Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 22 Mei 2011

KERAJAAN KLUNGKUNG



RAJA - RAJA KLUNGKUNG

  1. Dewa Agung Jambe I (1686-c. 1722)
  2. Dewa Agung Gede (c. 1722-1736)
  3. Dewa Gede Agung (c. 1722-1736)
  4. Dewa Agung Made (1736-c. 1760)
  5. Dewa Agung Åšakti (c. 1760-1790
  6. Dewa Agung Putra I Kusamba (c. 1790-1809)
  7. Gusti Ayu Karang (regent 1809-1814
  8. Dewa Agung Putra II (1814–1850
  9. Dewa Agung Putra III Bhatara Dalem (1851–1903)
  10. Dewa Agung Jambe II (1903–1908
  11. Dewa Agung Oka Geg (1929–1950

PATUNG JOKO DOLOG

PERWUJUDAN RAJA KERTANEGARA


Menurut legenda patung ini dibuat pada tahun 1211 Caka atau tahun 1289 Masehi di pemakaman Wurarare (Lemahtulis) kediaman Mpu Bharadah atau desa Kedungwulan dekat Nganjuk Jawa Timur. Patung tersebut dibuat untuk menghormati Kertanegara Putra Wisnu Wardhana sebagai raja Singosari pada masa itu. Beliau terkenal karena kebijaksanaannya, pengetahuannya yang luas dalam bidang hukum dan ketaatannya pada agama Budha serta cita-citanya yang ingin
mempersatukan wilayah Nusantara.

Legenda lain meny
ebutkan bahwa Kertanegara membangun patung untuk menghilangkan kutukan Mpu Bharadah yang dapat menggagalkan usahanya mempersatukan kerajaan - kerajaan yang terpisah - pisah pada saat itu. Menurut keterangan Bupati Surabaya (Regent), patung Joko Dolog berasal dari kandang gajah.

Pada tahun 1827 pemerintah Hindia Belanda yang waktu itu dibawah Residen De Salls memindahkan patung tersebut ke Surabaya dan ditempatkan di Taman Apsari, seringkali dikunjungi orang untuk memberi penghormatan dan mengekspresikan harapan mereka. Berlokasi di jalan Taman Apsari - Surabaya Pusat, bebas dikunjungi dan memiliki areal parkir yang memadai untuk segala kendaraan.

Kertanagara adalah seorang pengikut setia agama Buda Tantra dan dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Buddha) yang bergelar Jnanasiwabajra, yaitu sebagai Aksobhya dimana Joko Dolok itu adalah arca perwujudannya sendiri. Raut mukanya teduh dan tangannya membentuk sikap bhumisparsamudra atau telapak tangan kiri tertutup dan seolah ingin menyentuh bumi. Sedangkan dalam Pararaton dan berbagai Prasasti, setelah wafat dinamakan Siwabuddha, dimana dalam kitab Nagarakrtagama dikatakan Siwabuddhaloka. Pada batur alas sandarannya terdapat serangkaian tulisan Jawa kuno yang disebut prasasti yang disebut Wurare. Prasasti berangka tahun 1211 C atau 1289 M itu memuat beberapa fakta sejarah di jaman kerajaan Singosari. Inti prasasti tersebut adalah :


  1. Dahulu kala tanah Jawa dibagi 2 oleh Arrya Bharrad dinamakan dengan Jenggala dan Pamjalu.
  2. Namun pada jaman raja Wisnuwardhana, kedua daerah terpecah itu berhasil disatukan kembali.
  3. Raja yang memerintahkan pembuatan prasasti ditasbihkan sebagai Cri Jnanjaciwabajra dan perwujudannya sebagai Jina Mahasobya.
  4. Prosesi pentasbihan tersebut di kburan Wurare. Dalam waktu singkat sang raja berhasil menyatukan daerah-daerah yang terpecah belah.
  5. Nada adalah nama pembuat prasasti tersebut.

Dari data-data tersebut terlihat jelas kaitannya dengan proses sejarah Jawa Timur jaman dulu. Raja kerajaan Kahuripan bernama Airlangga memutuskan membagi kerajaannya menjadi 2 bagian untuk kedua anaknya supaya tidak terjadi perang saudara. Bagian timur disebut Jenggala dan bagian barat disebut Pamjalu. Tugas tersebut dilakukan oleh Mpu Barada.

Oleh raja Wisnuwardhana dari kerajaan Singosari beberapa abad selanjutnya, kedua wilayah berseberangan tersebut berhasil disatukan kembali. Dia juga melakukan perkawinan politik dengan mengawinkan anaknya Turuk Bali dengan raja Kediri Jayakatwang untuk menghindari perebutan kekuasaan. Usaha perkawinan politik tersebut dilanjutkan oleh penerus raja Wisnuwardhana, Kertanegara, dengan mengawinkan anaknya dengan anak Jayakatwang yang bernama Ardharaja. Selain itu Kertanegara juga berusaha mengesahkan status ke-raja-annya dengan menyebut sebagai anak dari Cri Jayawisnuwarddhana dan Crijayawardhani. Dia juga mengkukuhkan diri sebagai Jina Mahasobhya dengan gelar Crijnanjaciwabajra. Tujuannya adalah untuk menunjukan kekuasan dan kebesaran dirinya.

Disamping itu gelar tersebut juga ternyata mempunyai latar belakang politik karena dia sedang bertikai dengan raja Mongol Kubilai Khan karena menghina utusannya tahun 1211 C / 1289 M. Raja Mongol tersebut dikukuhkan sebagai Jina Mahamitha. Dengan gelar Jina Mahasobhya, Kertanegara ingin disejajarkan dengan raja Mongol. Mahasobhya adalah dewa penguasa angina timur, sedangkan mahamitha adalah Jina penguasa angina barat. Dengan demikian Kertanegara mengkukuhkan diri sebagai penguasa wilayah timur.

Dengan data-data tersebut nampak bahwa arca Mahasobya ini merupakan peruwujudan Kertanegara sendiri. Dan prasasti Wurare merupakan bukti keberanian bangsa kita yang tidak ingin dijajah oleh bangsa lain manapun. Atau mungkin juga sudah semestinya letaknya di Surabaya yang penduduknya terkenal dengan keberanian dan sifat-sifat kepahlawanannya. Demikianlah penggalan kitab Negarakretagama, sebuah kakawin kaya informasi tentang kerajaan Majapahit dan Singosari, berkaitan dengan raja Singosari ke-2, Anusapati, beserta tempat pendharmaannya di candi Kidal.

Sabtu, 21 Mei 2011

CALONARANG

Calon Arang Calon Arang adalah seorang tokoh dalam cerita rakyat Jawa dan Bali dari abad ke-12. Tidak diketahui lagi siapa yang mengarang cerita ini. Salinan teks Latin yang sangat penting berada di Belanda, yaitu di Bijdragen Koninklijke Instituut.


Diceritakan bahwa ia adalah seorang janda pengguna ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit.

Situs Calonarang di Kediri

Naskah lontar yang berisi Ceritera Calon Arang itu ditulis dengan aksara Bali Kuna. Jumlahnya empat naskah, asing-masing bernomor Godex Oriental 4561, 4562, 5279 dan 5387 (lihat Catalogus Juynboll II. P. 300-301; Soewito Santoso 1975; 11-12).

Meskipun aksaranya Bali Kuna, tetapi bahasanya Kawi atau Jawa Kuna. Naskah yang termuda no. 4561, Beberapa bagian dari naskah 4562-5279 dan 5287 tidak lengkap sehingga dengan tiga naskah ini dapat saling melengkapi. Sebenarnya naskah no. 5279 dan 5287 merupakan satu naskah; naskah no. 5279 berisi ceritera bagian depan, sedangkan no. 5387 berisi ceritera bagian belakang. Naskah tertua no. 5279 berangka tahun 1462 Saka (1540 M). Semua naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal – Land – en Volkenkunde van Ned. Indies di Leiden, Belanda.

Naskah Calon Arang pernah diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka (lihat “De Calon Arang” dalam BKI 82. 1926: 110-180) dan pada 1975 diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Dr. Soewito santoso (lihat “Calon Arang Si Janda Dari Girah”, Balai Pustaka 1975). Uraian di bawah ini disarikan dari tulisan Dr. Soewito Santoso tersebut.


LATAR BELAKANG SEJARAH

Raja Airlangga (1006-1042 M) memerintah di Jawa Timur sejak 1021 sesuai dengan isi prasati Pucangan (Calcutta). Pusat kerajaan Airlangga berpindah-pindah karena diserang oleh musuh. Prasasti Terep (1032 M) menyebutkan raja Airlangga lari dari istananya di Watan Mas ke Patakan karena serangan musuh. Prasasti tidak menyebutkan bahwa keraton Airlangga ada di Daha atau Kediri, tetapi naskah Calon Arang ini menyebutkan keraton Airlangga ada di Daha (Kediri).


Dalam masa Airlangga agama Budha. Di antara sekte-sekte agama Budha ada Sekte Tantrayana yang ajarannya lewat jalan pintas agar umatnya segera mencapai moksa. Upacara yang dilakukan antara lain menari-nari di atas kuburan dengan iringan musik (instrumen kangsi dan kemanak) sambil minum darah dan makan daging mayat yang dilakukan pada malam hari bertelanjang badan. Ajaran ini kemudian juga dianut oleh raja Kertanegara (1268-1292 M) dari Singasari. Dengan cara demikian terjadilah pertemuan jiwa antara pelaku upacara dengan dewanya (lihat juga naskah Tantu Panggelaran disertasi dari Th. Pigeud 1924). Ajaran Tantra dimasudkan untuk kebaikan bukan kejahatan.

Ringkasan Ceritera Ceritera ini terdiri atas dua bagian:
  1. Tentang Calon Arang,
  2. Tentang pembagian wilayah kerajaan Airlangga kepada dua puteranya.

Di desa Girah tinggal seorang janda sakti bernama Calon Arang bersama dengan anak gadisnya yang sudah dewasa bernama Ratna Manggali. Karena orang takut kepada sang janda, maka tak ada laki-laki yang bernai melamar Ratna Manggali. Mengetahui hal ini, Calong Arang marah dan menenung rakyat sebagai hukuman. Caranya ia melakukan upacara yang mengerikan di atas kuburan sambil menyampaikan sesaji.

Dewi Bhagawati (mungkin identik dengan Dewi Durga) turun dan mengabulkan permohonan Calon Arang. Wabah penyakit menyebar, jika orang sakit pada pagi hari, sorenya mati. Korban terlalu banyak. Raja Airlangga mendapat laporan yang menyedihkan ini dan mencoba mencari jalan untuk memusnahkan penyakit dan penyebabnya. Mula-mula pasukan tentara dikirim ke Girah untuk membunuh Calon Arang tetapi tidak berhasil karena sang janda sangat sakti. Beberapa orang utusan raja itu terbunuh.

Calon Arang semakin marah dan semakin keras pula tenungnya ditebarkan sehingga korban rakyat semakin banyak. Raja terus berupaya sedangkan para pendeta dan resi di istana berdoa untuk mencari petunjuk. Turunlah petunjuk bahwa hanya Mpu Bharadah dari Desa Lemah Tulis yang dapat mengatasinya. Raja mengirim utusan kepada Mpu Bharadah untuk meminta tolong.

Sebuah batu berbentuk limas terpancung dalam posisi terbalik, teronggok di bawah sebuah pohon di salah satu sisi Petilasan Calon Arang. Di lokasi Petilasan Calon Arang ini terdapat empat buah batu seperti ini dengan ukuran yang hampir sama, dan diduga merupakan umpak (alas pilar) bangunan.


Permohonan diterima lalu Mpu Bharadah menyuruh putranya yang bernama Mpu Bahula untuk menghadap raja dengan maksud agar upaya mengawini Ratna Manggali dapat dibantu urusan mas kawinnya. Raja setuju dan Bahula pergi menghadap Calon Arang untuk melamar Ratna Manggali. Lamaran diterima lalu kawinlah Bahula dengan Ratna Manggali dan tinggallah Bahula di rumah mertuanya.

Dari Ratna Manggali itu Bahula tahu bahwa Calon Arang selalu membaca kitab dan tiap malam melakukan upacara di kuburan. Bahula pulang ke Lemah Tulis sambil membawa kitab dan menceriterakan kebiasaan Calon Arang kepada Mpu Bharadah. Bahula segera disuruh kembali ke Girah sebelum diketahui oleh mertuanya. Mpu Bharadah menyusul ke Girah. Dalam perjalanan ke Girah, Bharadah menyembuhkan orang-orang sakit dan menghidupkan orang mati yang mayatnya masih utuh, tetapi jika mayatnya rusak tidak dapat dihidupkan lagi.

Areal persawahan menuju
situs Calonarang

Di kuburan Desa Girah bertemulah Bharadah dengan Calon Arang. Bharadah memperingatkan Calon Arang agar menghentikan tenungnya karena terlalu banyak kesengsaraan yang diderita oleh rakyat. Calon Arang bersedia menuruti Bharadah asalkan ia diruwat oleh Bharadah untuk melebur dosa-dosanya. Bharadah tidak mau meruwatnya karena dosa Calon Arang terlalu besar. Terjadilah pertengkaran dan Calon Arang mencoba membunuh Bharadah dengan menyemburkan api yang keluar dari matanya.

Bharadah lebih sakti dan sebaliknya Calon Arang mati dalam keadaan berdiri. Kemudian Calon Arang dihidupkan lagi oleh Bharadah untuk diberi ajaran kebenaran agar bisa mencapai moksa. Calon Arang merasa bahagia karena sang pendeta mau mengajarkan jalan ke surga. Setelah selesai ajaran-ajaran itu disampaikan. Calon Arang dimatikan lagi lalu mayatnya dibakar. Dua murid Calon Arang bernama Woksirsa dan Mahisawadana dijadikan murid Bharadah.


Bharadah menyuruh Bahula untuk melaporkan pekerjaannya kepada raja di Istana. Raja dan isteri beserta pengiringnya menuju ke Girah untuk mengucapkan terima kasih kepada Mpu Bharadah, Raja kembali ke istana. Bharadah mencucikan Girah dan membangun punden untuk para Pendeta. Bharadah menyusul raja ke istana. Raja ingin menjadi murid sangat pendeta lalu diadakan upacara. Raja sudah mengeluarkan biaya upacara lalu diajarkan catur asrama, yaitu empat tataran kehidupan. Bharadah juga minta agar tradisi lama dihidupkan lagi, yaitu Dewasasana, Rajasasana, Rajaniti, Rajakapakapa, Munasasasana, Resisasana dan Adhigama.

Pembagian Kerajaan Airlangga Ceritera ini tidak relevan dengan Calon Arang, tetapi relevan dengan peranan Mpu Bharadah ketika Airlangga mendapat kesulitan untuk memberi kedudukan kepada dua puteranya tercinta. Intinya kerajaan Airlangga dipecah dua menjadi Kadiri dan Janggala; Kadiri untuk anak yang muda dan Janggala untuk anak yang tua. Peristiwa ini juga disebut dalam prasasti Aksobhya (1289 M), tetapi nama Kadiri disebut Pangjalu.

Naskah lontar Calon Arang yang berlatar belakang sejarah masa Airlangga ini penting untuk memperjelas gambaran mengenai tatacara kerajaan dan upacara-upacara keagamaan. Hal-hal demikian tidak disebutkan dalam prasasti, sedangkan pada naskah lain yang lebih muda gambarannya dikhawatirkan mengandung bias terlalu jauh.


SITUS CALONARANG


Di tengah-tengah sangat populernya dramatari Calon Arang, ternyata keberadaan situs Calon Arang yang terletak di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur belum tersentuh tangan pemerintah. Namun begitu lokasi yang diyakini sebagai bekas tempat tinggal janda yang namanya mendunia itu mendapat perhatian dari warga sekitar. Mereka merawat dan membersihkan lokasi situs yang terletak di tengah perkebunan tebu itu secara mandiri.

"Warga desa kami sangat menghormati tempat ini. Dari dulu sampai sekarang kami secara bergantian membersihkan batu-batu ini saat berangkat atau pulang dari sawah," kata Wage, salah seorang warga yang sedang membersihkan situs Calon Arang, Menurut dia, seharusnya tempat tersebut sudah waktunya mendapat perhatian dari pemerintah. Karena selain memiliki nilai sejarah, jika tidak diperhatikan bisa hilang dicuri orang.

"Meskipun secara ikhlas warga turut menjaga dan merawat tempat ini, tapi bisa saja ada orang yang tidak bertanggungjawab mencuri batu-batu ini. Apalagi lokasinya lumayan jauh dari pemukiman," katanya. Di situs itu terdapat dua buah batu yang merupakan ambang pintu dari bahan batu andesit. Ambang pintu pertama berukuran, panjang 135 cm, lebar 56 cm dan tebal 29 cm. Ambang pintu kedua berukuran: panjang 137 cm, lebar 38 cm dan tebal 23 cm. Keduanya dalam kondisi baik. Pada sisi atas di sebelah akan dan kiri terdapat dua lobang segi empat dan lingkaran. Kemungkinan ini dipakai tempat pilar penyangga semacam kusen pintu.

Selain ambang pintu terdapat 4 buah umpak dari bahan batu andesit yang rata-rata berukuran sekitar: panjang bawah 50 cm, panjang atas 45 cm, lebar bawah 50 cm, lebar atas 45 cm dan tinggi sekitar 50 cm. Keempat umpak batu berbentuk prisma itu diperkirakan merupakan pondasi penyangga empat sudut rumah. Juga terdapat dua buah balok batu dari bahan batu andesit dengan ukuran, batu pertama: panjang 62 cm, lebar 40 cm dan tebal 17 cm. Batu kedua: panjang 67 cm, lebar 47 cm dan tebal 18 cm
.

J Sutjahjo Gani, salah seorang
budayawan Kota Kediri menjelaskan, tempat tersebut pernah didatangi para ahli sejarah dan budayawan dari Pulau Dewata Bali. Kedatangan mereka untuk membuktikan apakah ada keterkaitan antara situs tersebut dengan dramatari kolosal Calon Arang yang selama ini diklaim sebagai hasil kesenian asli Bali itu. "Situs Calon Arang pernah didatangi tim dari Bali dari Yayasan Bapak Prof. DR. Wyn Mertha Suteja, SH, PhD. Rencananya di atas tanah di mana situs Calon Arang berada dini akan dibangun semacam bangunan," kata Soetjahjo Gani, yang bertahun-tahun menelusuri ikhwal Calon Arang.

Menurut Gani, dengan kedatangan tim dari Bali itu, menunjukkan bahwa kalangan budayawan Bali juga menyepakati bahwa tanah kampung halaman Calon Arang memang di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Bahwa kemudian peristiwa yang terjadi di Kediri ini menjadi inspirasi bagi para budayawan Bali menciptakan dramatari Calon Arang yang terkenal di seluruh penjuru dunia. "Harus diakui bahwa Calon Arang memang asli Kediri. Sudah waktunya sejarah diluruskan dan tempat ini segera dirawat dengan layak agar tidak musnah," kata Gani

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Naskah lontar yang berisi Ceritera Calon Arang itu ditulis dengan aksara Bali Kuna. Jumlahnya empat naskah, asing-masing bernomor Godex Oriental 4561, 4562, 5279 dan 5387 (lihat Catalogus Juynboll II. P. 300-301; Soewito Santoso 1975; 11-12). Meskipun aksaranya Bali Kuna, tetapi bahasanya Kawi atau Jawa Kuna. Naskah yang termuda no. 4561,

Beberapa bagian dari naskah 4562-5279 dan 5287 tidak lengkap sehingga dengan tiga naskah ini dapat saling melengkapi. Sebenarnya naskah no. 5279 dan 5287 merupakan satu naskah; naskah no. 5279 berisi ceritera bagian depan, sedangkan no. 5387 berisi ceritera bagian belakang. Naskah tertua no. 5279 berangka tahun 1462 Saka (1540 M). Semua naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal – Land – en Volkenkunde van Ned. Indies di Leiden, Belanda.

Naskah Calon Arang pernah diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka (lihat “De Calon Arang” dalam BKI 82. 1926: 110-180) dan pada 1975 diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Dr. Soewito santoso (lihat “Calon Arang Si Janda Dari Girah”, Balai Pustaka 1975). Uraian di bawah ini disarikan dari tulisan Dr. Soewito Santoso tersebut.

Latar Belakang Sejarah

Raja Airlangga (1006-1042 M) memerintah di Jawa Timur sejak 1021 sesuai dengan isi prasati Pucangan (Calcutta). Pusat kerajaan Airlangga berpindah-pindah karena diserang oleh musuh. Prasasti Terep (1032 M) menyebutkan raja Airlangga lari dari istananya di Watan Mas ke Patakan karena serangan musuh. Prasasti tidak menyebutkan bahwa keraton Airlangga ada di Daha atau Kediri, tetapi naskah Calon Arang ini menyebutkan keraton Airlangga ada di Daha (Kediri).

Dalam masa Airlangga agama Budha. Di antara sekte-sekte agama Budha ada Sekte Tantrayana yang ajarannya lewat jalan pintas agar umatnya segera mencapai moksa. Upacara yang dilakukan antara lain menari-nari di atas kuburan dengan iringan musik (instrumen kangsi dan kemanak) sambil minum darah dan makan daging mayat yang dilakukan pada malam hari bertelanjang badan. Ajaran ini kemudian juga dianut oleh raja Kertanegara (1268-1292 M) dari Singasari. Dengan cara demikian terjadilah pertemuan jiwa antara pelaku upacara dengan dewanya (lihat juga naskah Tantu Panggelaran disertasi dari Th. Pigeud 1924). Ajaran Tantra dimasudkan untuk kebaikan bukan kejahatan.

Ringkasan Ceritera

Ceritera ini terdiri atas dua badian: yang pertama tentang Calon Arang, yang kedua tentang pembagian wilayah kerajaan Airlangga kepada dua puteranya.

Di desa Girah tinggal seorang janda sakti bernama Calon Arang bersama dengan anak gadisnya yang sudah dewasa bernama Ratna Manggali. Karena orang takut kepada sang janda, maka tak ada laki-laki yang bernai melamar Ratna Manggali. Mengetahui hal ini, Calong Arang marah dan menenung rakyat sebagai hukuman. Caranya ia melakukan upacara yang mengerikan di atas kuburan sambil menyampaikan sesaji. Dewi Bhagawati (mungkin identik dengan Dewi Durga) turun dan mengabulkan permohonan Calon Arang. Wabah penyakit menyebar, jika orang sakit pada pagi hari, sorenya mati. Korban terlalu banyak. Raja Airlangga mendapat laporan yang menyedihkan ini dan mencoba mencari jalan untuk memusnahkan penyakit dan penyebabnya.

Mula-mula pasukan tentara dikirim ke Girah untuk membunuh Calon Arang tetapi tidak berhasil karena sang janda sangat sakti. Beberapa orang utusan raja itu terbunuh. Calon Arang semakin marah dan semakin keras pula tenungnya ditebarkan sehingga korban rakyat semakin banyak. Raja terus berupaya sedangkan para pendeta dan resi di istana berdoa untuk mencari petunjuk. Turunlah petunjuk bahwa hanya Mpu Bharadah dari Desa Lemah Tulis yang dapat mengatasinya. Raja mengirim utusan kepada Mpu Bharadah untuk meminta tolong. Permohonan diterima lalu Mpu Bharadah menyuruh muridnya bernama Bahula untuk menghadap raja dengan maksud agar upaya mengawini Ratna Manggali dapat dibantu urusan mas kawinnya.

Raja setuju dan Bahula pergi menghadap Calon Arang untuk melamar Ratna Manggali. Lamaran diterima lalu kawinlah Bahula dengan Ratna Manggali dan tinggallah Bahula di rumah mertuanya. Dari Ratna Manggali itu Bahula tahu bahwa Calon Arang selalu membaca kitab dan tiap malam melakukan upacara di kuburan. Bahula pulang ke Lemah Tulis sambil membawa kitab dan menceriterakan kebiasaan Calon Arang kepada Mpu Bharadah. Bahula segera disuruh kembali ke Girah sebelum diketahui oleh mertuanya. Mpu Bharadah menyusul ke Girah. Dalam perjalanan ke Girah, Bharadah menyembuhkan orang-orang sakit dan menghidupkan orang mati yang mayatnya masih utuh, tetapi jika mayatnya rusak tidak dapat dihidupkan lagi.

Di kuburan Desa Girah bertemulah Bharadah dengan Calon Arang. Bharadah memperingatkan Calon Arang agar menghentikan tenungnya karena terlalu banyak kesengsaraan yang diderita oleh rakyat. Calon Arang bersedia menuruti Bharadah asalkan ia diruwat oleh Bharadah untuk melebur dosa-dosanya. Bharadah tidak mau meruwatnya karena dosa Calon Arang terlalu besar. Terjadilah pertengkaran dan Calon Arang mencoba membunuh Bharadah dengan menyemburkan api yang keluar dari matanya. Bharadah lebih sakti dan sebaliknya Calon Arang mati dalam keadaan berdiri.

Kemudian Calon Arang dihidupkan lagi oleh Bharadah untuk diberi ajaran kebenaran agar bisa mencapai moksa. Calon Arang merasa bahagia karena sang pendeta mau mengajarkan jalan ke surga. Setelah selesai ajaran-ajaran itu disampaikan. Calon Arang dimatikan lagi lalu mayatnya dibakar. Dua murid Calon Arang bernama Woksirsa dan Mahisawadana dijadikan murid Bharadah.

Bharadah menyuruh Bahula untuk melaporkan pekerjaannya kepada raja di Istana. Raja dan isteri beserta pengiringnya menuju ke Girah untuk mengucapkan terima kasih kepada Mpu Bharadah, Raja kembali ke istana. Bharadah mencucikan Girah dan membangun punden untuk para Pendeta. Bharadah menyusul raja ke istana. Raja ingin menjadi murid sangat pendeta lalu diadakan upacara. Raja sudah mengeluarkan biaya upacara lalu diajarkan catur asrama, yaitu empat tataran kehidupan.. Bharadah juga minta agar tradisi lama dihidupkan lagi, yaitu Dewasasana, Rajasasana, Rajaniti, Rajakapakapa, Munasasasana, Resisasana dan Adhigama.

Pembagian Kerajaan Airlangga

Ceritera ini tidak relevan dengan Calon Arang, tetapi relevan dengan peranan Mpu Bharadah ketika Airlangga mendapat kesulitan untuk memberi kedudukan kepada dua puteranya tercinta. Intinya kerajaan Airlangga dipecah dua menjadi Kadiri dan Janggala; Kadiri untuk anak yang muda dan Janggala untuk anak yang tua. Peristiwa ini juga disebut dalam prasasti Aksobhya (1289 M), tetapi nama Kadiri disebut Pangjalu.

Naskah ontar Calon Arang yang berlatar belakang sejarah masa Airlangga ini penting untuk memperjelas gambaran mengenai tatacara kerajaan dan upacara-upacara keagamaan. Hal-hal demikian tidak disebutkan dalam prasasti, sedangkan pada naskah lain yang lebih muda gambarannya dikhawatirkan mengandung bias terlalu jauh.

Di tengah-tengah sangat populernya dramatari Calon Arang, ternyata keberadaan situs Calon Arang yang terletak di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur belum tersentuh tangan pemerintah. Namun begitu lokasi yang diyakini sebagai bekas tempat tinggal janda yang namanya mendunia itu mendapat perhatian dari warga sekitar. Mereka merawat dan membersihkan lokasi situs yang terletak di tengah perkebunan tebu itu secara mandiri.

"Warga desa kami sangat menghormati tempat ini. Dari dulu sampai sekarang kami secara bergantian membersihkan batu-batu ini saat berangkat atau pulang dari sawah," kata Wage, salah seorang warga yang sedang membersihkan situs Calon Arang, Minggu (23/3).

Menurut dia, seharusnya tempat tersebut sudah waktunya mendapat perhatian dari pemerintah. Karena selain memiliki nilai sejarah, jika tidak diperhatikan bisa hilang dicuri orang.

"Meskipun secara ikhlas warga turut menjaga dan merawat tempat ini, tapi bisa saja ada orang yang tidak bertanggungjawab mencuri batu-batu ini. Apalagi lokasinya lumayan jauh dari pemukiman," katanya.

Dari pantauan Tempo, di situs itu terdapat dua buah batu yang merupakan ambang pintu dari bahan batu andesit. Ambang pintu pertama berukuran, panjang 135 cm, lebar 56 cm dan tebal 29 cm. Ambang pintu kedua berukuran: panjang 137 cm, lebar 38 cm dan tebal 23 cm. Keduanya dalam kondisi baik. Pada sisi atas di sebelah akan dan kiri terdapat dua lobang segi empat dan lingkaran. Kemungkinan ini dipakai tempat pilar penyangga semacam kusen pintu.

Selain ambang pintu terdapat 4 buah umpak dari bahan batu andesit yang rata-rata berukuran sekitar: panjang bawah 50 cm, panjang atas 45 cm, lebar bawah 50 cm, lebar atas 45 cm dan tinggi sekitar 50 cm. Keempat umpak batu berbentuk prisma itu diperkirakan merupakan pondasi penyangga empat sudut rumah. Juga terdapat dua buah balok batu dari bahan batu andesit dengan ukuran, batu pertama: panjang 62 cm, lebar 40 cm dan tebal 17 cm. Batu kedua: panjang 67 cm, lebar 47 cm dan tebal 18 cm.

J Sutjahjo Gani, salah seorang budayawan Kota Kediri menjelaskan, tempat tersebut pernah didatangi para ahli sejarah dan budayawan dari Pulau Dewata Bali. Kedatangan mereka untuk membuktikan apakah ada keterkaitan antara situs tersebut dengan dramatari kolosal Calon Arang yang selama ini diklaim sebagai hasil kesenian asli Bali itu.

"Situs Calon Arang pernah didatangi tim dari Bali dari Yayasan Bapak Prof. DR. Wyn Mertha Suteja, SH, PhD. Rencananya di atas tanah di mana situs Calon Arang berada dini akan dibangun semacam bangunan," kata Soetjahjo Gani, yang bertahun-tahun menelusuri ikhwal Calon Arang.

Menurut Gani, dengan kedatangan tim dari Bali itu, menunjukkan bahwa kalangan budayawan Bali juga menyepakati bahwa tanah kampung halaman Calon Arang memang di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Bahwa kemudian peristiwa yang terjadi di Kediri ini menjadi inspirasi bagi para budayawan Bali menciptakan dramatari Calon Arang yang terkenal di seluruh penjuru dunia, itu soal lain.

"Harus diakui bahwa Calon Arang memang asli Kediri. Sudah waktunya sejarah diluruskan dan tempat ini segera dirawat dengan layak agar tidak musnah," kata Gani

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

MPU BHARADAH

PENASEHAT RAJA AIRLANGGA


Mpu Bharadah atau Arya Bharada adalah pendeta sakti agama Buddha yang menjadi guru Airlangga Nama Mpu Bharada muncul dalam Serat Calon Arang sebagai tokoh yang berhasil mengalahkan musuh Airlangga, yaitu Calon Arang, seorang janda sakti dari desa Girah.


SILSILAH KETURUNAN MPU BHARADA

tersebutlah di kawasan Jawa, ada pendeta maha sakti bernama Danghyang Bajrasatwa. Ada putranya Iaki-laki seorang bernama Danghyang Tanuhun atau Mpu Lampita, beliau memang pendeta Budha, memiliki kepandaian luar biasa serta bijaksana dan mahasakti seperti ayahnya Danghyang Bajrasatwa. Ida Danghyang Tanuhun berputra lima orang, dikenal dengan sebutan Panca Tirtha. Beliau Sang Panca Tirtha sangat terkenal keutamaan beliau semuanya.

  1. Mpu Gnijaya. Beliau membuat pasraman di Gunung Lempuyang Madya, Bali Timur, datang di Bali pada tahun Isaka 971 atau tahun Masehi 1049. Beliaulah yang menurunkan Sang Sapta Resi - tujuh pendeta yang kemudian menurunkan keluarga besar Pasek di Bali.

  2. Mpu Semeru, membangun pasraman di Besakih, turun ke Bali tahun Isaka 921, tahun Masehi 999. Beliau mengangkat putra yakni Mpu Kamareka atau Mpu Dryakah yang kemudian menurunkan keluarga Pasek Kayuselem.

  3. Mpu Ghana, membangun pasraman di Dasar Gelgel, Klungkung datang di Bali pada tahun Isaka 922 atau tahun Masehi 1000.

  4. Ida Empu Kuturan atau Mpu Rajakretha, datang di Bali tahun Isaka 923 atau tahun Masehi 1001, membangun pasraman di Silayukti, Teluk Padang atau Padangbai, Karangasem.

  5. Ida Mpu Bharadah atau Mpu Pradah, menjadi pendeta kerajaan Prabu Airlangga di Kediri, Daha, Jawa Timur, berdiam di Lemah Tulis, Pajarakan, sekitar tahun Masehi 1000.


PEMBAGIAN DUA KERAJAAN

Pada jaman Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Prabu Airlangga, yang memerintah tahun 1009-1042, dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa Pada jaman ini .kehidupan beragama dikembangkan, tri kerukunan hidup umat beragama yaitu kerukunan intern sesama agama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah Kerajaan, benar-benar terpelihara dengan baik, bahkan sesekali dilakukan acara pujian kepada Budha, Siwa dan Rsi serta Brahma bersama-sama.

Dimana pada jamannya untuk memelihara kehidupan beragama, beberapa bangunan keagamaan didirikan, tempat-tempat suci mendapatkan perhatian dari Kerajaan. Tokoh-tokoh agama Budha, Siwa dan Rsi ditempatkan pada kedudukan terhormat di istana (prasasti baru, 1030 M dan prasasti Pucangan, 1041 M).

Airlangga adalah tokoh kharismatik yang sempurna sebagai seorang maharaja, karena mengawali perjuangannya seorang diri, tanpa bantuan dan fasilitas dari siapapun hingga Medang terbangun kembali, bahkan lebih gemilang daripada masa sebelumnya. Oleh karena itu Airlangga dianggap sebagai pahlawan perang dan pelindung rakyatnya, Raja yang sangat memperhatikan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, yang memfasilitasi pendidikan dan kesusasteraan, serta memelihara tri kerukunan hidup umat beragama, adil bijaksana, yang selalu dapat menempatkan diri dimanapun dia berada, seorang Raja yang memang ditakdirkan menjadi seorang pemimpin karena bakat, yang disempurnakan oleh gemblengan perjalanan hidupnya.

Dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang (1035) disebutkan pada akhir masa pemerintahannya Airlangga berupaya meneruskan estafet kepemimpinannya, Putrinya sebagai Mahamantri Hino yang mempunyai kedudukan tertinggi setelah raja yang bernama Dewi Sanggramawijaya , dipersiapkan menjadi pengganti penguasa Kahuripan, namun dia menolak menjadi raja dan memilih menjalani hidup sebagai pertapa pada tahun 963 Çaka. Dewi Sanggramawijaya ini disebut juga dengan nama Dewi Kilisuci dan disebut juga sebagai “Putri Kedi” yaitu seorang perempuan yang memiliki kesucian karena tidak menstruasi.

Akibat penolakan putrinya tersebut Airlangga kemudian bingung memilih pengganti karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Mengingat Airlangga juga putra sulung raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Mpu Bharada sebagai penasehat Raja Airlangga dikirim ke Bali menyampaikan maksud tersebut. Dalam perjalanan menyeberang laut, Mpu Bharada cukup dengan menumpang sehelai daun. Sesampainya di Bali Mpu Bhrada kemudian menemui saudara kandungnya Mpu Kuturan di Pura Silayukti tepatnya di Gua Barada. Mpu Bharada menyampaikan permintaan Airlangga namun hal tersebut ditolak oleh Mpu Kuturan yang berniat mengangkat cucunya sebagai raja Bali.

Misi Mpu Bharada mengalami kegagalan dan Beliau kembali ke Kediri dan bertapa di Gua Selobale (letaknya sebelah barat daya Pura Penataran Agung Kilisuci). Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata sebagai raja Bali, dan Marakata kemudian digantikan adik yang lain yaitu Anak Wungsu.


Peristiwa pembelahan ini tercatat dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan prasasti Turun Hyang II dan tertulis di Prasasti Batu Tulis yang terletak di sebelah selatan Pura Agung Kilisuci tepatnya di desa Semen yang berbunyi

“ Aku telah mampu membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua yaitu Panjalu dan Jenggala”.

Dikisahkan, Mpu Bharada terbang sambil mengucurkan air kendi. Ketika sampai dekat desa Palungan, jubah Mpu Bharada tersangkut ranting pohon asam. Ia marah dan mengutuk pohon asam itu menjadi kerdil. Oleh sebab itu, penduduk sekitar menamakan daerah itu Kamal Pandak, yang artinya "asem pendek". Desa Kamal Pandak pada zaman Majapahit menjadi lokasi pendirian Prajnaparamitapuri, yaitu candi pendharmaan arwah Gayatri, istri Raden Wijaya.

Selesai menetapkan batas Kerajaan Kadiri dan Janggala berdasarkan cucuran air kendi, Mpu Bharada mengucapkan kutukan, barang siapa berani melanggar batas tersebut hidupnya akan mengalami kesialan. Menurut prasasti Mahaksobhya yang diterbitkan Kertanagara raja Singhasari tahun 1289, kutukan Mpu Bharada sudah tawar berkat usaha Wisnuwardhana menyatukan kedua wilayah tersebut.
Maka terciptalah dua kerajaan baru. Kerajaan barat disebut Panjalu atau Kadiri berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sedangkan kerajaan timur bernama Janggala berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan.

Nagarakretagama juga menyebutkan, Mpu Bharada adalah pendeta Buddha yang mendapat anugerah tanah desa Lemah Citra atau Lemah Tulis. Berita ini cukup unik karena ia bisa menjadi guru spiritual Airlangga yang menganut agama Hindu Wisnu. Setelah membagi dua kerajaan untuk kedua orang putranya dan dirasa telah memenuhi rasa keadilan, Airlangga mengundurkan diri, turun dari tahta Keprabon, memilih kembali pada kehidupan semula sebagai seorang pertapa, dengan nama Rsi Gentayu dan beliau melinggih di Gua Selomangleng (sebelah barat Pura Penataran Agung Kilisuci), kembali pada kesucian, mendekat kepada Sang Moho Agung, hingga akhir hayatnya tahun 1049 Masehi, dan mendapat julukan Sang Prabu Apuspala Jatiningrat, Maharaja Airlanggyabhisekanira.

Dan kenyataan benar adanya, Dewi Kilisuci telah mendasari terwujudnya keberhasilan leluhur-leluhur Kejayaan Hindu pada jaman Maharaja Jayabhaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157 yang terkenal dengan ramalan tentang tanah Jawa. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).


MENGALAHKAN CALON ARANG

Calon Arang Calon Arang adalah seorang tokoh dalam cerita rakyat Jawa dan Bali dari abad ke-12. Tidak diketahui lagi siapa yang mengarang cerita ini. Salinan teks Latin yang sangat penting berada di Belanda, yaitu di Bijdragen Koninklijke Instituut. Diceritakan bahwa ia adalah seorang janda pengguna ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit.

Calon Arang mempunyai seorang puteri bernama Ratna Manggali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya. Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga.

Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul. Raja Airlangga yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan penasehatnya, Empu Baradah untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah lalu mengirimkan putranya yang bernama Empu Bahula untuk dinikahkan kepada Ratna. Keduanya menikah besar-besaran dengan pesta yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.

Calon Arang mempunyai sebuah buku yang berisi ilmu-ilmu sihir. Pada suatu hari, buku ini berhasil ditemukan oleh Bahula yang menyerahkannya kepada Empu Baradah. Saat Calon Arang mengetahui bahwa bukunya telah dicuri, ia menjadi marah dan memutuskan untuk melawan Empu Baradah. Tanpa bantuan Dewi Durga, Calon Arang pun kalah. Sejak ia dikalahkan, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang. Perkembangan kisah Cerita ini dapat dibagi dalam beberapa babak:

Prolog

Pada mulanya suasana di wilayah Kerajaan Daha sangat tentram. Raja di Daha bernama Airlangga. Di sana hidup seorang janda, yang bernama Calon Arang, yang mempunyai anak yang cantik, yang bernama Ratna Manggali. Mereka berdua tinggal di desa Girah, di wilayah Kerajaan Daha.

Awal Permasalahan Meskipun cantik, banyak pria di kerajaan tersebut yang tidak mau meminangnya. Ini disebabkan oleh ulah ibunya yang senang menenung. Hal ini menyebabkan kemarahan Calon Arang. Oleh sebab itulah dia membacakan mantra tulah, sehingga muncul mala-petaka dahsyat melanda desa Girah, dan pada akhirnya melanda Daha. Tulah tersebut menyebabkan banyak penduduk daerah tersebut sakit dan mati. Oleh karena tulah tersebut melanda Daha, maka Raja Airlangga marah dan berusaha melawan.

Namun kekuatan Raja tidak dapat menandingi kesaktian Calon Arang, sehingga Raja memerintahkan Empu Baradah untuk melawan Calon Arang. Siasat Empu Baradah Untuk mengalahkan Calon Arang, Empu Baradah mengambil siasat. Dia memerintahkan muridnya, Bahula, untuk meminang Ratna Manggali. Setelah menjadi menantu Calon Arang, maka Bahula mendapatkan kemudahan untuk mengambil buku mantra Calon Arang dan diberikan kepada Empu Baradah.

Epilog

Setelah bukunya didapatkan oleh Bahula, Calon Arang pun ditaklukkan oleh Empu Baradah



KETURUNAN EMPU BHARADA DI JAWA DAN DI BALI


Danghyang Mpu Bharadah mempunyai putra Iaki-laki dan keutamaan yoga beliau bernama Mpu Bahula. Bahula berarti utama. Kepandaian dan kesaktian beliau di dunia sama dengan ayahandanya Mpu Bharadah. Beliau memperistri putri dari Rangdeng Jirah - janda di Jirah atau Girah yang bernama Ni Dyah Ratna Manggali. Kisah ini terkenal dalam ceritera Calonarang. Beliau Empu Bahula berputra Iaki bernama Mpu Tantular, yang sangat pandai di dalam berbagai ilmu filsafat. Tidak ada menyamai dalam soal kependetaan, sama keutamaannya dengan Mpu Bahula, ayahandanya.

Mpu Tantular adalah yang dikenal sebagai penyusun Kakawin Sutasoma di mana di dalamnya tercantum "Bhinneka Tunggal lka" yang menjadi semboyan negara Indonesia. Beliau juga bergelar Danghyang Angsokanata. Keberadaan beliau di Bali diperkirakan sejaman dengan pemerintahan raja Bali, Sri Haji Wungsu pada tahun Masehi 1049.

Ida Mpu Tantular atau Danghyang Angsokanata, berputra empat orang semuanya Iaki-laki. Yang sulung bernama Mpu Danghyang Panawasikan. Yang nomor dua bergelar Mpu Bekung atau Danghyang Siddhimantra. Yang nomor tiga bernama Mpu Danghyang Smaranatha. Yang terkecil bernama Mpu Danghyang Soma Kapakisan.

Ida Danghyang Panawasikan, bagaikan Sanghyang Jagatpathi wibawa beliau, Ida Danghyang Siddhimantra bagaikan Dewa Brahma wibawa serta kesaktian beliau. Ida Danghyang Asmaranatha bagaikan Dewa Manobawa yang menjelma, terkenal kebijaksanaan dan kesaktian beliau, serta Danghyang Soma Kapakisan, yang menjadi guru dari Mahapatih Gajahmada di Majapahit, bagaikan Dewa Wisnu menjelma, pendeta yang pandai dan bijaksana. Ida Danghyang Panawasikan memiliki putri seorang, demikian cantiknya, diperistri oleh Danghyang Nirartha.

Ida Danghyang Smaranatha, memiliki dua orang putra, yang sulung bernama Danghyang Angsoka, berdiam di Jawa melaksanakan paham Budha. Adik beliau bernama Danghyang Nirartha, atau Danghyang Dwijendra, Peranda Sakti Wawu Rawuh dan dikenal juga dengan sebutan Tuan Semeru. Beliau melaksanakan paham Siwa, serta menurunkan keluarga besar Brahmana Siwa di Bali yakni, Ida Kemenuh, Ida Manuaba, Ida Keniten, Ida Mas serta Ida Patapan.

Danghyang Angsoka sendiri berputra Danghyang Astapaka, yang membangun pasraman di Taman Sari, yang kemudian menurunkan Brahmana Budha di Pulau Bali. Ida Danghyang Soma Kapakisan yang berdiam di kawasan kerajaan Majapahit. berputra Ida Kresna Wang Bang Kapakisan, ketika Sri Maharaja Kala Gemet memegang kekuasaan di Majapahit. Ida Kresna Wang Bang Kapakisan mempunyai putra empat orang, semuanya diberi kekuasaan oleh Raja Majapahit, yakni beliau yang sulung menjadi raja di Blambangan, adiknya di Pasuruhan, yang wanita di Sumbawa. dan yang paling bungsu di kawasan Bali. Yang menjadi raja di Bali bernama Dalem Ketut Kresna Kapakisan menurunkan para raja yang bergelar Dalem keturunan Kresna Kepakisan di Bali.

Dalem Ketut Kresna Kepakisan datang di Bali, menjadi raja dikawal oleh Arya Kanuruhan, Arya Wangbang - Arya Demung, Arya Kepakisan, Arya Temenggung, Arya Kenceng. Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Manguri, Arya Pangalasan, dan Arya Kutawaringin, Arya Gajah Para serta Arya Getas dan tiga wesya: Si Tan Kober, Si Tan Kawur, Si Tan Mundur. Ida Dalem beristana di Samprangan, didampingi oleh l Gusti Nyuh Aya di Nyuh Aya sebagai mahapatih Dalem. Tatkala itu Ida Dalem memerintahkan para menterinya untuk mengambil tempat masing-masing. Ida Arya Demung Wang Bang asal Kediri di Kertalangu, Arya Kanuruhan di Tangkas, Arya Temenggung di Patemon, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Dalancang di Kapal,

Arya Belog di Kaba-Kaba, Arya Kutawaringin di Klungkung, Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas di Toya Anyar, Arya Belentong di Pacung, Arya Sentong di Carangsari, Kriyan Punta di Mambal, Arya Jerudeh di Tamukti , Arya Sura Wang Bang asal Lasem di Sukahet, Arya Wang Bang asal Mataram tidak berdiam di mana-mana. Arya Melel Cengkrong di Jembrana, Arya Pamacekan di Bondalem, Sang Tri Wesya: Si Tan Kober di Pacung, Si Tan Kawur di Abiansemal dan Si Tan Mundur di Cegahan Demikian dikatakan di Babad Dalem.

sumber : babadbali.com



Senin, 16 Mei 2011

ARYA KUTAWARINGIN



Prawacana (pangaksama) penulis mohon ijin dan restu kepada Ida Sanghyang Widdhi dan Bhatara Ra Hyang Dimaharaja Manu agar memperoleh keselamatan dan berhasil dalam karyanya.

Bhatara Ra Hyang Dima
haraja Manu turun di Tanah Jawa pada tahun Çaka 530 (tahun 608 Masehi), bulan Citra, hari kedua belas bulan hidup, wuku Julung Pujut.

Tempat Pemujaan
Arya Kutawaringin


Baginda bermukim di Medang K
emulan, seraya mengadakan Yoga Samadhi. Sehingga tanah Jawa menjadi aman dan makmur semenjak Baginda Ra Hyang Dimaharaja Manu bertahta. Baginda memperoleh keturunan bernama Sri Jaya Langit, Sri Jaya Langit berputra Sri Wreti Kandayun, Sri Wreti Kandayun berputra Sri Kameswara Paradewasikan.

Sri Kameswara Paradewasikan berputra Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tunggadewa. Baginda Sri Dharmawangsa seorang raja besar di tanah Jawa, amat berjasa dalam bidang sastra, pada zamannya disalin naskah- naskah Asta Dasa Parwa ke dalam bahasa Jawa Kuna. Negara aman makmur dan sentosa. Sri Dharmawangsa berputra Sri Kameswara dan Dewi Guna Priya Darmapatni, kawin dengan Sri Udayana melahirkan Erlangga dan Anak Wungsu, Sri Kameswara berputra Sri Kreta Darma, Tunggul Ametung, dan Dewi Gori. Kemudian mengangkat anak bernama Erlangga dari Bali, berkedudukan di Daha.

Erlangga berputra 4, Sri Dewi Kili Endang Suci (putri), Sri Jayabaya, Jayasaba, dan Arya Buru. Sri Jayabaya dan Sri Jayasaba dua saudara yang selalu bertengkar. Sri Jayabaya berputra tiga orang; Sri Dangdang Gendis, Sri Çiwa Wandira, Sri Jaya Kusuma. Sri Dangdang Gendis berputra Sri Jayakatong. Sri Jayakatong berputra Sri Jaya Kata. Sri Jaya Kata berputra Arya Wayahan Dalem Manyeneng (cikal bakal Arya Gajah Para dan Getas), Arya Katanggaran (cikal bakal Arya Kanuruhan) dan Arya Nudata.

Sri Çiwa Wandira berputra Sri Jaya Waringin (cikal bakal Arya Kutawaringin). Terjadi kesalahapahaman antara Prabu Dangdang Gendis dengan para pendeta, para pendeta mengungsi ke Tumapel mohon bantuan Ken Arok raja Singasari. Kemudian Ken Arok menggempur Negara Galuh (Kediri), akhirnya Kediri dikuasai oleh Singasari.

Keturunan Dangdang Gendis, Jaya Kata dan Jaya Waringin ditawan di Tumapel, di sana Jaya Kata mengadakan keturunan. Jaya Waringin kawin dengan warga Kebo Ijo bernama Gandhi Gari berputra Arya Kutewandira, Arya Kutewandira berputra Arya Kutewaringin yang kemudian turun ke Bali

Sri Jayasaba: berputra Sira Arya Kediri. Sira Arya Kediri berputra Sira Arya Kepakisan, kemudian turun ke Bali mengembangkan keturunannya di Bali. Singasari mengalami kemunduran. Sedangkan Kerajaan Majapahit menanjak kebesarannya, terutama pada masa Maha Patih Gajah Mada sebagai mangkubumi. Terjadi ekspedisi Gajah Mada (Majapahit) ke Bali. Penyerangan dari tiga jurusan. Dari timur: Gajah Mada dibantu oleh patih yang lain berlabuh di Tianyar. Dari arah utara, Arya Damar, Arya Sentong, Arya Kutewaringin berlabuh di Ularan. Dari selatan, Arya Kenceng, Arya Belog, Arya Pangalasan, Arya Kanuruhan, mendarat di Kuta. Terjadi pertempuran antara pasukan Majapahit dengan Bali, banyak korban jatuh di pihak pasukan Bali, terutama para patih raja-raja Bali yang bermukim di desa-desa. Hanya tinggal Ki Pasung Grigis bertahan di desa Tengkulak, Raja Bedahulu telah gugur lebih dulu

Pada suatu malam Gajah Mada dan Arya Damar merencanakan suatu siasat untuk menangkap Pasung Grigis hidup-hidup. Keesokan harinya, dengan pura-pura menyerah, dan dengan tipu muslihat yang licin, pasukan Majapahit berhasil menawan Ki Pasung Grigis. Dengan demikian maka Bali dinyatakan telah menjadi daerah taklukan Majapahit.

Raja Majapahit mengutus Ki Kuda Pangasih menjemput Gajah Mada agar segera kembali ke Majapahit. Segera Gajah Mada mengatur penempatan para Arya di Bali yaitu:*

  1. Sira Arya Kutewaringin di Gelgel
  2. Sira Arya Kenceng di Tabanan
  3. Sirarya Belog, di Kabakaba
  4. Sirarya Dalancang di Kapal
  5. Sirarya Belentong di Pacung
  6. Sirarya Sentong di Carangsari
  7. Sirarya Kanuruhan Singasardula di Tangkas
  8. Kryan Punta di Mambal
  9. Kryan Jrudeh di Tamukti
  10. Kryan Tumenggung di Patemon
  11. Arya Demung Wangbang Kediri di Kretalangu
  12. Arya Sura Wangbang Lasem di Sukahet
  13. Arya Wangbang Mataram tidak menetap di suatu tempat
  14. Arya Melel Cengkrong di Jembrana
  15. Arya Pamacekan di Bondalem

Pada saat Bali ditaklukkan oleh Majapahit, bertahta Raja Kala Gemet. Patih Gajah Mada merasa cemas melihat pulau Bali yang belum ada kepala pemerintahannya. Apalagi rakyat Bali telah mengirim utusan agar segera ditetapkan seorang pemimpin. Kemudian Maha Patih Gajah Mada mengirim seorang adipati untuk memimpin pulau Bali bernama Dalem Ketut Kresna Kepakisan tahun Çaka 1274. (yogan; muni; rwaning; buana) atau tahun Masehi 1352, Patih Agung Sirarya Kepakisan, orang kedua Sirarya Kutewaringin, tangan kanan Sirarya Kanuruhan dibantu oleh para Arya yang lain.

Arya Kutewaringin yang juga menjabat “Tumenggung” amat besar jasanya dalam menciptakan keamanan, kemakmuran, dan kesentosaan negara. Beliau berputra empat orang, pria dan wanita. Yang pria bernama Kyayi Klapodyana, Kyayi Parembu, dan Kyayi Cenda. Sedangkan yang wanita, seorang, bernama I Gusti Ayu Kutewaringin, kemudian menjadi permaisuri Dalem Ketut Kresna Kepakisan.

Setelah Arya Kutewaringin lanjut usia, beliau digantikan oleh putranya yang sulung Kyayi Klapodyana yang bergelar Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel. Dalem Ketut Kresna Kepakisan wafat pada tahun. Çaka 1302 (mangrwa; sunia; ikang- tri; buana) atau tahun 1380 Masehi. Baginda berputra empat, Dalem Ile, Dalem Taruk, Dalem Ketut dan Ida I Dewa Tegal Besung yang masih kecil dan lahir dari I Gusti Ayu Kutewaringin. Almarhum digantikan oleh putranya yang sulung yaitu Dalem Ile yang terkenal dengan sebutan Dalem Samprangan.

Baginda ini tidak betah mengendalikan roda pemerintahan. Pada suatu ketika Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel, serta para Arya yang lain menghadap ke istana Samprangan, namun seperti biasa, Dalem Samprangan tidak kunjung menemui di balairung karena asik mempertampan diri. Hal seperti itu memang sering terjadi, sehingga adiknya, Dalem Taruk terpaksa mengirim utusan bernama Kuda Panandang Kajar menjemput adindanya lagi, Dalem Ketut, tetapi nampaknya Dalem Ketut menolak untuk datang.

Akhirnya Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel karena tekadnya yang bulat ingin mempertahankan keamanan, kemakmuran, dan kesentosaan negara, seolah-olah memperoleh inspirasi untuk menjemput Dalem Ketut ke desa Pandak. Dalam pikirannya, putra Dalem yang juga kemenakannya sendiri yaitu Ida I Dewa Tegal Besung masih kanak-kanak, dianggap belum mampu mengendalikan pemerintahan.

Dengan segala kemampuan dan daya upaya Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel berhasil membujuk Dalem Ketut agar berkenan menduduki tahta kerajaan berkedudukan di Gelgel. Dengan ikhlas pula Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel mempersembahkan rumahnya untuk istana baginda Dalem Ketut, keraton tersebut diberi nama Suwecalinggarsapura. Meskipun Dalem Samprangan mengetahui hal itu, namun baginda tidak menghiraukannya.

Terjadi kesalahpahaman Kyayi Nyuhaya karena putrinya yang bernama I Gusti Ayu Adi dikawini oleh Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel (Klapodyana). Kyayi Nyuhaya keberatan karena tidak tahu asal-usul kebangsawanan Kyayi Klapodyana, hingga bermohon kepada Dalem untuk membunuh Kyayi Klapodyana. Baginda Dalem yang sangat berhutang budi kepada Kyayi Klapodyana berusaha sekuatnya, mencari jalan penyelesaian yang baik. Baginda mendekati kedua belah pihak, agar timbul saling-pengertian. Lalu diadakan suatu pertemuan, di dalam pertemuan itu Kyayi Klapodyana mampu menunjukkan yang dituntut oleh Kyayi Nyuhaya.

Dikuatkan dengan pembuktian kebangsawanannya yang bernama “Candri Sawalan”, dipersembahkan kepada Dalem, seraya dibaca dan ternyata Kyayi Nyuhaya keturunan Sri Jayasaba dan Kyayi Klapodyana keturunan Sri Jayabaya. Kyayi Nyuhaya tampaknya belum puas menuntut agar Kyayi Klapodyana mempersembahkan sebutir kelapa yang sama besarnya dengan kelapa yang dibawa oleh Kyayi Nyuhaya.

Berkat anugrah Ida Sanghyang Widdhi pada pertemuan yang kedua, Kyayi Klapodyana berhasil memenuhi tuntutan itu, baginda raja menyatakan bahwa benar mereka sedarah seketurunan. Untuk lebih memuaskan ayah mertuanya, Kyayi Klapodyana mohon ijin untuk mengangkat sumpah (sapata) atas kebenaran asal-usul kebangsawanannya itu, segera dilaksanakannya. Mulai saat itu baginda raja mempersatukan Kyayi Nyuhaya dan Kyayi Klapodyana dan keluarganya masing-masing dalam suatu ikatan keluarga yang menyatu.

Kyayi Klapodyana berputra empat orang pria wanita, yang sulung putri bernama I Gusti Ayu Mider menjadi permaisuri Dalem Waturenggong. Adiknya, Kyayi Lurah Abian Tubuh, Kyayi Lurah Karang Abian, dan yang bungsu wanita bernama Winiayu Abian menikah dengan Pangeran Kayumas. Kyayi Parembu berputra Kyayi Wayahan Kutewaringin, Kyayi Madya Kuteraksa, Kyayi Wantilan, dan satu wanita Winiayu Reresik. Kyayi Candi berputra Kyayi Candigara, dan Kyayi Jaya Paguyangan. Utusan raja Blangbangan datang menghadap raja Gelgel (Bali). Sri Aji Smara Kepakisan mohon bantuan pengamanan sebab kerajaan Blangbangan dirusak oleh harimau hitam.

Baginda raja mengutus Kyayi Klapodyana untuk melaksanakan penumpasan ke Blangbangan, bersenjatakan sumpitan hadiah baginda raja Bali, Kyayi Klapodyana berangkat dan telah tiba di Blangbangan, perjalanannya itu disusul pula oleh Kyayi Nyuhaya. Berkat ketangkasan Kyayi Klapodyana harimau itu dapat dibunuh oleh Kyayi Klapodyana, kemudian barulah tiba Kyayi Nyuhaya. Karena tugasnya telah tuntas maka mereka pun kembali ke Bali. Kyayi Klapodyana melaporkan kepada baginda raja Bali bahwa harimau itu telah mati, sebagai bukti beliau mempersembahkan kulit harimau itu. Baginda raja Bali amat gembira.

Sebagai imbalan atas jasa-jasa Kyayi Klapodyana baginda raja Bali menganugrahkan piagam yang berisi catatan hak penghormatan dan penghargaan serta tata cara upakara dan upacara pelaksanaan upacara semasa masih hidup hingga upacara kematian untuk turun-temurun. Selaku penghargaan pula atas jasa Kyayi Klapodyana, maka baginda raja Bali menyerahkan sebuah pura Kahyangan “Dalem Tugu”.

Kyayi Nyuhaya berkewajiban menyimpan “Aji Purana” dengan catatan setiap upacara piodalan di Pura Dalem Tugu harus diusung ke Dalem Tugu untuk diupacarai. Bila upacara telah selesai, “Aji Purana” itu disimpan kembali oleh Kyayi Nyuhaya. Sedangkan sumpitan pemberian raja Bali dulu, tetap menjadi milik Kyayi Klapodyana.

Dalem Taruk karena amat kasih kepada Kuda Panandang Kajar, baginda mengawinkan secara paksa dengan Sri Dewi Muter putri Dalem Ile. Malang bagi kedua mempelai itu mereka terbunuh berkat kesaktian keris Ki Tanda Langlang yang konon bisa pergi dengan sendirinya. Dalem Ile amat murka, seraya memerintahkan untuk menangkap Dalem Taruk. Dalem Taruk telah lebih dulu melarikan diri, hingga sulit untuk didapatkan karena rakyat pegunungan berusaha menyembunyikan diri baginda.

Kyayi Parembu yang memimpin rombongan mengejar Dalem Taruk merasa putus asa kembali dengan tangan hampa. Ketika Dalem Taruk sedang bersembunyi pada Kyayi Poh Tegeh, maka Kyayi Parembu diperintahkan lagi untuk menangkap Dalem Taruk. Kyayi Parembu dengan putranya yang sulung Kyayi Wayahan Kutewaringin berangkat dengan rombongannya, menyusup ke desa-desa berjumpa dengan Ki Dukuh Sekar, memperoleh keterangan bahwa Dalem Taruk telah lama pindah dari sana.

Dengan amat sedih dan menyesal Kyayi Parembu akhirnya menetap di Bubung Tegeh, karena menyadari seolah-olah tidak mampu membalas budi tuannya, Sebagian pengikutnya dikembalikan untuk melaporkan kepada Kyayi Klapodyana, Kyayi Poh Tegeh mendengar kabar tentang keadaan Kyayi Parembu demikian. Segera beliau mengundang agar Kyayi Parembu berkenan singgah ke rumahnya.

Kyayi Parembu bersama putranya memenuhi undangan tersebut, mereka pun diterima dengan baik sekali. Mereka saling bertimbang rasa dan Kyayi Poh Tegeh menasihati Kyayi Parembu, tak perlu menyesal dan tidak usah hal itu dibesar-besarkan , karena hal itu adalah urusan ke dalam istana, Kyayi Wayahan Kutewaringin jatuh cinta kepada putri Kyayi Poh Tegeh, Winiayu Luh Toya, kedua orang tuanya merestui maka dilanjutkan pernikahan, berputra dua orang Kyayi Panida Waringin meninggal di masa muda, dan adiknya Kyayi Tabehan Waringin menetap di Bubung Tegeh.

Sri Aji Smara Kepakisan (Dalem Ketut Ngulesir) wafat tahun Çaka 1382 atau tahun 1640 Masehi. Digantikan oleh putranya bergelar Sri Waturenggong. Patihnya Kyayi Batan Jeruk, orang kedua Kyayi Lurah Abian Tubuh. Para menteri yang lain terdiri dari anak dan cucu para Arya terdahulu. Baginda raja Dalem Waturenggong raja terbesar Gelgel, negara aman makmur dan sentosa. Musuh daerah tidak mampu memasuki. Bali. Kyayi Lurah Abian Tubuh kemudian digantikan oleh putranya bernama Kyayi Lurah Kubon (Tubuh) Kelapa. Pada masa ini beliau mengundang keluarganya yang ada di Bubung Tegeh agar ke Gelgel menghadap kepada Dalem. Maka Kyayi Tabehan Waringin pun menghadap ke Gelgel. Di sana dilaporkan segala keadaannya sampai dengan tentang, sebuah pura yang dibangun oleh ayahnya Kyayi Wayahan Kutewaringin (cucu Arya Kutewaringin ) pura itu disebut “Parhyangan Kutewaringin”.

Juga sebuah pura Dalem yang terletak di sebelah selatan Pura Kutewaringin. Selanjutnya mereka menghadap baginda raja diantarkan pula oleh Kyayi Poh Landung, baginda raja mempersatukan kembali keluarga Kyayi Kubon Kelapa dengan Kyayi Tabehan Waringin. Dikuatkan lagi dengan pernikahan Kyayi Wandira Wira (putra Kyayi Tabehan Waringin) dengan Winiayu Ketut Tubuh (adik Kyayi Lurah Kubon Tubuh). Kyayi Wayahan Parembu (putra Kyayi Tabehan Waringin) yang sulung menetap di Bubung Tegeh (Waringin).

[Kembali ke atas] Dalam suatu persidangan yang dihadiri oleh pemuka-pemuka pemerintahan, pemuka-pemuka masyarakat, pemuka-pemuka agama (para pendeta), dan segenap warga Dalem (raja-raja), Dalem Waturenggong mengumumkan bahwa harus dilaksanakannya “Widi Sastra”. Yang memuat pengaturan tata kehidupan dengan segala upacaranya, demikian juga upacara pelaksanaan upacara kematian sesuai dengan tingkat sosial dan kebangsawanan masing-masing.

Dalem Waturenggong wafat tahun Çaka 1472 (sapangrenga; sang pandita; mwang Catur; Janma) atau tahun 1550 Masehi. Meninggalkan dua orang putra dan seorang putri yang ketiganya belum dewasa. Para putra itu diasuh oleh putra- putra I Dewa Tegal Besung yaitu I Dewa Gedong Arta, I Dewa Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, I Dewa Pagedangan. Yang didudukkan di atas singgasana adalah putra yang sulung yaitu Ida Dalem Bekung, dengan Patih Agung Kryan Batan Jeruk.

Karena terdorong oleh masa “Kali-Yuga” maka Kryan Patih Batan Jeruk melakukan percobaan perebutan kekuasaan dari tangan Dalem Bekung, walaupun niatnya itu telah dicegah oleh Mpu Astapaka, tetapi tetap dilaksanakan pula Kryan Patih Batan Jeruk didampingi oleh I Dewa Anggungan I Gusti Pande Kryan Tohjiwa, dan memperoleh dukungan sebagian besar masyarakat, Hanya Kryan Patih Kubon Kelapa dan sanak keluarganya yang setia kepada Dalem. Kerajaan Gelgel mengalami kekacauan, huru-hara. Lalu tampil Pangeran Nginte, bekerja sama dengan Kyayi Patih Kubon Kelapa, menghimpun kekuatan untuk melawan Kyayi Batan Jeruk.

Akhirnya pemuka-pemuka masyarakat para Arya menyadari, dan berusaha menegakkan kedudukan Dalem. Akhirnya Kryan Batan Jeruk mengalami kekalahan pada Çaka 1478 (Naga Aswa Yuga ning Rat) atau tahun 1556 Masehi. Kyayi Batan Jeruk, I Dewa Anggungan dan I Gusti Pande segera mohon ampun kepada Dalem, hanya Kryan Tohjiwa telanjur telah gugur. Patih Agung dijabat oleh Pangeran Nginte, sebagai Adi Patih Kyayi Lurah Kubon Tubuh, yang mempunyai tiga orang putra Kyayi Lurah Abian Tubuh, Kyayi Madya Karang dan Winiayu Candi Dyana.

Dalem Bekung kurang cakap memegang pemerintahan termasuk bilangan lemah. Hanya Patih Nginte yang mengendalikan pemerintahan, dibantu oleh Kyayi Pinatih, Kyayi Lurah Kubon Tubuh, dan para menteri yang lain. Pada masa pemerintahan Dalem Bekung terjadi suatu peristiwa huru-hara yang berakibat gugurnya Kryan Pande. Dalem Bekung digantikan oleh Dalem Seganing.

Mulai diadakan pembaharuan dalam banyak hal, hingga negara menjadi aman dan sentosa. Patih Agung dijabat oleh Kryan Agung Widya, demung Kryan Kaler Prandawa, Kyayi Lurah Abian Tubuh dan Kyayi Madya Karang menjabat menteri muda. Baginda raja banyak istri dan putranya antara lain Ida I Dewa Anom Pemahyun, Ida I Dewa Dimade dan lain-lain.

Setelah Dalem Seganing wafat tahun Çaka 1587 atau tahun 1665 Masehi bertahta putra baginda yang sulung, yaitu Ida I Dewa Anom Pemahyun. Terjadi pergantian pejabat yang besar-besaran. Hal itu menimbulkan ketidakpuasan di lain pihak. Terjadi perebutan kekuasaan karena Kryan Agung Maruti ingin mengangkat Ida I Dewa Dimade sebagai raja. Maka Ida I Dewa Anom Pemahyun meninggalkan keraton Gelgel dengan tiga ratus sepuluh orang pengiring dipelopori oleh Kryan Madya Karang, Kryan Tangkas, Kryan Brangsinga akhirnya baginda bermukim di desa Perasi, kemudian pindah ke Tambega.

Ida I Dewa Dimade (Dalem Dimade) bertahta di Gelgel dengan Patih Agung Kryan Agung Maruti Dimade. Kyayi Jumbuh menjabat demung di Gelgel, Kyayi Nyanyap menjabat bandesa Gelgel, Kyayi Tubuh Kuntang Gurna menjabat demung di Klungkung. Tiada beberapa lama Dalem Dimade bertahta, maka terjadi perebutan kekuasaan oleh Patih Agung sendiri. Dalem Dimade mengungsi ke Guliang (Bangli), dan tahta kerajaan diduduki oleh Kryan Agung Maruti Dimade. Kryan Agung Maruti Dimade mengalami kegagalan, rencana ekspedisinya ke Singarsa, karena Ida I Dewa Anom Pemahyun Dimade (putra Dalem Anom Pemahyun) yang berkedudukan di Sidemen, mendahului menyerang desa-desa tepian kerajaan Gelgel di sebelah timur laut.

Rencananya hendak menyerang Gelgel, namun sayang terhalang oleh banjir sungai Unda yang tak terduga. Kemudian penguasa Singarsa (Sidemen) mengadakan hubungan dengan putra Dalem Dimade di Guliang untuk mengadakan penyerangan ke Gelgel. Salah seorang putra Dalem pindah ke Sidemen, dari sana mengadakan kontak ke Badung dan Buleleng. Kemudian diadakan perundingan, dan dilanjutkan dengan penyerangan tahun Çaka 1626 atau 1704 Masehi. Gelgel dapat direbut oleh Ida I Dewa Agung Jambe, suatu tonggak mulai lembaran Sejarah Kerajaan Klungkung (Smarajaya). [Nama/ Judul Babad : Babad Arya Kutawaringin.

Koleksi : Ida I Dewa Gde Catra. Alamat : Jalan Untung Surapati, Gang Flamboyan, Amlapura. Bahasa : Jawa Kuna Huruf : Bali. Jumlah halaman : 92 lembar (1b s/d 92a)]

DALEM DI MADE



Putra Mahkota dari Dalem Sagening setelah dinobatkan menjadi Raja di Kerajaan Gelgel bergelar Dalem Di Made atau Sri Di Made. Dalam kehidupan keagamaannya beliau lebih mengutamakan ajaran Siwa dibandingkan dengan agama Budha terbukti dalam kitab “Srat Raja Purana” gelar baginda disebutkan “Adi Paramartha siwa”. Sekalipun demikian beliau ti
dak mengabaikan ajaran agama Budha karena penduduk di Bali kebanyakan memeluk kudua agama tersebut yang dinamakan agama Siwa Budha.

Prajurit Bali

Semasa beliau memerintah adalah Kiyai Agung Maruti yang menjabat sebagai patih Agung yang
merupakan cucu dari Kiyai Widya, untuk jabatan Demung dijabat oleh Kiyai Kaler dan Tumenggung dijabat oleh Kiyai Babelod yang kesemuanya itu masih satu hubungan kekeluargaan. Patih Agung yang masih muda tersebut bertenaga seperti angin topan “ Maruti adalah nama lain dari hanoman yang merupakan salah seorang abdi Ramayana yang termasyur akan kedigjayaannya dalam perang melawan Rahwana.


PEMBERONTAKAN DI NUSA PENIDA

Menurut “Babad Blahbatuh” disebutkan bahwa semasa Pemerintahan Dalem Di Made telah terjadi pemberontakan terhadap kekuasaan kerajaan Gelgel di Nusa Penida oleg Dalem Bungkut. Untuk mengatasi pemberotakan tersebut Dalem Di Made kemudian menugaskan Ki Bogol/ Kyai Jelantik Bongahya untuk bertindak sebagai pimpinan pasukan Gelgel ke daerah Nusa Penida.

Laskar Gelgel bertolak dari pantai Kusamba dengan pasukan yang berkuatan 200 orang prajurit pilihan. Perjalanan Kyai Jelantik disertai oleh istrinya Gusti Ayu Kaler dan senjata sakti andalannya “ Ki Pencok Sahang”. Setelah menempuh satu jam perjalanan maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Jungut Batu. Disana telah menanti rakyat Nusa Penida yang tertindas oleh pemerintahan Dalem Bungkut di Nusa Penida dan kedatangan laskar Gelgel sangat diharapkan untuk membebaskan dirinya dari belenggu kekuasaan Dalem Bungkut.

Perlawanan Dalem Bungkut tidak berlangsung lama karena tidak mendapat dukungan penh dari rakyatnya sehingga memungkinkan Kiyai Jelantik berhadapan langsung dengan Dalem Bungkut. Dalam perang tanding tersebut Dalem Bungkut menderita kekalahan dan beliau tewas terkena sabetan keris sakti Ki Pencok Sahang. Sisa pendukungnya kemudian menyerahkan diri karena pimpinannya sudah tidak ada lagi. Keamanan dan ketentraman daerah Nusa Penida akhirnya kembali normal dan Kiyai Jelantik kembali ke Gelgel untuk melaporkannya kepada Dalem Di Made. Keberhasilan Kyai Jelantik memadamkan pemberontakan di Nusa Penida mendapat penghargaan dari Dalem Di Made.


EKSPEDISI KE WILAYAH BLAMBANGAN

Menurut ‘Kidung Pamancanggah” disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Dalem Di Made telah dilakukan pertemuan penting di istana Gelgel yang dihadiri oleh seluruh pemuka pemuka di wilayah Bali yang mana pertemuan tersebut membahas tentang perebutan wilayah Kerajajaan Gelgel didaerah Pasuruan yang dilakukan oleh Kerajaan Mataram di Jawa Tengah.

Seperi diketahui bahwa pada Jaman Pemerintahan Dalem Waturenggong yang merupakan masa Keemasan Kerajaan Gelgel wilayahnya meliputi Pasuruan dan Blambangan di Jawa Timur, Bali, Lombok dan Sumbawa. Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa wilayah tersebut harus direbut kembali dan Dalem Dimade akan mengirimkan pasukan dalam jumlah besar untuk melaksanakan misi tersebut.

Adalah Kiyai Wayahan Pemandekan dan adiknya Kiyai Made Pemandekan anak Jawa Cokorda Winalwan Raja Tabanan Kiyai Pacung ditunjuk oleh Dalem Di Made sebagai pimpinan laskar Bali untuk membebaskan wilayah Blambangan dari pendudukan Kerajaan pasuruan Timur dengan kekuatan laskar 20.000 pasukan. Maka pada hari yang ditentukan yaitu sasih keempat Minggu pon berangkatlah pasukan dari Bali dengan persenjataan lengkap dan mendarat di pantai Jawa Timur.

Rupanya kedatangan pasukan dari Bali telah diketahui oleh Kerajaan Mataram sehingga pertempuran yang sengit bisa dihindarkan lagi. Pasukan dari Bali walaupun jumlahnya lebih sedikit namun tidak sedikitpun menunjukkan rasa takut mereka terus bertempur sampai titik darah penghabisan. Namun demikian karena kalah dalam jumlah pasukan maka Laskar Bali dapat dipukul mundur oleh Kerajaan Mataram.

Merasa kekalahan sudang diambang mata maka sebagai pimpinan pasukan Kiyai Wayahan Pemandekan memerintahkan adiknya Kiyai Made pemandekan untuk mundur dan segera balik ke Bali. Sedangkan Kiyai Wayahan Pemandekan terus bertekad maju ke garis depan tanpa memikirkan keselamatan dirinya. Beliau dikurung oleh ratusan prajurit Mataram, walaupun beliau kebal dan tidak terluka sedikitpu oleh senjata musuh namun lama kelamaan tenaga beliau habis sehingga jatuh lemas ditanah.

Pada saat itulah beliau berwasiat “ Semoga keturunanku kelak turun temurun tidak ada yang kebal agar tidak mengalami siksaan seperti yang kualami” Di Hadapan Raja Mataram beliau mengatakan bahwa beliau telah kalah dan sekarang menjadi tawanan dan sebagai seorang kesatria maka kekalahan harus ditebus dengan kematian. Beliau mempersilahkan Raja Mataram untuk membunh dirinya.

Raja Mataram termanggu dan kagum akan keberanian serta jiwa satria Kiyai Wayahan Pemandekan dan merasa yakin bahwa tawanan ini bukanlah orang sembarangan. Raja Mataram kemudian menyakan asal usul Kiyai Wayahan Pemandekan dan dijawab oleh Beliau bahwa beliau adalah anak dari Raja Winalwan yang berkuasa di Tabanan keturunan Arya Kenceng dari Kerajaan Majapahit.

Raja Mataram semakin tertarik akan prilaku tawanannya ini dan menawarkan kepada Kiyai Wayahan Pemandekan untuk tinggal di Mataram karena orang orang seperti inilah yang dibutuhkan oleh Kerajaan Mataram untuk mempertahankan wilayah kekuasaanya. Bahkan Raja Mataram memberikan anak perempuannya untuk dijadikan istri oleh Kiyai Wayahan Pemandekan agar kelak menurunkan putra putra yang perkasa seperti ayahnya. Demikianlah sejak itu Kiyai Wayahan Pemandekan tinggal di Kerajaan Mataram dan dari pernikahannya tersebut lahir seorang putra yang diberi nama Raden Tumenggung.

Dengan kekalahan tersebut maka gagal pula usaha dari Kerajaan Gelgel untuk merebut kembali wilayah Blambangan yang dulu dikuasai pada jaman pemerintahan Dalem Waturenggong dari tangan Kerajaan Mataram.

Berita VOC menyebutkan bahwa pada waktu yang bersamaan wilayah Kerajaan di wilayah Timur yaitu Kerajaan Bima telah direbut oleh kerajaan Makasar dibawah pemerintahan Sultan Alaudin. Kerajaan Bali dibawah pimpinan Dalem Di Made pernah menjalin persahatan dengan Sultan Alaudin yang didesak oleh kepentingan bersama dalam rangka membantu desakan dari VOC yang semakin meluas di wilayah Nusantara. Dengan adanya peristiwa tersebut maka persahabatan antara Kerajaan Gelgel dan Makasar menjadi terputus pada tahun 1633.



PEMBERONTAKAN SAGUNG MARUTI

Setelah masa pemerintahan Dalem Segening berakhir, akhirnya Gelgel diperintah oleh Dalem Di MAde sekaligus sebagai raja terakhir masa kerajaan Gelgel. Saat-saat damai yang pernah dirintis oleh Dalem Segening tidak dapat dipertahankan oleh Dalem Di Made. Hal ini disebabkan karena Dalem Di Made terlalu memberikan kepercayaan yang berlebihan kepada pengabihnya I Gusti Agung Maruti. Sehingga pembesar-pembesar lainnya memilih untuk meninggalkan puri.

Hal inilah yang akhirnya dimanfaatkan oleh I Gusti Agung MAruti untuk menggulingkan pemerintahan Dalem Di Made. Usaha ini ternyata berhasil, Dalem Di Made beserta putra-putranya menyelamatkan diri ke desa Guliang diiring oleh sekitar 300 orang yang masih setia. Disinilah Dalem Di Made mendirikan keraton baru. Hampir selama 35 tahun Gelgel mengalami kevakuman karena Dalem Di Made telah mengungsi ke Guliang (Gianyar).

Sementara Maruti menguasai Gelgel. Hal ini justru membuat Bali terpecah-pecah yang mengakibatkan beberapa kerajaan bagian seperti Den Bukit, Mengwi, Gianyar, Badung, Tabanan, Payangan dan Bangli ikut menyatakan diri merdeka keadaan ini diperparah dengan wafatnya Dalem Di Made di keraton Guliang. Dengan wafatnya Dalem Di Made, membuat para pembesar kerajaan menjadi tergugah untuk mengembalikan kerajaan kepada dinasti Kepakisan. Hal ini dipelopori oleh tiga orang pejabat keraton Panji Sakti, Ki Bagus Sidemen, dan Jambe Pule, mereka akhirnya menyusun strategi unuk menyerang Maruti yang berkuasa di Gelgel.

Penyerangan dilakukan dari tiga arah secara serentak yang membuat Maruti dan pengikutnya tidak sanggup mempertahankan Gelgel. Maruti berhasil melarikan diri ke Jimbaran kemudian memilih memukim di Alas Rangkan.kerajaan Klungkung. Pada tahun 1686 putra Dalem Di Made yang bernama Dewa Agung Jambe merebut kembali kekuasaan dari tangan pemberontak dan memindahkan pusat pemerintahan ke istana Samarapura di Klungkung, namun kerajaan-kerajaan bekas bawahan Gelgel tetap mempertahankan kemerdekaannya. Raja Klungkung, Dewa Agung, diposisikan sebagai pimpinan spiritual dengan gelar Susuhunan Bali dan Lombok.

DALEM SAGANING

I DEWA SAGENING


Dalem Sagening dinobatkan menjadi raja pada tahun 1580 M. Menggantikan Dalem Bekung dalam suasana yang amat menyedihkan, setelah meredanya pemberontakan Batan Jeruk menyusul terjadinya pemberontakan yang dilakukan oleh Krian Pande sebagai pembalasan atas kegagalan Batan Jeruk.

Dan pemeberontakan inipun dapat dipadamkan dengan terbunuhnya Karian Pande, karena situasi mulai kacau, maka oleh pembesar Kerajaan Gelgel diangkatlah I Dewa Segening sebagai raja menggantikan kakaknya Dalem Bekung. I Dewa Segening kemudian bergelar Dalem Segening. Dengan sukarela dan ihklas Dalem Bekung menyerahkan tahta kepada adiknya karena merasa dirinya tidak mampu mengemban amanat dari leluhurnya. Satu perubahan yang paling menonjol dari pemerintahan Dalem Segening adalah kembalinya kerajaan-kerajaan Sasak (Lombok), Sumbawa yang mengakui kekuasaan Gelgel.

Dan satu hal yang penting adalah Dalem Segening mulai menyebarkan golongan ksatria Dalem hampir ke seluruh Bali. Dan gelar ksatria itupun sudah dibagi-bagi mulai status yang paling tertinggi seperti Ksatria Dalem, ksatria predewa, kesatria prangakan dan ksatria prasanghyang. Sama seperti halnya pemerintahan Gelgel terdahulu, hampir tidak ada peninggalan yang dapat diinformasikan baik berupa dokumentasi maupun benda lainnya oleh penyunting sebagai bukti kebesaran Gelgel dan Dalem Sagening seorang raja yang amat bijaksana, cerdas, berani, berwibawa maka dalam waktu yang singkat keamanan kerajaan Gelgel pulih kembali. Sebagai Patih Agung adalah Kryan Agung Widia putra pangeran Manginte, sedangkan adiknya Kryan Di Ler Prenawa diberikan kedudukan Demung.

Dalem Sagening menetapkan putra-putra baginda di daerah-daerah tertentu, dengan jabatan sebagai anglurah antara lain :
  1. I Dewa Anom Pemahyun, ditempatkan di desa Sidemen (Singarsa) dengan jabatan Anglurah pada tahun 1541 M, dengan patih I Gusti Ngurah Sidemen Dimade dengan batas wilayah di sebelah timur sungai Unda sampai sungai Gangga, dan batas wilayah di sebelah utara sampai dengan Ponjok Batu.

  2. I Dewa Manggis Kuning, ( I Dewa Anom Manggis), beribu seorang ksatria dari Manggis, atas permohonan I Gusti Tegeh Kori dijadikan penguasa di daerah Badung. Namun karena sesuatu peristiwa beliau terpaksa meninggalkan daerah Badung, pindah ke daerah Gianyar.

  3. Kyai Barak Panji, beribu dari Ni Pasek Panji, atas perintah Dalem di tempatkan di Den Bukit sebagai penguasa di daerah itu, dibantu oleh keturunan Kyai Ularan. Dia sebagai pendiri kerajaan Buleleng yang kemudian bernama I Gusti Panji Sakti.

Pada masa ini muncul Pujangga, Pangeran Telaga di mana tahun 1582 mengarang :
  1. Amurwatembang
  2. Rangga Wuni
  3. Amerthamasa
  4. Gigateken
  5. Patal
  6. Sahawaji
  7. Rarengtaman
  8. Rarakedura
  9. Kebo Dungkul
  10. Tepas dan
  11. Kakansen.
Sedangkan Kyai Pande Bhasa mengarang : Cita Nathamarta, Rakkriyan Manguri mengarang : Arjunapralabdha, Pandya Agra Wetan mengarang : Bali Sanghara


AKHIR MASA PEMERINTAHAN


Dalem Anom Pemahyun
, Setelah Dalem Sagening wafat pada tahun 1665, maka I Dewa Anom Pemahyun dinobatkan menjadi Raja dengan gelar Dalem Anom Pemahyun. Dalam menata pemerintahan Dalem belajar dari sejarah dan pengalaman. Karena itu secara progresif dia mengadakan pergantian para pejabat yang kurang diyakini ketulusan pengabdiannya.


Dalem Dimade Setelah Dalem Anom Pemahyun meninggalkan istana Gelgel, maka I Dewa Dimade dinobatkan menjadi susuhunan kerajaan Bali dengan gelar Dalem Dimade 1665-1686, seorang raja yang sabar, bijaksana dalam mengemban tugas, cakap memikat hati rakyat. Patih Agung adalah Kyai Agung Dimade (Kryan Agung Maruti) berkemauan keras dan bercita-cita tinggi. Kyai Agung Dimade adalah anak angkat I Gusti Agung Kedung. Sebagai demung diangkat Kryan Kaler Pacekan dan Tumenggung adalah Kryan Bebelod.


DALEM BEKUNG

SRI AJI PAMAHYUN BEKUNG / I DEWA PAMAHYUN
TAHUN 1560 M / TAHUN CAKA 1482


Raden Pangharsa yang berhak menggantikan kedudukan Dalem Batur Enggong yang telah wafat tahun 1550 M, karena usianya masih sangat muda maka dibentuklah suatu perwalian mahkota
yang terdiri dari bangsawan bangsawan putra dari Dewa Tegal Besung dengan tugas menjalankan pemerintahan sehari-hari Kerajaan Gelgel sampai putra mahkota dinyatakan dapat memimpin Kerajaan Gelgel. Adapun Perwalian tersebut beranggotakan :

I Dewa Gedong Atha, I Dewa Nusa, I Dewa Pangedangan, I Dewa Anggungan, dan I Dewa Bangli. Sri
Aji Tegal Besung pada adalah putra bungsu dari Dalem Wawu Rawuh/ Sri Kresna Kepakisan (yang pertama di Bali).

Menurut catatan orang Belanda
yang bernama Aernoudt lintgens yang pada bulan Pebruari 1597 mengunjugi Bali dan berkesempatan bertemu dari Raja Bali yang bernama Dalem Pambahyun Bekung mengungkapkan bahwa Bali dibawah pemerintahan Dalem Bekung berada dalam keadaan makmur dan hidup tenang dibawah pimpinan seorang Raja yang berwibawa.

Lintgens menceritakan bahwa Raja Bali pada saat dia berada di Kuta sedang mempersiapkan keberangkatan kurang lebih 20.000 pasukan menuju Blambangan Jawa Timur yang pada watu itu diduduki oleh Kerajaan Mataram. Raja Bali berkeinginan untuk merebut kembali wilayah tersebut. Raja duduk diatas pedati yang dihias atapnya dan ditarik dua ekor kerbau putih, sedangkan pengawalnya terdiri da
ri beberapa ratus orang yang mendahului kendaran Raja yang semuanya memanggul tombak yang dilapisi oleh emas sedangkan raja bersenjatakan keris yang berhulu dari parung emas dengan hiasan permata yang berkilau.

Raja dikelilingi oleh bangsawan bangsawan yang bersenjatakan keris yang bentuknya sama dengan yang dipakai Raja dan dibelakang raja berjalan lagi ratusan pengawal yang bersenjatakan bedil dan panah. Lintgens juga sempat berkunjung ke kerajaan Gelgel untuk menghadap raja diistananya. Dia menggambarkan
keadaan istana yang serba besar, megah dan mewah. Disana dia melihat lagi ratusan tombak yang berhiaskan emas, perhiasan perhiasan dan tempayan dari emas.

Namun demikian walaupun di Bali keadaan begitu aman tidak demikian dengan wilayah kekuasaan beliau di luar pulau Bali. Pada masa Pemerintahan Dalem Bekung adalah awal kesuraman kerajaan Gelgel. Karena pada masa pemerintahann
ya ini pula terjadi banyak masalah dan kesulitan. Masa keemasan Gelgel mulai memudar pada masa pemerintahan Dalem Bekung (1550--1580 M) putra sulung Dalem Waturenggong , Kerajaan -kerajaan Gelgel di luar Bali yang pernah dikuasai Dalem Waturenggong satu per satu melepaskan diri.

Raja Bali

PEMBERONTAKAN GUSTI BATAN JERUK


Ada beberapa versi yang menjelaskan mengenai pemberontakan pada masa pemerintahan Dalem Bekung

Versi Pertama

Setelah Dalem Waturenggong wafat maka putra beliau yang tertua Dewa Pamahyun/ Dalem Bekung dinobatkan sebagai Raja di Gelgel, namun pada saat itu usia beliau masih sangat muda sehingga paman paman beliau ingin mengambil kedudukan beliau sebagai Raja Gelgel.

Mengetahui hal tersebut I Gusti Agung Batan Jeruk sebagai patih agung yang merupakan orang kedua setelah raja mengambil prakarsa untuk mengamankan raja dari kemungkinan terjadinya pengambilalihan kekuasaan, karena itu I Gusti Batan Jeruk membatasi orang orang yang ingin bertemu dengan Raja.

Hal tersebut dirasakan oleh pejabat pejabat kerajaan yang lain sebagai suatu perebutan kekuasaan karena itu harus dilawan dan Raja harus diselamatkan. Oleh karena itu Kiyai Kebon Tubuh kemudin minta bantuan kepada Kiyai Manginte dari Kapal untuk mengembalikan kedudukan Dalem Bekung sebagai raja Gelgel.


Versi Kedua

Versi ini menyatakan bahwa I Dewa Anggungan yang merupakan paman dari Raja Gelgel sekaligus pendamping raja yang masih muda berambisi untuk menggantikan kedudukan sebagai raja, oleh karena itu beliau bersekongkol dengan Gusti Batan Jeruk untuk menggulingkan kekuasaan raja.

Versi Ketiga

Versi ini ditulis oleh Dr. Soegianto Sastrodiwiryo (Perjalanan Danghyang Nirarta) yang menyatakan bahwa terdapat suatu keyakinan bahwa keturunan Arya Kepakisan sebagai keturunan kesatria lebih memiliki hak untuk memerintah dari pada keturunan Dalem Sri Kresna Kepakisan yang berasal dari keturunan Brahmana.

Perasaan perasaan seperti itu muncul karena adanya kemelut didalam istana Kerajaan Gelgel yang diakibatkan oleh pertentangan politik dan hubungan percintaan. Raja Gelgel dianggap kurang memperhatikan kesejahteraan rakyat dan terlibat dalam skandal skandal yang bertentangan dengan kehidupan sebagai seorang kesatriya. Maka timbullah ajakan dari para akhli waris Arya Kepakisan untuk bangkit mengatasi pergolakan dan adanya kesamaan kepentingan dari I Dewa Anggungan untuk berkuasa maka terjadilah perlawanan terhadap kekuasaan Raja.

Namun versi manapun yang dianggap benar yang jelas peristiwa perlawanan terhadap raja memang benar terjadi. I Dewa Pamahyun/ Dalem Bekung yang menduduki tahta kerajaan belum berusia dewasa sehingga belum mengerti cara cara menghadapi serangan musuh. Rupanya tindakan Gusti Batan Jeruk dilakukan tanpa memperhitungkan kekuatan lannya di luar istana Gelgel.

Tekad Kriyan Gusti Batan Jeruk bertambah besar dengan terdamparnya kapal Portugis di Bali Selatan (Bukit Pecatu) yang mana kapal tersebut mengangkut persenjataan dan meriam yang semuanya dirampas atas perintah yang berkuasa di Kerajaan Gelgel karena adanya hukum Hak Tawan Karang di Kerajaan Bali tersebut.
Dengan persenjataan yang dimiliki tersebut akan dipergunakan untuk menghadapi siapapun yang berani menghalangi tekadnya untuk merebut kekuasaan Kerajaan Gelgel.

peristiwa karamnya kapal ini menurut catatan orang Portugis Lintgenan yang mencatat bahwa kapal tersebut menhantam batu karang yang terletak di "Verkenshuk" yaitu tanah yang berbatu batu, orang Belanda menyebutnya "Tafelhoek"

Kriyan Gusti Batan Jeruk sudah dinasehati oleh pendeta Budha sebagai bagawanta di Kerajaan Gelgel agar jangan sekali kali menyamai kedudukan Dalem sebagai penguasa di Kerajaan Gelgel namun nasehat tersebut diacuhkan oleh beliau. Demikianlah akhirnya pemberontakan tersebut dilakukan dengan menyerbu kedalam istana Gelgel oleh Gusti Batan Jeruk dan Dewa Anggungan dibantu oleh Kriyan Tohjiwa dan Kriyan Pande sebab Kriyan Pande merupakan satu keluarga dengan Gusti Bantan Jeruk terhitung menekan dari sepupu putra tertua dari Kriyan Dawuh Baleagung dan cucu Pangeran Akah.

Pemberontakan tersebut berhasil menahan putra putra raja di dalam istana. Pemberontakan tersebut terjadi pada tahun 1556 M tahun caka 1478 dengan sebutan candrasangkala " Brahma Nyarita Kawahan Wani " Brahmana = angka 8, Nyarita = angka 0, Kawahan = angka 5 dan Wani angka 1.

Peristiwa tersebut menggemparkan Kerajaan Gelgel dan menyulut para pendukung yang masih setia kepada Raja untuk membebaskan kedua putra raja tersebut. Dalam peristiwa tersebut para menteri dan pejabat pejabat tinggi kerajaan hampir semuanya memihak kepada Gusti Batan Jeruk. Hanya Kyai Kebon Tubuh dan keempat pamannya yang masih setia kepada Dalem Bekung.

Tersebutlah Kriyan Dawuh Nginte yang bermukim di Kapal mendengar berita adanya pemberontakan tersebut, memohon ijin kepada ayahnya untuk membantu menyelamatkan Raja Gelgel. Setelah mendapat ijin ayahnya maka mulailah perjalanan beliau dengan pasukannya menuju Kerajaan Gelgel dengan diiringi oleh Kiyai Pedarungan Putra Kriyan Patih Tuwa.

Singkat cerita setelah Dawuh Nginte tiba di Istana Gelgel beliau kemudian membujuk para menteri yang semula berpihak kepada Gusti Batan Jeruk untuk kembali berpihak kepada raja. Usaha beliau berhasil sehingga para menteri tersebut akhirnya membatu Dawuh Nginte untuk berperang melawan Gusti Batan Jeruk.

Kriyan Dawuh Nginte tampil sebagai pimpinan pasukan diikuti oleh Kyai Panatyan, Kiyai Ngurah Tabanan, Kyai Tegeh Kori, Kyai Kaba Kaba, Kyai Buringkit, Kiyai Pering, Kiyai Cagahan, Kyai Sukahet dan Kyai Berangsinga. Ketika Kriyan Batan Jeruk sedang sibuk menyusun kekuatannya di luar istana maka Kriyan Dawuh Nginte dan yang lainnya serempak masuk keistana untuk membebaskan dua putra Raja yaitu Dalem Bekung dan Dalem Segening yang ditawan oleh pihak pemberontak.

Kiyai Kebon Tubuh berhasil menyelamatkan Putra raja tersebut dengan melewati lubang tembok pagar tembus ke rumah Kryan Dawuh Bale Agung di sebelah barat pasar kemudian keluar dari Pikandelan. Disana sudah bersiap pasukan yang masih setia kepada pemerintahan dalam jumlah besar.

Tidak berselang beberapa lama datanglah Kriyan Batan Jeruk dan Dewa Anggungan dibantu oleh Kriyan Pande dan Kriyan Tohjiwa mengamuk secara membabi buta didalam istana. Adapun adik Raja Dalem Bekung seorang putri masih berada didalam istana dibunuh tanpa perlawanan. Kriyan Pande bersama Kriyah Tohjiwa bermaksud untuk merusak pintu istana dengan kapak namun dapat dicegah oleh Kriyan Dawuh Nginte sehingga terjadi perang tanding diantara mereka. Kriyan Tohjiwa tewas dalam perang tanding tersebut dan Kriyan Pande menyerahkan diri.

Pasukan yang setia kepada pemerintahan Dalem kemudian mengepung kediaman Gusti Batan Jeruk namun sebelumnya Gusti Batan Jeruk telah meloloskan diri beserta sanak keluarganya menuju ke arah timur dengan mengenakan kain lembaran sudamala. memakai kampuh sutera lumut dan menyunting sehelai bunga kembang sepatu. Demikian pula Dewa Anggungan ikut melarikan diri kearah timur.

Namun pelarian tersebut terkejar pasukan yang setia kepada Dalem sampai di desa Jungutan Bungaya Karangasem sehingga terjadilah perang tanding yang mengakibatkan tewasnya I Gusti Batan Jeruk. I Dewa Anggungan kemudian meyerahkan diri tetapi hubungan kekeluargaanya dilepas oleh keempat saudaranya dengan menurunkan derajat kebangsawanannya menjadi Sang Anggungan dan tidak diakui lagi sebagai Dewa.

Keluarga Gusti Batan jeruk lainnya seperti Kriyan bebengan, Kriyan Abian Nangka dan Kriyan Tusan yang turut terlibat dalam pemberontakan tersebut menyelamatkan diri dari kejaran pasukan yang setia kepada Raja bersembunyi di dibawah tumbuh tumbuhan jawa yang diatasnya bertengger burung perkutut yang sedang berkicau. Karena terhindar dari bahaya tersebut maka maka keturunannya pantang makan jawa dan burung perkutut.

Setelah Gusti Batan Jeruk tewas maka sanak keluarganya tidak berani lagi tinggal di Gelgel mereka berpencar ke segala arah serta menyembunyikan indentitas dirinya (Nyineb Wangsa). Adalah Kiyai Agung Petandakan putra pertama pangeran Nyuhaya yang ikut melarikan diri kearah timur. Adapun janda Gusti Batan Jeruk dan anak angkatnya I Gusti Oka dapat meloloskan diri dan tinggal di desa Budakeling (Persraman Danghyang Astapaka).

Setelah sekian lama janda Gusti Batan Jeruk yang bernama Ni Gusti Ayu Singarsa dijadikan istri oleh I Dewa Karangamla yang merupakan penguasa daerah Karangasem, namun dengan syarat dikemudian hari anak angkatnya atau keturunannya diangkat sebagai penguasa di wilayah Karangasem
. Syarat tersebut disetujui maka setelah dewasa I Gusti Oka menikah dan mempunyai 6 orang putra diantaranya Gusti Nyoman Karang yang setelah dewasa menikah dengan keturunan I Gusti Tusan melahirkan seorang putra bernama I Gusti Anglurah Ketut Karang ditetapkan sebagai Raja Karangasem. Pada tahun 1661 M beliau membangun Puri Amlapura yang terletak di Puri Kelodan sekarang, beliaulah yang menurunkan Raja Raja Karangasem dan Lombok.

Setelah pemberontakan Gusti Batan Jeruk dapat dipadamkan maka keamanan dan ketentraman Istana Gelgel segera puluh kembali. Untuk mengantikan Kriyan Batan Jeruk ditetapkan Kriyan Dawuh Nginte sebagai patih Agung merupakan keturunan Arya Kepakisan anak dari Pangeran Asak. Beliau juga diberi julukan Ki Gusti Dawuh.

Setelah beberapa tahun Raden Pangharsa/ Kiyai Pamahyun sudah meningkat dewasa kemudian dinobatkan sebagai Raja Gelgel ke III
dan Dalem Seganing adik Dalem Bekung ditetapkan sebagai " Iwa Raja " yang artinya raja muda. Baginda Raja Pahmahyun setelah bertahta ternyata kurang cakap memimpin kerajaan, syukurlah adiknya Anom Sagenin pandai memikat hati rakyat sehingga pemerintahan Kerajaan Gelgel tetap berdiri tegak.

Sesudah berselang beberapa lama dikisahkan Kriyan Pande menghadap Dalem Pamahyun untuk mohon ampun atas perbuatannya ikut serta dalam pemberontakan Gusti Batan Jeruk atas prakarsa Kyiyan Dawuh Manginte dan Kriyan Dawuh Baleagung ayah Kriyan Pande.

Dalem Bekung menyambut baik menyerahan diri tersebut dan memberikan pengampunan terhadap Kriyan Pande mengingat Jasa Kriyan Nginte yang telah meyelamatan kedudukan Raja Gelgel. Dan untuk menguji kesetiaan Kriyan Pande maka Dalem Pamahyun kemudian menugaskan Kriyan Pande ke Sumbawa untuk memadamkan pemberontakan yang dilakukan dengan tujuan membebaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Gelgel. Berkat keberanian dan ketangkasan Kriyan Pande maka pemberontakan tersebut dapat dipadamkan dan sepulangnya beliau ke Gelgel diberikan penghargaan atas jasa nya.

Pada tahun 1587 terjadilah pendaratan besar besaran di Pantai Tuban (Bali Selatan) yang dilakukan oleh Kerajaan Pasuruan dan Mataram dengan tujuan menundukkan Pulau Bali. Kriyan Pande yang telah memiliki pengalaman bertempur kemudian ditugaskan kembali membendung serangan dari pulau Jawa tersebut. Dengan gagah berani beliau memimpin laskar Bali sampai kriyan pande tertembak giginya hingga rontok dan peluru musuh tersebut disemburkan dari mulutnya.

Beliau lalu mengangkat senjata sambil berteriak " mudah mudahan peluru ini mengenai musuh " dan Ki Gusti Nginte menimpali " mudah mudahan berhasil dan saya akan mohonkan hadiah daerah sebelah timur sungai Unda ". Peperangan ini berhasil dengan Gemilang penyerangan dari Pulau Jawa dapat dipukul mundur, dan atas permohonan Kriyan Nginte, Dalem Pamahyun Bekung kemudian menganugrahkan daerah sebelah Timur sungai Unda kepada Kriyan Pande. Dengan anugrah tersebut Kriyan Pande diberikan hak untuk menentukan nasib penduduk penduduk desa yang bermukim di daerah tersebut.

Pada Jaman pemerintahan Dalem Pamahyun Bekung pola pikir beliau mengalami perubahan dengan tidak mau lagi menerima saran dan usul dari keempat pamannya yaitu I Dewa Geding Artha, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli dan I Dewa Pagedangan karena masih bersaudara dengan Sang Anggungan yang melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Dalem Bekung. Beliau memerintahkan keempat pamannya untuk keluar dari Istana Gelgel dan masing masing diberikan tempat pemukiman yang baru :
  • I Dewa Gedong Arta bersama keluarga pergi menuju Desa Manggis
  • I Dewa Nusa bersama keluarga menuju Desa Sibang
  • I Dewa Bangli pergi menuju Desa Bangli
  • I Dewa Pagedangan menuju desa Tohpati.
Dalem Pamahyun Bekung kemudian menyuting seorang putri bernama Sri Dewi Pamahyun dan tidak berselang beberapa lama beliau menyunting seorang putri lagi yang bernama I Gusti Ayu Samwantiga.


HURU HARA DI KERAJAAN GELGEL

Suasana di kerajaan Gelgel tampak mulai keruh semenjak Dalem Pamahyun naik tahta di kerajaan Gelgel. Perbuatan yang melanggar norma norma kesusilaan kerap terjadi yang dilakukan oleh Pejabat pejabat tinggi kerajaan maupun yang melibatkan beliau sendiri.

Diceritakan salah seorang abdi Kriyan Pande mempunyai seorang istri yang sangat cantik menjalin hubungan gelap dengan salah seorang pejabat kerajaan yang bernama Kiyai Telabah. Hubungan gelap tersebut akhirnya diketahui oleh suaminya dan karena sakit hati maka suaminya memutuskan untuk bunuh diri.

Maka sesuai hukum adat yang berlaku pada saat itu maka janda abdi tersebut menjadi milik Kriyan Pande sebagai majikannya. Janda muda tersebut ternyata tidak mampu melepaskan diri dari hubungan percitaannya dengan Kiyai Telabah. Dalam pertemuannya, janda tersebut diberikan nasi sisa oleh Kiyai Telabah yang mana hal tersebut diketahui oleh Kryan Pande sehingga menimbukan kemarahan beliau kepada Kyai Telabah.

Untuk melampiaskan kemarahannya maka dicarilah suatu cara untuk menyingkirkan Kyai Telabah. Beliau teringat bahwa Kiyai Telabah pernah diketahui menjalin hubungan gelap dengan selir Raja yang bernama Ni Gusti Samwantiga dan Kiyai Telabah diberikan sebentuk cincin mirah yang tiada bandingannya.

Kriyan Pande sesuai dengan namanya beliau terkenal ahli membuat barang barang perhiasan dari emas dan perak. Pada suatu ketika Kriyan Pande datang menghadap ke istana, dengan sengaja beliau memakai perhiasan yang baru selesai dibuatnya kehadapan Raja Gelgel.

Perhiasan kalung tersebut begitu indah sehingga Raja terkagum kagum memandangnya dan atas pertanyaan raja maka Kriyan Pande menerangkan bahwa perhiasan tersebut dibuat sendiri olehnya dan jika Raja berkeinginan memiliki maka maka dengan senang hati Kriyan Pande akan mempersembahkan kepada Raja. Namun Raja menyatakan keengganannya menerima persembahan barang yang sudah pernah dipakai oleh orang lain.

Raja berkeinginan untuk dibuatkan yang baru dengan permata yang tidak ada bandingnya dan untuk itu beliau menugaskan Kriyan Pande untuk mencarikan permata dimaksud. Maka sesuai rencana, Kriyan Pande kemudian memberitahu Raja bahwa ia pernah melihat permata yang begitu indah tiada bandingnya dipakai oleh Kiyai Telabah yang mana mungkin berkenan di hati Raja.

Setelah mohon diri kehadapan Raja, Kriyan Pande kemudian pergi kerumah Kyai Telabah untuk menjelaskan maksud kedatangannya atas perintah Raja untuk meminjam cincin yang dikenakan oleh Kiyai Telabah. Mengetahui rahasianya akan segera terbongkar maka Kiyai Telabah kemudian menyerahkan cincin tersebut kepada Kriyan Pande dan dengan tergesa gesa meninggalkan Wilayah Gelgel menuju Desa Kuta Badung.

Tersebutlah Kriyan Pande setelah menghadap Raja dan memperlihatkan cincin tersebut, Raja menjadi sangat terkejut dan merasa yakin bahwa cincin tersebut adalah kepunyaan beliau yang diberikan kepada selirnya
Ni Gusti Samwantiga. Beliau menduga bahwa jatuhnya cincin tersebut ketangan Kiyai Telabah pastilah karena terjadinya hubungan yang tidak senonoh diantara keduanya. Bangkit kemarahan Raja dan memberikan perintah kepada Kriyan Pande untuk mencari jalan untuk melenyapkan Kiyai Telabah yang telah berani mencemarkan kehormatan istana Kerajaan Gelgel.

Oleh karena hal ini merupakan aib yang bila diketahui oleh khalayak umum akan meruntuhkan kewibawaan Kerajaan Gelgel maka Raja memerintahkan agar hal tersebut dilakukan secara rahasia mengingat keluarga Kiyai Telabah banyak yang menjadi pemuka pemuka masyarakat. Kriyan Pande menyatakan kesanggupannya untuk menjalankan titah raja asalkan Raja bersedia melindungi dirinya apabila rahasia pembunuhan tersebut terbongkar nantinya. Dan sebagai pengikat atas janji mereka berdua maka Raja dan Kriyan Pande pergi ke Pura Warapsari untuk mengucapkan sumpah bersama.

Raja mengucapkan sumpah sebagai berikut "Ya Dewa yang maha pengasih di gunung Agung jika Kriyan Pande berhasil membunuh Kyai telabah dan kalau patik mengingkari sumpah/ janji agar Dewa Yang Maha Kuasa mengetahui melipatgandakan kesalahan patik dan patik bersedia menanggung segala duka nestapa dan derita masyarakat dibumi ini "

Kemudian disambung oleh Kriyan Pande "Ya Paduka Dewa Yang Maha Adil di Gunung Agung jika usaha patik untuk membunuh Kiyai Telabah tidak berhasil maka patik bersedia
menanggung segala duka nestapa dan derita rakyat Bali "

Demikianlah sumpah yang diucapkan bersama oleh Raja dan Kriyan Pande dan setelah itu dilanjutkan dengan sembahyang bersama.

Setelah sampai dirumah Kriyan Pande kemudian memikirkan segala cara untuk melenyapkan Kyai Telabah dengan ilmu kamandaka. Setelah beberapa lama memikirkannya maka ditemukanlah suatu cara yang licik untuk melenyapkan kiyai Telabah. Adalah seorang abdi setia setia Kriyan Pande yang bernama Ki Capung yang akan diberikan tugas untuk melaksanakan pembunuhan tersebut. Untuk melaksankan tugas tersebut Ki Capung dibekali dengan sebilah keris yang sangat ampuh yang bernama "Kapal Angsoka".

Ki Capung segera berangkat ke Kuta untuk melaksanakan perintah tersebut dan sesampainya disana ia menyamar sebagai seorang perempuan. Dahulu ada seorang pelaut yang hukum dan disiksa oleh kiyai Telabah walaupun tidak sebanding dengan kesalahan yang telah dilakukannya. Pelaut inilah yang menuntun Ki Capung menuju kediaman Kiyai Telabah.

Ketika hari mulai senja Kiyai Telabah baru sekali pulang dari laut dan ketika melangkahkan kakinya memasuki gerbang rumahnya tiba tiba diserang oleh 2 orang bersenjata. Beliau sempat membalas serangan tersebut dengan menikam salah seorang penyerangnya yaitu pelaut itu dengan kerisnya "Ki Tinjak Lesung" yang menyebabkan penyerangnya tersebut tewas seketika, akan tetapi Kiyai Telabahpun tak luput terkena tikaman keris pula yang dilakukan oleh Ki Capung sehingga Kiyai Telabah tewas seketika itu juga.

Ki Capung segera menyingkir dari tempat tersebut dan membiarkan mayat pelaut tersebut dan Kiyai Telabah tergeletak di tempat tersebut. Sesaat kemudian barulah orang berdatangan ketempat itu dan menyangka bahwa Kitai Telabah telah tewas karena perang tanding dengan pelaut tersebut dan tidak mengira adanya orang ketiga dibalik peristiwa tersebut.

Tersebutlah Ki Capung setelah berhasil melaksanakan misinya tersebut kemudian melapor hasilnya kepada majikannya yaitu Kriyan Pande dan segera melaporkannya kehadapan Raja. Raja sangat bersuka cita dan yakin bahwa pembunuhan tersebut akan tetap gelap selama lamanya. Atas jasanya tersebut Ki Capung kemudian diberikan hadiah yang istimewa dari Raja.

Suasana di Kota Gelgel tetap tenang setelah kejadian tersebut , keluarganya sama sekali tidak menduga bahwa pembunuhan tersebut melibatkan pihak ketiga. Setelah beberapa bulan lamanya terjadilah suatu peristiwa yang mengemparkan kota Gelgel dimana peristiwa tersebut bermula dari tewasnya Ki Capung ditombak oleh peronda yang memergokinya sedang memanjat rumah Kriyan Pande pada malam hari.

Keesokan harinya datanglah istrinya menangisi jasad suaminya yang malang sambil mencerca Kriyan pande yang dikatakan tidak tahu membalas budi. Rahasia pembunuhan atas Kiyai Telabah tersebut keluar dari mulutnya sehingga didengar oleh Kyai Byasama yang merupakan anak dari Kriyan Pande. Kriyan Pande mengancam Istri Ki Capung untuk tutup mulut namun tidak dihiraukan olehnya. Tangisnya malah semakin menjadi jadi dan rahasia pembunuhan tersebut terus menerus keluar dari mulutnya.

Karena hilang kesabaran Istri Ki Capung kemudian diseret oleh Kiyai Byasama ke tengah pasar dengan maksud untuk membuat malu istri Ki Capung di lihat orang banyak. Namun hal tersebut malah membuat Istri Ki Capung semakin menjadi jadi sambil berteriak-teriak ia membongkar rencana pembunuhan tersebut yang dilakukan oleh suaminya atas perintah Kriyan Pande.

Untuk menghindari semakin banyaknya rahasia tersebut terbongkar maka Kyai Bysama kemudian menikam Istri Ki Capung dengan sebilah keris yang menyebabkan Istri ki Capung tewas seketika. Namun apa yang telah dikatakan oleh Istri Ki Capung telah didengar oleh orang banyak sehingga menimbulkan kegemparan di Kota Gelgel.

Adalah Kiyai Anglurah Kanca salah seorang kerabat dekat Kiyai Telabah segera menghadap Raja Gelgel menuntut agar Kriyan Pande dijatuhi hukuman atas perbuatannya membunuh Kiyai Telabah. Mengingat Keluarga kiyai Telabah sangat banyak jumlahnya maka Raja mengabulkan tuntutan tersebut dan memerintahkan agar dilakukan " sumpah Cor Pangrerata " apabilan Kriyan Pande mangkir dari tuduhan tersebut.

Keputusan Raja diterima dengan baik oleh Kiyai Anglurah Kanca berserta keluarganya dan mereka akhirnya membubarkan diri sambil menungu kelanjutan dari tuntutan mereka tersebut. Tersebutlah Kriyan Pande amat gelisah mendengar keputusan yang diambil atas dirinya oleh Raja tersebut sehingga dengan segera Kriyan Pande pergi Menghadap ke istana untuk menanyakan kebenaran hal tersebut dan Raja menyarankan kepada Kriyan Pande untuk mengangkat sumpah saja untuk memperpendek urusan tersebut.

Jawaban Raja tersebut menimbulkan kekecewaan didalam hati Kriyan Pande dan segera meninggalkan raja tanpa mohon diri terlebih dahulu. Ia yakin Raja sengaja cuci tangan terhadap permasalahan tersebut dan raja telah mengingkari sumpahnya dulu untuk melindungi dirinya apabila rahasia pembunuhan tersebut terbongkar.

Demi kehormatan keluarganya Kriyan Pande bertekat akan menghadapi resiko yang akan terjadi. Untuk itulah sebelum sesuatu yang tidak baik akan menimpanya beliau mengarang syair yang berjudul "Nathamartha" yang menggambarkan kebahagian seorang kesatria kelak di alam baka apabila mati didalam medan pertempuran. Setelah itu beliau kemudian memanggil seluruh keluarganya akan kebulatan tekadnya untuk menghadapi apapun yang akan terjadi dan keluarganya serempak menjawab bahwa mereka mendukung keputusan yang diambil oleh Kriyan Pande dan bersedia mati untuk membela kehormatan keluarga.

Pada hari yang ditentukan untuk melaksanakan sumpah Cor tersebut ternyata Kriyan Pande tidak datang dan oleh pemerintah Kriyan Pande dinyatakan telah berani melawan perintah Raja dan oleh karenanya Kriyan Pande patut mendapat hukuman yang setimpal.

Pasukan bersenjata segera dikerahkan untuk mengepung rumah Kriyan Pande. Dengan pengikutnya sebanyak 400 orang kriyan Pande dan ketiga anaknya yaitu Kiyai Agra Byasama, Kiyai Plampung dan Kiyai Jalengkong keluar dari rumahnya menghadapi pasukan Gelgel. Nasib kerajaan Gelgel tertolong oleh Banjirnya Sungai Unda sehingga pendukung terbesar Kriyan Pande disebelah Timur sungai Unda tidak dapat menolong majikannya dalam menghadapi musuh. Ikut serta Kiyai Anyar Rame yang berupakan adik Kriyan Pande bergabung dengan kakaknya untuk menghadapi pasukan Gelgel.

Akhirnyan pertumpahan darah tidak bisa dihindari lagi yang menimbulkan korban yang sangat banyak dikedua belah pihak. Pasukan Gelgel dibawah pimpinan Kiyai Bedahulu dapat dipukul oleh laskar Kriyan Pande sampai kesebelah selatan kota. Disana Pasukan Gelgel menyusun kekuatannya kembali sambil bertahan. Dalam pertempuran tersebut tewas Kyai Nyam Rame yang merupakan adik Kriyan Pande.

Kematian pamannya membangkitkan kemarahan Kiyai Bysama yang segera menggantikan memimpin pasukannya menerjang Pasukan Gelgel. Serangan yang membabi buta tersebut menyebabkan Pasukan Gelgel kucar kacir dan berhasil dipukul mundur dan pimpinan pasukannya kiyai Bedahulu lari menyelamatkan diri untuk bergabung dengan induk pasukannya dibawah pimpinan kiyai Pinatih dan Kiyai Kebon Tubuh.

Pertahanan Pasukan Gelgel disebelah selatan dan Barat telah berhasil dipukul mundur oleh Kriyan Pande selanjutnya pasukannya diarahkan ke arah utara kota. Disana telah menanti pasukan dalam jumlah besar dibawah pimpinan Kiyai Tabanan, kiyai Kaba Kaba, Kiyai Buringkit dan Kiyai Tegeh Kori. Terjadi pertempuran yang sangat dahsyat disana sehingga menewaskan 300 laskar Kriyan Pande namun pertahanan pasukan Gelgel dapat ditembus sehingga dengan sisa pasukannya Kriyan Pande melanjutkan serangan kearah timur langsung ke istana Raja.

Istana Raja dikawal oleh ki Pendarungan yang telah siap sedia menunggu kedatangan Kriyan Pande. Kriyan Pande masih merupakan anak keponakan di sepupu oleh Ki Pendarungan karena Rakyan Pendarungan adalah putera Kriyan Kapal. Kriyan Pande mengutarakan maksudnya untuk menghadap Raja namun Kriyan Pendarungan tidak mengijinkan selama beliau masih hidup. Maka terjadilah perang tanding diantara keduanya yang mengakibatkan beliau sama sama tewas dalam perang tanding tersebut.

Adapun Kyai Bysama dapat meloloskan diri dan berhasil menerobos kedalam pagar istana namun beliau berhadapan dengan I Gusti Lurah Sidemen yang yang merupakan mertuanya sendiri. I Gusti Ngurah Sidemen telah menasehati menantunya untuk mengurungkan niatnya dan beliau berjanji akan memohonkan ampun untuk Kiyai Bysama kehadapan Raja bila mau menuruti nasehatnya. Namun hal tersebut tidak digubris oleh Kyai Bysama, pasukan yang melakukan pengawalan tersebut seketika diterjang olehnya dan karena kalah banyak Kiyai Bysama akhirnya tewas direbut oleh pengawal pengawal istana.

Melihat menantunya tewas dengan cara menyedihkan I Gusti Ngurah Sidemen pingsan dan segera ditandu ketempat yang aman. Sementara anak Kriyan pande yang lain yaitu Kyai Plampung dan Kiyai Jalengkong berhasil masuk ke istana melalui selokan pembuangan air namun sebelum dapat berbuat apa mereka keburu disergap oleh pengawal istana dan mereka tewas seketika.

Hancurlah putera dan cucu Ki Gusti Dawuh Baleagung, Riuh ratap tangis rakyat yang telah menunggu disebelah timur kali Unda, hasrat mereka membantu tidak tercapai karena terhalang oleh banjir besar. Jika tidak terhalang banjir besar mungkin kerajaan Gelgel akan menderita kehancuran dan banyak pejabat pejabat Kerajaan akan menjadi korban karena Kriyan Pande sangat disegani oleh rakyatnya karena beliau sangat menyayangi dan mengayomi dan tidak pernah ingkar janji kepada rakyatnya.

Setelah peristiwa huru hara tersebut ibu kota kerajaan Gelgel terasa sangat sunyi karena banyaknya rakyat dan pejabat pejabat pemerintah yang gugur dalam peristiwa tersebut, hanya I Gusti Manginte dan Ki Gusti Kanca yang luput dari peristiwa tersebut karena beliau tinggal disebalah timur laut istana.

Adapun Kiyai Dawuh Baleagung yang merupakan ayah dari Kriyan Pande setelah peristiwa itu sempat mengarang sebuah nyanyian yang bernama Arjuna Pralaba dan beliau sering menghadap ke istana untuk mohon pekerjaan tulis menulis karena beliau adalah seorang juru tulis yang telah berhasil menyelesaikan beberapa karya tulis ilmu kerohnian yang utama. Kedatangannya ditolak oleh raja sehingga beliau kembali pulang dengan perasaan pilu dan sedih dan beliau merasa hidupnya sudah hampa karena ditinggal oleh anak dan cucunya yang menyebabkan beliau akhirnya jatuh sakit dan tidak berapa lama beliau akhirnya meninggal dunia.

Setelah peristiwa yang menimbulkan perang saudara tersebut Raja Pamahyun sudah dianggap tidak berwibawa lagi, Beliau seperti tersadar akan keiklafannya sehingga timbulnya peristiwa hebat tersebut. Baginda selalu terkenang dengan kehancuran kota Gelgel tersebut. Setelah memikirnya secara masak masak beliau akhirnya memutuskan meletakkan mahkota sebagai Raja Gelgel dan pergi dari istananya menuju ke daerah sebelah Barat istana yang bernama Jero kapal. Disinalah beliau tinggal mengasingkan diri dari keramaian dan semenjak itu beliau mendapat sebutan " Sang Ing Bedauh " yang artinya yang dipetuan di Barat dan oleh karena beliau tidak mempunyai keturunan maka beliau diberi julukan Dalem Bekung.

Setelah Dalem Bekung meletakkan jabatannya maka berdasarkan hasil rapat antara Pejabat pejabat Kerajaan memutuskan Ida I dewa Anom Sagening diangkat sebagai raja Gelgel ke IV pada tahun 1580 M atau tahun caka 1502.

Oleh karena Dalem Bekung selama memerintah kerajaan Gelgel dianggap tiada berjasa maka roh beliau tidak dibuatkan tempat pemujaan di pura Besakih tidak seperti Raja raja pendahulu beliau. Demikianlah kisah pemerintahan Dalem Singharsa/ Dalem Pamahyun / Dalem Bekung yang menjadi Raja di Gelgel tahun 1560 s/d 1580 M.