Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 23 November 2009

RAJA PEMECUTAN II


KIYAI MACAN GADING/ BHATARA MUR RING WATU KLOTOK/ KIYAI ANGLURAN PEMECUTAN II/ COKORDA PEMECUTAN II
( 1683 - 1718 )

Kiyayi Macan Gading bergelar Kyayi Anglurah Pemecutan II menggantikan kedudukan ayahnya Kiyai Anglurah Pemecutan I sebagai pemegang kekuasaan di wilayah Badung tahun 1683 - 1718 M.

Kiyai Macan Gading /Kiyai Anglurah Ketut Pemedilan / Kiyai Anglurah Nambangan semenjak kecil telah ditinggal pergi (wafat) oleh ibunya sehingga beliau diasuh oleh Ki Tanjung Gunung di nambangan yang merupakan keturunan dari I Gusti Agung Cau di Sukewati, karena kalah berperang dengan raja Mengwi maka beliau menyamar supaya tidak diketahui oleh raja Mengwi dengan menurunkan kastanya menjadi Ki Tanjung Gunung.

Kiyai Macan Gading gemar sekali bertapa semadi di tempat yang angker sehingga beliau mendapat kesaktian dan kewibawaan, sehingga setelah ayahnya wafat maka beliau ditunjuk menjadi penerusnya .Bhatara Kiyai Macan Gading mempunyai istri bernama Sang Ayu Istri Penataran dari Jero Plase di Kuta mempunyai 3 orang putra
  1. Ida Bhatara Maharaja Sakti – Puri Agung Pemecutan / Anglurah Pemecutan III
  2. Kiyai Made Tegal Cempaka – Jero Tegal di Jl Imam Bonjol
  3. Kiyai Ketut Uruju Telabah – Jero Telabah :

KIYAYI MADE TEGAL CEMPAKA
Jero Tegal berlokasi di Jl Imambonjol tepatnya di sebelah barat Geriya Gede Tegal tepatnya di Bale Banjar Tegal Agung sekarang. Jero Tegal menempati areal yang cukup luas dengan adanya jaba jero dan jaba tengah yang cukup luas. Pemerajannya dinamakan Pemerajan Jenggala yang berarti Tegal. Jero ini pada jamannya menempati posisi nomor 2 setelah Puri Agung Pemecutan.

Pemerajan Kyai Lanang Cempaka di Peraupan


Kiyai Made Tegal Cempaka mempunyai istri yang bernama Sang Ayu Tegeh dari Jero Petiles Pekambingan mempunyai putra yang bernama Kiyai Made Tegal Cempaka Oka. Dari istri Penawing (selir) beliau mempunyai 10 orang putra antara lain :

  1. Kiyai Lanang Karang /Jero Peraupan
  2. Kiyai Lanang Teges /Jero Abian Timbul
  3. Kiyai Lanang Ketut / Jero Kepaon
  4. Kiyai Yang Batu / Jero Langon Angkangan
  5. Kiyai Wangaya / Jero Pemeregan
  6. Kiyai Sading /Jero Kayumas Kelod
  7. Kiyai Sibang / Jero Pemeregan
  8. Kiyai Jero Kuta / Jero Seminyak
  9. Kiyai Lanang Wayahan / Jero Taman Megendra
  10. Kiyai Keladian / Jero Juragan


KIYAYI KETUT URUJU TELABAH

Jero Telabah berlokasi di jl. Thamrin disebelah barat gedung wisata dan sekarang sudah tidak ada lagi karena telah berpindah membuat jero baru di desa Kerobokan. Pewarisnya sekarang Ida Peranda Resi Kerobokan. Sedangkan lokasi jero Telabah di Jl. Thamrin diambil oleh warga Brahmana kemudian dibuatkan Geriya yang dinamakan Geriya Telabah.


KIYAYI MACAN GADING / KIYAYI ANGLURAH KETUT PEMEDILAN / KIYAYI ANGLURAH NAMBANGAN MENDAPAT ANGURAH KERIS SINGAPRAGA


Diceritakan Ida Dalem Di Made dari Puri Klungkung bermaksud memberikan hadiah kepada semua anglurah di seluruh Bali karena jasa mereka terhadap kerajaan Kelungkung. Undangan sudah disampaikan termasuk juga kepada Kiyai Macan Gading karena dianggap berjasa pada waktu mengusir burung gagak dari Puri Gelgel.
Para undangan sudah mulai berdatangan di bale penangkilan dan mencari tempat duduknya masing masing sesuai dengan tempat yang telah disediakan oleh panitia. Tetapi I Dewa Agung Bangli sengaja mengambil tempat duduk Kiyai Macan Gading karena beliau belum datang. Ketika acara akan dimulai munculah Kiyai Macan Gading dan sangat kaget karena tempat duduknya telah diambil oleh orang lain.

Perbuatan I Dewa Agung Bangli merupakan suatu bentuk penghinaan yang disengaja sehingga beliau membalasnya dengan mengambil sebuah bantal kursi dan dilemparkan ke kepala I Dewa Agung Bangli. Semua undangan yang hadir merasa terkejut akan peristiwa tersebut, namun I Dewa Agung Bangli tidak berani berbuat apa apa hanya mukanya merah padam menahan malu kemudian pindah mencari tempat duduknya semula.

Ida Dalem Di Made masih belum menuju ke Bale Penangkilan karena masih sibuk menghitung keris yang akan dibagikan nanti kepada para Anglurah. Keris sudah dibikin sesuai banyaknya jumlah anglurah namun setelah dihitung kembali ternyata kurang satu buah. Oleh karena keadaan yang sudah sangat mendesak maka tiada pilihan lain, Ida Dalem Di Made kemudian mengambil sebuah keris yang terdapat di togog (patung) di dalam puri.

Setelah semuanya lengkap, Ida Dalem Di Made melangkah menuju bale penangkilan dan disambut oleh para Angkurah diseluruh Bali. Sebagai penerima pertama diberikan kepada Kiyai Macan Gading untuk mengambil sebuah keris yang ada di meja. Karena saking banyaknya keris yang ada di atas meja tersebut, beliau menjadi bingung menentukan pilihan. Akhirnya beliau memilih sebuah keris yang sebenarnya diambil oleh Ida Dalem Di Made pada sebuah patung yang ada di Puri. Hati beliau sangat tertarik akan getaran yang dipancarkan oleh keris tersebut.

Melihat pilihan Kiyai Macan Gading, Ida Dalem menjadi sangat heran, maksud beliau memberikan kesempatan pertama kepada Kiyai Macan Gading karena beliau merasa berutang budi atas jasa beliau. Setelah itu barulah para Anglurah yang lainnya diberikan anugrah keris satu persatu. Setelah acara tersebut selesai Kiyai Macan Gading bersama para pengiringnya yang berjumlah 20 orang pulang kembali ke Badung dengan melalui jalan di pesisir pantai.

Setelah rombongan sampai di pesisir pantai Lebih Gianyar tiba tiba I Dewa Agung Bangli dengan 200 orang prajurit bersenjata lengkap menghadang. Namun demikian Kiyai Macan Gading tidak takut menghadai musuh sebanyak itu, beliau sedang menunggangi kuda dan dikawal oleh Ki Tambyak dengan serta merta mengeluarkan keris yang baru saja diperoleh dari Dalem Kelungkung. Keris tersebut mengeluarkan sinar dan mengeluarkan bayangan beratus ratus singa dari ujungnya. Melihat hal tersebut I Dewa Agung Bangli menjadi sangat takut dan lari mnyelamatkan diri bersama para pengikutnya serta menyatakan menyerah/ tunduk kepada Kiyai Macan Gading.

Akibat kekalahan tersebut I Dewa Agung Bangli diganti namanya menjadi I Dewa Agung Tangkeban karena pernah ditangkeb dengan bantal oleh Kiyai Macan Gading. Dan keris yang mengeluarkan beratus ratus singa diberi nama Singapraga yang artinya nampak singa.


PERISTIWA PENTING PADA MASA PEMERINTAHAN KIYAYI ANGLURAH PEMECUTAN II
Perang Melawan Pemberontakan I Gusti Agung Maruti di Kerajaan Gelgel


I Dewa Pembayun yang abiseka ratu bergelar Dalem Si Made berkuasa dan memerintah Pulau Bali pada tahun Caka 1543 sampai dengan 1573 atau tahun 1621 sampai dengan tahun 1651 Masehi. Patih Agung I Gusti Agung Widya yang terkenal dengan nama I Gusti Agung Maruti mengadakan pemberontakan untuk merebut kekuasaan dalem pada tahun 1573 atau 1651 Masehi.

Perebutan kekuasaan ini direncanakan dengan sangat matang dengan terlebih dahulu menyingkirkan perwira perwira kepercayaan Dalem Di Made dengan orang orang kepercayaan I Gusti Agung Maruti. Bahkan diantara perwira perwira yang setia kepada Dalem diadu domba sehingga timbul rasa saling curiga mencurigai yang akhirnya melemahkan keduudukan Dalem.

Kesempatan untuk merebut kedudukan Dalem akhirnya datang pada saat Puri Gelgel dalam keadaan kosong karena Dalem sedang pergi berburu dengan diiringi perwira perwira kerajaan. Dalam pemberontakan tersebut walaupun ada perlawanan dari laskar yang masih setia kepada Dalem, namun perlawanan tersebut kurang berarti apa apa karena perlengkapan dan persenjataan puri Gelgel telah dikuasai sebelumnya oleh I Gurti Agung Maruti.

Salah satu perwira yang setia kepada Dalem yaitu I Gusti Made Pucangan mencoba mengadakan perlawanan dengan mengumpulkan sisa sisa pasukan yang masih setia kepada Dalem Di Made. Perlawanan tersebut mendapat dukungan penuh dari Dalem di Made dan berlangsung selama kurang lebih 4 bulan sehingga membuat I Gusti Agung Maruti tidak tenang duduk di singgasananya. Dalam perlawanan tersebut banyak pengikut dari I Gusti Ahung Maruti yang gugur.

Untuk mengatasi perlawanan tersebut, I Gusti Agung Maruti mengerahkan 2.500 orang pengikutnya untuk menyerang dan mengejar Delem serta menjanjikan hadiah yang sangat besar bagi siapapu yang bisa menangkap Dalem hidup atau mati. Oleh karena minimnya persenjataan dan jumlah pasukan yang tidak seimbang, perlawanan Dalem di Made dapat dilumpuhkan, dan dalam pertempuran tersebut I Gusti Made Pucangan gugur dengan para pengikut Dalem lainnya. Akibat kekalahan tersebut Dalem di Made terpaksa menyingkir ke Desa Guliang di wilayah Bangli hingga beliau wafat disana.

Dengan telah dilumpuhkannya perlawanan Dalem Di Made tersebut I Gusti Agung Maruti kemudian Abiseka Ratu pada tahun 1651 Masehi dengan gelar Kyai Agung di Made, sedangkan untuk patih agung diangkat Ki Dukut Kretha. Dengan diangkatnya I Gusti Agung Maruti menjadi Raja di Gelgel perlawanan terhadap pengikut pengikut yang masih setia kepada Dalem di Made masih sering terjadi yang sekarang dipimpin langsung oleh putra Dalem Di Made sendiri yaitu I Dewa Agung Jambe.

Dalam perlawanan tersebut putra dalem didampingi oleh I Gusti Anyamrame, I Gusti Pandarungan, Kyai Bisama. Perlawanan tersebut tidak berarti apa apa karena kuatnya pertahanan I Gusti Agung Maruti, bahkan I Gusti Anyamrame berhasil dibunuh dan mayatnya dipertontonkan dilapagan terbuka sebagai peringatan bagi siapapun yang berani melawan kepada kekauasan I Gusti Agung Maruti. Dengan terbunuhnya I Gusti Anyamrame tidak melemahkan perlawanan dari pengikut- pengikut setia Dalem di Made.

Perlawanan kemudian dilanjutkan kembali oleh I Gusti Pandarungan sehingga memakan waktu berbulan bulan. Sampai akhirnya terjadi pengkianatan dari dalam pengikut Dalem sendiri dengan memberi racun kepada I Gusti Pandarungan sehingga beliau tewas seketika. Dengan gugurnya I Gusti Pandarungan selama beberapa bulan keadaan menjadi tenang tidak ada lagi perlawanan dari pengikut Dalem di Made sehingga I Gusti Agung Maruti dapat menjalankan pemeritahannya dengan aman dari gangguan.

Namun kedaaan yang berlangsung aman tersebut membuat I Gsuti Agung Maruti menjadi kurang waspada terhadap ancaman, karena pengikut Dalem masih banyak yang berusaha mengembalikan kedudukan Dalem di Made di Puri Gelgel. sehingga tanpa diduga duga sebelumnya Kyai Bisama yang merupakan pengikut Dalem yang masih setia berhasil menghimpun pasukan dan berhasil menyerang Puri Gelgel. Karena adanya serangan mendadak tersebut, keadaan Puri Gelgel menjadi kacau balau sehingga memaksa I Gusti Agung Maruti menyingkir dari Puri Gelgel.

Dari luar puri, I Gusti Agung Maruti mengadakan perlawanan sengit sampai berbulan bulan tidak ada yang kalah dan menang, sampai suatu saat secara tiba tiba Kyai Bisama tewas ditusuk oleh rekannya sendiri tatkala beliau sedang makan. Disinilah terbukti I Gusti Agung Maruti sangat pintar mempergunakan tipu daya kepada lawan lawannya, Ada yang terkena racun seperti I Gusti Anyamrame, ada yang ditusuk oleh tekan sendiri yang kesemuanya itu karena adanya penghianatan yang direkayasa oeh I Gusti Agung Maruti.

Dengan tewasnya Kayai Bisama maka kembali patah perlawanan dari Dalem di Made dalam usahanya merebut kembali tahta kerajaan Gelgel. I Gusti Agung Maruti kembali lagi berkuasa di Kerajaan Gelgel dan pemerintahannya berlangsung cukup lama yaitu 26 tahun dari tahun 1651 sampai dengan 1677 Masehi.
Putra Dalem Dimade I Dewa Pemayun dan I Dewa Ketut Jambe berunding, tetapi hanya I Dewa Ketut Jambe saja hendak merebut kembali Keraton Gelgel, dibantu oleh Kyayi Ngurah Singarsa. Perlawanan untuk mengembalikan kekuasaan Dalem di Made kembali berkorban, namun kali ini putra Mahkota Dalem di Made yaitu I Dewa Agung Jambe meminta bantuan kepada Kerajaan Buleleng dan Kerajaan Badung.
Permintaan bantuan ditanggapai dengan baik oleh kedua Kerajaan terbukti dari Kerajaan Buleleng mengirim 1.250 laskar Taruna Goak yang menyerang Puri Gelgel dari arah Barat, sedangkan dari Kerajaan Badung pengiriman 1.000 orang laskar yang dipimpin langsung oleh Kyahi Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading .

Pertempuran berjalan dengan hebat dimana masing masih pihak mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bisa mengalahkan lawan lawannya. Pasukan Badung mengepung dari arah selatan. Terjadi peperangan di Handoga, banyak korban berguguran prajurit Badung mundur dan tinggal pemimpinnya tidak mundur setapak pun. Kemudian pasukannya maju lagi setelah pemimpinya mereka lihat ada di depan.

Laskar Badung dibawah pimpinan Kyahi Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading berhasil menguasai Banjarangkan setelah melewati pertemuran selama 2 bulan. Laskar Badung bertempur dengan gagah berani tidak mengenal rasa takut, setelah berhasil menguasai Banjarangkan dan memukul mundur pasukan I Gusti Agung Maruti, penyerangan kemudian langsung diarahkan ke sasaran utama yaitu Puri Gelgel.

Dalam pertempuran merebut kembali Puri Gelgel tersebut, banyak pasukan dari kedua belah pihak yang menjadi korban. Laskar badung banyak mendapat simpati dari rakyat yang menginginkan Dalem di Made kembali berkuasa di Kerajaan Gelgel. I Gusti Agung Maruti kembali mengatur siasat untuk mengalahkan Kyahi Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading dengan menantang bertempur di daerah Batuklotok.

I Gusti Agung Maruti mempersiapkan lubang lubang yang dalam yang sebelumnya telah diisi dengan ular ular berbisa. Lubang lubang tersebut telah ditutup dengan dedaunan sehingga tidak terlihat. Pasukan Puri Gelgel dibawah pimpinan Dainan Prasu mencoba memancing kedatangan lascar badung dibawah Pimpinan Kyahi Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading . Pertempuran kemudian berjalan dengan hebatnya di daerah Batuklotok dimana lascar Badung terlebih dahulu melewati perangkap yang telah dipersiapkan oleh I Gusti Agung Maruti.

Laskar dari Badung bertempur dengan gagah berani dimana pertempuran berjalan selama 3 hari. Pasukan Puri Gelgel dapat dipukul mundur dengan tewasnya Dainan Prasu ditangan Kyahi Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading. Sisa pasukan Gelgel yang selamat kemudian menyelamatkan diri sehingga laskar Badung berhadapan langsung dengan laskar yang dipimpin sendiri oleh I Gusti Agung Maruti.

Laskar Badung telah bertempur selama 3 hari tiada mengenal istirahat kemudian harus kembali berhadapan dengan pasukan yang lebih besar. Dalam pertemuannya dengan Kyahi Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading, I Gusti Agung Maruti kembali minta dengan sangat agar laskar Badung perpihak kepadanya dan sebagai imbalannya maka I Gusti Anglurah Jambe Pule akan diberikan kekuasan penuh untuk memerintah kerajaan Badung dan hubungan dengan Puri gelgel akan semakin bertambah kuat.

Kembali kepada masa sebelumnya sejak jatuhnya Pulau Bali ketangan Kerajaan Majapahit maka Sri Kresna Kepakisan dari Puri Gelgel adalah wakil resmi Kerajaan Majapahit atau diangkat menjadi adipati yang menguasai wilayah pulau Bali. Sedangkan Kerajaan Badung dan Kerajaan Buleleng adalah pendamping dari Puri Gelgel sebagai wakil Kerajaan Majapahit di Bali. Dengan penawaran seperti itu maka Kerajaan Badung akan merupakan wilayah yang merdeka tidak lagi dibawah kekuasaan Puri Gelgel.

Kyahi Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading bukanlah orang yang haus akan kekuasaan, beliau lebih memilih bertempur sampai mati untuk mengembalikan kekuasaan Dalem di Made di Puri Gelgel. Karena ajakan tersebut ditolak maka I Gusti Agung Maruti kemudian mengerahkan seluruh pasukan untuk mengepung lascar Basung yang masih tersisa. Pertempuran berjalan dengan serunya sampai akhirnya terjadi pertempuran satu lawan satu antara Kyahi Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading dengan I Gusti Agung Maruti tidak bisa terelakkan.

Pasukan kedua belah pihak kemudian menghentikan pertempuran untuk menyaksikan perang tanding kedua tokoh tersebut. Dengan bersenjatakan pecut ditangan kanannya Kyahi Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading terus menekan I Gusti Agung Maruti sehingga beliau kewalahan menghadapi serangan tersebut. Pertempuran berlangsung dengan serunya sampai akhirnya Kyahi Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading dapat menjatuhkan I Gusti Agung Maruti sampai terjerembab diatas tanah.

Dengan sigap para pengawal I Gusti Agung Maruti menyelamatkan rajanya dan Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading terus mengejar namun dihadang oleh pasukan yang berlapis lapis dan digiring kerah lubang yang telh dipersiapkan. Dari sebelah lubang I Gusti Agung Maruti kemudian menatang kembali Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading untuk perang tanding satu lawan satu.

Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading meladeni tantangan tersebut dan terus maju kedepan untuk menghadapi I Gusti Agung Maruti. Dalam menghadapi pasukan yang berlapis lapis tersebut laskar Badung dapat membunuh banyak musuh.

Dalam perang tanding tersebut Kiyai Macan Gading terkena tusukan Keris Si penglipur dipaha sebelah kiri yang menyebabkan beliau tidak dapat lagi melanjutkan perlawanan . Dalam kedaan terluka parah beliau masih sempat melemparkan pisau kearah I Gusti Agung Maruti dan menegenai tangannya sampai terluka.

Namun dengan sisa sisa tenaga yang dimiliki Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading terus maju tidak mengenal rasa takut sampai akhirnya sebuah tombak tepat mengenai punggung beliau sehingga membuatnya tersungkur di tanah. Ki Dukut Kerta yang merupakan patih Agung Puri Gelgel kemuadian memeriksa keadaan Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading , dan dengan sisa sisa tenaga yang masih dimiliki Angluran Pemecutan II/ Kyahi Macan Gading menubruk Ki Dukut Kerta dengan kerisnya sehingga keduanya jatuh kedalam lubang yang dalam dan tewas.

Laskar Panji Sakti menyerang dari arah Utara, Laskar Badung dari arah selatan dan laskar sidemen dari arah timur sehingga membuat pertahanan Kerajaan Gelgel menjadi terjepit. Ki Panji Sakti kemudian melanjutkan perlawanan sehingga memaksa I Gusti Agung Maruti melarikan diri dari Puri Gelgel menuju hutan Jimbreng yang artinya hutan lebat. Lama kelamaan nama Jimbreng diganti menjadi Jimbaran.

Laskar Buleleng dibawah pimpinan Panji Sakti dengan kekuatan penuh tiba tiba menyerang dan I Gusti Agung Maruti yang masih terluka dengan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri dan meminta perlindungan kepada I Gusti Tegeh Kuri sahabatnya di wilayah Badung.

Namun permintaan tersebut secara halus ditolak I Gusti Agung Maruti diajurkan menuju desa kapal. Dengan dilumpuhkannya perlawanan I Gusti Agung Maruti maka kekauasan Puri Gegel dikembalikan seperti keadaan semula. Puri Gelgel akhirnya dapat dikuasai kembali dan kekuasaan dikembalikan lagi kepada Dalem Dimade. Namun demikian karena Dalem di Made telah meninggal di tempat persembunyiannya di desa Guliang Bangli maka Sebagai Raja dikerajaan Gelgel di berikan kepada putra mahkota yaitu I Dewa Agung Jambe.


KIYAYI ANGLURAH PEMECUTAN II WAFAT

Kiyahi Anglurah Pemecutan II/ Kiyayi Macan Gading wafat sekitar tahun 1686 masehi diberi gelar Bhatara Muring Watu Klotok dan bersamaan dengan perang tersebut wafat juga seorang wiku brahmana dari Geriya Semawang Sanur saat mengiringi Kyayi Anglurah Pemecutan II ke Gelgel. Selanjutnya jenazah beliau diupacarai menurut cara kesatria gugur dalam perang dan dibangun pedharman.

Adanya peristiwa tersebut apabila dihubungkan dengan kenyataan sekarang bahwa setiap upacara keagamaan dikalangan keluarga Puri Agung Pemecutan atau di Pemerajan biasanya mohon tirta (air suci) atau nuhur pakukuh ke Pura Watu Klotok. Demikian pula kalau ada acara Memukur atau Meligia juga memohon air suci ke Pura Watu Klotok. Hal tersebut menguatkan anggapan bahwa memang benar adanya kaitan sejarah antara Puri Agung Pemecutan dengan Pura Watu Klotok dan Dalem Gelgel.

Demikian pula cerita-cerita yang hidup dan terpelihara dikalangan orang tua dulu dan diperkuat lagi dengan adanya lontar Babad Badung oleh Anak Agung Putu Manek dari Jero Grenceng yang ditulis pada tahun 1901 dan lontar Pemancanggah Badung Mwang Tabanan yang ditranskripkan pada tanggal 2 Mei 1979 oleh Mangku Sukia dan diterbitkan oleh Musium Bali Denpasar.

Kiyayi Anglurah Pemecutan II digantikan oleh Putra beliau yaitu Kiyayi Arya Ngurah Pemecutan bergelar Ida Bhatara Maharaja Sakti sebagai Anglurah Pemecutan III di Puri Agung Pemecutan


PITEKET IDA DALEM DI MADE KEPADA KETURUNANNYA
Pura Watuklotok

Semua keturunan Ida Dalem Dimade dipersaudarakan dengan Keturunan Kiyai Macan Gading sehingga merupakan satu keturunan. Bila dikemudian hari Ida Dalem Dimade meninggal maka setelah dibuatkan upacara Pitra Yadnya agar abunya dipersatukan dipelinggih Kiyai Macan Gading di Pura Agung Batu Klotok Klungkung
Semua keturunan Ida Dalem Dimade dan semua keturunan Kyai Macan Gading agar datang ngaturang sembah.
Keturunan Kiyai Macan Gading diperkenankan memakai gelar Anak Agung dan yang dinobatkan menjadi Raja diperkenankan memakai gelar Cokorda

Demikialah piteket Ida Dalem Di Made kepada keturunannya untuk mengenang kepergian Kiyai Macan Gading yang telah membela Ida Dalem Dimade sehingga dapat kembali menduduki tahta Kerajaan Gelgel.



Daftar Pustaka :
  1. Lahirnya Puri Agung Pemecutan Badung / A.A. Oka Puji - Jero Dawan Tegal
  2. Sejarah Kyahi Agung Lanang Dawan / A.A. Bagus Saputra - Jero Dawan Kanginan
  3. Sejarah Puri Gerenceng Pemecutan / A.A. Made Kaler
  4. Babad Arya Tabanan/ Puri Tabanan
  5. Sejarah Raja Raja di Tabanan dan Badung
  6. Babad Badung / Puri Gede Kerambitan

    Om Swasti Astu . Sebelumnya penulis mohon maaf bila ada kekeliruan atas penulisan sejarah ini, untuk itu mohon koreksi serta masukan untuk menyempurnakan blog ini sehingga diperoleh fakta sejarah yang nantinya benar benar diterima oleh semua pihak dan beguna bagi generasi yang akan datang. Om Canti Canti Canti Om
.

1 komentar:

  1. FOTO MERAJAN JENGGALA LANANG KARANG CEMPAKA PEMECUTAN JERO TEGAL AGUNG KOX GA ADA Y???

    BalasHapus