Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 10 Januari 2010

TOKOH SEJARAH SINGHASARI

Dalam sejarah berdirinya dan runtuhnya Kerajaan Singhasari terdapat beberapa tokoh yang mempunyai peranan besar. Tokoh-tokoh tersebut tidak saja berperan sebagai pendamping raja juga menyebabkan jatuhnya pemerintahan raja tersebut. Berikut akan diuraikan sejarah singkat dari masing masing tokoh tersebut.

1. KEN DEDES
Ken Dedes adalah nama permaisuri dari Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel, atau yang kemudian terkenal dengan sebutan Singhasari.
Perkawinan Pertama
Arca Kendedes
Menurut Pararaton, Ken Dedes adalah putri dari Mpu Purwa, seorang pendeta Buddha dari desa Panawijen. Pada suatu hari Tunggul Ametung akuwu Tumapel singgah di rumahnya. Runggul Ametung jatuh hati padanya dan segera mempersunting gadis itu. Karena saat itu ayahnya sedang berada di hutan, Ken Dedes meminta Tunggul Ametung supaya sabar menunggu. Namun Tunggul Ametung tidak kuasa menahan diri. Ken Dedes pun dibawanya pulang dengan paksa ke Tumapel untuk dinikahi.
Ketika Mpu Purwa pulang ke rumah, ia marah mendapati putrinya telah diculik. Ia pun mengutuk barangsiapa yang telah menculik putrinya, maka ia akan mati karena tikaman keris.
Perkawinan Kedua
Tunggul Ametung memiliki pengawal kepercayaan bernama Ken Arok. Pada suatu hari Tunggul Ametung dan Ken Dedes pergi bertamasya ke Hutan Baboji. Ketika turun dari kereta, kain Ken Dedes tersingkap sehingga auratnya yang bersinar terlihat oleh Ken Arok.
Ken Arok menyampaikan hal itu kepada gurunya, yang bernama Lohgawe, seorang pendeta dari India. Menurut Lohgawe, wanita dengan ciri-ciri seperti itu disebut sebagai wanita nareswari yang diramalkan akan menurunkan raja-raja. Mendengar ramalan tersebut, Ken Arok semakin berhasrat untuk menyingkirkan Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes.
Maka, dengan menggunakan keris buatan Mpu Gandring, Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung sewaktu tidur. Yang dijadikan kambing hitam adalah rekan kerjanya, sesama pengawal bernama Kebo Hijo. Ken Arok kemudian menikahi Ken Dedes, bahkan menjadi akuwu baru di Tumapel. Ken Dedes sendiri saat itu sedang dalam keadaan mengandung anak Tunggul Ametung.
Lebih lanjut Pararaton menceritakan keberhasilan Ken Arok menggulingkan Kertajaya raja Kadiri tahun 1222, dan memerdekakan Tumapel menjadi sebuah kerajaan baru. Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, lahir beberapa orang anak yaitu, Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya, dan Dewi Rimbu. Sedangkan dari perkawinan pertama dengan Tunggul Ametung, Ken Dedes dikaruniai seorang putra bernama Anusapati.
Seiring berjalannya waktu, Anusapti merasa dianaktirikan oleh Ken Arok. Setelah mendesak ibunya, akhirnya ia tahu kalau dirinya bukan anak kandung Ken Arok. Bahkan, Anusapati juga diberi tahu kalau ayah kandungnya telah mati dibunuh Ken Arok. Maka, dengan menggunakan tangan pembantunya, Anusapati membalas dendam dengan membunuh Ken Arok pada tahun 1247.
Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam naskah Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga kebenarannya cukup diragukan. Namanya sama sekali tidak terdapat dalam Nagarakretagama atau prasasti apa pun. Mungkin pengarang Pararaton ingin menciptakan sosok leluhur Majapahit yang istimewa, yaitu seorang wanita yang bersinar auratnya.
Keistimewaan merupakan syarat mutlak yang didambakan masyarakat Jawa dalam diri seorang pemimpin atau leluhurnya. Masyarakat Jawa percaya kalau raja adalah pilihan Tuhan. Ken Dedes sendiri merupakan leluhur raja-raja Majapahit versi Pararaton. Maka, ia pun dikisahkan sejak awal sudah memiliki tanda-tanda sebagai wanita nareswari. Selain itu dikatakan pula kalau ia sebagai seorang penganut Buddha yang telah menguasai ilmu karma amamadang, atau cara untuk lepas dari Samsara.
Dalam kisah kematian Ken Arok dapat ditarik kesimpulan kalau Ken Dedes merupakan saksi mata pembunuhan Tunggul Ametung. Anehnya, ia justru rela dinikahi oleh pembunuh suaminya itu. Hal ini membuktikan kalau antara Ken Dedes dan Ken Arok sesungguhnya saling mencintai, sehingga ia pun mendukung rencana pembunuhan Tunggul Ametung. Perlu diingat pula kalau perkawinan Ken Dedes dengan Tunggul Ametung dilandasi rasa keterpaksaan.
2. MAHESA WONG ATELENG

Mahisa Wunga Teleng atau Mahesa Wong Ateleng adalah putra dari Ken Arok (pendiri Kerajaan Singhasri) yang lahir dari permaisuri Ken dedes.
Identifikasi Tokoh Mahisa Wunga Teleng
Tokoh Mahisa Wunga Teleng hanya ditemui dalam naskah Pararaton sebagai ayah dari Narasingamurti. Naskah Nagarakretagama ataupun prasasti-prasasti tidak ada yang menyebutkan adanya nama ini.
Dalam prasasti Mula malurung (1255) terdapat nama Bhatara Parameswara raja Kadiri bawahan Singhasri. Ia disebut sebagai paman sekaligus mertua Raja Wisnuwardhana. Oleh Slamet Muljana dalam bukunya, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (1979), tokoh ini disamakan dengan Mahisa Wunga Teleng. Dengan demikian, Mahisa Wunga Teleng adalah tokoh sejarah, bukan sekadar tokoh dongengan ciptaan Pararaton.
Prasasti Mula Malurung juga menyebutkan Bhatara Parameswara meninggal di Kebon Agung, dan dicandikan di Pikatan sebagai Wisnu. Adapun nama putri Bhatara Parameswara yang dinikahi Wisnu Wardhana dan kemudian melahirkan Kertanagara (raja terakhir Singhasari) adalah Waning Hyun.















3. MAHESA CAMPAKA

Mahesa Cempaka atau Mahisa Campaka adalah putra dari Mahisa Wonga Teleng. Ia bergelar Bhatara Narasinghamurti dan merupakan kakek dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.
Mahisa Campaka dalam Pararaton
Setelah Tohjaya terbunuh, Ranggawuni menjadi raja Singhasri bergelar Wisnuwardhana. Mahisa Campaka diangkat sebagai Ratu Angabhaya bergelar Bhatara Narasinghamurti. Mereka memerintah berdampingan. Hal itu dimaksudkan untuk menciptakan kerukunan antara keturunan Ken Arok (dalam hal ini diwakili Narasinghamurti) dan keturunan Tunggul Ametung (yang diwakili Wisnuwardhana).
Nama Asli Mahisa Campaka
Nama Mahisa Campaka hanya terdapat dalam naskah Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Singhasari. Dalam Nagarakretagama hanya dijumpai nama gelarnya, yaitu Bhatara Narasinghamurti. Nagarakretagama yang ditulis pada pertengahan zaman Majapahit itu mengisahkan bahwa Wisnuwardhana dan Narasinghamurti memerintah bersama di Singhasari bagaikan sepasang dewata, Wisnu dan Indra.
Prasasti Mula Malurung yang diterbitkan tahun 1255 oleh Wisnuwardhana ternyata tidak menyebutkan nama Narasinghamurti. Hal ini terasa aneh karena menurut Pararaton dan Nagarakretagama, tokoh Narasinghamurti adalah wakil raja. Akan tetapi dalam daftar para raja bawahan yang tertulis pada prasasti tersebut, dijumpai nama Narajaya sepupu raja yang menjadi penguasa di Hering. Karena nama tersebut mirip dengan Narasinghamurti, serta hubungannya sebagai sepupu Wisnuwardhana, maka oleh Slamet Muljana dalam bukunya Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (1979), Narajaya dianggap sebagai nama asli Mahisa Campaka.
Jadi kesimpulan yang bisa diambil yaitu Narasinghamurti adalah nama gelar, Narajaya adalah nama asli, dan Mahisa Campaka adalah nama ciptaan Pararaton. Nama Narasingamurti tercatat dalam piagam penampihan tahun 1269 lemmpengan 1b, Piagam Kudadu 1294 yang menyatakan dengan jelas bahwa Sanggramawijaya adalah keturunan Narasingamurti.
4. EMPU GANDRING

Mpu Gandring, adalah pandai besi yang juga ahli membuat keris di desa Lulumbang, Tumapel (sekarang dekat Malang) pada era kekuasaan Tunggul Ametung, Abad ke-13. Tumapel merupakan daerah kekuasaan di bawah Kerajaan Kadiri, yang waktu itu rajanya Kertajaya.
Menurut kisah, Ken Arok, rakyat jelata yang ingin mengalahkan Tunggul Ametung (dan mengambil istrinya, Ken Dedes), meminta bantuan Mpu Gandring untuk membuat keris untuk membunuh Tunggul Ametung. Mpu Gandring meminta pembuatan keris tersebut ditunda hingga Ken Dedes yang waktu itu sedang mengandung, melahirkan anaknya. Namun Ken Arok tetap tidak mau tahu, hingga pada suatu ketika mengetahui Mpu Gandring belum juga menyelesaikan pembuatan keris yang ia pesan, Ken Arok akhirnya membunuh Mpu Gandring.
Legenda Keris Mpu Gandring memainkan peranan penting dalam sejarah berdirinya Kerajaan Singhasari. Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasri di daerah Malang Jawa Timur sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, Ken Arok.
Keris ini dibuat atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang brahmana bernama Loggawe adalah titisan Wisnu. Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para "mpu" (gelar bagi seorang pandai logam yang sangat sakti) pada masa itu. Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi "ditransfer" kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut.
Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut. Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan haris diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat) selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya). Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari yakni :

Terbunuhnya Tunggul Ametung
Tunggul Ametung, kepala daerah Tumapel (cikal bakal Singhasari) yang saat itu adalah bawahan dari Kerajaan Kadiri yang saat itu diperintah oleh Kertajaya yang bergelar "Dandang Gendis" (raja terakhir kerajaan ini). Tumapel sendiri adalah pecahan dari sebuah kerajaan besar yang dulunya adalah Kerajaan Jenggala yang dihancurkan Kadiri, dimana kedua-duanya awalnya adalah satu wilayah yang dipimpin oleh Airlangga.
Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, Ken dedes. Ken Arok sendiri saat itu adalah pegawai kepercayaan dari Tunggul Ametung yang sangat dipercaya. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa "barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia".
Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjanya, yang bernama Kebo Ijo yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya kemana mana untuk menarik perhatian umum. Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo dalam kasus pembunuhan yang dirancang sendiri oleh Ken Arok. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo yang konon, dengan keris pusaka itu.

Terbunuhnya Ken Arok
Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singhasari.
Demikianlah kutukan yang diucapkan oleh Empu Parwa terhadap orang yang melarikan anak perempuannya akhirnya benar benar terjadi. Tunggul Ametung tewas ditikam oleh keris Ken Arok.
Rupanya kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan ayah Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan.
Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka kerajaan yang dimilikinya. Salah satu pusaka yang dimilikinya adalah keris tanpa sarung buatan Mpu Gandring yang dikenal sebagai Keris Mpu Gandring. Melihat ceceran darah pada keris tersebut, ia merasa ketakutan terlebih lebih terdengar suara ghaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal. Ia ingat kutukan Mpu Gandring yang dibunuhnya, dan serta merta mebantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping. Ia bermaksud memusnahkannya. Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang. Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan tersebut, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang menurut bahasa sekarang, bertugas sebagai "eksekutor" terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.

Terbunuhnya Anusapati
Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, namun tidak lama. Karena Tohjaya, Putra Ken Arok dari Ken Umang akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas.
Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring tersebut dan langsung membunuhnya di tempat. Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman dimana Anusapati diyakini membunuh Ken Arok. Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Anusapati.
Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidak puasan baik dikalangan rakyat dan bahkan kalangan elit istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, diantaranya Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal. Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh Ranggawuni yang memerintah cukup lama dan dikatakan adalah masa damai kerajaan Singashari. Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya.

7 Turunan Ken Arok
Keris Mpu Gandring ini menurut beberapa sumber spritual sebenarnya tidak hilang. Dalam arti hilang musnah dan benar-benar tidak ketahuan keberadaannya. Pada bagian ini tak hendak membahas masalah itu. Pada bagian ini hendak mengajak para pembaca untuk sejenak menganalisa "keampuahan" atau "tuah" dari keris itu maupun pembuatnya (Mpu Gandring).
Di akhir hayatnya di ujung keris buatannya sendiri, Mpu Gandring mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu akan menelan korban tujuh turunan dari Ken Arok. Sekarang marilah kita hitung. Dalam sejarah ataupun legenda yang kita ketahui, ternyata "hanya" ada 6 (enam) orang yang terbunuh oleh Keris Mpu Gandring. Yaitu :
1. Mpu Gandring, Sang Pembuat Keris.
2. Kebo Ijo, rekan Ken Arok.
3. Tunggul Ametung, Penguasa Tumapel pada saat itu.
4. Ken Arok, Pendiri Kerajaan Singasari.
5. Anusapati, Anak Ken Dedes yang membunuh Ken Arok.
6. Tohjaya, Anak Ken Arok dengan Ken Umang.
Dari daftar itu, ternyata "hanya" enam orang yang terbunuh dengan Keris Mpu Gandring. Itu pun hanya 1 (keturunan) dari Ken Arok yang dibunuh dengan Keris Mpu Gandring. Jika Ken Arok "dianggap" yang termasuk dalam daftar 7 orang yang "terkutuk", maka baru ada 2 (dua) orang dari trah Ken Arok yang terbunuh dengan Keris Mpu Gandring. Sedangkan daftar lainnya bukanlah keturunan dari Ken Arok itu sendiri.
Legenda Keris Empu Gandring
Keris umumnya dikenal sebagai senjata pusaka peninggalan masa lalu. Pemiliknya dipercaya menyimpan kesaktian yang membuat takut banyak orang.Sesuai catatan sejarah, ada rangkaian peristiwa pembunuhan politis dan kasus asmara di balik cerita tentang keris. Ihwal keris Keris Mpu Gandring yang menimbulkan tragedi pembunuhan di Kerajaan Kediri dan Singosari, Jawa Timur. Dua kekuatan pimpinan yakni Tunggul Ametung dan Ken Arok menjadi kasus utama yang membawa citra buruk pada keris di mata manusia.
Kisah persaingan antara Tunggul Ametung dan Ken Arok ternyata memang bukan murni politis, melainkan juga nafsu asmara yang bergejolak. Sumbernya terpusat pada kecantikan luar biasa Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Patungnya yang kini tersimpan di Museum Leiden, Belanda, menyisakan keayuan dan keanggunan Ken Dedes sebagai Prajnaparamitha atau Dewi Kebijaksanaan.
Suatu hari Ken Arok tanpa sengaja melihat Ken Dedes, dan di saat bersamaaan tiupan angin menyingkap gaunnya. Kejadian ini menimbulkan pandangan buruk bagi Ken Arok yang berminat memperistri Ken Dedes, apa pun risikonya. Bahkan dia berniat untuk membunuh Tunggul Ametung. Guna mempertegas niatnya itu, dia memesan sebilah keris sakti pada pakarnya, Mpu Gandring. Ternyata masa pembuatan keris tersebut memakan waktu yang sangat lama, dan hanya segelintir ahli yang mampu membuat keris sakti, ada sejumlah ritual yang dibutuhkan untuk melaksanakannya.
Ken Arok tidak sabar menunggu, karena keris yang dipesannya tidak kunjung selesai. Apalagi, nafsu asmaranya pada Ken Dedes semakin membesar dan meninggi. Lalu segera didatanginya Mpu Gandring buat menanyakan kapan keris itu selesai. Ketika Mpu Gandring mengatakan belum rampung, Ken Arok lalu membunuhnya dengan keris tersebut. Mpu Gandring tidak langsung tewas, dia sempat mengutuk keris ciptaannya yang belum selesai itu.
Kemudian Ken Arok meminjamkan keris pada Kebo Ijo, Tanpa curiga pada niat jahat Ken Arok, Kebo memperlihatkan keris itu kepada siapa saja. Malamnya, Ken Arok mencuri keris itu lagi, dan dia berhasil membunuh Tunggul Ametung. Kebo Ijo tentu saja dituduh sebagai pembunuhnya. Dia yang berusaha membela diri, lebih dulu dibunuh oleh Ken Arok dengan keris yang sama.

Kutukan yang Berlanjut
Kutukan keris Mpu Gandring ternyata terus berlanjut. Di masa lima tahun pemerintahan Ken Arok memimpin Singosari, muncullah Anusapati yang berambisi politis merebut takhta kerajaan dari Ken Arok. Sesuai maksud kutukan Mpu Gandring, maka Ken Arok pun dibunuh Anusapati dengan keris yang sama.Ken Arok yang memiliki selir bernama Ken Umang, melanjutkan kutukan dendam melalui anak lelaki mereka, Tohjaya. Kebetulan Tohjaya memang menyimpan nafsu pembalasan dendam. Pada masa 21 tahun kekuasaan Anusapati, Tohjaya mengundang kedatangan Anusapati dalam suatu pesta judi.
Begitulah, di saat Anusapati dalam keadaan gembira, Tohjaya berhasil membunuh Anusapati. Lagi-lagi dengan keris Mpu Gandring! Setelah Anusapati tewas, putranya Ranggawuni berambisi pula mengambil alih takhta. Mengetahui hal itu, Tohjaya menugaskan Lembu Ampal untuk menyerang Ranggawuni dan sekutunya, Mahesa Cempaka. Kenyataan berbalik ketika Lembu Ampal menilai Ranggawuni adalah orang yang tepat menduduki singgasana, dan mereka bersama-sama melawan Tohjaya. Tohjaya berhasil dibunuh dengan keris Mpu Gandring.
Ranggawuni dan Mahesa Cempaka kemudian sadar bahwa keris Mpu Gandring akan selalu membuat kekacauan dan kematian, dengan demikian mereka berkeputusan membuang keris itu ke Laut Jawa. Legenda mengatakan keris Mpu Gandring berubah wujud menjadi naga Itulah cerita yang selesai dari sejarah keburukan keris. Meski kenyataannya keris masih sering membawa ketakutan. Sehingga beberapa orang takut memegangnya, apalagi menyimpannya untuk peninggalan pusaka. Sebaliknya, sebagian orang lain justru berlomba dengan harga sampai puluhan juta, karena mengerti tentang nilai kebutuhan, memahami tradisi yang benar, peran sosial, hingga falsafah dan hubungannya dengan persoalan mistis.
.Bukan hanya riwayat keris Mpu Gandring yang berhasil dirunut dari relief-relief candi dan dari kitab Nagarakertagama dan Pararaton. Bahkan di Candi Sukuh yang didirikan pada Abad XV ternyata sudah ada keris dan pembuatan keris, yang sudah memiliki kecanggihan produk dan teknik pembuatannya.









5. MPU RAGANATA

Mpu Raganata atau Raganatha, adalah pemegang jabatan rakryan patih pada pemerintahan Wisnuwadhana (1248-1268) di Singhasari, yang kemudian diberhentikan pada awal pemerintahan Kertanagara (1268-1292).
Kisah Hidup Raganata
Pararaton mengisahkan, Mpu Raganata menjabat sebagai patih pada masa pemerintahan Wisnuwardhana. Ia dikenal sebagai pejabat senior yang cerdas, bijaksana dan berani mengkritik keputusan raja. Ketika Kertanagara naik takhta tahun 1268, Raganata dipecat dan diturunkan jabatannya menjadi adhyaksa Tumapel. Sebagai pengganti, diangkat patih baru, yaitu Kebo Anengah, didampingi Panji Angragani sebagai wakil.
Kemudian terjadi pemberontakan Kalana Bhayangkara yang menentang pemecatan Raganata. Tokoh yang sering disingkat Kalana Bhaya ini, dalam Nagarakretagama disebut dengan nama Cayaraja, memberontak tahun 1270. Pemecatan Raganata sehubungan dengan ketidaksetujuannya terhadap gagasan Ekspedisi Pamalayu, yaitu upaya mempersatukan Nusantara di bawah Tumapel..
Meskipun sudah diturunkan jabatannya, Raganata masih tetap aktif memberikan nasihat-nasihat untuk Kertanagara. Ia juga mengingatkan agar raja waspada terhadap balas dendam Jayakatwang. Namun, Kertanagara tidak peduli karena menganggap Jayakatwang banyak berhutang budi kepadanya.
Identifikasi Tokoh Raganata
Nama Raganata adalah ciptaan pengarang Pararaton karena tidak dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan Tumapel atau Singhasari. nama sebenarnya dari Raganata adalah Mapanji Singharsa, bergelar Sang Ramapati terdapat dalam Prasaati Mula Malurung (1255),. Ramapati adalah tokoh senior yang bijaksana, yang merupakan pemuka para petinggi kerajaan. sebagai tokoh yang menyampaikan perintah Wisnuwardhana kepada bawahan, dan sebaliknya, menyampaikan permohonan bawahan kepada raja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar