lainnya yang dipegang patung di sebelah kanan jalan dihadapkan ke atas.
Ya, itulah Arca Dwarapala. Dwara berarti penjaga, sedangkan Pala berarti pintu. Menurut catatan sejarah, kedua arca dwarapala itulah sebagai pintu masuk kerajaan Singhasari. Sebenarnya, di lokasi itu tidak hanya terdapat arca, akan tetapi lengkap dengan gapuranya. Hanya saja, saat ini kedua arca itu sudah tidak lagi berdiri di atas gapura. Karena, gapura sudah rusak. Bahkan, dari dua gapura, saat ini hanya tersisa satu. Hanya ada beberapa lempengan batu gapura di sekitar arca.
Masih dalam catatan sejarah, Kedua arca itu diketahui diketemukan oleh Gubernur Jawa kelahiran Belanda Nicolas Enderhard pada 1803. Arca itu terpisah dengan gapura. Bahkan, salah satu arca itu sebagian tubuhnya tertimbun tanah. Suasana kehidupan kerajaan tidak hanya terlihat pada keberadaan arca dwarapala. Tidak jauh dari arca, juga terdapat
Dvarapala, tampang sangar menyeramkannya, ditopang tubuh tinggi besar, bukan tanpa tujuan. Dulu ia memang penjaga candi dan bangunan suci. Bagaimana nasibnya sekarang?

Penjaga bangunan suci
Di manapun juga, Dvarapala adalah sosok menyeramkan dan tampak ganas. Dua matanya melotot tajam menatap penuh curiga pada setiap orang yang memasuki candi, bangunan suci. Taring-taringnya yang runcing, khas milik raksasa, mencuat keluar, membuat orang bergidik. Apalagi badannya tinggi besar, bahkan ada yang setinggi 3,70 m, seperti Dvarapala yang di Singosari, Malang. Padahal ia dalam posisi jongkok.
Arca Dwarapala
Arca pemegang gada itu dikenal juga dengan nama Yaksha. Sebelum dewa-dewa Hindu dan Buddha muncul dalam sistem kepercayaan di India, Dvarapala yang merupakan mahluk gaib, dipuja orang India sebagai sumber kehidupan karena melindungi pertanian. Kemudian setelah pantheon dewa muncul dalam sistem kepercayaan di India, Yaksha dimasukkan ke dalam golongan setingkat di bawah dewa.
Pada perkembangan berikut, Yaksha menjadi pendamping Sang Buddha. Ia menghiasi stupa bersama mahluk lain, seperti terdapat di Stupa Bharhut, India, pada abad I Masehi. Sedangkan di Sanchi, Yaksha seakan-akan "melindungi" dan "menjaga" bangunan suci di puncak Torana. Tugas Yaksha sebagai pelindung itulah yang kemudian berkembang sehingga menjadi Dvarapala.
Dvarapala merupakan mahluk yang ditempatkan di depan pintu atau gerbang menuju bangunan suci candi. Ia memiliki kekuasaan untuk melindungi dari berbagai serangan kekuatan jahat. Sesuai tugasnya itu, Dvarapala sang penjaga candi tidak saja digambarkan sebagai mahluk yang menyeramkan wujud fisiknya, tetapi masih dilengkapi dengan berbagai senjata dan atribut lain. Senjata-senjata yang disandangnya memang sengaja untuk menciptakan kesan menakutkan.
Sebagian besar Dvarapala memang memegang gada. Alat pemukul itu dianggap lambang penghancur, sekaligus lambang keperkasaan dan kekuasaan. Juga dipercaya, senjata maut itu berfungsi sebagai tongkat kematian atau hukuman. Atribut lain umumnya adalah ular atau naga. Dua satwa itu perlambang kehidupan air (water spirit) yang dapat mendatangkan hujan. Tetapi jangan bikin Dvarapala murka, watak aslinya sebagai penghancur akan muncul.
Lihat saja atribut ular naga yang disandang Dvarapala penjaga Candi Plaosan di daerah Prambanan, Jawa Tengah. Penjaga itu menggunakan tali jerat (pasa) berbentuk ular sebagai senjata untuk menjerat dan menangkap musuh, khususnya makhluk-makhluk jahat. Tali jerat berupa ular naga itu, dalam ilmu ikonografi, disebut nagapasa.
Senjata andalan lainnya adalah golok atau pisau belati. Senjata itu lambang kemenangan atas makhluk-makhluk jahat. Untuk menambah kesan gagah dan garang penampilannya, sang penjaga candi itu masih merasa perlu memperlengkapi diri dengan kelat bahu, sabuk, samur, subang, kalung, gelang kaki (binggel), gelang tangan, serta ikat kepala untuk mengikat rambut ikalnya.
Dilihat dari bentuk fisik serta senjata-senjatanya, tampak jelas sifat destruktif sebagai ciri kuat Dvarapala. Namun, dalam hubungannya dengan fungsi peribadahan aspek destruktif itu harus dipandang mulia. Itu karena apa yang dianggap musuh-musuh jahat dari luar yang harus dihancurkan adalah ajaran-ajaran yang melawan agama. Jadi selama orang tidak berniat jahat, nyali tidak perlu ciut memasuki gugusan candi yang dijaga mahluk gaib menyeramkan ini.

Yang tua tidak pegang gada
data tentang arca-arca Dvarapala Jawa Tengah dalam penelitian tahun 1983, dan dilanjutkan lagi sekarang. Yang terbanyak ditemukan di daerah Prambanan dan Kalasan, Yogyakarta, di antaranya berasal dari candi-candi Kalasan, Lara Jonggrang, Lumbung, Sewu, Asu, Plaosan Lor, Sajiwan, Kalongan. Ia juga membandingkannya dengan Dvarapala Borobudur yang kini berada di Bangkok, Thailand.
Dalam pengamatannya terhadap arca-arca tersebut, Dvarapala Borobudur belum dianggap sebagai hasil karya seni bermutu tinggi. Teknik pahatannya masih kasar. Senjatanya hanya satu, yakni belati yang digenggam tangan kanan. Ekspresi mukanya tidak menakutkan, bahkan tampak "menyedihkan" dengan mulut yang menunjukkan ekpresi tenang. Supratikno berpendapat, Dvarapala sederhana itu mungkin penjaga bangunan candi dekat Candi Borobudur yang ukurannya lebih kecil, namun umurnya lebih tua dari Candi Borobudur (diperkirakan sebelum tahun 770 M). Jadi bukan penjaga Candi Borobudur, karena agaknya seniman Borobudur tidak memerlukan Dvarapala. Di Borobudur fungsi penjaga sudah digantikan oleh singa-singa yang mengapit jalan masuk menuju puncak candi.
Sedangkan Dvarapala-dvarapala dari Candi Sewu menunjukkan hasil karya seni yang lebih tinggi ketimbang yang dari Borobudur. Kalau Dvarapala Borobudur tidak mengenakan ikat kepala dan upawita (tali kasta), serta tidak memegang ular dan gada, maka Dvarapala Candi Sewu memiliki seluruh atribut itu. Garapannya pun lebih halus dan rumit. Supratikno berpendapat, Dvarapala Candi Sewu mungkin dibuat sebelum tahun 782 M.
Bernet Kempers dalam bukunya Ancient Indonesian Art (1959) sempat mengamati sejumlah Dvarapala dari situs-situs candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Empat dvarapala yang ditemukan di selatan Candi Kalasan, Yogyakarta, berukuran tinggi 1,90 meter. Rambut gimbal terurai tanpa ikat kepala, tangan kanan memegang nagapasa, sedangkan telapak tangan kiri bertumpu pada sebuah gada yang diturunkan ke tanah. Tak lupa pisau besar terselip di pinggangnya. Kempers menduga arca-arca itu merupakan penjaga pintu masuk Candi Kalasan, namun sekarang sudah tidak ada di tempatnya lagi.
Dvarapala yang terdapat di sekitar Candi Singasari di Malang, Jawa Timur, menurut Kempers, adalah raksasa penjaga alun-alun Kerajaan Singhasari (1222-1292). Raksasa ini menjaga pintu masuk Keraton Singhasari yang diperkirakan lokasinya tidak jauh dari Candi Singasari sekarang. Dvarapala Singasari itu memiliki karakter yang lebih damai, kata Kempers. Padahal sebenarnya ekspresi penjaga itu dimaksudkan oleh seniman Jawa supaya tampak sangar. Alis matanya melengkung dengan mata melotot. Dari lekuk mulutnya terlihat taring-taringnya. Tangan kiri bertelekan pada sebuah gada yang berat berhiaskan vajra. Ular dan tengkorak yang disandangnya seharusnya membuat lawan gemetar.
Dvarapala dari Jawa Timur memang lebih bervariasi baik ekspresi maupun penampilannya. Arca-arca Dvarapala Candi Panataran di Blitar tampil berbeda. Selain dvarapala jongkok, ada pula yang berdiri. Ada pula dvarapala perempuan, bahkan ada yang sambil menggandeng anaknya. Tentu, meski bayi, penampilannya tetap saja garang.
Penampilan dvarapala yang secara fisik kelihatan sangar tetapi ekspresinya tenang ternyata dilandasi oleh suatu filosofi. Menurut Supratikno, dvarapala juga berperan serupa dengan Dharmapala atau "pelindung dharma" seperti dikenal dalam Buddhisme di Tibet. Sebagaimana Dharmapala, meski Dvarapala berwujud menyeramkan, namun perannya tidak jahat. Pemahaman itu rupa-rupanya mengilhami para seniman Jawa untuk menggambarkan mahluk ini secara tidak terlalu menakutkan. Perhatikan mulutnya, seringkali digambarkan ekspresi mulut yang "tersenyum".
Sebelum dewa-dewa muncul di dalam sistim kepercayaan agama Hindu dan Budha, Dwarapala diangap sebagai makhluk gaib dan dipuja orang di India sebagai pelindung pertanian. Setelah munculnya prinsip dewa-dewa, Yaksha dimasukkan dalam golongan setingkat dibawah dewa. Perkembangan selanjutnya Yaksha menjadi pendamping sang Budha dan menghiasi stupa bersama-sama makhluk lain. Akhirnya Yaksha seakan-akan “melindungi” dan “menjaga” bangunan suci. Tugasnya sebagai pelindung bangunan suci itulah kemudian berkembang menjadi Dwarapala.
Arca Dwarapala Peninggalan Kerajaan Singhasari
Dwarapala selalu diletakkan didepan pintu gerbang atau pintu bangunan suci. Ia memiliki kekuasaan untuk melindunginya dari berbagai kekuatan jahat. Sesuai tugasnya sebagai penjaga, diapun dilengkapi dengan senjata, umumnya gada sebagai simbol penghancur sekaligus lambang keperkasaan dan kekuasaan. Atributnya adalah ular atau naga perlambang kehidupan air yang dapat mendatangkan hujan. Matanya melotot dan mulut menyerengai menimbulkan kesan menakutkan sekaligus wibawa. Hal ini sama seperti Dwarapala Singosari. Untuk menambah kesan gagah dan garang penampilannya, sang penjaga candi itu masih merasa perlu memperlengkapi diri dengan kelat bahu, sabuk, samur, subang, kalung, gelang kaki (binggel), gelang tangan, serta ikat kepala untuk mengikat rambut ikalnya dan semuanya berhiasan kepala tengkorak.
Dilihat dari bentuk fisik serta senjata-senjatanya, tampak jelas sifat destruktif sebagai ciri kuat Dvarapala. Namun, dalam hubungannya dengan fungsi peribadahan aspek destruktif itu harus dipandang mulia. Itu karena apa yang dianggap musuh-musuh jahat dari luar yang harus dihancurkan adalah ajaran-ajaran yang melawan agama. Jadi selama orang tidak berniat jahat, nyali tidak perlu ciut memasuki gugusan candi yang dijaga mahluk gaib menyeramkan ini.
Patung Dwarapala ini terletak sekitar 200 meter sebelah candi Singosari dan merupakan patung tunggal terbesar di Indonesia karena beratnya sekitar 23 ton dan tingginya 3,7 meter (padahal ia dalam posisi jongkok !). Jumlahnya ada 2 buah di sebelah selatan dan utara.
Dahulu Dwarapala sebelah selatan pernah ambles ke bumi hingga separuh perutnya. Tim yang mengerjakan pemugaran candi Borobudur dipercaya untuk memperbaiki letak posisinya. Namun tidak ada peralatan modern yang mampu mengangkatnya kembali, bahkan perlatan berat lainnya juga gagal seolah-olah tenggelam kekuatannya dihisap oleh patung tersebut. Setelah melakukan upacara selamatan dan berkat petunjuk gaib penduduk setempat yang memberitahukan bahwa letak kekuatan Dwarapala adalah pada kedua matanya, maka proses pengangkatan kembali tersebut berhasil setelah juga dengan menutup kedua matanya dari sinar matahari. Sekarang Dwarapala sebelah selatan tersebut berada diatas sebuah lapik semen dan utuh hingga kelihatan mata kakinya.

Arca Dwarapala Peninggalan Kerajaan Singhasari
Menurut Bernet Kempers Dwarapala Singosari adalah penjaga alun-alun kerajaan Singosari (1222-1292) yang sekarang berubah menjadi taman didepannya. Sehingga diperkirakan keraton kerajaan Singosari terletak tidak jauh darinya. Kitab Pararaton menyebutkan adanya bangunan suci Purwapatapan tempat Kertanegara biasanya melakukan upacara tantri dan Dr. Oey Blom yakin bahwa bangunan tersebut terletak disebelah selatan candi Singosari yang sekarang sudah hilang jejaknya. Tentunya letak keraton tidak akan begitu jauh dengan tempat pemujaan.
……









PATUNG-PATUNG CANDI SINGOSARI
Sebuah laporan Belanda ditulis oleh Nicolaus Engelhard bertanggal 28 Febuari 1827 mengatakan bahwa dia menemukan candi Singosari tahun 1803. Surat tersebut menyebutkan adanya 6 patung dari candi ini, termasuk Durga dan Ganesha. Dia meninggalkan patung Agastya karena kondisinya yang rusak. Tahun 1804, patung-patung tersebut dikirim ke Belanda.

Dari laporan tersebut nampak sekali bahwa saat itu dikawasan candi Singosari merupakan hutan lebat. Terbukti 17 tahun kemudian atau tahun 1820 D. Monnereau menemukan 4 bangunan candi disebelah selatan candi Singosari termasuk patung Pradnyaparamitha atau Kendedes. J.B Jukes yang mengunjungi reruntuhan candi Singosari tahun 1844 menyebutkan bahwa salah satu candi disebelah selatan candi Singosari disebut oleh penduduk setempat sebagai Cungkup Putri. Selanjutnya dia berpendapat bahwa candi tersebut tempat asli patung Pradnyaparamitha atau Kendedes.

Dari laporan-laporan tersebut jelas terbukti bahwa candi Singosari sesungguhnya merupakan bagian dari sebuah kompleks candi. Sesuai dengan kitab Pararaton disebutkan adanya bangunan suci purwapatapan di Singosari dimana raja Kertanegara biasanya melakukan upacara tantri. Kompleks candi tersebut membujur dari selatan ke utara dengan kemungkinan candi Singosari adalah candi utamanya. Dr. Oey Blom menyebutkan bahwa kompleks candi Singosari terdiri atas 9 candi yang tersusun sedemikian rupa sesuai dengan konsep suci saat itu. Sayang hanya candi Singosari saja yang tersisa, sedangkan candi-candi lainnya telah hilang sama sekali dan berganti dengan pemukiman, jalan raya, dan persawahan sehingga sulit untuk dilacak kembali.

Dari sekian banyak patung-patung indah warisan kompleks candi Singosari hanya patung Agastya dan juga sepasang patung raksasa Dwarapala, 200 m sebelah barat candi, yang masih berada di asli lokasi. Sementara yang lain telah berpindah dan tersimpan dibeberapa tempat seperti di museum Nasional Jakarta (Patung Kendedes), Trowulan (Camundi) dan museum Leiden Belanda (Durga, Ganesha, Bhairawa). Yang lainnya hilang entah kemana.

PRADNYAPARAMITHA Menurut kebanyakan orang, patung yang diduga berasal dari candi Singosari, pernah disimpan lama di negeri Belanda, dan sekarang menjadi salah satu koleksi berharga museum Nasional Jakarta, adalah patung Kendedes, sang permaisuri agung dan ibu suri dinasti Singosari dan Majapahit yang cantik jelita bak bidadari. Hal ini sesuai dengan cerita tutur, kitab kuno Pararaton, serta prasasti Mula Malurung.

Patung yang sesungguhnya merupakan perwujudan dewi Kebijaksanaan dan Ilmu Pengetahuan versi agama Budha ini disebut Pradnyaparamitha. Patung ini adalah yang terhalus dan terindah yang pernah ditemukan dalam dunia arkeologi Indonesia. Tingginya sekitar 1,26 m dan terbuat dari batu gunung atau andesit. Beliau duduk diatas bunga teratai dan kedua tanggannya membentuk sikap dharmacakramudra atau memutar roda dunia. Terdapat hiasan tangkai teratai melingkar ditangan kiri dan bunganya sebagai alas sebuah kitab. Dia bersandar pada sebuah kursi kencana indah dan beralaskan teratai.
Tubuhnya dipenuhi perhiasan mengagumkan mulai dari gelang kaki, bagian perut, tangan, dada, leher, kuping, badan hingga ke mahkotanya. Sedangkan tubuh bagian bawahnya ditutupi oleh kain sebangsa batik. Seandainya merupakan sebuah lukisan atau potret berwarna, tentulah patung ini akan menampilkan keagungan luar biasa dari sang putri. Mungkin juga patung ini adalah gambaran dari potret seorang putri raja karena memiliki hiasan yang begitu banyak dan indah.

Posisi tangannya melambangkan sikap dharmacakramudra atau memutar roda dunia atau lebih jelasnya merupakan kunci dari penguasaan sebab dan akibat. Sikap ini hanya dimiliki oleh kaum Budda dan juga seperti ditunjukkan pada patung-patung Budha yang ada di candi Borobudur. Sementara sebelah kirinya terdapat sebuah batang bunga teratai yang menjulur melingkar tangan kirinya. Pada ujung bunga teratai terdapat sebuah kitab yang disebut Pradnyaparamita-sutra atau kitab Kebijaksanaan Utama
. Sang pencipta patung ini sungguh telah begitu sempurna berhasil menggambarkan perpaduan antara kedamaian dan keteduhan ekspresi raut wajah serta keutamaan sikap Budhawi dengan gemerlapnya perhiasan diseluruh badan. Bahkan tak ada patung lain di Indonesia yang mampu menghadirkan keyakinan adanya teori patung “potret diri” karena pada patung ini jelas terlihat perpaduan dari sorang dewi yang memiliki wajah manusiawi serta memiliki perhiasan keduniawian seroang ratu. Dan sungguhnya patung ini merupakan satu-satunya patung potret-diri seorang ratu sebelum konsep potret-diri itu mulai muncul diantara para ahli sejarah.

Namun sayang tempat asli patung ini masih misteri. Karena jelas letak patung ini tidak mungkin dari candi Singosari yang ada sekarang masih berdiri. Ini karena candi Singosari adalah sebuah candi Siwa sementara patung Pradnyaparamita adalah sebuah dewi agama Budha. Jadi jelas bahwa salah satu bangunan agamis tersebut merupakan bagian dari sebuah kompleks besar percandian Singosari seperti ditunjukkan oleh penemuan Engelhard tahun 1827 yang tidak jauh dari candi Singosari. Kompleks tersebut ternyata tidak hanya berhiaskan candi-candi Hindu namun juga Budha seperti ditunjukkan oleh patung Pradnyaparamita. Dan ini tentunya sesuai sekali dengan prinsip raja Kertanegara sebagai seorang pemuja Siwa-Budha dan Tantra.

Namun demikian belum sepenuhnya benar seandainya patung Pradnyaparamita ini merupakan potret Kendedes. Kakawin Negarakertagama (67 ; 1-2 dan 69 ; 1) menyebutkan bahwa ratu Gayatri didharmakan sebagai Pradnyaparamitha dan candinya disebut Pradnyaparamithapuri. Gayatri adalah salah satu dari 4 putri Kertanegara dan menjadi istri terkasih dari Kertarajasa sang pendiri kerajaan dan dinasti Majapahit. Sementara itu, menurut kitab Pararaton, disebutkan bahwa pendeta Lohgawe yang merupakan penasehat spiritual Ken Arok menyebut Kendedes sebagai Ardhaneswari atau wanita utama dan mengacu pada dewi Parvati yang cantik jelita.


BHAIRAWAMungkin karena masih tersimpan dimuseum Leiden Belanda, sehingga patung yang indah dan nampak seram ini jarang dikenal orang. Patung ini ditemukan oleh Engelhard tahun 1827, bersama-sama beberapa patung lain, dari candi yang sekarang disebut Singosari.

Walaupun kitab-kitab icinografi India tidak memiliki referensi yang mampu menjelaskan dengan sempurna patung ini, dari penampilannya serta atribut-atributnya jelas patung ini merupakan salah satu perwujudan dewa Siwa yang menakutkan dan disebut Bhairawa. Berdiri diatas setumpukan kepala tengkorak dan dengan sikap agak jongkok, dia seperti duduk dipunggung seekor serigala. Memiliki 4 tangan yang masing-masing memegang keris, senjata tombak pendek, gendang dan batok kepala tengkorak. Pada badannya menjuntai kalung panjang berhiaskan kepala tengkorak, begitu juga anting-anting dan hiasan lengan atas kiri dan kanan. Wajahnya melotot dan mulutnya agak terbuka menampilkan gigi taringnya. Sangat pas menunjukkan wajah seramnya. Pada sandarannya sebelah atas kanan terdapat huruf jawa kuno berbunyi cakra-cakra. Sayang sedikit sandaran bagian atas kiri hilang dan mungkin berisi sisa tulisan tersebut sehingga belum terungkap dengan pasti apa makna dibalik seluruh prasasti tersebut.
Jessy Blom dan P.H. Port menduga kuat patung ini dulunya berada pada salah satu candi disebelah selatan candi Singosari yang sekarang sudah hilang jejaknya. Hal ini sesuai dengan pemberitaan kitab Pararaton tentang adanya sebuah Purwapatapan dimana raja Kertanegara biasanya melakukan upacara tantri. Menurutnya patung Bhairawa ini terletak di Purwapatan, seperti juga ditulis dalam prasasti Gunung Buthak (1924) sebagai Sivabuddhalaya atau tempat bersemayamnya Siwa-Budha, G.F. Brummund berpendapat bahwa bangunan ini terbagi atas 3 ruang. Patung Parwati (Pradnyaparamita) terletak disebelah selatan, patung Camundi disebelah utara, dan Bhirawa ditengahnya. Jadi Bhirawa ini diapit oleh seorang dewi menakutkan dan menyejukkan.

Tidak diketahui dengan pasti patung ini diperuntukkan siapa. Namun L.C. Damais berhasil meyakinkan bahwa terdapat 2 nama yang berkaitan erat dengan personfikasi patung Bhairawa ini; Yakni Adityawarman yang pernah memerintah Sumatra atau Kertawardahana yang selanjutnya dikenal sebagai istri Tribuwanatunggadewi dan ayah raja terbesar Majapahit, Hayam Wuruk. Nama asli Kertawardhana adalah Cakradhara atau Cakresvara.


CAMUNDITahun 1927 ada seorang petani didesa Ardimulyo, sebelah utara candi Singosari, menemukan dan menyimpan sebuah arca agak besar. Namun kemudian dia sering bermimpi menyeramkan dan mengalami nasib jelek. Khawatir itu semua karena pengaruh patung yang baru ditemukannya, maka dia menghancurkan patung itu berkeping-keping. Untunglah museum Kesenian Boston, setelah berhasil menyelamatkannya dari seorang kolektor Belanda, dengan kesabaran luar biasa, berhasil menyatukan kembali sebagian besar bagian-bagian yang rusak dan hilang kecuali sedikit bagian belakang, dasaran, sedkit bagian depan yang sudah bercampur dengan bahan material baru.

Patung tersebut pernah tergeletak di halaman candi Singosari dan sekarang disimpan di museum Trowulan. Nama patung itu adalah Camundi. Memiliki tangan 8 buah, diapit beberapa tokoh seperti Ganseha dan Bhairawa. Dibelakang patung Camundi tertera sebuah prasasti berangka tahun 1214 C atau 1292 M dan berbunyi : “tatkala kaprastisthan paduka bhatari maka tewek huwus sri maharaja digwijaya ring sakalaloka manuyuyi sakaladwipantara”. Disebutkan bahwa Batari Camundi ditasbihkan pada waktu Sri Maharaja Kertanegara menang diseluruh wilayah dan menundukkan semua pulau-pulau lain. (L.C. Damais)

Dalam Negarakertagama pupuh 42 dijelaskan bagaimana raja Kertanegara mampu menjadi raja besar dengan menaklukkan daerah-daerah seperti Bali, Pahang – Malaysia, Sumatera, Gurun, Bakulapura, Sunda, dan Madura. Itulah bibit-bibit wawasan cakrawala mandala nusantara.

Walaupun tidak terdapat bukti secara langsung atas daerah-daerah tersebut dan mengkin saja hanya merupakan wilayah simbolis saja, namun kenyataannya Kertanegara benar-benar menguasai Jawa dan Sumatera. Terbukti 6 tahun sebelumnya. tahun 1286, beliau mengirimkan tentaranya ke Sumatera dan berhasil menegakkan patung Amoghapasa disana sebagai bentuk kedaulatan Singosari atas wilayah Sumatera. Raja di Sumatera bernama Mauliawarman tetap diperkenakan memakai gelar maharaja, namun Kertanegara selanjutnya bergelar maharajadiraja.DURGA MAHESASURAMARDINI

Dalam ksiah India kuno Markandeya Purana dan Matsya Purana menceritakan pertempuran antara para raksasa Asura yang dipimpin oleh rajanya Mahisa melawan para dewa yang dipimpin oleh dewa Indra. Pada akhirnya pasukan para
Arca Durga
aksasa mampu mengalahkan tentara para dewa dan mereka memproklamirkan diri sebagai penguasa kahyangan. Brahma yang memimpin para dewa yang kalah meminta bantuan kepada dewa Wisnu dan Siwa. Keduanya akhirnya menyanggupi. Dari perpaduan kekuatan maha dahsyat kedua dewea utama ini maka lahirlah dewi Durga. Kemudian para dewa menyumbang kekuatan dan senjata andalannya kepada dewi Durga dengan harapan akan mmapu menandingi kesaktian Mahisa dan merebut kembali kahyangan. Setelah berhasil membunuh para tentara raksasa, Durga sendiri akhirnya menghadapi Asura yang berbentuk seekor kerbau. Dengan bediri diatas tubuh kerbau, Durga selanjutnya berhasil membunuhnya. Namun kemudian muncullah seorang raksasa kecil dari tubuh kerbau yang mati tersebut, yang sesungguhnya merupakan inti kekuatan dari kerbau sakti itu. Dan sekali lagi Durga berhasil menaklukkannya.

Demikian gambaran sekilas tentang patung Durga yang banyak ditemukan di Jawa dan sekaligus juga sebagai salah satu patung utama dari keberadaan sebuah candi. Dewi paling popular di Jawa ini, Durga Mahesasuramardini umumnya diletakkan di ruang sebelah utara sebuah candi Hindu atau Siwa. Patung Durga umumnya memiliki tangan mulai dari 2 sampai 10, namun yang paling umum bertangan 8 buah. Karena menurut ceritanya bahwa semua dewa menyerahkan senjata andalannya untuk diprgunakan melawan Mahisa, maka dalam literature Purana jumlah senjata tersebut melebihi jumlah tangannya yang ada. Akibatnya patung Durga kadang-kadang memiliki jenis senjata berbeda dengan patung Durga yang lain. Bahkan di Bali, salah satu tangan Durga digambarkan memegang keris Bali yang khas. Namun itu hanya minoritas saja karena pada umumnya Durga memiliki atribut senjata yang sama satu dengan lainnya.


Dalam dunia arkeologi Jawa, patung Durga digambarkan seolah-olah dalam keadaan sedikit rileks setelah berhasil mengalahkan Mahisa dan Asura. Berbeda dengan patung Durga di India yang menggambarkan sebuah pertarungan dahsyat melawan Mahisa. Hal itu terlihat dari sikap atau posisinya yang sedikit condong kekiri dengan kedua kaki agak ditekuk. Keadaan Mahsia sendiri nampak pasrah dan seolah-olah merupakan binatang kendaraan Durga dan bukannya musuh para dewa yang berbentuk raksasa dan menakutkan seperti dalam konsep di India.

Dari berpuluh-puluh patung Durga yang pernah ditemukan di Indonesia, patung Durga dari candi Singosari dianggap yang paling indah dan megah. Patung yang masih tersimpan rapi di museum Leiden Belanda ini berhiaskan ukiran indah serta tinggi sekitar 1,5 meter. Hiasan pada tubuh Durga masih terlihat dengan baik demikian juga nandi (lembu) yang mejadi kendaraannya dan patung raksasa kecil disebelah kiri bawahnya.

Walau sebagian bagian atasnya sudah hilang, namun bagian yang menampilkan tubuh dan kepalanya masih utuh. Mahkotanya juga terlihat indah. Hiasan atribut keningratannya seperti gelang kaki atau binggel, sabuk, gelang tangan, dan anting-antingnya juga masih terlihat jelas.

Ada hal sangat menarik dari patung Durga ini adalah bahwa dia memakai penutup dada atau semacam kemben. Bahkan kemben tersebut terlihat ketat karena menampilkan lekuk-lekuk tubuhnya. Sedangkan tubuhnya bagian bawah tertutup oleh kain panjang semacam sarung dihiasi beberapa atribut keningratan. Yang tak kalah menarik, dibanding patung-patung lain yang pernah ada di Indonesia, adalah bahwa kain kemben dan sarung tersebut bermotf batik. Apakah memang batik sudah dikenal sejak jaman kerajaan Singosari ? Mungkin saja

Patung Durga indah lainnya dari kerajaan Singosari adalah yang dari candi jawi. Patung ini sekarang disimpan di museum Mpu tantular Surabaya. Walau tidak seindah patung Durga dari candi Singosari dan berukuran lebih kecil (1 m), patung ini masih nampak utuh.


GANESHA
Menurut Mitologi India Ganesha digambarkan dengan berbadan manusia dan memiliki kepala binatang gajah. Gadingnya patah dan memiliki 4 buha tangan, 2 didepan dan 2 dibelakang. Mitologi itu jug amenyebutkan bahwa Ganesha mengendarai tikus karena itu ia digelari Vighnesvara yang artinya pengelak marabahaya atau penghalang segala keuskaran. Oleh karena itu setiap kali akan memulai suatu usaha, masyarakat India dulu tidak lupa memuja Vighnesvara agar usahanya kelak bebas dari segala bencana atau kesukaran dan ujung-ujungnya bisa berhasil.

Seperti patung-patung lain yang ditemukan Engelhard tahun 1827 dari candi Singosari, patung Ganesha ini yang masih tersimpan di museum Leiden Belanda ini dalam keadaan baik dan terawat. Patung yang juga terbuat dari batu gunung, andesit, ini berasal dari bilik sebelah timur candi Singosari. Dengan tinggi sekitar 1,3 meter Ganesha nampak indah dan gagah. Sama seperti Ganesha yang lain, dia bertangan 4 masing-masing memegang kapak, gantungan, dan kepala tengkorakyang terbalik. Dia duduk diatas alas berhiaskan 10 kepala tengkorak.


Ganesha Singosari ini juga merupakan perwujudan dari Kertanegara itu sendiri. Jumlah 10 tengkorak pada batur alasnya merupakan simbol dari keutamaan Kertanegara dalam pemahaman 10 laku utama agama Budha atau disebut Paramita, yakni dhana (derma), sila (tata susila), ksanti (sabar), virya (perwira), dyana (samadi), prajna (kebijaksanaan), upaya kausalya (upaya sarana), pradinata (teguh), bala (kekuasaan), dan jnyana (pengetahuan). Seperti diketahui dari berbagai sumber bahwa Kertanegara terkenal sebagai raja yang sangat paham tentang prinsip-prinsip keagamaan.
Yang tidak lazim dari Ganesha ini adalah posisi duduknya yakni jigang atau sikap 2 kaki membentuk sudut siku-siku.. Hal ini melukiskan Kertenegara adalah orang yang memegang teguh norma-norma tata susila. Kepalanya memiliki mahkota bersusun tiga dan dibagain paling atas berbentuk stupa yang merupakan symbol penghormatan Kertenegara terhadap agama Budha yang dianutnya selain Siwa.

Tangan berjumlah empat buah. Kanan depan memegang batok yang digambarkan berisi perhiasan melimpah ruah, dan tangan kiri depannya memegang batok yang berisi darah yang dihisap melalui belalainya. Simbolis ini adalah bahwa kerjaan Singosari mengalami kemakmuran melimpah ruah sementara dia sendiri adalah orang yang terus menerus belajar tentang keutamaan dalam agama. Sementara tangan kanan belakang mmegang kunci pintu gerbang dan tagan kiri belakang memegang kapak. Ini merupakan perlambang Kertanegara yang teguh menjaga kedaulatan kerajaan besar Singosari dan menghancurkan musuh-musuh nya. Semua ini sesuai sekali dengan apa yang digambarkan oleh Prapanca dalam kakawin Negarkertagama

Diantara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau Faham akan nam guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama Adil, teguh dalam Jinabrata dan tawakal kepada laku utama Itulah sebabnya beliau turun temurun menjadi raja pelindung … (pupuh 43 : 4)
Dengan prinsip upacara cradha atau upacara yang berlangsung setiap tahun hingga berakhir pada tahun ke-12, maka logis bila candi Singosari didirikan setelah wafatnya Kertanegara atau tepatnya pada waktu periode Majapahit. Jadi bukan pada periode Singosari. Hal ini juga dibuktikan pada patung Ganesha ini dan terletak dibagian sandarannya. Disebelah kiri dan kanan mahkota Ganseha terdapat hiasan bulat dan dilapisi lingkaran lancip dibagian luarnya. Dalam dunia arkeologi pola seperti ini disebut matahari terbit atau wilwatikta. Hiasan ini dipakai sebagai simbol resmi kerajaan Majapahit dan juga sering sebagai produk periode Majapahit

Para ahli sejarah seperti Prof. Dr. Woyowasito, R. Soekmono, Drs. Pitono H., berpendapat bahwa Ganesha adalah dewa symbol kebijaksanaan atau lambang ilmu pengetahuan. Bahkan WR Situterheim mengatakan sebagai dewa kebahagiaan. Oleh karena itu wajar bila ITB Bandung menggunakan Ganesha sebagai symbol perguruan tingginya. Hal ini terkait dengan sikap belalai Ganesha yang menghisap isi batok sebagai symbol terus-menerus menghisap ilmu pengetahuan tanpa henti.



AKHSOBYA ATAU JOKO DOLOK

Arca Joko Dolok

Ditengah kota Surabaya, didepan gedung Grahadi, terdapat patung yang dikenal dengan nama Joko Dolok. Patung yang sesungguhnya patung Budha Mahasobya ini dulu diletakkan didepan rumah residen Belanda di Surabaya. Raut mukanya teduh dan tangannya membentuk sikap bhumisparsamudra atau telapak tangan kiri tertutup dan seolah ingin menyentuh bumi.
sebagaimana Prasasti tahun 1289 pada lapik arca Joko Dolok yang diketemukan di Surabaya, Krtanagara adalah seorang pengikut setia agama Buda Tantra dan dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Buddha) yang bergelar Jnanasiwabajra, yaitu sebagai Aksobhya dimana Joko Dolok itu adalah arca perwujudannya sendiri.

Sedangkan dalam Pararaton dan berbagai Prasasti, setelah wafat dinamakan Siwabuddha, dimana dalam kitab Nagarakrtagama dikatakan Siwabuddhaloka. Pada batur alas sandarannya terdapat serangkaian tulisan Jawa kuno yang disebut prasasti yang disebut Wurare. Prasasti berangka tahun 1211 C atau 1289 M itu memuat beberapa fakta sejarah di jaman kerajaan Singosari. Inti prasasti tersebut adalah :
1. Dahulu kala tanah Jawa dibagi 2 oleh Arrya Bharrad dinamakan dengan
Jenggala dan Pamjalu.
2. Namun pada jaman raja Wisnuwardhana, kedua daerah terpecah itu berhasil disatukan kembali.
3. Raja yang memerintahkan pembuatan prasasti ditasbihkan sebagai Cri Jnanjaciwabajra dan perwujudannya sebagai Jina Mahasobya.
4. Prosesi pentasbihan tersebut di kburan Wurare. Dalam waktu singkat sang raja berhasil menyatukan daerah-daerah yang terpecah belah.
5. Nada adalah nama pembuat prasasti tersebut.
Dari data-data tersebut terlihat jelas kaitannya dengan proses sejarah Jawa Timur jaman dulu. Raja kerajaan Kahuripan bernama Airlangga memutuskan membagi kerajaannya menjadi 2 bagian untuk kedua anaknya supaya tidak terjadi perang saudara. Bagian timur disebut Jenggala dan bagian barat disebut Pamjalu. Tugas tersebut dilakukan oleh Mpu Barada. Oleh raja Wisnuwardhana dari kerajaan Singosari beberapa abad selanjutnya, kedua wilayah berseberangan tersebut berhasil disatukan kembali. Dia juga melakukan perkawinan politik dengan mengawinkan anaknya Turuk Bali dengan raja Kediri Jayakatwang untuk menghindari perebutan kekuasaan.

Usaha perkawinan politik tersebut dilanjutkan oleh penerus raja Wisnuwardhana, Kertanegara, dengan mengawinkan anaknya dengan anak Jayakatwang yang bernama Ardharaja. Selain itu Kertanegara juga berusaha mengesahkan status ke-raja-annya dengan menyebut sebagai anak dari Cri Jayawisnuwarddhana dan Crijayawardhani. Dia juga mengkukuhkan diri sebagai Jina Mahasobhya dengan gelar Crijnanjaciwabajra. Tujuannya adalah untuk menunjukan kekuasan dan kebesaran dirinya.
Disamping itu gelar tersebut juga ternyata mempunyai latar belakang politik karena dia sedang bertikai dengan raja Mongol Kubilai Khan karena menghina utusannya tahun 1211 C / 1289 M. Raja Mongol tersebut dikukuhkan sebagai Jina Mahamitha. Dengan gelar Jina Mahasobhya, Kertanegara ingin disejajarkan dengan raja Mongol. Mahasobhya adalah dewa penguasa angina timur, sedangkan mahamitha adalah Jina penguasa angina barat. Dengan demikian Kertanegara mengkukuhkan diri sebagai penguasa wilayah timur.
Dengan data-data tersebut nampak bahwa arca Mahasobya ini merupakan peruwujudan Kertanegara sendiri. Dan prasasti Wurare merupakan bukti keberanian bangsa kita yang tidak ingin dijajah leh bangsa lain manapun. Atau mungkin juga sudah semestinya letaknya di Surabaya yang penduduknya terkenal dengan keberanian dan sifat-sifat kepahlawanannya.

Demikianlah penggalan kitab Negarakretagama, sebuah kakawin kaya informasi tentang kerajaan Majapahit dan Singosari, berkaitan dengan raja Singo
sari ke-2, Anusapati, beserta tempat pendharmaannya di candi Kidal.

RELIEF GARUDA
Pada kaki candi terdapat relief indah yang menggambarkan legenda cerita Garuda (Garudeya). Cerita ini sangat popular dikalangan masyarakat Jawa saat itu sebagai cerita moral tentang pembebasan atau ruwatan. Kesusastraan Jawa kuno berbentuk kakawin tersebut, mengisahkan tentang usaha Garuda dalam membebaskan ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci amerta. Cerita ini juga ada pada candi Jawa Timur yang lain yakni di candi Sukuh (lereng utara G. Lawu). Cerita Garuda ini sangat populer dikalangan masyarakat agama Hindu aliran Wisnu terutama pada periode kerajaan Kahuripan dan Kediri. Sampai-sampai raja besar Airlangga dari kerajaan Kahuripan menggunakan simbol Garuda sebagai lambang dan stempel kerajaan dan setelah meninggalnya dimuliakan sebagai dewa Wisnu pada candi Belahan dan Jolotundo, Patung Wisnu diatas Garuda yang paling indah dan sekarang masih tersimpan di musium Trowulan diduga berasal dari candi Belahan.
Narasi cerita Garuda pada candi Kidal tersebut dipahatkan dalam 3 relief dan masing-masing relief terletak pada bagian tengah sisi-sisi kaki candi kecuali pintu masuk. Pembacaannya dengan cara prasawiya (berjalan berlawanan arah jarum jam atau candi disisikan sebelah kiri) dimulai dari sisi sebelah selatan atau sisi sebelah kanan tangga masuk candi. Relief pertama menggambarkan Garuda berada dibawah 3 ekor ular, relief kedua melukiskan Garuda dengan kendi diatas kepalanya, dan relief ketiga Garuda menggendong seorang wanita. Diantara ketiga relief tersebut, relief kedua adalah yang paling indah dan masih utuh.
Dikisahkan bahwa Kadru dan Winata adalah 2 bersaudara istri resi Kasiapa. Kadru mempunyai anak angkat 3 ekor ular dan Winata memiliki anak angkat Garuda. Kadru yang pemalas merasa bosan dan lelah harus mengurusi 3 anak angkatnya yang nakal-nakal karena sering menghilang diantara semak-semak. Timbullah niat jahat Kadru untuk menyerahkan tugas ini kepada Winata. Diajaklah Winata bertaruh pada warna ekor kuda Uraiswara yang sering melewati rumah mereka dan yang kalah harus menurut segala perintah pemenang. Dengan tipu daya, akhirnya Kadru berhasil menjadi pemenang. Sejak saat itu Winata diperintahkan melayani segala keperluan Kadru serta mengasuh ketiga ular anaknya setiap hari. Winata selanjutnya meminta pertolongan Garuda untuk membantu tugas-tugas tersebut. (relief pertama).
Ketika Garuda tumbuh besar, dia bertanya kepada ibunya mengapa dia dan ibunya harus menjaga 3 saudara angkatnya sedangkan bibinya tidak. Setelah diceritakan tentang kisah pertaruhan kuda Uraiswara tersebut, maka Garuda mengerti. Suatu hari ditanyakanlah kepada 3 ekor ular tersebut bagaimana caranya supaya ibunya dapat terbebas dari perbudakan ini. Dijawab oleh ular "bawakanlah aku air suci amerta yang disimpan di kahyangan dan dijaga para dewa, dan berasal dari lautan susu". Garuda menyanggupi dan segera mohon ijin ibunya untuk berangkat ke kahyangan.
Tentu saja para dewa tidak menyetujui keinginan Garuda sehingga terjadilah perkelahian. Namun berkat kesaktian Garuda para dewa dapat dikalahkan. Melihat kekacauan ini Bathara Wisnu turun tangan dan Garuda akhirnya dapat dikalahkan. Setelah mendengar cerita Garuda tentang tujuannya mendapatkan amerta, maka Wisnu memperbolehkan Garuda meminjam amerta untuk membebaskan ibunya namun juga dengan syarat bahwa Garuda harus mau menjadi tunggangan Wisnu setelah tugasnya selesai nanti. Garuda menyetujuinya. Sejak saat itu pula Garuda menjadi tunggangan Bathara Wisnu seperti nampak pada patung-patung Wisnu yang umumnya duduk diatas Garuda. Garuda turun kembali ke bumi dengan amerta. (relief kedua).
Dengan bekal air suci amerta inilah akhirnya Garuda dapat membebaskan ibunya dari perbudakan atas Kadru. Hal ini digambarkan pada relief ketiga dimana Garuda dengan gagah perkasa menggendong ibunya dan bebas dari perbudakan. (relief ketiga)


















CANDI JAWAROMBO

Candi Jawarombo, yang masuk wilayah Desa Mulyoasri, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bangunan peninggalan masa Hindu-Buddha itu ditemukan penduduk + tahun 1983 dalam keadaan terpendam tanah. Lokasi situs berada pada posisi 8§ 08' 50,9" Lintang Selatan dan 112§ 53' 21,05" Bujur Timur dengan ketinggian di atas 1.400 m dpl.
Dvarapala cebol nan lucu
Candi ini tinggal bagian batur (alas) berdenah bujur sangkar dengan ukuran 6 X 6 meter dan tinggi 60 cm. Pada lantai batur terdapat empat umpak batu yang berlubang bagian tengahnya untuk menegakkan tiang. Mungkin bangunan suci ini memakai tiang kayu dengan atap rumbia atau ijuk, karena tidak dijumpai pecahan-pecahan genteng di bawahnya.
Profil kaki candi berupa pelipit setengah lingkaran dan segi empat. Keempat sisi batur dihiasi relief-relief yang menggambarkan teratai (lotus), pilaster, dan salib. Pada sisi bangunan dihiasi oleh lima teratai, empat salib dan 10 pilaster yang ditempatkan berselang-seling. Pahatan sosok manusia pada relief digambarkan seperti wayang, gaya pahatan seperti relief-relief bangunan candi masa akhir Majapahit. Ini bisa dilihat pada bangunan-bangunan di lereng G. Penanggungan, di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Situs Candi Jawarombo menghadap puncak G. Mahameru alias G. Semeru, gunung tertinggi di Jawa Timur. Pintu masuk candi ada di selatan dengan adanya sisa-sisa bangunan gapura dari batu. Ribut Hariyanto, juru pelihara situs menunjukkan tempat di dekat gapura itu. "Di sini arca pemegang gada itu ditemukan", katanya tegas.
Sebenarnya pendakian melelahkan ke lereng Mahameru hanya untuk mengetahui lokasi penemuan arca batu yang memegang gada. Arca itu sudah diamati sebelumnya di rumah Ribut Hariyanto di kaki gunung. Arca temuan bulan November 1999 itu berjumlah dua buah yang merupakan pasangan. Arca dipahat dalam posisi jongkok dengan tinggi 60 cm.
Seharusnya, citra yang timbul dari sosok dan atribut arca itu membuat orang takut. Kepala arca memakai mahkota dengan rambut panjang sebahu dipilin ke belakang. Mata melotot, mulut terbuka, dan telinga bersubang. Tangan kanan memegang gada, sedangkan di pinggang terselip pisau besar yang terlihat mencuat bagian gagangnya. Inilah ciri arca Dvarapala, yang memang dibuat sangar menakutkan.
Namun, kesan sebaliknyalah timbul setelah melihatnya. Dua arca Dvarapala itu lebih mirip bayi sehat lagi lucu. Disebut bayi karena ukuran tubuh bulatnya pendek. Bandingkan dengan arca-arca Dvarapala lain yang umumnya tinggi besar. Mulutnya yang menganga membuat penampilan sang arca tampak ramah sekaligus jenaka. Pendek kata, bila memandang wajahnya, gada dan pisau besar yang disandangnya pun jadi lebih mirip mainan yang tidak menakutkan.

















PEMANDIAN WATU GEDE
( Pemandian Ken Dedes )

Pemandian Watu Gede merupakan salah satu peninggalan dari kerajaan Singhasari. Pada jaman kerajaan itu, tempata ini sering dipakai sebagai tempat pemandian oleh raja-raja Singhasari. Yang cukup menarik dari pemandian ini yaitu sumber airnya yang tersebar disisi pemandian dengan debit air yang cukup tinggi. Letaknya kurang lebih 10 km di Desa Watu Gede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang Propinsi Jawa Timur,

Berdasarkan cerita rakyat Watu Gede dipercaya sebagai tempat pemandian Ken Dedes. Tempat ini dipilih karena tempatnya berada dilembah. Pada saat ken Dedes mandi konon dijaga berlapis-lapis pengawal akan tetapi Ken Arok yang kelak akan memperistrinya masih dapat mengintip. Apabila cerita ini bernar maka diduga atau diperkirakan Petirtaan Watu Gede berasal dari Periode Singosari, abad XI-XIII masehi Denah bangunan berbentuk persegi panjang membujur utara selatan, pada sisi timur terdapat sembilan buah pancuranatau jaladwara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar