Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sabtu, 14 Mei 2011

UGRASENA

(915-942) M


Setelah wafatnya Raja Kesari Warmadewa pada tahun Saka 837/915 maka Putra beliau Sri Ugrasena Warmadewa menggantikan kedudukan sebagai Raja di Bali. Beliau terkenal akan kebijaksanaannya dan kewibawaanya sehingga menjadikan Pulau Bali aman dan sentaosa.

Para pendeta Siwa Budha dan Rsi, Empu, para agamawan datang dari pulau Jawa dan Hindu (India) semuanya bersama memuja kebesaran Ida Sanghyang Widhi dengan para dewa, tapi pemujaan disesuaikan dengan desa kala patra. Itu yang menyebabkan tepat disebut Bhinneka Tunggal Ika. Kerajaan berpusat di Singhamandawa didaerah sekitar Batur.

Selama masa pemerintahannya, Ugrasena membuat beberapa kebijakan, yaitu pembebasan beberapa desa dari pajak sekitar tahun 837 Saka atau 915. Desa-desa tersebut kemudian dijadikan sumber penghasilan kayu kerajaan dibawah pengawasan hulu kayu (kepala kehutanan). Pada sekitar tahun 855 Saka atau 933, dibangun juga tempat-tempat suci dan pesanggrahan bagi peziarah dan perantau yang kemalaman.

Raja Ugrasena mengeluarkan prasasti-prasastinya tahun 837-864 Saka (915-942). Masa pemerintahan raja ini hampir sezaman dengan masa pemerintahan Pu Sindok di Jawa Timur. Ada sebelas prasasti, semuanya berbahasa Bali Kuno, dikeluarkan oleh raja Ugrasena, yakni

  1. Prasasti-prasasti Banjar Kayang (837 Saka),
  2. Prasasti Les,
  3. Pura Bale Agung (837 Saka),
  4. Babahan I (839 Saka),
  5. Sembiran AI (844 Saka),
  6. Pengotan AI (846 Saka),
  7. Batunya AI (855 Ska),
  8. Dausa,
  9. Pura Bukit Indrakila AI (857 Saka),
  10. Serai AI (858 Saka), Dausa,
  11. Pura Bukit Indrakila BI (864 Saka),
  12. Prasasti Tamblingan Pura Endek I (-), dan Gobleg,
  13. Pura Batur A.
Berdasarkan prasasti-prasasti itu dapat diketahui sejumlah kebijakan penting dilakukan oleh raja Ugrasena. Beberapa di antaranya dikemukakan berikut ini. Keringanan dalam pembayaran pajak diberikan kepada desa Sadungan dan Julah, karena desa itu belum pulih benar dari kerusakan akibat diserang perampok.

Dengan alasan sama, bahkan desa Kundungan dan Silihan dibebaskan dari kewajiban bergotong royong untuk raja. Selain itu, raja juga berkenan menyelesaikan perselisihan antara para wajib pajak di wilayah perburuan dengan pegawai pemungut pajak, yakni dengan menetapkan kembali secara jelas jenis dan besar pajak yang mesti dibayar oleh penduduk . Berkaitan erat dengan aspek kehidupan beragama,

Raja Ugrasena memberikan izin kepada penduduk desa Haran dan Parcanigayan untuk memperluas pasanggrahan dan bangunan suci Hyang Api yang terletak di desanya masing-masing. Keberadaan penduduk desa Tamblingan sebagai jumpung Waisnawa ”sekte Waisnawa”, serta kaitannya dengan bangunan suci Hyang Tahinuni, juga mendapat perhatian raja. Prasasti Gobleg, Pura Batur A yang memuat hal itu teksnya tidak lengkap sehingga rincian ketetapan mengenai sekte tersebut tidak sepenuhnya dapat diketahui.

Dapat ditambahkan bahwa pada tahun 839 Saka (917), sebagaimana tercatat dalam prasasti Babahan I yang tersimpan di desa Babahan (Tabanan), raja Ugrasena mengadakan perjalanan ke Buwunan (sekarang Bubunan) dan ke Songan 10. Dalam kunjungan itu, raja memberikan izin kepada kakek (pitamaha), di Buwunan dan di Songan melaksanakan upacara bagi orang yang mati secara tidak wajar, jika saatnya telah tiba. Baginda juga menetapkan batas-batas wilayah pertapaan yang terletak di bagian puncak bukit Pttung.


AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Sesudah beberapa lama Sri Aji Ugrasena bertahta di istana kerajaan akhirnya beliau wafat kembali kealam Sunya, pada tahun Saka 864/942 Masehi beliau dicandikan di Ermadatu. Beliau dikenal dengan sebutan sang ratu siddha dewata sang lumah di air madatu. Epitet ini terbaca dalam prasasti Raja Tabanendra Warmadewa yang ditemukan di desa Kintamani.

KESARI WARMADEWA

SRI WIRA DALEM KESARI (TH 913 - 924) M

Setelah jatuhnya Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang dari wangsa Sanjaya akibat peperangan dengan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan maka mulailah kekuasaan Dinasti Wangsa Warmadewa di Pulau Bali.

Sri Kesariwarmadewa adalah raja pertama di Bali dari Dinasti Warmadewa yang didirikan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan lokasi Kerajaan di sekitar Besakih. Beliau merupakan keturunan wangsa Warmadewa yang berasal dari Kerajaan Kutai

Prasasti Blanjong

Sri Kesari dianggap sebagai pendiri sebagai dinasti Warm
adewa , yang makmur selama beberapa generasi, salah satu keturunan yang menjadi terkenal raja Udayana .

Menurut prasasti, Sri Kesari adalah seorang raja Buddha dari Dinasti Syailendra memimpin sebuah ekspedisi militer, untuk membangun Mahayana pemerintah Buddha di Bali. Sri Kesari Warmadewa adalah raja pertama Bali untuk meninggalkan prasasti yang ditulis. Dia menulis prasasti di 914 CE pilar Belanjong ("Prasasti Blanjong") di selatan Sanur dan prasasti Penempahan, dan prasasti Malet Gede (835 Saka)9.

Keadaan ketiga prasasti itu telah aus. Banyak bagiannya tidak terbaca lagi secara utuh, termasuk nama raja yang disebut di dalamnya. Bagian nama raja yang terbaca pada isi A.4 prasasti Blanjong adalah ... sri kesari .
.. sedangkan pada sisi B.13 terbaca ... sri kesariwarmma (dewa) (Goris, 1954a : 64-65). Bagian nama raja dalam prasasti Penempahan yang masih terbaca adalah ... sri ke ... dan pada prasasti Malet Gede berbunyi ... sri kaesari ... (Kartoatmodjo, 1977 : 150-151 ; cf. Damais, 1959 : 964). Prasasti ditulis baik dalam India Sansekerta bahasa dan bahasa Bali Lama, menggunakan dua script, yang Nagari script dan orang Bali script Lama (yang digunakan untuk menulis baik Bali dan bahasa Sansekerta).

pilar yang menyaksikan pada koneksi dari Bali dengan Dinasti Sanjaya di Jawa Tengah . Ini adalah tanggal menurut India kalender Saka . Hal lain yang menarik perhatian ialah ketiga prasasti tersebut pada hakikatnya menggambarkan kem
enangan raja Sri Kesari terhadap musuh-musuhnya. Sebagai akibat prasasti-prasasti itu telah aus, hanya dua di antara musuh-musuh itu dapat diketahui, yakni di Gurun dan di Suwal.

Pura Besakih

Perlu ditambahkan bahwa lokasi Gurun dan Suwal sampai dewasa ini belum diketahui secara pasti. Di antara para ahli, ada yang berpendapat bahwa Gurun mungkin sama dengan Lombok dewasa ini. Pendapat lain menyatakan bahwa Gurun mungkin identik dengan Nusa Penida. Sri Kesari Warmadewa dikenal sangat tekun beribadat untuk memuja dewa dewa yang bersemayam di Gunung Agung. Tempat pemujaan beliau disebut Merajan Selonding atau Merajan Kesari Warmadewa.

Beliaulah yang mengadakan perluasan atas pura Penataran Agung Besakih yang tadinya sangat sederhana. Beliau kemudian membangun pura –pura di besakih untuk melengkapai bangunan suci yang telah ada diantaranya :

  1. Pura Gelap untuk memuja Dewa Iswara
  2. Pura Kiduling Kreteg untuk memuja Dewa Brahma
  3. Pura Ulun Kulkul untuk memuja Dewa Mahadewa
  4. Pura Batumadeg untuk memuja Dewa Wisnu
  5. Pura Dalem Puri untuk memuja Dewi Durga
  6. Pura Basukihan untuk memuliakan Naga Basukihan
Beliaulah yang memerintahkan masyarakat untuk merayakan hari Nyepi pada sasih Kesanga.


ASAL USUL KETURUNAN


Pada abad ke-4 di Campa, Muangthai bertahta Raja Bhadawarman. Beliau diganti oleh anaknya bernama Manorathawarman, selanjutnya Rudrawarman. Anak Rudrawarman bernama Mulawarman merantau, mendirikan kerajaan Kutai. Mulawarman diganti Aswawarman. Anaknya bernama Purnawarman mendirikan kerajaan Taruma Negara. Anak Purnawarman bernama Mauli Warmadewa mendirikan kerajaan Sriwijaya. Anak Mauli Warmadewa bernama Sri Kesari Warmadewa pergi ke Bali, pertama-tama mendirikan Pura Merajan Salonding dan Dalem Puri di Besakih.

dikisahkan keadaan Pulau Bali, semua pura rusak terbakar, yang masih tertinggal hanya dasar bangunan saja. Dikisahkan para Arya Hindu memugar dan membangun kembali semua pura yang sudah rusak bersama masyarakat Bali Aga. Adapun yang diberi gelar awatara dewata ialah Baginda Sri Kesari Warmmadewa.

Sesudah selesai membangun semua pura, baginda bermaksud melaksanakan upacara, upacara itu dimulai pada hari Rabu Kliwon Sinta, yang bermakna mengupacarakan benteng pertahanan, selanjutnya mengadakan untuk segala perlengkapan senjata perang yang jatuh pada hari Sabtu Kliwon Landep selanjutnya disebut Hari Raya Tumpek Landep.

    Pura Besakih

Pada hari Sabtu Kliwon Wariga, juga melaksanakan upacara yang disebut Tumpek Uduh, Baginda juga bermaksud melaksanakan upacara Dewa Yadnya serta upacara para dewata yang gugur di medan perang, yang jatuh pada hari Rabu Kliwon Dungulan, yang disebut Hari Raya Galungan. Pemasukan pajak hasil bumi dari luar Pulau Bali yakni, Makasar, Sumbawa, Sasak, dan Blambangan, yang dibawah kekuasaan Baginda Raja di Bali, di upacarakan pada hari Kamis Wage Sungsang yang selanjutnya disebut Hari Raya Sugian Jawa.

Khusus bagi penduduk Bali Mula upacara itu dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon Sungsang, selanjutnya bernama Hari Raya Sugian Bali. Adapun pelaksanaan Hari Raya Galungan bermula pada hari Rabu Kliwon Dungulan, sekitar bulan Oktober saat bulan purnama, pada tahun Saka 804/882 Masehi. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indraloka, menyuarakan bunyi-bunyian yang tak henti-hentinya siang malam memuja Sang Hyang Widhi dan para dewata.

Pulau Bali aman dan makmur sejak Maharaja Sri Kesari Warmmadewa sebagai penguasa tunggal yang diberi gelar awatara Dewata. ketika datangnya arya-arya Hindu yang menguasai bumi Bali juga ikut membangun dan memperbaiki kahyangan jagat seperti yang bernama Sri Wira Dalem Kesari kembali memperbaiki Pura Sad Kahyangan, antara lain:


  1. Pura Penataran Besakih
  2. Pura Bukit Gamongan
  3. Pura Batukaru
  4. Pura Uluwatu
  5. Pura Erjeruk
  6. Pura Penataran Pejeng.

AKHIR PEMERINTAHAN

Beberapa tahun kemudian karena sudah tua mangkatlah Sri Aji Bali pada tahun Saka 837/915 Masehi Putra beliau yang menggantikan tahta, tidak beda dengan beliau yang sudah menyatu dalam Sunya, selalu taat berbakti kehadapan Sanghyang Widhi dengan bersembahyang di pura-pura Sri Ugrasena Warmmadewa nama beliau sang Prabu, bijaksana dan termasyur di dunia beliau memerintah, aman sentosa pulau Bali.

Kamis, 12 Mei 2011

SEJARAH KERAJAAN GELGEL

AWAL BERDIRINYA

Gelgel adalah nama sebuah desa yang terletak di Kabupaten daerah tingkat II Klungkung. Dari Desa Samprangan, jaraknya tidak begitu jauh, hanya 17 km menuju jurusan Timur. Letaknya tidak begitu jauh dari pantai Selatan Bali dan di sebelah Timur mengalir Kali Unda yang airnya bersumber dari lereng Gunung Agung yaitu mata air yang bernama Telaga Waja.

Pembangunan Pura Dasar Gelgel

Ada tiga hal yang dapat diamati pada proses perpindahan dari ibu kota dari Samprangan ke Sweca pura (Gelgel). Pertama, proses perpindahan tersebut berjalan secara lancar dan Agra Samprangan menerima kenyataan bahwa ia tidak mendapat dukungan lagi dari pembesar kerajaan. Kedua, perpindahan pusat pemerintahan ini lebih banyak dipertimbangkan atas dasar kebijaksanaan dalam bidang politik. Ketiga, ada kemungkinan juga dipertimbangkan latar belakang komunikasi dan transportasi.


STRUKTUR PEMERINTAHAN

Raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, dibantu oleh raja kerajaan yang terdiri atas kaum bangsawan disebut dengan nama bahunada atau tanda mantri. Para bahudanda atau pembesar kerajaan pada umumnya diambil dari keluarga istana, kerabat kerajaan yang dianggap berjasa atau dalam ikatan kekerabatan dengan raja. Hubungan antara raja dan rakyat diatur melalui suatu birokrasi yang sudah merupakan suatu sistem pemerintahan tradisional. Di dalam menjalankan tugas sehari-hari raja di dampingi oleh pendeta kerajaan yang disebut Bhagawanta atau purohita.

Dari pendeta Ciwa dan Buddha yang berfungsi sebagai penasehat raja dalam masalah-masalah keagamaan. Bhagawanta biasanya adalah keturunan dari putra-putra Dang Hyang Nirartha yang termasuk keturunan Brahmana Kemenuh yang diturunkan dari istri Dang Hyang Nirartha yang pertama yang berasal dari Daha yang bernama Diah Komala.


SISTEM KEPEMIMPINAN

Golongan ksatria memegang pimpinan di dalam pemerintahan. Hak golongan ksatria ini untuk memegang pemerintahan dianggap sebagai karunia Tuhan, Brahmokta Widisastra memberikan keterangan golongan ksatria lahir dari tugas khusus. Pekerjaan mereka hanya memerintah, mengenal ilmu peperangan. Orang-orang yang memegang jabatan di bawah raja merupakan keturunan para Arya yang menaklukkan kerajaan Bali kuna. Secara turun temurun mereka memakai gelar "I Gusti" atau "Arya" seperti Arya Kepakisan, I Gusti Kubon Tubuh, I Gusti Agung Widia, I Gusti Agung Kaler Pranawa dan lain-lain.

Untuk mengatur dan mengendalikan segala kelakuan dan kehidupan masyarakat diperlukan adanya hukum. dalam masyarakat Majapahit berlaku hukum tertulis dalam sebuah buku yang bernama Manawa Dharma Sastra sedangkan di Bali dikenal buku yang berjudul Sang Hyang Agama.


KEHIDUPAN KEAGAMAAN

Pengaruh agama Hindu dalam kehidupan masyarakat Bali sangat besar. Hampir semua aspek kehidupannya dipancari oleh ajaran-ajaran agama Hindu sehingga kehidupan masyarakatnya dapat dikatakan bersifat keagamaan atau sosial religious.

Kepercayaan agama Hindu yang terpenting adalah kepercayaan yang disebut Sradha (lima keyakinan pokok) yang mencakup :

  1. Percaya akan adanya satu Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, dalam bentuk konsep Tri Murti. Tri Murti mempunyai tiga wujud atau manifestasi ialah : Brahma yang menciptakan, Wisnu memelihara dan Siwa mempralina.
  2. Percaya terhadap konsep atman (roh abadi).
  3. Percaya terhadap punarbhawa (kelahiran kembali dari jiwa).
  4. Percaya terhadap hukum karmaphala (adanya buah dari setiap perbuatan).
  5. Percaya akan adanya moksa (kebebasan jiwa dari lingkaran kelahiran kembali).

Pengaruh kepercayaan dalam masyarakat juga amat besar. Salah satu wujud dari pengaruh ini tampak dalam konsepsi dan aktifitas upacara yang muncul dalam frekwensi yang tinggi dalam kehidupan masyarakat Bali, baik upacara yang dilaksanakan oleh kelompok kerabat maupun oleh komunitas. Keseluruhan jenis upacara di Bali digolongkan ke dalam lima macam yang disebut Panca yadnya, yaitu :

  1. Dewa Yadnya, merupakan upacara-upacara pada putra maupun Pura Keluarga, yang ditujukan kepada para Dewa sebagai manifestasi Hyang Widhi.
  2. Rsi Yadnya, merupakan upacara yang berhubungan orang-orang suci yang berjasa dalam pembinaan agama Hindu.
  3. Pitra Yadnya, merupakan upacara yang di tujukan kepada roh-roh leluhur, meliputi upacara kematian sampai pada upacara penyucian roh leluhur.
  4. Bhuta Yadnya, meliputi upacara yang ditujukan kepada bhuta kala yaitu roh-roh di sekitar manusia yang dapat mengganggu.
  5. Manusa Yadnya, meliputi upacara daur hidup dari masa kanak-kanak sampai dewasa.

BIDANG PENDIDIKAN, KESENIAN, KESUSASTRAAN

Pendidikan ketika ini mempunyai corak yang sesuai dengan masyarakat tradisional. Pendidikan dilakukan oleh golongan elite atau inisiatif pribadi. Pendidikan yang menonjol pada waktu itu adalah pendidikan keagamaan dan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kerajaan.

Pura Dasar Gelgel

Orang-orang yang memberikan pendidikan terdiri dari orang-orang Brahmana. Orang-orang yang memberikan pelajaran disebut Sang Guru. Orang yang belajar disebut "sisya". Dalam proses belajar di sebut "aguru" sedangkan proses memberikan pelajaran disebut "asisia". Sebagai seorang sisya harus mentaati peraturan-peraturan yang ketat.


Sejak runtuhnya kerajaan Majapahit (1523 M) banyak warganya mengungsi ke Bali dengan memindahkan segala yang dapat di bawa, termasuk seni dan budaya dengan seni tarinya. Kemudian seni tari ini berkembang dengan suburnya terutama zaman keemasan pemerintahan Dalem Batur Enggong (1460-1550). Hal in disebabkan raja menaruh perhatian besar dan memberikan pengayoman terhadap perkembangan kesenian khususnya seni tari di samping pemerintahan yang aman dan tentram.

Dalam masa Pemerintahan Dalem Batur Enggong di Bali, naskah-naskah lontar banyak dibawa dari Jawa ke Bali. Kalau kiranya yang demikian tidak terjadi, maka tidak akan banyak lagi yang tinggal dari kesusastraan Jawa Kuna. Kebanyakan naskah lama kedapatan di Bali karena di Jawa naskah Kuna kurang mendapat perhatian lagi karena masuknya Islam.

Pura Segening Gelgel

Setelah Dalem Batur Enggong wafat digantikan oleh Dalem Sagening dari tahun 1380-1665 M. Pada masa ini muncul Pujangga, Pangeran Telaga di mana tahun 1582 mengarang : 1. Amurwatembang, 2. Rangga Wuni, 3. Amerthamasa, 4. Gigateken, 5. Patal, 6. Sahawaji, 7. Rarengtaman, 8. Rarakedura, 9. Kebo Dungkul, 10. Tepas dan 11. Kakansen. Sedangkan Kyai Pande Bhasa mengarang : Cita Nathamarta, Rakkriyan Manguri mengarang : Arjunapralabdha, Pandya Agra Wetan mengarang : Bali Sanghara.


Pura-pura yang dibangun atas petunjuk Dang Hyang Dwijendra adalah :

  1. Pura Purancak di Jembrana,
  2. Pura Rambut Siwi di dekat desa Yeh Embang dibangun kembali atas petunjuk beliau dan di sana disimpan potongan rambut Dang Hyang Dwijendra,
  3. Pura Pakendungan di desa Braban Tabanan, di sini disimpan keris beliau.
  4. Pura Sakti Mundeh dekat desa Kaba-kaba Tabanan.
  5. Pura Petitenget di pantai laut dekat desa Kerobokan (Badung) di sini disimpan pecanangan (kotak tempat sirih) dan
  6. Pura Dalem Gandhamayu yang terletak di desa Kamasan (Klungkung) di tempat itu beliau menemukan bau harum sebagai isyarat dari Hyang widhi.


PEMERINTAHAN RAJA RAJA GELGEL
  • DALEM KETUT NGULESIR ( 1320 - 1400 ) M
Merupakan raja pertama dari periode Gelgel yang berkuasa selama lebih kurang 20 tahun (tahun 1320-1400). Ada beberapa yang dapat diamati selama masa pemerintahan raja Gelgel pertama, raja dikatakan berparas sangat tampan ibarat Sanghyang Semara, serta memerintah dengan bijaksana dan selalu berpegang pada Asta Brata.

Dalem Ktut Ngulesir adalah seorang raja yang adil, suka memberi penghargaan kepada orang yang berbuat baik, serta tidak segan-segan menghukum mereka yang berbuat salah. Baginda menganugrahkan suatu predikat tanda penghargaan wangsa "Sanghyang" dengan sebutan "Sang" kepada masyarakat desa Pandak, di mana mereka bermukim dahulu.

Pura Dasar Gelgel

Pada masa pemerintahan prabhu Hayam Wuruk yang mengadakan upacara Cradha dan rapat besar, dihadiri pula oleh Dalem Ktut Ngulesir beserta semua raja-raja di kawasan Nusantara. Kehadiran dengan tata kebesaran itu menimbulkan kekaguman para raja yang lain serta masyarakat yang menyaksikan. Beliau disertai oleh Patih Agung, Arya Patandakan, dan Kyai Klapodyana (Gusti Kubon Tubuh).

  • DALEM BATUR ENGGONG ( 1460 - )
Dalem Batur Enggong memerintah mulai tahun 1460 M dengan gelar Dalem Batur Enggong Kresna Kepakisan, dalam keadaan negara yang stabil. Hal ini telah ditanamkan oleh almarhum Dalem Ktut Ngulesir, para mentri dan pejabat-pejabat lainnya demi untuk kepentingan kerajaan.

Dalem dapat mengembangkan kemajuan kerajaan dengan pesat, dalam bidang pemerintahan, sosial politik, kebudayaan, hingga mencapai zaman keemasannya. Jatuhnya Majapahit tahun 1520 M tidak membawa pengaruh negatif pada perkembangan Gelgel, bahkan sebaliknya sebagai suatu spirit untuk lebih maju sebagai kerajaan yang merdeka dan berdaulat utuh. Beliau adalah satu-satunya raja terbesar dari dinasti Kepakisan yang berkuasa di Bali, yang mempunyai sifat-sifat adil, bijaksana.

  • DALEM BEKUNG
Setelah wafatnya Dalem Watur Enggong, maka menurut tradisi yang berlaku, baginda digantikan oleh putra sulungnya yaitu I Dewa Pemayun, yang selanjutnya disebut Dalem Bekung. Karena umurnya belum dewasa, maka pemerintahannya dibantu oleh para paman dan Patih Agung. Para paman yang membantu adalah : I Dewa Gedong Artha, I Dewa Nusa, I Dewa Pagedangan, I Dewa Anggungan dan I Dewa Bangli. Kelima orang itu adalah putra I Dewa Tegal Besung saudara sepupu Dalem Waturenggong.

  • DALEM SAGENING
Dalem Sagening dinobatkan menjadi raja pada tahun 1580 M. Menggantikan Dalem Bekung dalam suasana yang amat menyedihkan, dan Dalem Sagening seorang raja yang amat bijaksana, cerdas, berani, berwibawa maka dalam waktu yang singkat keamanan kerajaan Gelgel pulih kembali. Sebagai Patih Agung adalah Kryan Agung Widia putra pangeran Manginte, sedangkan adiknya Kryan Di Ler Prenawa diberikan kedudukan Demung.

Dalem Sagening menetapkan putra-putra baginda di daerah-daerah tertentu, dengan jabatan sebagai anglurah antara lain :
  • I Dewa Anom Pemahyun, ditempatkan di desa Sidemen (Singarsa) dengan jabatan Anglurah pada tahun 1541 M, dengan patih I Gusti Ngurah Sidemen Dimade dengan batas wilayah di sebelah timur sungai Unda sampai sungai Gangga, dan batas wilayah di sebelah utara sampai dengan Ponjok Batu.
  • I Dewa Manggis Kuning,( I Dewa Anom Manggis) beribu seorang ksatria dari Manggis, atas permohonan I Gusti Tegeh Kori dijadikan penguasa di daerah Badung. Namun karena sesuatu peristiwa beliau terpaksa meninggalkan daerah Badung, pindah ke daerah Gianyar.
  • Kyai Barak Panji, beribu dari Ni Pasek Panji, atas perintah Dalem di tempatkan di Den Bukit sebagai penguasa di daerah itu, dibantu oleh keturunan Kyai Ularan. Dia sebagai pendiri kerajaan Buleleng yang kemudian bernama I Gusti Panji Sakti.
  • Dalem Anom Pemahyun. Setelah Dalem Sagening wafat pada tahun 1665, maka I Dewa Anom Pemahyun dinobatkan menjadi Raja dengan gelar Dalem Anom Pemahyun. Dalam menata pemerintahan Dalem belajar dari sejarah dan pengalaman. Karena itu secara progresif dia mengadakan pergantian para pejabat yang kurang diyakini ketulusan pengabdiannya.
  • Dalem Dimade. Setelah Dalem Anom Pemahyun meninggalkan istana Gelgel, maka I Dewa Dimade dinobatkan menjadi susuhunan kerajaan Bali dengan gelar Dalem Dimade 1665-1686, seorang raja yang sabar, bijaksana dalam mengemban tugas, cakap memikat hati rakyat. Patih Agung adalah Kyai Agung Dimade (Kryan Agung Maruti) berkemauan keras dan bercita-cita tinggi. Kyai Agung Dimade adalah anak angkat I Gusti Agung Kedung. Sebagai demung diangkat Kryan Kaler Pacekan dan Tumenggung adalah Kryan Bebelod.

  • KRYAN AGUNG MARUTI
Kebesaran kerajaan Gelgel yang pernah dicapai kini hanya tinggal kenang-kenangan di dalam sejarah. Setelah Dalem Dimade meninggalkan istana Gelgel tahun 1686 M maka kekuasaan di pegang oleh Kryan Agung Maruti sebagai raja Gelgel. Namun Bali tidak lagi merupakan kesatuan di bawah kekuasaan Gelgel, malainkan Bali mengalami perpecahan di antara para pemimpin, kemudian mucul kerajaan-kerajaan kecil yang berdaulat, sehingga daerah kekuasaan Kryan Maruti tidak seluas daerah kekuasaan kerajaan Gelgel yang dahulu.

Senin, 02 Mei 2011

SEJARAH DESA LEGIAN

SEJARAH KIYAI LANANG MUNANG/
KIYAI LANANG LEGIAN


Ki bendesa Wayahan Mas di Dsa Kerobokan mempunyai seorang putra yang bernama Ki Bendesa Mas meninggalkan desa Kerobokan untuk mencari tempat tinggal yang baru kearah selatan karena ingin hidup mandiri terpisah dari orang tuanya. Kepergiannya diikuti oleh 40 orang pengiringnya , ditengah perjalanan mereka banyak menemukan pohon cerme sehingga memutuskan untuk beristirahat sambil makan siang. Setelah itu mereka memetik buah cerme yang karena rasanya asm manis maka daerah itu kemudian dinamakn Karang Manisan. Ditempat itulah beliau kemudian mendirikan perumahan yang baru dengan terlebih dahulu merambah hutan yang banyak ditumbuhi oleh pohon bandil berduri.

Setelah perambasan selesai maka terlebih dahulu ditempat tersebut dibangun Pura Desa dan didekat didekat tempat tersebut kemudian dibangun perumahan untuk Ki Bendesa Mas. Dibawah kepemimpinan Ki Bendesa Mas wilayah tersebut menjadi aman sentosa dan makmur, namun keamanan tersebut menjadi terganggu dengan memburuknya hubungan kerajaan Badung dengan Kerajaan Mengwi.

Sering terjadi pelanggaran batas wilayah oleh warga Mengwi ke wilayah Badung karena adanya Pura Ulun Suwi di desa Jimbaran yang merupakan Pura Leluhiur dariKerajaan Mengwi pada jaman pemerintahan Kyai Agung Maruti pada saat beiau melarikan diri dari Kerajaan Gelgel ke Desa Jimbaran. Melhat perkembangan situasi tersebut maka timbul niat Ki Bendesa Mas untuk menghadap ke Puri Agung Pemecutan utnuk bertemu dengan Ida Bhatara Sakti Raja Pemecutan III.

Singkat cerita beliau sudah berada dhadapan Ida Bhatara Sakti untuk melaporkan keamanan di wilayah Legian dan mohon salah satu Putra Ida Bhatara Sakti agar di tempatkan di wilayah itu untuk menjamin keamanan dan menjadi Kwangen (Penguasa) di wilayah tersebut. Ida Bhatara Sakti menerima permohonan Ki Bendesa Mas dan memerintahkan salah satu Putranya yang bernama Kiyai Lanang Munang untuk membuat perumahan di tempat tersebut.

Kepergian Kiyai Lang Munang diiringi leh Ki Gde Bandem warga Dalem Tarukan, Warga Pasek Gelgel dari Alangkajeng dan Warga Pasek Gelgel dari Desa Pedungan. Kiyai Lanang Munang membangun perumahan disebelah timur jalan menghadap ke barat dan diberi nama Jero Legian dan Kiyai Lanang Munang mengganti namanya menjadi Kiyai Lanang Legian.

Legian asal kata dari Legi yang artinya Manis, maka sejak saat itu karang kemanisan berubah menjadi Desa Legian. Semenjak Kiyai Lanang Legian bersama para pengawalnya berada di Desa Legian maka keamanan bertambah mantap sehingga karena sudah dirasa aman maka Ki Gde Bandem memutuskan untuk pulang kembali ke ke Pemedilan Pemecutan.

Disebelah Timur Desa legian terdapat suatu daerah yang sekarang bernama Margaya yang merupakan asal kata dari Marga dan Aya yang artinya jalan yang berbahaya karena selain ditumbuhi pohon bandil yang sukar dilalui manusia juga tempat tersebut adalah merupakan perbatasan antara Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Badung.

Desa Legian merupakan dataran yang rendah sehingga pada waktu musim hujan sering terjadi banjir sehingga Lanang Legian selalu berhalangan hadir di Puri Pemecutan pada saat Pujawali di Pri Agung Pemecutan. Oleh karena itu beliau kemudian membangun tempat pemujaan sendiri bernama Pura Agung untuk memuja leluhurnya yang ada di Pemerajan Agung Puri Pemecutan.

Kiyai Lanang Legian memunyai seorang putri yang cantik jelita bernama I Gusti Istri Legian telah dipinang oleh I Dewa Agung Jambe dari Puri Klungkung. Beliau walaupun sedah berkelaurga belum juga mempunyai keturunan untuk melanjutkan pemerintahan di Kerajaan Klungkung. Peminangan tersebut telah diterima dengan baik dan upacara perkawinan akan dilaksanakan 3 pekan lagi.

Istri I Dewa Agung Jambe yang bernama Anak Agung Istri Plung sebenarnya tidak rela suaminya mengambil istri dari Badung karena berdasarkan pengalaman orang dari badung sulit dikalahkan oleh siapapun dan selalu mendapat tempat paling atas. Oleh karena itu Anak Agung Istri Plung berusaha sekuat tenaga untuk membatalkan perkawinan tersebut.

Diceritakan iringan pengantin putri dari Badung dengan diiringi oleh pengiringnya telah sampai ke pertigaan Bangli sedangkan Kiyai Lanang Legian karena ada keperluan yang mendesak tidak ikut dalam iringan tersebut. Iringan tersebut diminta berhenti di pertigaan tersebut karena sebentar lagi rombongan dari Puri Kelungkung akan datang menjemput.

Tidak beberapa lama datanglah rombongan dari Puri Klungkung menjemput mempelai wanita. Ikut serta pula Anak Agung Istri Plung istri tua I Dewa Agung Jambe. Suasana pada saat itu tidak ada yang mencurigakan karena berjalan dengan aman dan penuh kekeluargaan. Tiga tiba suasana yang tenang tersebut mendadak dikejutkan oleh penyerangan yang dilakukan oleh orang bersenjata lengkap dengan keris terhunus dan menyerang secara membabi buta kearah iringan mempelai Wanita.

Rombongan dari Badung menjadi kalang kabut dan tidak menduga akan adanya serangan tersebut dan berusaha mempertahankan diri dengan senjata yang ada. Karena kalah banyak rombongan dari Badung terdesak dan I Gusti Istri Legian Tewas tertusuk oleh penyerang tersebut sedangkan pengiringnya yang lain berusaha menyelamatkan diri lari berpencar ada yang ke Tabanan dan ada yang Ke Bali.

Pengiringnya tidak berani pulang kembali jero Desa Legian karena takut dihukum akibat lari dari peperangan. Yang lari ke Tabanan membuat perumahan di daerah tersebut diberi nama Desa Siyut yang artinya gelisah karena takut lari dari peperangan dan yang lari ke Bangli membuat perumahan di Desa Tiyingan.

Entah sudah berapa dasawarsa lamanya kejadian tersebut para keturunannya berusaha mencari tahu dari mana sebenarnya asal mereka dan dimana Letak Pura Agung tersebut. Akhirnya didapat informasi bahwa Pura Agung tersebut berada di Legian maka datanglah tiap tiap pujawali di Pura Agung warga dari Desa Siyut Tabanan Ngaturang sembah.

Minggu, 01 Mei 2011

SEJARAH KIYAI LANANG UNGASAN



Diceritakan Ida Bhatara Sakti Raja Pemecutan III pergi berburu kehutan disebelah selatan Desa Jimbaran. Setelah seharian berburu belum juga menemukan bintang buruannya yang ada hanya sekumpulan burung yang berkicau di atas dahan pohon.

Karena sudah letih akhirnya beliau memutuskan beristirahat sejenak dibawah pohon yang rindang, tidak jauh dari tempat beliau beristirahat, tersebutlah seorang gadis yang sedang mengembalakan kerbaunya. Ternyata dari pandangan pertama tersebut Ida Bhatara Sakti jatuh hati kepada pengembala kerbau tersebut. Ida Bhatara Sakti kemudian menghampiri gadis pengembala tersebut dan menanyakan dari mana asalnya dan dimana rumahnya.

Gadis pengembala sapi sangat terkejut dengan keberadaan seorang raja di tempat sehari harinya mengembala kerbau, karena hari telah senja maka gadis tersebut menawarkan Ida Bhatara Sakti untuk mampir kerumahnya. Lama beliau tinggal di rumah gadis tersebut sehingga terjalinlah kisah asmara diantara keduanya.

Setelah beberapa hari kemudian pulanglah Ida Bhatara Sakti ke Puri Pemecutan, namun sepeninggal Ida Bhatara Sakti gadis pengembala tersebut menjadi hamil dan setelah beberapa bulan melahirkan seorang putra yang diberi nama Kiyai Lanang Ungasan. Setelah meningkat dewasa Kiyai Lanang Ungasan bertanya kepada ibunya siapa sebenarnya ayahnya, karena sekian lama belum pernah melihatnya. Sebenarnya dari sejak lama ibunya merahasiakan, karena Kiyai Lanang Ungasan terus mendesak sekedar maka ibunya membuka rahasia yang telah terpendam lama.

Kiyai Lanang Ungasan tertegun mendengar penjelasan ibunya yang mengatakan bahwa ayahnya adalah seoarang raja agung di Puri Pemecutan. Karena tekadnya sudah bulat untuk menemui ayah kandungnya di Pri Agung Pemecutan maka secara diam-diam Kiyai Lanang Ungasan meninggalkan ibunya pergi sendirian mencari ayahnya, tanpa mengetahui dimana letak Puri Agung Pemecutan.

Beliau terus saja berjalan kearah utara sehingga sampailah beliau di dukuh Titi Gantung Marga di daerah Tabanan. Matahari sudah menampakkan diri hampir tenggelam, Karena dari pagi terus berjalan maka haus dan lapar sudah terasa. Dipedukuhan itu ia bertemu dengan Jero Dukuh. Kiyai lanang Ungasan mohon kemurahan hati Jero Dukuh memperbolehkannya untuk menumpang semalam dipondoknya.

Jero Dukuh menerima dengan senang hati lalu Kiyai Lanang Ungasan diantar kepondoknya, dan diberikan suguhan sekedarnya. Kiyai Lanang Ungasan menceritakan awal mulanya sehingga sampai dipedukuhan ini. Jero Dukuh sangat iba hatinya mendengar cerita Lanang Ungasan. Jero dukuh mengatakan sebaiknya Lanang Ungasan jangan sekarang pergi ke Puri Pemecutan karena sangat berbahaya. Sebaiknya untuk sementara tinggalah dipedukuhan ini. Disinilah ananda berdiam semoga cita-cita ananda tercapai dikemudian hari.

Kiyai lanang Ungasan menerima saran dari Jero Dukuh tersebut utnuk tinggal di Dukuh Titi Gantung di Marga. Kiyai Lanang Ungasan sangat rajin membantu pekerjaan dukuh, selain dari itu beliau juga membantu membuat tuak (minuman bali) dan membantu memasarkan tuak tersebut sampai ke desa Perean. Rasa tuaknya sangat terkenal diseluruh Perean sehingga sampai ke Jero Perean .

Yang berkuasa di daerah Perean adalah oleh Kiyai Ngurah Ayunan yang sangat gemar minum tuak maka dipanggillah Kiyai Lanag Ungasan ke Jero Perean. Kiyai Ngurah Ayunan adalah keturunan Arya Sentong di Carang Sari mempunyai saudara Kiyai Ngurah Tamu bertempat di Pacung. Kiyai Ngurah Tamu tidak mempunyai keturunan sehingga setelah beliau meninggal maka kekayaanya diambil oleh Kiyai Ngurah Ayunan.

Kiyai Lanang Ungasan disamping pintar memasarkan dagangannya juga sopan santun tingkah lakunya sehingga menarik hati Kiyai Ngurah Ayunan Maka Kiyai Lanang Ungasan sehingga ditawrkan pekerjaan untuk mengabdi di Jero Perean sebagai tukang kurung ayam. Kiyai lanang Ungasan menerima dengan baik permintaan Kiyai Ngurah Ayunan.

Maka sejak itu Kiyai Lanang Ungasan mengabdi di Jero Perean dan Kiyi Ngurah Ayunan sangat puas dengan hasil kerja Kiyai Lanang Ungasan sebab hampir semua ayam jago yang dipelihara Kiyai Lanang Ungasan selalu menang sehingga lama kelamaan bertambahlah kekayaan Kiyai Ngurah Ayunan. Atas jasanya maka kiyai Lanang Ungasan diberikan beberapa petak tanah dan disana Kyai Lanang Ungasan membangun perumahan.

Kiyao Ngurah Ayunan Kiyaio Ngurah Pacung Sakti mempunyai istri bernama Ni Luh Gusti Pacekan dan mempunyai seorang putra yang bernama Kiyai Ngurah Batan Duren/ I Gusti Alit Pacung. Kiyai Ngurah Ayunan mempunyai hubungan gelap dengan pembatunya yang bernama Ni Luh Jepun sehingga lama kelamaan hubungan gelap tersebut diketahui oleh istrinya sehingga menimbulkan keributan di dalam Jero Perean.

Akibat hubungan gelap tersebut Ni Luh Jepun hamil 3 bulan yang membuatnya diusir dari Jero perean. Ni Luh Jepun dipukul oleh Ni Luh Gusti Pacekan sehingga babak belur sehingga memutuskan lari dari Jero Perean namun terus dikejar oleh Ni Luh Gusti Pacekan. Kebetulan pada saat itu Kiyai Ngurah Ayunan dan Kiyai Lanang Ungasan sedang berada di depan Jero sedang berbindang bincang, Seperti diketahui Lanang Ungasan adalah sahabat baik dari Kiyai Ngurah Ayunan sehingga beliau sangat perhatian kepada sahabatnya.

Kiyai Lanang Ungasan walaupun sudah berumur belum juga mempunyai pendamping hidup sehingga menawarkan untuk membantu mencarikan pasangan hidup asalkan masih dilingkungan wilayah Perean. Sedang asiknya beliau berdua berbincang bincang datanglah Ni Luh Jepun sambil berlari lari minta tolong karena dipukul oleh Ni Luh Gusti Pacekan. Ni Luh Jepun lari dan menjatuhkan diri dalam pelukan Kiyai Ngurah Ayunan.

Melihat hal tersbut Kiyai Lanang Ungasan menjadi iba hatinya dan menyatakan bersedia memperistri Ni Luh Jepun untuk menutupi aib tersebut. Kiyai Ngurah Ayunan tidak bisa berbuat apa dan merelakan Ni Luh Jepun diperistri oleh sahabatnya Kiyai Lanang Ungasan, Namun sebelumnya Kiyai Ngurah Ayunan berpesan agar Ni Luh Jepun jangan digauli sebelum anak yang ada dikandungan tersebut lahir.

Demikianlah Ni Luh Jepun kemudian dibawa pulang oleh Kiyai Lanang Ungasan dan dibuatkan upacara perkawinan sebagai layaknya suami istri pada saat itu. Setelah beberapa bulan lahirlah anak dalam kandungan Ni Luh Jepun tersebut seorang putra yang kemudian diberi nama Kiyai Dariya Diceritakan Kiyai Ngurah Ayunan sedang berburu ditengah hutan Marga , dari pagi hingga sore belum menemukan seekor binatang ,akhirnya beliau tersesat didalam hutan kehilangan arah tujuan.tidak disangka beliau tembus di pedukuhan Titi Gantung di Marga.

Persis di halaman pondok ki Dukuh Titi Gantung , kebetulan sore itu di halaman pondoknya , masih kelihatan dihias dengan daun kelapa muda ,karena Ki Dukuh pada pagi kemarin membuat upakara potong gigi. karena Kiayi Ngurah Ayunan sudah terlalu payah , lapar dan kehausan ,terpaksa beliau singgah di podok Ki Dukuh

Kedatangan Kiyai Ngurah Ayunan disambut dengan homat oleh keluarga Ki Dukuh. Persiapanuntuk santapan dibuatkan seperlunya ,seluruh keluarga amat sibuk ,ada yang menangkap ayam ,ada juga yg menangkap babi ,semuanya serba sukla . Tidak beberapa lama hidangan pun telah siap dan seluruh tamunya dipersilahkan menyantap hidangan ala kadarnya .

Sesudah selesai bersantap datang lagi suguhan tuak ,tiada hayal lagi semuanya minum sepuas –puasnya . Setelah selesai bersantap Kiyai Ngurah Ayunan minta pamit pulang kepada Ki Dukuh dan rombongan pun kembali ke Jero Perean. Kedatangan Kiyai Ngurah Perean disambut oleh istrinya Ni Luh Gusti Pacekan dan diajak makan karena telah dipersiapkan sejak tadi, namun Kiyai Ngurah Perean tidak mau makan lagi karena baru habis makan di pedukuhan Titi Gantung.

Mendengar apa yang dikatakan suaminya Ni Luh Gusti Pacekan teringat bahwa kemarin di rumah Ki Dukuh baru melaksanakn upacara potong gigi. Ia pun berteriak marah dan mengatakan Kiyai Ngurah Ayunan telah makan paridan (sisa) dari Ki Dukuh selanjutnya dikatakan bahwa tidak patut Ki Dukuh mempersebahkan makan sisa kepada Gustinya.

Mendengar tuduhan istrinya tanpa menyelidiki kebenarannya Kiyai Ayunan mengambil keputusan bahwa Ki Dukuh harus dihukum karena perbuatannya tersebut. Laskar Peran kemudian dipanggil dan dikumpulkan untuk memberikan hukum kepada Ki Dukuh. Di Kediaman Kidukuh dengan Pedatangan laskar Perean yang bersenjata lengkap membuat Ki Dukuh menjadi sangat terkejut dan menanyakan apa maksud kedatangannya ditempat ini ataukah ada orang jahat yang melarikan diri ketempat ini. Pemipin pasukan mengatakan bahwa ia diutus kesini oleh Kyai Ngurah Agunan untuk menghukum Ki Dukuh beserta kelurganya karena telah berani berbuat kurang ajar dengan mempersebahkan makanan sisa kepada Gustinya.

Belum sempat Ki Dukuh membela diri tiba tiba sebilah pedang sudah mengenai tubuhnya sehingga Ki Dukuh terjerembab ketanah tak sadarkan diri. Pemimpia pasukan Perean mengira bahwa Ki Dukuh sudah meninggal sehingga memerintahkan pasukannya untuk kembali Ke Jero Perean.

Diceritakan Kiyai Lanang Ungasan seperti terpanggil hatinya untuk datang ke Pedukuhan Titi Gantung, perasaannya menduga seperti ada sesuatu yang tidak baik menimpa keluarga Ki Dukuh. Benar saja sesampainya beliau dipedukuhan dilihatlah keadaan pedukuhan porak peranda dan Ki Dukuh terlentang ditanah sambil kesakitan.

Kiyai Lanang Ungasan kemudian memeluk Ki Dukuh yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri dan menanyakan apakah gerangan yang terjadi di tempat ini. Ki Dukuh kemudian menjelaskan bahwa ini semua adalah perbuatan Laskar Perean atas perintah Kyai Ngurah Ayunan yang menuduhnya memberikan makanan sisa pada saat beliau mampir di Pedukuhan Titi Gantung.

Sebelum Ki Dukuh menghembuskan napasnya yang terakhir beliau masih sempat menitipkan sebuah keris yang tersimpan di gedong sanggah kawitan untuk dipakai oleh Kiyai Lanang Ungasan melawan ketidakadilan ini.

Diceritakan Kiyai Dariya putra angkat dari Kiyai Lanang Ungasan telah menginjak dewasa dan sering diajak ke Jero Perean oleh ayahnya untuk memelihara ayam jago di Puri Perean. Kiyai Dariya sangat mirip rupanya dengan ayahnya yaitu Kiyai Ngurah Ayunan serta mempunyai tingkah laku yang santun sehingga banyak warga yang merasa segan dan menaruh hormat kepadanya.

Ni Lih Gusti Pacekan melihat hal tersebut hatinya menjadi gelisah takut nantinya Kiyai Daria akan merebut kekuasaan di Jero Preran sehingga dicarilah jalan untuk melenyapkan Kiyai Dariya. Ni Luh Gusti Pacekan kemudian merundingkan hal tersebut dengan Putranya yaitu Kyai Ngurah Batan Duren untuk melaksanakan rencana tersebut.

Pada hari yang telah ditentukanberangkatlah Kyai Ngurah Batan Duren ke Rumah Kiyai Daria. Kebeyulan Kyai Dariya baru saja masuk kekamarnya untuk beristirahat. Ni Gusti Pacekan dengan putranya telah tiba didepan kamar Kyai Dariya dan menantangnya untuk segera keluar dan setelah Kiyai Dariya Keluar secara tiba tiba Kyai Ngurah Batan Duren telah melancarkan serangan dengan menusuk keris ke dada Kyai Daria.

Namun secepat Kilat Kyai Daria dapat menghindar dari serbuan tersebut dan perkelahian tersebut kemudian berlangsung dengan sengitnya tidak ada yang keluar sebagau pemenang. Tiba tiba datanglah Kyai Ngurah Ayunan meleraikan perkelahian tersebut dan menjelaskan tentang riwayat Kyai Dariya yang sebenarnya merupakan saudara tiri dari Kiyai Ngurah Duren.

Kedua satria tersebut dapat mengerti apa yang telah disampaikan oleh ayahnya namun didalam hatinya masing masing masing menaruh dendam satu sama lainnya. Setelah Kiyai Ngurah Batan Duren dan Ibunya Ni Luh Gusti Pacekan pulang ke Jero Perean, Kiyai Dariya kemudian pergi ke Pedukuhan Titi Gantung untuk mengambil keris sakti peninggalan Ki Dukuh.

Keesokan harinya Kiyai Dariya sibuk menyusun kekuatan laskarnya yang terdiri dari rakyat yang masih setia kepadanya dan rakyat yang tidak puas akan pemerintahan Kiyai Ngurah Ayunan yang banyak dipengaruhi oleh Istrinya. Diceritakan Laskar Kiyai Dariya telah menuju Jero perean yang disambut dengan kentongan bertalu talu di Jero Peran yang menandakan bahwa ada musuh yang menyerang Jero Perean.

Kedua pasukan kemudian saling berhadapan sehingga pertempuran tidak bisa dihindari sehingga menimbulkan korban yang cukup banyak dikedua belah ihak. Laskar Perean berhasil didesak mundur oleh laskat Kiyai Dariya sampai ke sebalah timur sungai Penek dan pengejaran terus dilakukan oleh Laskat Kiyai Dariya, Melihat hal tersbut Kyai Ngurah Ayunan terpaksa turu tangan dan minta kepada Kiyai Dariya agar jangan terus mengejar laskar Kiyai Ngurah Bantan Duren.

Karena permintaan ayahnya tersebut maka Kiyai Ngurah Dariya menghentikan pengejaran dan Jero Perean diduduki oleh Kyai Dariya dan diangkat sebagai penguasa baru di wilayah Perean dengan sebutan Kyai Nguah Pacung Sakti dan Orang tuanya Kiyai Lanang Ungasan diangkat sebagai penasehatnya.

Setelah peperangan tersebut usai maka di tempat pengungsiannya Kiyai Ngurah Batan Duren kemudian mendirikan Jero Baru yang dinamakan Jero Payangan. Setelah beberapa lama menjadi penguasa di wilayah Perean maka tidak beberapa lama Kiyai Dria mempersuting seorang gadis dan mempunyai 3 prang Putra yaitu :

  1. I Gusti Putu Balangan
  2. I Ngusti Nengah Balangan
  3. I Guti Made Celuk
I Gusti Putu Belangan membangun jero di Marga yanng berari jalan yang baru menuju pemerintahan yang mengayomi rakyatnya. Lama kelamaan Jero Marga menjadi pusat pemerintahan. I Gusti Putu Belangan kemudian menjalin kerjasama dengan I Gusti Ngurah Tabanan selaku penguasa di Tabanan, dan ketika I Gusti Agung Putu ditawan Tabanan maka I Gusti Putu Belangan memintanya untuk diserahkan ke Jero Marga sehingga I Gusti Agung Putu kemudian membangun jero Baru di Belayu. Setelah Igusti Putu berhasil memperluas daerh kekasannya maka I Gusti Agung Putu kemudian memutuskan untuk pindah dari Jero belayu untuk selanjutnya mendirikan Puri Mengwi.

Jero Belayu yang sudah ditinggalkan kemudian diberikan kepada I Gusti Made Celuk sehingga menurukan keturunan menak (bangsawan) di daerah Belayu. I Gusti Nengah Balangan masih tetap tinggal di Jero Perean dan menurukan keturunan Menak (bangsawan) di Perean hingga sekarang.

Diceritakan Kiyai Ngurah Batan Duren di Jero Payangan diserang oleh laskar I Dewa Pemayun dari Jero Tampaksiring sehingga laskar Payangan mengundurkan diri hingga sampai kedarah Carang sari disana Kiyai Ngurah Batan Duren kemudian membangun Jero yang dinamakan Jero Carangsari dan menurunkan keluarga Menak (bangsawan) didaerah tersebut diantaranya Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang terkenal sebagai Pahlawan Nasional ang melaksanakan puputan di derah Margarana.

Demikianlah sejarah Lanang Ungasan sebagai putra Ida Bhatara Sakti yang bertempat di Jero Perean Tabanan.