Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 10 Januari 2010

JAYANEGARA




Candi Bajang Ratu untuk menghormati Raja Majapahit ke II Jayanagara


JAYANAGARA / Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara. ( 1309-1328)


Jayanagara adalah raja kedua Majapahit yang memerintah tahun 1309-1328. Dari prasasti Sidateka (1323) diketahui ia bergelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara. Dalam prasasti Kertarajasa (1305), Jayanegara disebut sebagai putra Tribhuwaneswari permaisuri utama Raden Wijaya. Dari berita tersebut dapat diperkirakan Jayanegara adalah anak kandung Indreswari alias Dara Petak yang kemudian menjadi anak angkat Tribhuwaneswari, sehingga ia dapat menjadi putra mahkota sebagai calon raja selanjutnya.

Kalagemet/Jayanegara (1309-1328), yang dalam sebuah prasasti dianggap sebagai titisan Wisnu dengan Lencana negara Minadwaya (dua ekor ikan) Menurut Pararaton, nama asli Jayanagara adalah Raden Kalagemet. Ibunya berasal dari Kerajaan Dharmasraya di Sumatra. Ia dibawa Kebo Anabrang ke tanah Jawa sepuluh hari setelah pengusiran pasukan Mongol. Raden Wijaya, yang sebelumnya telah memiliki dua orang istri putri Kertanagara, kemudian menjadikan Dara Petak sebagai Istri Tinuheng Pura, atau istri yang dituakan.

Menurut Pararaton, pengusiran pasukan Mongol dan berdirinya Kerajaan Majapahit terjadi tahun 1294. Sedangkan menurut kronik Cina dari Dinasty Yuan, pasukan yang dipimpin oleh Ike Mese itu meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293. Sehingga, jika berita Pararaton benar, maka kedatangan Kebo Anabrang dan Dara Petak diperkirakan terjadi tanggal 4 Mei 1293, dan kelahiran Jayanagara diperkirakan terjadi tahun 1294.


Nagarakretagama menyebutkan Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau raja muda di Kadiri tahun 1295. Nama Jayanagara juga muncul dalam Prasasti Penaggungan (1296). Mengingat Raden Wijaya menikahi Dara Petak tahun 1294, berarti saat itu Jayanagara masih sangat kecil. Tentu saja pemerintahannya diwakili oleh Lembu Sora yang disebutkan menjabat sebagai patih Kadiri. Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayanagara adalah nama asli sejak kecil atau garbhopati, bukan nama gelar atau abhiseka. Nama Kalagemet yang diperkenalkan Pararaton jelas bernada ejekan, karena nama tersebut artinya jahat dan lemah.


Masa Pemerintahan Jayanagara

Pada masa Jayanagara hubungan dengan Cina kembali pulih. Perdagangan antara kedua negara meningkat dan banyak orang Cina yang menetap di Majapahit. Nama nama pejabat pemerintahan Majapahit pada Jaman pemerintahan Raja Kertarajasa sesuai piagam Sidateka tahun 1323.

1. Mahamentri Katrini

· Rakyan Menteri Hino : Dyah Sri Rangganata
· Rakyan Menteri Halu : Dyah Kameswara
· Rakyan Menteri Sirikan : Dyah Wiswanata

2. Sang Panca Wilwatika

· Rakyan Patih Majapahit : Dyah halayudha (Mahapati)
· Rakyan Demung : Pu Samaya
· Rakyan Kanuruhan : Pu Anekakan
· Rakyan Rangga : Pu Jalu
· Rakyan Tumenggung : -


Peristiwa penting dalam masa pemerintahan Prabu Jayanagara

Pada Pemerintahan Jayanegara seperti pada masa akhir pemerintahan ayahnya, banyak dirongrong oleh pemberontakan orang-orang yang sebelumnya membantu Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Perebutan pengaruh dan penghianatan menyebabkan banyak pahlawan yang berjasa besar akhirnya dicap sebagai musuh kerajaan. Menurut Pararaton, pemerintahan Jayanagara diwarnai banyak pemberontakan oleh para pengikut ayahnya. Hal ini disebabkan karena Jayanagara adalah raja berdarah campuran, bukan keturunan Kertanagara murni. Peristiwa Pemberontakan tersebut sampai akhirnya merenggut nyawanya sendiri. Perisriwa – peristiwa pemberontakan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Peristiwa Nambi (1316) / Rakryan Patih Mpu Tambi

Nambi / Mpu Nambi adalah pemegang jabatan rakryan patih pertama dalam sejarah Kerajaan Majapahit, yang gugur sebagai korban fitnah pada tahun 1316. Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama mengisahkan Nambi adalah salah satu abdi Raden Wijaya yang ikut mengungsi ke tempat Arya Wiraraja di Sumenep ketika Singhasari runtuh tahun 1292. Menurut Pararaton, pada saat Raden Wijaya menyerang Kadiri tahun 1293, Nambi berjasa membunuh Kebo Rubuh.

Pararaton mengisahkan setelah kemenangan Majapahit tahun 1293, Nambi diangkat sebagai patih Amangkubumi. Berita ini diperkuat oleh Prasasti Kudadu (1294) dan Prasasti Penanggungan (1296) yang menyebut nama Rakryan Patih Mpu Tambi dalam daftar pejabat Majapahit

Hiasan Peninggalan Majapahit

Menurut Kidung Ranggalawe, pengangkatan Nambi inilah yang memicu terjadinya pemberontakan Ranggalawe di Tuban tahun 1295. Ranggalawe merasa tidak puas atas keputusan tersebut karena Nambi dianggap kurang berjasa dalam peperangan. Atas izin Raden Wijaya, Nambi berangkat memimpin pasukan Majapahit menyerang Tuban. Dalam perang itu, Ranggalawe mati dibunuh Kebo Anabrang.

Kematian Nambi terjadi tahun 1316 yang disinggung dalam Nagarakretagama dan Pararaton, serta diuraikan panjang lebar dalam Kidung Sorandaka. Dikisahkan Nambi masih menjadi patih pada masa pemerintahan Jayanegara (putra Raden Wijaya). Saat itu ada tokoh licik bernama Mahapati yang mengincar jabatan patih. Ia selalu berusaha menciptakan ketegangan antara Jayanegara dan Nambi.

Suatu hari Mahapati mengunjungi Nambi dan memberitahu bahwa sang Prabu tidak senang kepadanya, untuk menghindari kesalahpahaman maka Mahapati menyarankan agar Nambi untuk sementara waktu meninggalkan Majapahit pulang ke Lumajang. Kebetulan Nambi mendengar berita bahwa ayahnya, Pranaraja sedang sakit keras. Nambi pun minta ijin kepada Prabu Jayanegara untuk pulang ke Lumajang untuk menengok ayahnya tersebut. Nambi diizinkan pulang, ketika sampai di Ganding ia bertemu dengan utusan ayahnya, oleh utusan ayahnya Nambi kemudian diantar pulang.

Tidak beberapa lama ayah Nambi pun meninggal, Sang Prabu yang mendengar kabar tersebut kemudian mengutus Mahapati, Pawagal, Pamandana, Eban, Lasem dan Jaran Lejong untuk pergi ke Lumajang melayat menyampaikan ucapan duka cita dari Raja. Selama tinggal di Lumajang Mahapati terus menghasut Patih Nambi untuk tinggal lebih lama di Lumajang karena masih dalam suasana duka. Nambi kemudian minta ijin untuk tinggal lebih lama di Lumajang kepada raja dengan perantaraan Mahapati.

Akan tetapi dihadapan raja, Mahapati menyampaikan berita bohong bahwa Nambi menolak kembali ke ibu kota dan sedang mempersiapkan untuk melaksanakan pemberontakan. Dikatakan pula bahwa para Menteri yang melayat ke Lumajang tanpa Izin sang prabu sesungguhnya mempunyai maksud untuk bersekutu dengan Nambi untuk melaksanakan pemberontakan. Jayanegara termakan hasutan. Ia pun mengirim pasukan dipimpin Mahapati untuk menumpas Nambi.Diantara Menteri Majapahit banyak yang memihak Nambi diantaranya Pamandana, Mahisa Pawaga,, Panji Anengah, Panji Samara, Panji Wiranagari, Jaran Bangkal, Jangkung, Teguh, Semi, Lasem dan Patih Emban.

Yang masih setia kepada sang prabu hanya Lembu Peteng, Ikal Ikalan bang dan Jambung Tarewes. Arya Wiraraja yang telah memisahkan diri dari Majapahit karena kematian putranya Ranggalawe terbukti ikut serta bergabung dengan Nambi. Dapat diperkirakan setelah kematian Ranggalawe tahun 1295, Arya Wiraraja merasa sakit hati dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pasangguhan. Ia kemudian mendapatkan daerah Lumajang sesuai janji Raden Wijaya saat perjuangan. Adapun Pranaraja Mpu Sina diperkirakan juga berasal dari Lumajang. Sesudah pensiun, ia kembali ke Lumajang sampai akhir hayatnya tahun 1316.

Selain itu dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe disebutkan kalau Arya Wiraraja adalah ayah dari Ranggalawe alias Arya Adikara, saingan politik Nambi. Versi ini didukung oleh Prasasti Kudadu (1294) yang menyebut adanya nama Arya Adikara dan Arya Wiraraja dalam daftar pejabat Majapahit, namun keduanya tidak ditemukan lagi dalam Prasasti Penanggungan (1296), sedangkan nama Pranaraja Mpu Sina masih dijumpai.

Sementara itu pasukan Majapahit dipersiapkan untuk mengadakan penyerbuan ke Lumajang, Mahapati memegang siasat perang. Benteng pertahan Pejarakan harus di serang terlebih dahulu kemudian Ganding. Dari sini prajurit Majapahit mengepung Lumajang. Siasat tersebut dijalankan dan terbukti berhasil dalam pertempuran. Nambi tidak menduga datangnya serangan kemudian membangun benteng pertahanan di Gending dan Pejarakan. Namun keduanya dapat dihancurkan oleh pasukan Majapahit. Akhirnya Nambi sekeluarga pun tewas pula dalam peperangan itu.

Pararaton menyebutkan Nambi tewas dalam benteng pertahanannya di desa Rabut Buhayabang, karena dikeroyok oleh Jabung Tarewes, Lembu Peteng, dan Ikal-Ikalan Bang. Sedangkan menurut Nagarakretagama yang memimpin penumpasan Nambi bukan Mahapati, melainkan langsung oleh Jayanegara sendiri.

Nama ayah Nambi dalam Kidung Sorandaka adalah Pranaraja. bergelar Rakryan Mantri Pranaraja Mpu Sina. Berita pemberontakan Nambi tahun 1316 dalam Pararaton mendapat dukungan Nagarakretagama.


Peristiwa Aria Wiraraja / Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka

Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan demung pada masa pemerintahan Kertanagara di Singhasari, namun karena sikapnya menentang politik luar negeri raja, ia pun dipindahkan menjadi Bupati di Sumenep Madura.

Wiraraja merasa sakit hati. Ia mengetahui kalau Jayakatwang Bupati Gelang-Gelang berniat memberontak, untuk membalas kekalahan leluhurnya, yaitu Prabu Kertajaya raja terakhir Kediri yang digulingkan oleh Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel atau Singhasari. Wiraraja pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singhasari sedang berada di luar Jawa. Maka pada tahun 1292, terjadilah serangan pasukan Gelang-Gelang terhadap ibu kota Singhasari. Kertanagara tewas di istana. Jayakatwang lalu membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kadiri dan menjadi raja di sana


Hiasan Peninggalan Majapahit


Menantu Kertanagara yang bernama Raden Wijaya mengungsi ke Sumenep meminta perlindungan Aria Wiraraja. Semasa muda, Wiraraja pernah mengabdi pada Narasingamurti kakek Raden Wijaya. Maka, ia pun bersedia membantu sang pangeran untuk menggulingkan Jayakatwang. Raden Wijaya bersumpah jika ia berhasil merebut kembali takhta mertuanya, maka kekuasaannya akan dibagi dua, yaitu untuk dirinya dan untuk Wiraraja.

Mula-mula Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya pura-pura menyerah ke Kadiri. Atas jaminan darinya, Raden Wijaya dapat diterima dengan baik oleh Jayakatwang. Sebagai bukti takluk, Raden Wijaya siap membuka Hutan Tarik Tarik Sidoarjo menjadi kawasan wisata bagi Jayakatwang yang gemar berburu. Jayakatwang mengabulkannya. Raden Wijaya dibantu orang-orang Madura kiriman Wiraraja membuka hutan tersebut, dan mendirikan desa Majapahit di dalamnya.

Pada tahun 1293 datang tentara Mongol untuk menghukum Kertanagara yang berani menyakiti utusan Kubilai Khan tahun 1289. Raden Wijaya selaku ahli waris Kertanagara siap menyerahkan diri asalkan ia terlebih dahulu dibantu memerdekakan diri dari Jayakatwang.

Maka bergabunglah pasukan Mongol dan Majapahit menyerbu ibu kota Kadiri. Setelah Jayakatwang kalah, pihak Majapahit ganti mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa. Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit yang merdeka tahun 1293. Dari Prasasti Kudadu (1294) diketahui jabatan Aria Wiraraja adalah sebagai pasangguhan dengan gelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka. Pada Prasasti Penanggungan (1296) nama Wiraraja sudah tidak lagi dijumpai.

Penyebabnya ialah pada tahun 1295 salah satu putra Wiraraja yang bernama Ranggalawe melakukan pemberontakan dan menemui kematiannya. Peristiwa itu membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan diri dari jabatannya. Ia lalu menuntut janji Raden Wijaya, yaitu setengah wilayah Majapahit. Raden Wijaya mengabulkannya. Wiraraja akhirnya mendapatkan Majapahit sebelah timur dengan ibu kota di Lumajang.



Akhir Kemerdekaan Majapahit Timur

Pararaton menyebutkan pada tahun 1316 terjadi pemberontakan Nambi di Lumajang terhadap Jayanagara raja kedua Majapahit. Kidung Sorandaka mengisahkan pemberontakan tersebut terjadi setelah kematian ayah Nambi yang bernama Pranaraja.


Sumur Peninggalan Majapahit

Tidak diketahui dengan pasti apakah Wiraraja masih hidup pada tahun 1316. Yang jelas, setelah kekalahan Nambi, daerah Lumajang kembali bersatu dengan Majapahit bagian barat. Ini berarti penguasa Majapahit Timur saat itu (entah Wiraraja atau penggantinya) bergabung dengan Nambi dan terbunuh oleh serangan pasukan Majapahit Barat.


Pemberontakan Ra Semi (1316)

Ra Semi adalah salah seorang pembesar di kerajaan Majapahit pada jaman pemerintahan Prabu Kertarajasa (Raden Wijaya) dengan gelar Rakrian semi. Kidung Sorandaka menyebutkan pada tahun 1316 Pranaraja ayah Patih Nambi meninggal dunia di Lumajang. Ra Semi ikut dalam rombongan pelayat dari Majapahit. Kemudian terjadi peristiwa di mana Nambi difitnah memberontak oleh Mahapati.

Jayanagara (raja Majapahit) mengirim pasukan untuk menghukum Nambi Saat pasukan Majapahit datang menyerang, Semi masih berada di Lumajang bersama anggota rombongan lainnya. Mau tidak mau ia bergabung membela Nambi . Dikisahkan Nambi kemudian terbunuh beserta seluruh pendukungnya.

Ra semi berhasil meloloskan diri dari kejaran Pasukan majapahit dan bergabung dengan Kuti. Pararaton menyebutkan Semi melakukan pemberontakan terhadap Majapahit tahun 1318. Ini berarti ia lolos dari maut tahun 1316 dan menjadi pelarian.

Ia melakukan perlawanan terhadap Jayanagara dan Mahapati (yang diangkat sebagai patih baru menggantikan Nambi). Pemberontakan tersebut berpusat di daerah Lasem dan Rembang. Akhirnya pemberontakan ini dapat dipadamkan dengan kematian Ra Semi.


Pemberontakan Ra Kuti (1319)

Pararaton selanjutnya mengisahkan adanya pemberontakan para Dharmaputra yang dipimpin Ra Kuti tahun 1319. Pemberontakan ini terjadi langsung di ibu kota Majapahit dan jauh lebih berbahaya dibanding pemberontakan Semi.

Prabu Jayanagara mempunyai 7 orang Dharmaputra yakni pengalasan atau abdi dalem wineh suka yang diberi kekuasaan atau agak diistimewakan. Mereka adalah Ra Kuti, Ra Semi, Ra Pangsa, Ra Wedeng, Ra Tanca, Ra Juju dan Ra Banyak. Mereka mengadakan komplotan untuk membunuh Prabu Jayanegara. Ra Kuti, Ra Tanca, Ra Banyak, Ra Wedeng, dan Ra Yuyu pada mulanya adalah prajurit-prajurit yang dianggap berjasa kepada negara. Oleh karenanya sang prabu Jayanegara memberikan gelar kehormatan berupa Dharmaputra Winehsuka kepada kelima prajurit tersebut. Entah oleh sebab apa, mereka, dipimpin oleh Ra Kuti melakukan makar mengajak pimpinan pasukan Jala Rananggana untuk melakukan pemberontakan terhadap istana.

Komplotan itu telah merencanakan ketika Prabu Jayanegara sedang menumpas pemberontakan Nambi dan Arya Wiraraja. Ia menyerang sang prabu namun serangan itu tidak berhasil, malam harinya Gajah Mada, pada waktu itu masih menjadi seorang prajurit berpangkat bekel. Pangkat bekel dalam keperajuritan pada saat itu setingkat lebih tinggi dari lurah prajurit, namun masih setingkat lebih rendah dari Senopati. Pangkat di atas senopati adalah tumenggung, yang merupakan pangkat tertinggi.

Gajah Mada membawahi satu kesatuan pasukan setingkat kompi yang bertugas menjaga keamanan istana. Nama pasukan ini adalah Bhayangkara. Jumlahnya tidak lebih dari 100 orang, namun pasukan Bhayangkara ini adalah pasukan khusus yang memiliki kemampuan di atas rata-rata prajurit dari kesatuan mana pun. Pada waktu itu Majapahit memiliki tiga kesatuan pasukan setingkat divisi yang dinamakan Jala Yudha, Jala Pati, dan Jala Rananggana. Masing-masing kesatuan dipimpin oleh perwira yang berpangkat tumenggung.

Gajah Mada segera melakukan langkah koordinasi kekuatan terhadap tiga kesatuan pasukan utama Majapahit dengan cara menghubungi masing-masing pimpinannya. Tidak mudah bagi seorang bekel untuk bisa melakukan hal ini karena ia harus bisa menemui para Tumenggung yang berpangkat dua tingkat di atasnya. Namun, Arya Tadah yang tanggap akan adanya bahaya, telah membekali Gajah Mada dengan lencana kepatihan, sebuah tanda bahwa Gajah Mada mewakili dirinya dalam melaksanakan tugas tersebut.

Dua dari tiga pimpinan pasukan berhasil dihubungi. Namun keduanya menyatakan sikap yang berlainan. Pasukan Jala Yudha bersikap mendukung istana, sedangkan pasukan Jala Pati memilih bersikap netral. Pimpinan pasukan Jala Rananggana tidak berhasil ditemui karena pada saat itu kesatuan pasukan tersebut telah mempersiapkan diri di suatu tempat yang cukup jauh dari istana untuk mengadakan serangan dadakan keesokan harinya.

Yang selanjutnya terjadi adalah perang besar yang melibatkan ketiga kesatuan utama pasukan Majapahit. Akhirnya peperangan tersebut dimenangkan oleh pihak pemberontak, dan memaksa sang Prabu Jayanegara mengungi ke luar istana dibawah pengawalan Gajah Mada menuju desa Balander dengan diiringi oleh 15 prajurit bhayangkara. Lama mereka tinggal di pengungsian di rumah kepala desa balander sehingga ada salah seorang pengalasan yang minta izin untuk pulang ke Majapahit, tetapi bengkel Gajah Mada menolaknya karena takut nantinya persembunyian ini akan diketahui pihak musuh. Akhirnya karena pengalasan tersebut bersikeras untuk pulang bengkel Gajah Mada terpaksa membunuhnya.

Lima hari setelah peristiwa tersebut bengkel Gajah Mada pamit kepada prabu Jayanegara untuk berangkat sendiri ke Majapahit. Sampai di Kota bengkel Gajah Mada kemudian mengunjungi rumah Tumenggung Amancanegara (wali kota) Majapahit secara diam diam. Gajah Mada mengabarkan kalau Jayanagara telah meninggal di pengungsian dibunuh oleh pengikut Ra Kuti. Mendengar berita tersebut semua orang menangis, Gajah Mada kemudian berkata

  • “ diamlah bukanlah kalian semua memang ingin mengabdi kepada Ra Kuti ? Jawab yang ditanya “ apa katamu, dia bukanlah tuan kita “.

Dari hasil pembicaraan tersebut tahulah Gajah Mada bahwa pembesar dan warga kota tidak suka kepada pemberontakan Ra-Kuti dan masih menginginkan Prabu Jayanegara sebagai Raja Majapahit. Gajah Mada kemudian memberitahukan bahwa sebenarnya prabu Jayanegara masih hidup dan meminta kesanggupan para pembesar dan warga Majapahit unruk menumpas pemberontakan Ra-Kuti . Akhirnya berkat bantuan pembesar Istana dan rakyat Majapahit pemberontakan Ra-Kuti berhasil dipadamkan .

Gajah Mada beserta Prabu Jayanegara dan prajurit bhayangkara akhirnya kembali ke Majapahit. Karena jasanya Gajah Mada kemudian diangkat sebagai Patih Kahuripan oleh Prabu Jayanegara. Dua tahun kemudian ketika patih Daha Arya Tilam wafat maka Gajah Mada menggantikan kedudukannya sebagai Patih Daha


Peristiwa Ra Tanca (1328) Kematian Jayanagara

Ra Tanca adalah satu-satunya Dharmaputra yang masih hidup setelah peristiwa pemberontakan Ra-Kuti tahun 1319. Dikisahkan pada tahun 1328 Tanca menemui Gajah Mada untuk menyampaikan keluhan istrinya. Istri Tanca mendengar berita kalau Jayanagara melarang kedua adik lain ibu, yaitu Dyah Tribhuwana Tunggadewi dan Mahadewi/ Dyah Wijat putri dari Gayatri untuk menikah. Konon Jayanagara sendiri berniat mengawini kedua adiknya itu. Ra-Tanca meminta agar Gajah Mada , yang saat itu menjadi abdi kesayangan Jayanagara supaya mengambil tindakan pencegahan. Namun Gajah Mada tampak tidak peduli pada laporan Ra-Tanca sehingga Ra-Tanca merasa tersinggung dibuatnya.

Peninggalan Majapahit

Tanca adalah ahli pengobatan istana. Suatu hari ia dipanggil untuk mengobati sakit bisul Jayanagara . Di dalam kamar hanya ada Ra-Tanca, Raja, dan Gajah Mada. Usai melakukan terapi pembedahan, tiba-tiba Tanca menusuk Jayanagara sampai tewas. Seketika itu pula Gajah Mada ganti membunuh Tanca. Peristiwa itu terjadi tahun 1328. Menurut Pararaton Jayanagara didharmakan dalam candi Srenggapura di Kapopongan dengan arca di Antawulan. Sedangkan menurut Nagarakretagama Jayanagara dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama. Ia dicandikan di Silapetak dan Bubat sebagai Wisnu serta di Sukalila sebagai Buddha jelmaan Amogasidi, dimana candi-candi itu tidak dapat diketahui kembali.

Perbuatan Gajah Mada membunuh Tanca tanpa pengadilan menimbulkan kecurigaan. Slamet Kuljana dalam bukunya, Menuju Puncak Kemegahan (1965), menyimpulkan kalau dalang pembunuhan Jayanagara sesungguhnya adalah Gajah Mada sendiri. Menurut Pararaton saat itu Gajah Mada menjabat sebagai patih Daha, di mana rajanya adalah Dyah Wijat. Meskipun ia dekat dengan Jayanagara , ia pastinya lebih dekat dengan Dyah Wijat. Ia sengaja memancing amarah Ra-Tanca dengan pura-pura tidak peduli supaya Ra-Tanca sendiri yang mengambil tindakan. Siasat Gajah Mada ini berhasil. Tanca membunuh raja, dan ia sendiri kemudian dibunuh Gajah Mada . Dengan demikian, Gajah Mada berhasil menyelamatkan Dyah Wijat dari nafsu buruk Jayanagara tanpa harus mengotori tangannya dengan darah sang raja.

Pemberontakan Kuti dan Ratanca pada hakekatnya adalah suatu tidak kepuasan punggawa terhadap pemerintahan prabu Jayanegara dan pembunuhan Prabu Jayanegara oleh Ratanca berarti pembebasan Tribhuwanatunggadewi dan Mahadewi dari belenggu cengkraman Prabu Jayanegara.

Jayanegara wafat di tahun 1328 tanpa seorang keturunan. Pengganti selanjutnya yang semestinya Gayatri, namun karena telah meninggalkan hidup keduniawian yaitu menjadi bhiksuni, maka anaknya lah yang bernama BhreKahuripan yang mewakili ibunya naik tahta dengan gelar Tribhuwananottunggadewi Jayawisnuwardhani (1328-1360).

Raja Jayanagara yang terbunuh tahun 1328 diungkapkan Pararaton dengan istilah Mokta ring pagulingan (‘mangkat di tempat tidur’)

Candi Bajang Ratu

.












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar