Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 22 November 2009

SEJARAH PEMECUTAN

Puri Agung Pemecutan yang lama dibangun pada tahun 1686 pada abad ke 16 dan berlokasi Jl. Thamrin di sebelah Barat Puri Agung Pemecutan yang sekarang dengan batas batas sebagai berikut
  • batas selatan jl. Gunung Batur,
  • batas barat Jl. Gunung Merapi
  • dan batas Utara Jl. Gunung Semeru, membentang dari Hotel Intan Sari sampai pertokoan Lokitasari wisata.
Puri Agung berbahan dasar bangunan batu merah bercampur dengan batu paras dan beratap ijuk. Tembok puri setinggi 3 ½ meter, tebalnya mencapai 50 cm mempunyai kesan kokoh dan di bencingah di ujung selatan berdiri bale kulkul yang keberadaanya masih utuh hingga saat ini, karena tidak ikut terbakar pada waktu peristiwa Puputan Badung tahun 1906 M.

Pintu Masuk ke Puri Pemecutan

Luas areal Puri secara keseluruhan di pusatnya saja, panjang 250 m lebar 175 m atau seluas kurang lebih 4,2 Hektar belum termasuk perluasan ke barat, ke utara , ke timur dan selatan Puri Tanjung Pemecutan. Perluasan tersebut sebagai tempat tinggal putra putra kerajaan.

Disebelah barat Puri terdapat gudang senjata bedil dan meriam sehingga tempat tersebut dinamakan Pemedilan. Disebelah Timur puri berdiri Jero Ukiran dan Jero Kanginan yang sekarang menjadi Puri Agung Pemecutan yang baru.

Wilayah kekuasaan Puri Agung Pemecutan :
  • Batas wilayah Utara - Desa Lemintang
  • Batas Wilayah Selatan - Desa Plase Kuta
  • Batas Wilayah Timur - Desa Sumerta
  • Batas Wilayah Barat - Sebelah Timur Tukad Mati.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari P.L Van Bloemen Waanders seorang kontoler Belanda yang meneliti tentang kerajaan kerajaan yang ada di wilayah Badung diperoleh keterangan bahwa ada 4 pusat kekuasaan di Badung yaitu :
  1. Puri Tegal – Arya Tegeh Kuri putra Arya Kenceng
  2. Puri Agung Gelogor
  3. Puri Alang Badung Suci (Peken Badung) – Keturunan Kiyai Anglurah Jambe Merik
  4. Puri Agung Pemecutan
Bale Kukul yang keberadaannya masih ada hingga saat ini tidak ikut terbakar dalam perang puputan Badung 1906

Dari keempat nama tersebut, Puri Pemecutan paling akhir berdirinya, namun dalam perkembangannya Puri Pemecutan kemudian muncul sebagai pemegang kekuasaan di seluruh wilayah Badung dan menurunkan raja-raja di wilayah Badung.


PEMERINTAHAN SETELAH EKSPEDISI MAJAPAHIT DI BALI


Sejarah keberadaan Puri Agung Pemecutan berkaitan dengan ekspedisi Majapahit ke Bali tahun Çaka 1256 (sastining Bhuta manon janma) atau 1334 Masehi untuk menaklukan kerajaan Bedulu dibawah pimpinan Panglima Arya Damar/ Adityawarman. Dalam lontar Purana Bali Dwipa dinyatakan bahwa Arya kenceng adalah anak dari Arya Damar, sebab Arya Damar ketika menyerang Bali bukan pemuda lagi, diperkirakan usia beliau pada waktu diperkirakan 45 tahun. Hal yang sama juga dinyatakan dalam Kitab Usana Jawa yang menyatakan “ Arya Damar Kenceng Pwa sira “ yang artinya dalam diri Arya Kenceng terdapat darah daging Arya Damar”. Dan hal ini hanya dimungkinkan kalau Arya Kenceng adalah anak kandung Arya Damar yang berhak menerima kedudukan di dalam pemerintahan Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan sebagai ahli waris Arya Damar.


PEMERINTAHAN ARYA KENCENG/ ANGLURAH TABANAN I/ RAJA TABANAN I

Arya Kenceng , beliau adalah penguasa daerah Tabanan, berkedudukan di desa Pucangan atau Buwahan. Satu uraian sejarah yang menguatkan dugaan bahwa Arya Kenceng adalah Anak Arya Damar dinyatakan dalam buku sejarah berjudul Pulau Bali Dalam masa Masa yang Lampau tentang adanya suatu tradisi untuk memberikan suatu jabatan atau kedudukan tertentu dalam pemerintahan kepada anak anaknya untuk menggantikan kedudukan orang tuanya, setelah orang tuanya meninggal atau karena jasa jasa orang tuanya. Pada masa pemerintahan Dalem Ketut Ngelesir di Gelgel Tahun 1380 – 1460. yang menjadi menteri menteri adalah anak anak dari para Arya yang datang ke Bali pada ekspedisi Majapahit untuk menggantikan kedudukan orang tuanya.



Arya Kenceng mengambil istri putri keturunan brahmana yang bertempat tinggal di Ketepeng Renges yaitu suatu daerah di Pasuruan yang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Arya Kenceng memperistri putri kedua dari brahmana tersebut sedangkan putri yang sulung diperistri oleh Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan dari Puri Samprangan dan putri yang bungsu diperistri oleh Arya Sentong. Dari perkawinan dengan putri brahmana tersebut Beliau berputra :

  • Shri Megada Parabhu / Dewa Raka ( tidak tertarik akan kekuasaan, beliau senang melakukan tapa yoga semadi, mencari kesunyian, mendekatkan diri pada alam semesta dan Tuhan Yang Maha Esa untuk mecari ketenangan dan kedamaian, membangun pesraman di Kubon Tingguh ), mempunyai putri yang dijadikan istri oleh Kepala Desa Pucangan dan mempunyai anak lima orang : Ki Bendesa Beng, Ki Guliang di Rejasa,Ki Telabah di Tuakilang, Ki Bendesa di Tajen, Ki Tegehen di Buahan
  • Shri Megada Natha / Dewa Made / Arya Yasan / Sri Arya Ngurah Tabanan Sri Maganata (Sirarya Ngurah Tabanan I ) memangku jabatan raja menggantikan ayahnya, beliau memerintah dengan bejaksana dan berwibawa sehingga terjaminlah keamanan wilayah Tabanan. Sri Maganata dalam sejarah Pemecutan disebut juga dengan Nama Arya Yasan.

Dari Istrinya yang lain, beliau berputra :

  • Kyayi Ngurah Tegeh Kori menjadi raja Badung berkedudukan di sebelah kuburan umum. Merupakan Putra kandung dari Arya Kenceng yang beribu dari desa Tegeh di Tabanan ( bukan putra Dalem yang diberikan kepada Arya Kenceng, menurut babad versi Benculuk Tegeh Kori / Beliau membangun Kerajaan di Badung, diselatan kuburan Badung ( Tegal ) dengan nama Puri Tegeh Kori ( sekarang bernama Gria Jro Agung Tegal ), karena ada konflik di intern keluarga maka beliau meninggalkan Puri di Tegal dan pindah ke Kapal.
  • Di Kapal sempat membuat Pemerajan dengan nama "Mrajan Mayun " yang sama dengan nama Pemerajan sewaktu di Tegal, dan odalannya sama yaitu pada saat "Pagerwesi". Dari sana para putra berpencar mencari tempat. Kini pretisentananya ( keturunannya ) berada di Puri Agung Tegal Tamu, Batubulan, Gianyar dan Jero Gelgel di Mengwitani ( Badung), Jro Tegeh di Malkangin Tabanan. Di Puri Tegeh Kori beliau berkuasa sampai generasi ke empat. Beliau berhasil membuat bendungan di Pegat dan melahirkan golongan Gusti Di Tegeh.
  • Seorang putri bertempat tinggal di Istana di Buwahan diambil istri oleh Kyayi Asak Pakisan di desa Kapal, tetapi tidak memperoleh keturunan.
Pura Kebon Tingguh
Buahan Tabanan

Arya Kenceng sebagai kepala pemerintahan di daerah Tabanan bergelar Nararya Anglurah Tabanan, sangat pandai membawa diri sehingga sangat disayang oleh kakak iparnya Dalem Samprangan. Dalam mengatur pemerintahan beliau sangat bijaksana sehingga oleh Dalem Samprangan beliau diangkat menjadi Menteri Utama.

Karena posisi beliau sebagai Menteri Utama, maka hampir setiap waktu beliau selalu berada disamping Dalem Samprangan. Arya Kenceng sangat diandalkan untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh Dalem Samprangan, karena jasanya tersebut maka Dalem Samprangan bermaksud mengadakan pertemuan dengan semua Arya di Bali. Dalam pertemuan tersebut Dalem Samprangan menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan tersebut tiada lain untuk memberikan penghargaan kepada Arya Kenceng atas pengabdiannya selama ini.

  • Wajai dinda Arya Kenceng, demikian besar kepercayaanku kepadamu, aku sangat yakin akan pengabdianmu yang tulus dan ikhlas dan sebagai tanda terima kasihku, kini aku sampaikan wasiat utama kepada dinda dari sekarang sampai seterusnya dari anak cucu sampai buyut dinda supaya tetap saling cinta mencintai dengan keturunanku juga sampai anak cucu dan buyut.
  • Dinda saya berikan hak untuk mengatur tinggi rendahnya kedudukan derajat kebangsawanan (catur jadma) , berat ringannya denda dan hukuman yang harus diberikan pada para durjana. Dinda juga saya berikan hak untuk mengatur para Arya di Bali , siapapun tidak boleh menentang perintah dinda dan para Arya harus tunduk pada perintah dinda.
  • Dalam tatacara pengabenan atau pembakaran jenasah (atiwatiwa) ada 3 upacara yang utama yaitu Bandhusa, Nagabanda dan wadah atau Bade bertingkat sebelas. Dinda saya ijinkan menggunakan Bade bertingkat sebelas. Selain dari pada itu sebanyak banyaknya upacara adinda berhak memakainya sebab dinda adalah keturunan kesatriya, bagaikan para dewata dibawah pengaturan Hyang Pramesti Guru.
  • Demikianlah penghargaan yang kanda berikan kepada adinda karena pengadian dinda yang tulus sebagai Mentri utama “.
Tempat Pemujaan
Arya Kenceng di Buahan Tabanan

Arya Kenceng karena telah lanjut usia, akhirnya beliau wafat dan dibuatkan upacara pengabenan (palebon) susai dengan anugrah Dalem Samprangan yaitu boleh menggunakan bade bertingkat sebelas yang diwariskan hingga saat ini. Adapun roh sucinya (Sang Hyang Dewa Pitara) dibuatkan tugu penghormatan (Padharman) yag disebut batur dan disungsung oleh keturunan beliau hingga saat ini dan selanjutnya.



MASA PEMERINTAHAN SHRI MEGADA NATHA/ DEWA MADE / ARYA YASAN/ SRI ARYA NGURAH TABANAN/ RAJA TABANAN II

Karena Sri Megadaprabu tidak bersedia memegang kekuasaan di Tabanan, maka yang menjadi Raja menggantikan Bhetara Arya Kenceng adalah Sri Megadanata, dengan nama yang lain Sri Ngurah Tabanan. Beliau tidak lupa dengan hubungan baik dengan Dalem yang pada waktu itu adalah Dalem Ketut Ngulesir, yang lebih dikenal dengan Sri Kepakisan yang beristana di Swecapura atau Linggarsapura Sukasada atau Gelgel. Beliau putra dari Sri Kresna Kepakisan ( cucu dari Dalem Wawu Rawuh ) yang mempunyai istana di Samprangan dan merupakan adik dari Dalem Ile.

Beliau Arya Ngurah Tabanan mempunyai tiga orang istri dari keturunan kesatria dan memberikan 8 orang putra Istri Pertama (Warga para Sanghyang) lahir 4 orang putra (menetap di Tabanan):

  1. Nararya Ngurah Tabanan / Sirarya Ngurah langwang (Putra Mahkota)
  2. Kiyai Madhyattara/ Made Kaler – menurunkan Pragusti Subamia ·
  3. Kiyai Nyoman Pascima / Nyoman Dawuh – menurunkan pragusti Jambe (Pamregan) ·
  4. Kiyai Ketut Wetaning Pangkung – menurunkan pragusti Lodrurung, Ksimpar dan Serampingan
Istri kedua (Warga para Sanghyang) lahir 3 orang putra(menetap di Badung) :
  1. Kiyai Nengah Samping Boni – menurunkan pragusti Samping ·
  2. Kiyai Nyoman Ancak – menurunkan pragusti Ancak dan Angligan ·
  3. Kiyai Ketut Lebah – tidak memberikan keturunan karena kesua anaknya perempuan.

Istri ketiga (Putri bendesa Pucangan) lahir 1 orang putra (menetap di Badung):
  1. Kiyai Ketut Bendesa/ Kiyai Pucangan/ Nararya Bandhana

seperti ayah beliau menjalin hubungan yang baik dengan Dalem Ketut di Gelgel (Anak dari Sri Kresna Kepakisan) sebagai sesuhunan Pulau Bali dan karena masih bersaudara sepupu. Karena demikian akrabnya hubungan tersebut ternyata membawa suatu petaka.

Prasasti Mpu Aji Tusan Lembar 7a transkrip halaman 9 menyebutkan Pada suatu ketika Putra Mahkota Dalem Ketut minta tolong kepada Sri Maganata yang masih merupakan pamannya untuk memotong rambutnya yang sudah panjang. Beliau karena demikian akrabnya maka dipototonglah rambut putra mahkota tersebut sampai gundul tanpa persetujuan dari ayahnya.

Memang sudah takdir dari Yang Maha Kuasa, ketika Dalem Ketut melihat anaknya dalam keadaan gundul, beliau sangat terkejut dan mencari tahu siapa gerangan yang melakukan hal tersebut tanpa seijin dirinya.

Hatinya merasa berang setelah mengetahui bahwa Sri Maganatalah yang melakukan hal tersebut, namun beliau berupaya menyembunyikan kemarahannya tersebut serta menanyakan hal tersebut kepada Sri Maganata Setelah mendengar penjelasan dari Sri Maganata hati beliau tetap tidak senang akan hal tersebut dan mengusir Sri Maganata secara halus ke Majapahit untuk menengok keluarganya disana. Mengetahui kemarahan Dalem tersebut tanpa membantah lagi maka berangkatlah Sri Maganata ke Majapahit .

Arya Yasan tinggal di Kerajaan Majapahit kurang lebih 8 tahun, disana beliau berusaha untuk mencari dan menanyakan keluarganya dari keturunan Arya Damar/ Adityawarman, namun pencarian tersebut tidak membuahkan hasil karena Majapahit sudah runtuh tahun 1478 sehingga beliau memutuskan untuk pulang kembali ke Bali.

Setibanya di Bali beliau kemudian mengembara ke gunung gunung untuk menjadi serang pendeta kemudian bertapa. Arya Yasan tidak diperkenankan menyandang kedudukan dan tidak berhak memiliki rakyat demikian pula kedua putra beliau juga mengalami hal yang sama dengan ayahnya. Diceritakan bahwa adik beliau yang paling kecil tinggal diistana yang bernama Bibi Kyahi Tegeh Kori diambil oleh Dalem Gelgel dan diserahkan kepada putra Si Arya Wongaya Kepakisan yang bernama Kyahi Asak yang tinggal di Kapal. Mengetahui adiknya diambil oleh Dalem, beliau marah terhadap Dalem, lalu mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan pada putranya Sri Arya Longwan / Sri Arya Ngurah Tabanan sebagai Raja Tabanan III.

Puri Pemecutan
Setelah Puputan Badung 1906


Karena perbuatan Dalem yang sewenang-wenang tersebut Arya Yasan menjadi marah dan mengutuk Dalem dan para patih agar selama lamanya terkutuk karena Dalem tidak mematuhi petuah dimasa lampau (antara Arya Kenceng dengan Dalem Kresna Kepakisan ).

Akibat kutukan tersebut Dalem mendapat serangan burung gagak yang senantiasa mengusik hidangan Dalem sehingga beliau menjadi sangat kesal. Beliau Arya Yasan/ Sri Megadanata kemudian menjalani kehidupan suci serta membuat pesraman yang dilengkapi tetamanan dan telaga didaerah Kebon Tingguh yang terletak dibarat daya dari Istana di Pucangan. Pesraman tersebut sekarang sudah menjadi sebuah pura besar yang dinamakan Pura Mentingguh Tabanan yang sekarang disungsung oleh rakyat Tabanan dan Badung.

Diceritakan bendesa Pucangan mempunyai seorang putri yang sangat cantik bernama Sang Ayu Mendesa, diberikan tugas oleh bendesa pucangan untuk melayani kebutuhan sehari hari Arya Yasan/ Sri Megadanata sehingga lama kelamaan tumbuh benih benih cinta kasih diantara keduanya yang dilanjutkan dengan upacara perkawinan.

Pura Kebon Tingguh Buahan Tabanan

Dari perkawinan tersebut lahir seorang putra yang diberi nama Kyahi Ketut Bendesa atau Kyahi Pucangan.
Beliau menerima pusaka demon dan pahleng yaitu supit atau tulup tanpa lubang. Setelah besar beliau diserahkan kepada kakaknya Sri Arya Ngurah Longwan / Sri Arya Ngurah Tabanan dean tetap tinggal di Istana. Tidak berapa lama karena lanjut usia wafatlah beliau dan diadakan upacara sebagaimana mestinya.



KYAYI KETUT BENDESA/ KYAYI PUCANGAN/ SANG ARYA BAGUS ALIT

Kembali lagi ke peristiwa yang menimpa ayah dari Arya Notor Wandira / Arya Notor Waringin yaitu Arya Yasan, Karena perbuatan Dalem yang sewenang-wenang tersebut Arya Yasan menjadi marah dan mengutuk Dalem dan para patih agar selama lamanya terkutuk karena Dalem tidak mematuhi petuah dimasa lampau (antara Arya Kenceng dengan Dalem Kresna Kepakisan ). Akibat kutukan tersebut Dalem mendapat serangan burung gagak yang senantiasa mengusik hidangan Dalem sehingga beliau menjadi sangat kesal. Berbagai usaha sudah dilakukan untuk mengusir keberadaan burung gagak tersebut, namun selalu saja tidak membuahkan hasil.

Terdengar berita bahwa cucu Arya Kenceng di Tambangan yang bernama Sang Arya Bagus Alit / Arya Pucangan mempunyai keahlian nyumpit atau nulup, maka Dalem mengundang Sang Arya Bagus Alit ke Ibukota Kerajaan.

Keberhasilan Sang Arya Bagus Alit mengalahkan burung gagak tersebut membuat Dalem menjadi tersadar dan ingat kembali kepada Sang Arya Yasan ayah dari Sang Arya Bagus Alit yang masih merupakan sepupunya untuk datang ke Puri Gelgel.

Dalam transkrip lontar Museum Bali dalam Pamancangah Badung Mwang Tabanan dan dalam lontar Babad Badung milik Anak Agung Oka Manek dari Jero Grenceng demikian pula prasasti Mpu Tusan diceritakan bahwa dari pertemuan Dalem dengan Arya Yasan tersebut Dalem menyampaikan permohonan maafnya dan mengembalikan kedudukan Arya Yasan sebagai penguasa daerah Tabanan bersama putra sulungnya. Sedangkan Sang Arya Bagus Alit disuruh menetap di Tambangan (Badung) oleh Dalem Gelgel semenjak itu Sang Arya Bagus Alit terkenal dengan nama Dewa Hyang Anulup.

Setelah sekian lama Dewa Hyang Anulup mempunyai seorang putra, beliau kemudian kembali ke daerah Tabanan untuk menetap di daerah Pucangan sehingga diberi nama Bhatara Pucangan. Beliau wafat dan meninggalkan seorang putra yang bernama Bhatara Notor Wandira atau Bhatara Notor Waringin


Tiga orang saudara dari Kiyayi Pucangan Tabanan yaitu Kyayi Samping Boni, Kyayi Nyoman Batan Ancak, Kyayi Ketut Lebah, atas perintah Dalem agar menetap di Badung sebagai pendamping Raja Badung.



SANG ARYA KETUT NOTOR WANDIRA/ ARYA NOTOR WARINGIN

Setelah dewasa Kyahi Ketut Bendesa atau Kyahi Pucangan meninggalkan pesraman dan mengabdi Ke Puri Tabanan yaitu Nararya Ngurah Tabanan / Sirarya Ngurah langwang yang diangkat menjadi Raja Tabanan ke III. Di puri Tabanan beliau tidak diberikan kedudukan yang wajar, beliau hanya diberi tugas sebagai tukang kurung ayam istana. Begitupun untuk tempat tinggal beliau tidak diberikan tempat tinggal di Puri sehingga pada malam hari beliau tidur dirumah-rumah penduduk, pasar ataupun balai banjar.

Pada suatu malam rakyat Tabanan dibuat kaget karena melihat adanya cahaya yang terang benderang namun setelah didekati ternyata berasal dari cahaya ubun kepala Sang Arya Ketut Notor Wandira yang sedang tidur. Berita tersebut akhirnya terdengar oleh Raja Tabanan, dalam hati beliau sangat murung mendengar kesaktian Sang Arya Ketut Notor Wandira tersebut dan khawatir sewaktu waktu akan merebut tahta kerajaan Tabanan, maka dicarilah jalan untuk menyingkirkan beliau.

Di bencingah Puri Tabanan tumbuh pohon beringin yang sangat besar dan sangat angker dimana sebelumnya 10 orang yang diberi tugas untuk memotong pohon beringin tersebut telah tewas dalam menjalankan tugasnya. Timbulah muslihat dari Raja Tabanan bahwa untuk melaksankan tugas berat tersebut akan diserahkan kepada Sang Arya Ketut Notor Wandira. Maka dipanggilah adiknya untuk menghadap dan minta kesanggupan adiknya untuk melaksanakan tugas tersebut.

Arya Ketut Notor Wandira menerima tugas tersebut dan minta waktu beberapa hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Maka sebelum melaksankan tugas tersebut beliau kemudian ngaturang pakeling di temat tersebut dan selanjutnya bertapa semedi di Pura Batukaru Tabanan mohon keselamatan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Karena ketekunannya oleh Bethara di Pura Batukaru beliau mendapat anugrah senjata sakti berupa kapak yang bernama I Cekle.

Maka pagi pagi sekali Arya Ketut Notor Wandira sudah berada di bencingah Puri Tabanan untuk mulai melaksanakan tugas memotong pohon beringin tersebut. Beliau naik sampai ke puncak pohon beringin dan mulai memotong dahan pohon tersebut satu persatu sampai yang tersisa hanya batangnya saja. Diatas pohon tersebut Arya Ketut Notor Wandira bertolak pinggang dan menari nari. Rakyat Tabanan beserta Raja sangat heran dan kagum atas kesaktian Arya Ketut Notor Wandira sehingga mulai saat itu Arya Ketut Notor Wandira diberi gelar Arya Notor Waringin oleh Raja Tabanan karena keberhasilannya memotong pohon beringin yang angker tersebut.

Setelah dewasa Arya Notor Wandira / Arya Notor Waringin mengambil istri dari desa Buwahan yaitu Ni Gusti Ayu Pucangan dan berputra 2 orang yaitu
    1. Kyahi Gde Raka
    2. Kyahi Gde Rai (membuat puri di Kerambitan)


KYAHI GDE RAKA/ KYAHI BEBED/ KYAHI JAMBE POLE / KIYAYI NGURAH PAPAK

Kyahi Gde Raka / Kyahi Bebed mempunyai 2 orang istri. Istri pertama dari buahan mempunyai seorang putra bernama Kyahi Jambe sedangkan istri kedua dari Tumbakbayuh lahir seorang putra bernama Kyahi Tumbakbayuh. Kyahi Gde Raka / Kyahi Bebed sangat senang bertapa beliau ingin mendapatkan kesucian dan kewibawaan sebagai seorang raja, Kyahi Bebed kemudian pergi secara diam diam pada waktu malam hari dari Puri Tabanan, berjalan terlunta lunta sehingga sampailah beliau di Gunung Giri di Beratan yang bernama gunung Batukaru.

Beliau kemudian memusatkan pikiran dan bersemedi untuk memohon berkah. Disana beliau memperoleh petunjuk agar melanjutkan perjalanan ke Gunung Batur untuk menghadap Bhatari Dhanu untuk memohon kejayaan. Lama beliau terlunta lunta dalam perjalanan sampai akhirnya tibalah beliau di daerah Pura Panarajon. Disana beliau kemudian memusatkan pikiran bersemedi mohon petunjuk dari yang maha kuasa. Disana beliau mendapat petunjuk Sanghyang Panrajon untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung Batur.

Di Pura tersebut beliau bertemu dengan seorang anak kecil hitam kulitnya, gigi putih di Pura Tambyak. Kyahi Gde Raka / Kyahi Bebed kemudian memberi nama itu Ki Tambyak Tudelaga / Ki Andhagala . Tudelaga adalah namanya yang pertama. setelah mendapat petunjuk tersebut, Kiyai Bebed melanjutkan perjalanan ke Gunung Batur dengan diiringi oleh Ki Andhagala dari keturunan Tambyak.

Sampai di puncak Gunung Batur kembali beliau bersemedi dan kelurlah Bhatari Danu yang akan mengabulkan apa yang menjadi keinginan Kiyai Bebed. Namun sebelumnya Bhatari Danu minta kepada Kiyai Bebed untuk menggendongnya ke tengah danau. Kiyai Bebed menyanggupi permintaan tersebut sehingga digendonglah Bhatari Danu ke tengah danau. Namun sungguh ajaib beliau tidak tenggelam beliau seperti berjalan diatas tanah saja, air hanya sampai dipergelangan kaki saja. Ketika sampai di pinggir danau bersabdalah Bhatari Danu bahwa beliau akan mengabulkan permohonan Kiyai Bebed untuk memperoleh kejayaan di daerah Badung.

Akhirnya apa yang menjadi cita cita beliau melalu tapa semadi terkabul dan kelak akan menjadi raja di daerah Badung. Bahkan Bhatari Danu menganugrahkan dua buah senjata yang sangat ampuh berupa pecut dan tulupan, tetapi tiap tiap hari piodalan di Pura Batur senjata ini harus dibawa untuk dibuatkan upakara.

Setelah mendapat anugrah beliau melanjutkan perjalanan ke daerah Badung. Setelah mendapat anugrah tersebut beliau akhirnya pulang ke Buwahan. Diceritakan Nararya Gde Raka meninggalkan Tabanan menuju Badung dan dalam rombongan tersebut ikut serta kedua istrinya dan pengawal yang paling setia yaitu I Negala (Tambiyak).

Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh sampailah rombongan tersebut di perbatasan utara kerajaan Badung yaitu Desa Lumintang. Pada waktu itu ada seorang yang datang menyapa bernama I Kaki Lumintang. Nararya Gde Raka mengajukan permohonan agar diperbolehkan untuk menginap semalam. Karena kasihan melihat rombongan yang sudah kelelahan tersebut I Kaki Lumintang menerima permohonan tersebut, namun I Kaki Lumintang ingin mengetahui terlebih dahulu dari mana kedatangan rombongan ini dan apa maksud dan tujuannya datang ke Badung.

Pintu Masuk Puri Pemecutan

Nararya Gde Raka kemudian menjelaskan maksud kedatangannya ke Badung untuk mengabdi kepada ramanda Gusti Ngurah Tengeh Kuri di Kerajaan Badung dan mereka adalah keturunan Nararya Notor Waringin dan juga pernah cucu dari Cokorde Mukules dari Puri Mentingguh Tabanan.

Mengetahui hal tersebut I Kaki Lumintang menundukkan diri memberi penghormatan untuk seorang putra raja. Keesokan harinya rombongan melanjutkan perjalanan untuk menuju Puri Tegah Kuri di Tegal dengan diantar oleh I Kaki Lumintang. Nararya Gde Raka diterima dengan tangan terbuka oleh Gusti Tegeh Kuri dan diperkenankan mengabdi di Badung dan diangkat sebagai putra ke tiga dan diberi nama Kiyai Nyoman Tegeh, karena Gusti Ngurah Tegeh Kuri sudah mempunyai 2 orang putra yaitu Kiyai Wayan Tegeh dan Kiyai Made Tegeh.

Untuk tempat tinggalnya, Kiyai Nyoman Tegeh dan semua keluarga serta I Tambyak dititipkan sementara di rumah I Mekel Tegal yang letaknya sekarang di sebelah barat Br Tegal Gede (pewarisnya I Nyoman Yasa). Pada suatu hari tiba tiba Gusti Ngurah Tegeh Kuri diserang penyakit lumpuh, seluruh anggota badannya sukar bergerak sehingga seluruh kegiatan pemerintahan mengalami gangguan. Kedua orang putra beliau yaitu Kiyai Wayan Tegeh dan Kiyai Made Tegeh tidak mampu menggantikan ayahnya sebagai kepala pemerintahan di Badung. Jiwa kepemimpinan serta kewibawaan masih sangat kurang, karena memiliki sifat pemalu dan rendah diri.

Tidak diduga dari Puri Gelgel mendadak ada perintah supaya Raja Badung segera menghadap ke Puri Gelgel karena adanya persoalan yang sangat penting yang menyangkut keamanan Pulau Bali. Bila Raja berhalangan hadir maka seorang Putra Raja diperbolehkan mewakili. Oleh karena Gusti Ngurah Tegeh Kuri dalam keadaan sakit maka beliau memerintahkan salah satu dari putranya untuk mewakilinya ke Puri Gelgel, namun kedua putranya menolak dengan alas n belum memiliki cukup pengalaman untuk melaksanakan tugas tersebut. Mendengar hal tersebut Gusti Ngurah Tegeh Kuri menjadi sangat murung memikirkan bagaimana nantinya kerajaan Badung di kemudian hari tanpa dirinya.

Dalam renungannya, timbul pikiran beliau untuk mengutus Kiyai Nyoman Tegeh sebagai wakil Kerajaan Badung untuk menghadap ke Puri Gelgel. Segera Kiyai Nyoman Tegeh dipanggil untuk menghadap dan setelah dijelaskan, Kiyai Nyoman Tegeh menerima dengan senang hati tugas yang diberikan kepadanya dan berjanji tugas tersebut akan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Diceritakan Kiyai Nyoman Tegeh sudah berangkat menuju Puri Gelgel dengan diiringi Ki Tambyak.

Didalam perjalanan sesampainya di Desa Sumerta Ki Tambyak dihina oleh penduduk setempat sambil bernyanyi dan tertawa tawa melihat penampilan Ki Tambyak yang serba hitam hanya giginya saja yang kelihatan putih. Mendengar penghinaan tersebut Ki Tambyak menjadi sangat marah, ia mengamuk bagaikan benteng kedaton, memukul dan menendang ke kanan dan kekiri.

Akhirnya kentongan dibunyikan oleh penduduk desa Sumerta yang menandakan bahwa ada orang yang mengamuk. Raja Sumerta Gusti Pasek Sumerta keluar dari purinya untuk menghadapi Ki Tambyak. Perkelahian terjadi dengan serunya namun akhirnya Gusti Pasek Sumerta tidak mampu menandingi Ki Tambyak sehingga beliau menyatakan menyerah dan tunduk kepada Kerajaan Badung. Mulai saat itu Desa Sumerta menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Badung.

Setelah peristiwa tersebut Kyai Nyoman Tegeh kemudian melanjutkan perjalanan ke Puri Gelgel dan sesampainya beliau disana langsung menghadap Ida Dalem Waturenggong di bale penangkilan. Kyai Nyoman Tegeh diterima dengan baik oleh Ida Dalem Waturenggong dan Dalem menanyakan prihal keamanan di Kerajaan Badung, perbaikan pura pura dan hal lainnya yang kesemuanya dijawab dengan baik sehingga memuaskan hati Dalem Waturengong.

Karena sikapnya yang santun serta mempunyai wawasan yang luas tentang ilmu pemerintah Kyai Nyoman Tegeh dapat menarik simpati dari Dalem waturenggong sehingga beliau diminta lebih lama tinggal di Puri Gelgel mendampingi Dalem Waturenggong. Karena mempunyai kesan yang baik kepada Kiyai Nyoman Tegeh maka Dalem Waturenggong memberikan anugrah untuk bersama sama Gusti Ngurah Tegeh menjalankan pemerintahan di wilayah Badung, karena mengingat kondisi kesehatan Gusti Ngurah Tegeh yang tidak memungkinkan menjalankan pemerintahan kembali.

Setelah beberapa bulannya Kyai Nyoman Tegeh tinggal di Puri Gelgel, maka beliau pamit ulang kembali ke Badung. Singkat cerita sesampainya di Badung Kiyai Nyoman Tegeh menghadap Gusti Ngurah Tegeh Kuri untuk melaporkan hasil pertemuannya dengan Dalem Waturenggong dan menyampaikan titipan surat dari Ida Dalem Waturenggong untuk Gusti Ngurah Tegeh Kuri.

Dalem surat itu Dalem menyampaikan rasa puasnya kepada Kiyayi Nyoman Tegeh sebagai utusan dari Kerajaan Badung yang mempunyai wawasan yang luas tentang ilmu pemerintahan sehingga sangat menawan hati Dalem Waturenggong. Kemudian mengingat kondisi kesehatan Gusti Ngurah Tegeh Kuri sebagai kepala pemeritahan di Badung mengalami suatu hambatan, maka untuk melaksanakan tugas tugas pemerintahan di wilayah Badung agar diberikan kepada Kiyai Nyoman Tegeh.


PERANG TANDING DENGAN KIYAYI PLASA

Pada saat bertahta, Kyayi Nyoman Tegeh, pernah dikirim bertempur oleh Dalem , bersama Kyayi Ngurah Telabah di Kuta, dan Kyayi Ngurah Tabanan, menyerang I Kebo Mundar di Sasak. Kyayi Telabah melarikan diri karena dikalahkan oleh Kebo Mundar, kemudian digantikan oleh Kyayi Anglurah Tabanan dan Badung, hingga Ki Kebo Mundar takut dan takluk.

Dalem menghukum Kyayi Telabah, dengan menyerahkan rakyat kekuasaannya kepada Raja Badung. Namun Kyayi Telabah tidak mentaati, maka timbul bentrokan antara Badung dengan Kuta.

Seorang utusan melaporkan bahwa Kyai Wayan Tegeh putra tertua Gusti Ngurah Tegeh Kuri terlibat perkelahian dengan Kiyai Plasa di Mergaya Abiantimbul. Perkelahian tersebut sudah dari sejak pagi, karena sama sama kebal dan sakti maka tidak seorangpun keluar sebagai pemenang, akhirnya perkelahian dihentikan karena hari sudah menjelang malam. Kyai Nyoman Tegeh memberikan nasehat kepada kakaknya Kyai Wayan Tegeh Kuri, bila besok kembali berhadapan dengan Kiyai Plasa maka Kiyai Wayan Tegeh jangan sekali kali mandi di sungai Kuta sebab air sungai tersebut dapat menghilangkan kekebalan.

Dan sesuai dengan yang sudah dijanjikan esok harinya perang tanding kembali di mulai, Kiyai Plasa nampak dibantu oleh Kyai Petiles dari Pekambingan. Perang tanding menjadi tidak seimbang satu melawan dua sehingga menyebabkan Kyai Wayan Tegeh kehabisan nafas dan dihinggapi rasa haus yang tak tertahankan. Beliau kemudian terjun ke sungai Kuta, membasahi tubuhnya untuk menghilangkan rasa lelah dan haus, beliau lupa akan pesan adiknya yang melarangnya untuk mandi di sungai kuta selama perang tanding berlangsung.

Setelah matahari condong ke Barat perang tanding di mulai lagi dengan serunya, kedua belah pihak berusaha saling menjatuhkan lawannya. Tiba tiba dalam satu kesempatan Kiyai Plasa berhasil menghunus keris langsung ke perut Kyai Wayan Tegeh. Karena sudah hilang kekabalannya maka keris tersebut langsung menancap di perut Kyai Wayan Tegeh sehingga beliau terpelanting dan mengembuskan nafasnya yang terakhir.

Perang tanding dihentikan dan kemenangan berada di pihak Raja Plasa. Berita kematian Kyai Wayan Tegeh, menimbulkan kemarahan dari Kyai Nyoman Tegeh dan berjanji akan menuntut balas atas kematian kakaknya. Kyai Nyoman tegeh kemudian mengambil keris sakti untuk menandingi Kyai Plasa. Singkat cerita ditengah jalan beliau dihadang oleh Kiyai Plasa dan Kiyai petiles yang sudah siap berperang dengan keris terhunus.

Kiyayi Nyoman Tegeh menghadapi kedua musuhnya dengan tenang dan waspada. Pergulatan dimulai saling tindih dan tusuk untuk mengadu kekabalan. Dan pada suatu kesempatan yang baik Kyai Nyoman Tegeh berhasil menusuk perut Kiyai Plasa sehingga menghembuskan napasnya terakhir.

Kiyayi Petiles kemudian ganti menghadapi Kiyai Nyoman Tegeh, namun seperti Kiyai Plasa yang telah tewas, nasib Kiyai Petilespun sama, dadanya tertikam oleh keris Kiyai Nyoman Tegeh sehingga terkapar tak berdaya. Namun sebelum Kiyai Petiles menghembuskan napasnya yang terakhir, beliau menyatakan tunduk kepada Kerajaan Badung dan semua daerah yang menjadi kekuasaannya diserahkan kepada Kerajaan Badung. Karena kekalahan tersebut maka semua keluarga Kiyai Petiles diturunkan wangsanya menjadi rakyat biasa.

Peristiwa Pertempuran di Puri Pemecutan dalam Puputan Badung 1906

Setelah kekalahan Kiyai Petiles maka seluruh rakyatnya menyatakan tunduk kepada Kerajaan Badung.

Kyayi Jambe Pule mempunyai putra yang bernama Kiyai Anglurah Pemedilan dan Anak Agung Istri Jambe. Kedua anak beliau lahir di Pemedilan di rumah Ki Tanjung Gunung (sebelah utara Pura Tambangan Badung) Nararya Gde Raka mendirikan Puri Pemecutan Setelah mendapat anugrah dari Dalem Waturenggong untuk menjalankan pemerintahan di Badung, maka beliau mulai memperluas wilayah kerajaan Badung.

Puri Sumerta berhasil ditaklukkan terbukti salah satu Pura Khayangan di Sumerta setiap hari purnama kedasa selalu datang hadir ke Pura Tambangan Badung sebagai prasanak pura Kerajaan Badung. Beliau diberi gelar Kiyai Jambe Pole, Pole berasal dari kata polih yang artinya mendapatkan kekuasaan. Dan untuk melaksanakan pemerintahan, beliau mendapat panjak (rakyat) sebanyak 500 orang dari Gusti Ngurah Tegeh Kuri dan dinobatkan menjadi Raja I di Puri Agung Pemecutan. Karena beliau mendapat anugrah dari Bhatari danu Batur berupa senjata sakti Pecut dan Tulupan maka Kerajaan yang beliau dirikan diberi nama Puri Pemecutan.

Beliau sebagai cikal bakal pendiri Puri kerajaan Badung yang mengambil nama dari suku kata “Pecut” sebagai rasa hormat dan sujud bakti atas anugrah yang beliau terima dari Sang pencipta berupa senjata Pecut Sakti.


ANUGRAH RAJA BADUNG UNTUK KI TAMBYAK

Seperti yang telah diceritakan diatas bahwa Ki Tambyak sangat berjasa mengiringi Kiyayi Jambe Pule dari sejak di pura Ulun Danu sampai beliau menjadi Raja di Badung, maka untuk membalas budi kepada Ki Tambyak/ Ki Handagala maka Raja Badung mengeluarkan amanat bahwa Ki Tambyak dan Keturunannya tidak boleh dihukum mati sebesar apapun kesalahannya dan amanat ini berlaku seterusnya bagi Raja selanjutnya yang berkuasa di wilayah Badung.



Daftar Pustaka :

    1. Lahirnya Puri Agung Pemecutan Badung / A.A. Oka Puji - Jero Dawan Tegal
    2. Sejarah Puri Gerenceng Pemecutan / A.A. Made Kaler
    3. Babad Badung / Puri Gede Kerambitan
    4. Babad Arya Tabanan/ Puri Tabanan
    5. Sejarah Raja Raja di Tabanan dan Badung
    6. Bali Abad XIX / Anak Agung Gde Agung
    7. Riwayat Berdiri sampai Runtuhnya Kerajaan Singasana Tabanan/ I Gst Made Aman
    8. Babad Dalem / Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prop.
    9. Bali Usana Bali Usana Jawa / Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prop. Bali
    10. Darma Negara Warga Ageng Pemecutan / I Gusti Bagus Saputra
    11. Silsilah Orang Suci dan Orang Bali

Om Swasti Astu

Sebelumnya penulis mohon maaf bila ada kekeliruan atas penulisan sejarah ini, untuk itu mohon koreksi serta masukan untuk menyempurnakan blog ini sehingga diperoleh fakta sejarah yang nantinya benar benar diterima oleh semua pihak dan beguna bagi generasi yang akan datang.

Om Canti Canti Canti Om






Kamis, 22 Oktober 2009

RADEN WIJAYA

RAJA RAJA MAJAPAHIT

Raden Wijaya adalah pendiri kerajaan Majapahit tahun 1293 setelah berhasil mengalahkan Prabu Jayakatwang dari Kerajaan Kadiri dan berhasil memukul mundur pasukan Mongol dari tanah Jawa.. Untuk menggambarkan bagaimana pemerintahan Majapahit pada jaman pemerintahan Raden Wijaya dan Raja Raja selanjutnya berikut akan diutarakan terlebih dahulu Nama Raja – Raja yang memerintah dari tahun berdirinya Majapahit sampai berakhirnya kerajaan tersebut yang ditandai dengan tahun Candrasengkala yaitu Senja Ilang Kertaning Bumi.



Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293 - 1309)
Kalagamet, bergelar Sri Jayanegara (1309 - 1328)
Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328 - 1350)
Hayam Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (1350 - 1389)
Wikramawardhana (1389 - 1429)
Suhita (1429 - 1447)
Kertawijaya, bergelar Brawijaya I (1447 - 1451)
Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II (1451 - 1453)
Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (1456 - 1466)
Pandanalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (1466 - 1468)
Kertabumi, bergelar Brawijaya V (1468 - 1478)
Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (1478 - 1498)
Hudhara, bergelar Brawijaya VII (1498-1518


Perhatikan bahwa terdapat periode kekosongan antara pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang mungkin diakibatkan oleh krisis suksesi yang memecahkan keluarga kerajaan Majapahit menjadi dua kelompok.








Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M dan berpusat di pulau Jawa bagian timur. Kerajaan ini pernah menguasai sebagian besar pulau Jawa, Madura, Bali, dan banyak wilayah lain di Nusantara. Majapahit adalah yang terakhir dan sekaligus yang terbesar di antara kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara.

Sumber utama yang digunakan oleh para sejarawan adalah Pararaton (Kitab Raja-raja) dalam bahasa Kawi dan Nagarakretagama dalam bahasa Jawa Kuna. Pararaton terutama menceritakan Ken Arok pendiri Kerajaan Singhasari namun juga memuat beberapa bagian pendek mengenai terbentuknya Majapahit.

Sementara itu, Nagarakertagama merupakan puisi Jawa Kuna yang ditulis pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Setelah masa itu, hal yang terjadi tidaklah jelas. Selain itu, terdapat beberapa prasasti dalam bahasa Jawa Kuna maupun catatan sejarah dari Tiongkok dan negara-negara lain.

Keakuratan semua naskah berbahasa Jawa tersebut pertentangkan. Tidak dapat disangkal bahwa sumber-sumber itu memuat unsur non-historis dan mitos. Namun demikian, garis besar sumber-sumber tersebut sejalan dengan catatan sejarah dari Tiongkok. Khususnya, daftar penguasa dan keadaan kerajaan ini tampak cukup pasti.





Gapura Bajangratu, diduga kuat menjadi gerbang
masuk keraton Majapahit. Bangunan ini masih tegak berdiri
di kompleks Trowulan.




1. RADEN WIJAYA/ ŚRI KERTARAJASA JAYAWARDHANA
(1293 - 1309)

Raden Wijaya adalah Pendiri sekaligus Raja Majapahit yang pertama. Raden Wijaya dinobatkan pada bulan Kartika tahun 1215 saka, yaitu 12 Nopember 1293 dengan gelar Śri Kĕrtarājasa Jayawardhana. Ia juga dikenal dengan nama lain, yaitu Nararyya Sanggramawijaya menurut Kidung Harsa Wijaya.



Raden Wijaya adalah anak dari Rakeyan Jayadarma, raja ke-26 dari Kerajaan Sunda Galuh , dan Dyah Lembu Tal, seorang putri Singhasari. Dengan demikian, Raden Wijaya merupakan keturunan langsung dari Wangsa Rajasa, yaitu dinasti pendiri Kerajaan Singhasari. Ken Arok, Raja pertama Singhasari (1222-1227) memiliki anak Mahesa Wong Ateleng dari Ken Dedes. Mahesa Wong Ateleng memiliki anak Mahesa Cempaka yang bergelar Narasinghamurti. Menurut Nagarakretagama, Mahesa Cempaka memiliki anak Dyah lembu Tal yang diberi gelar Dyah Singhamurti dan kemudian menurunkan Raden Wijaya.

Ibukota kerajaan Majapahit meliputi Kecamatan Sooko, Trowulan dan Jatirejo di Kabupaten Mojokerto dan kecamatan Mojoagung, Mojowarno serta Sumobito di Kabupaten Jombang. Kawasan ini berada pada luas 10 X 10 kilometer persegi. ,namun, ada versi lain yang menyebut 9 X 11 kilometer persegi. Pusat kota ini berada di dalam kawasan ibukota dan lokasinya kini berada di Trowulan. Situs-situs yang memperkuat ilustrasi pusat kota ini antara lain Candi Muteran, Candi Gentong, Candi Tengah, tempat kediaman Gajah Mada, kediaman kerabat kaum raja dan tempat pemandian para putri kerajaan.



Rakeyan Jayadarma adalah raja ke-26 Kerajaan Sunda Galuh, anak dari Prabu Guru Dharmadiksa, raja ke-25 dari Kerajaan Sunda Galuh. Setelah Rakeyan Jayadarma tewas diracun oleh salah seorang bawahannya, Dyah Lembu Tal kembali ke Singhasari bersama Raden Wijaya. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut sebagai Jaka Susuruh dari Pajajaran. Ia dibesarkan di lingkungan kerajaan Singhasari.

Menurut prasasti dan Kakawin Nagarakretagama disebutkan bahwa Raden Wijaya memperistri empat orang putri raja Kertanegara dengan gelar sebagai berikut :

Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari.
Śri Mahādewi Dyah Dewi Narendraduhitā.
Śri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnyāparamitā
Sri Rājendradewi Dyah Dewi Gayatri.

1. Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari

Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari adalah permaisuri Raden Wijaya .Dalam Nagarakretagama nama Tribhuwaneswari sering disingkat Tribhuwana. Ia adalah putri sulung Kertanagara raja terakhir Singhasari. Dikisahkan pada saat Singhasari runtuh akibat pemberontakan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwaneswari, sedangkan Gayatri ditawan musuh. Rombongan Raden Wijaya kemudian menyeberang ke Sumenep meminta perlindungan Arya Wiraraja. Dalam perjalanan menuju Sumenep, Tribhuwaneswari sering dibantu oleh Lembu Sora, abdi setia Raden Wijaya Raden Wijaya. Jika pasangan suami istri tersebut letih, Lembu Sora menyediakan perutnya sebagai alas duduk. Jika menyeberang rawa-rawa Lembu Sora, menyediakan diri menggendong Tribhuwana.

Raden Wijaya kemudian bersekutu dengan Arya Wiraraja untuk menjatuhkan Jayakatwang. Ketika Raden Wijaya berangkat ke Kadiri pura-pura menyerah pada Jayakatwang, Tribhuwana ditinggal di Sumenep. Baru setelah Raden Wijaya mendapatkan hutan Terik untuk dibuka menjadi desa Majapahit , Tribhuwana datang dengan diantar Ranggalawe putra Arya Wiraraja. Berita ini terdapat dalam Kidung Panji Wijayakarama.



Sepeninggal pasukan Mongol tahun 1293, Kerajaan Majapahit berdiri dengan Raden Wijaya sebagai raja pertama. Tribhuwana tentu saja menjadi permaisuri utama, ditinjau dari gelarnya yaitu Tribhuwana-iswari. Namun demikian, Pararaton menyebutkan, istri Raden Wijaya yang dituakan di istana bernama Dara Petak putri dari Kerajaan Dharmasraya, yang melahirkan Jayanagara sang putra Mahkota.Menurut prasasti Kertarajasa (1305), Tribhuwaneswari disebut sebagai ibu Jayanagara.



Dari berita tersebut dapat diperkirakan Jayanagara adalah anak kandung Dara Petak yang kemudian menjadi anak angkat Tribhuwaneswari sang permaisuri utama. Hal ini menyebabkan Jayanagara mendapat hak atas takhta sehingga kemudian menjadi raja kedua Majapahit tahun 1309-1328


Candi Rimbi

Setelah Wafat Tribhuwaneswari dimuliakan di Candi Rimbi di sebelah barat daya Mojokerto, yang diwujudkan sebagai Parwati.


2. Śri Mahādewi Dyah Dewi Narendraduhitā.

Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, atau disebut dengan Narendraduhita, adalah putri ketiga dari Raja Singhasari Kertanagara, dan merupakan istri kedua dari pendiri Majapahit, Raden Wijaya, namun tidak memberikan keturunan.

3. Sri Jayendra Dyah Dewi Prajña Paramita

Sri Jayendra Dyah Dewi Prajña Paramita atau sering disingkat dengan nama Prajña Paramita atau Pradnya Paramita adalah putri keempat dari Raja Kertanegara dan merupakan istri ketiga dari Raden Wijaya, namun tidak memberikan keturunan. Disebutkan bahwa Pradjnya Paramita adalah istri yang paling setia diantara kelima istri Raden Wijaya

4. Śri Rājendradewi Dyah Dewi Gayatri. Gayatri

Gayatri atau Rajapatni adalah istri ke empat dari Raden Wijaya, dari Gayatri lahir Tribhuwanatunggadewi dan Rajadewi. Tribhuwanatunggadewi inilah yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit selanjutnya. Pada saat Singhasari runtuh akibat serangan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwaneswari saja, sedangkan Gayatri ditawan musuh di Kadiri. Setelah Raden Wijaya pura-pura menyerah pada Jayakatwang, baru ia bisa bertemu Gayatri kembali.



Dalam Nagarakretagama pupuh 2/1 menguraikan bahwa putri Gayatri (Rajapatni) wafat pada tahun 1350 pada jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. 12 tahun setelah meninggalnya Gayatri dilaksanakan upacara srada dan dimuliakan candi di candi Boyolangu di desa Kamal Pandak tahun 1362 dengan nama Prajnyaparamita puri. Baik tanah candi maupun arcanya diberkati oleh pendeta Jnyanawidi.




Candi Boyolangu




5. Dara Pethak (Indreswari)



Menurut Pararaton, sepuluh hari setelah pengusiran pasukan Mongol oleh pihak Majapahit, datang pasukan Kebo Anabrang yang pada tahun 1275 dikirim Kertanegara menaklukkan Pulau Sumatra. Pasukan tersebut membawa dua orang putri Mauliwarmadewa dari Kerajaan Dharmasraya bernama Dara Jingga dan Dara Petak sebagai persembahan untuk Kertanegara.



Nama Dara Pethak berarti merpati putih. Menurut Kronik Cina, pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293, sehingga dapat diperkirakan pertemuan antara Raden Wijaya dan Dara Petak terjadi tanggal 4 Mei 1293. Karena Kertanegara sudah meninggal, maka ahli warisnya, yaitu Raden Wijaya mengambil Dara Petak sebagai istri, sedang Dara Jingga diserahkan kepada Adwayabrahma (kebo Anabrang), seorang pejabat Singhasari yang dulu dikirim ke Sumatra tahun 1286.



Dara Petak pandai mengambil hati Raden Wijaya sehingga ia dijadikan sebagai Istri tinuheng pura, atau istri yang dituakan di istana. Padahal menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya sudah memiliki empat orang istri, dan semuanya adalah putri Kertanegara. Pengangkatan Dara Petak sebagai istri tertua mungkin karena hanya dirinya saja yang melahirkan anak laki-laki, yaitu Jayanegara. Sedangkan menurut Nagarakretagama, ibu Jayanegara bernama Indreswari. Nama ini dianggap sebagai gelar resmi Dara Petak.



Pararaton menyebutkan Raden Wijaya hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja. Pemberitaan tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri. Diperkirakan, mula-mula Raden Wijaya hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri saja. Baru setelah Majapahit berdiri, ia menikahi Mahadewi dan Jayendradewi pula. Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi.




Masa Pemerintahan Raden Wijaya/ Sri Rajasa Jayawardhana



Setelah Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit, beliau kemudian mengangkat pengikut-pengikutnya yang berjasa dalam perjuangan mendirikan Majapahit menjadi pejabat tinggi dalam pemerintahan menurut Serat Kekancingan Kadadu 1294 antara lain :

Aria Wiraraja menjadi Rakyan Mahamantri Agung diberi daerah status khusus (Madura) dan diberi wilayah otonom di Lumajang hingga Blambangan.
Nambi diangkat menjadi Rakryan Mapatih (Perdana menteri),
Ranggalawe menjadi Rakyan Mahamantri Agung diangkat sebagai Adipati Tuban,
Sora menjadi patih Daha (Kadiri).


Nama nama pejabat pemerintahan Majapahit pada Jaman pemerintahan Raja Kertarajasa sesuai piagam penanggungan tahun 1296.






Mahamentri Katrini
· Rakyan Menteri Hino : Dyah Pamasi
· Rakyan Menteri Halu : Dyah Singlar
· Rakyan Menteri Sirikan : Dyah Palisir

Sang Panca Wilwatika
· Rakyan Patih Majapahit : Empu Tambi
· Rakyan Demung : Empu Renteng
· Rakyan Kanuruhan : Empu Elam
· Rakyan Rangga : Empu Sasi
· Rakyan Tumenggung : Empu Wahan

Patih Negara Bawahan
· Rakyan Patih Daha : Empu Sora
· Rakyan Demung Daha : Empu Rakat
· Rakyan Rangga Daha : Empu Dipa
· Rakyan Tumenggung Daha : Empu Pamor

Pejabat Hukum Keagamaan
· Pranaraja menjadi Rakyan Mahamantri Agung
· Dang Acarya Agraja menjadi Dharmadyaksa Kasaiwan
· Dang Acarya Ginantaka menjadi Dharmadyaksa Kasogatan
· Panji Paragata menjadi Pemegat Tirwan
· Dang Acarya Anggaraksa sang Pemegat di Pamotan
· Dang Acarya Rudra sang Pemegat di Jambi



Raden Wijaya memerintah dengan tegas dan bijaksana, negara tenteram dan aman, susunan pemerintahan mirip Singhasari, ditambah 2 (dua) menteri yaitu rakryan Rangga dan rakryan Tumenggung. Sedangkan Wiraraja yang banyak membantu diberi kedudukan sangat tinggi ditambah dengan kekuasaan di daerah Lumajang sampai Blambangan.

Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan. Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota kerajaan maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa. Raja dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan, dengan para putra dan kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi. Perintah raja biasanya diturunkan kepada pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain


Arca Harihara, dewa gabungan Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Kertarajasa



Rakryan Mahamantri Katrini, biasanya dijabat putra-putra raja
Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan.
Dharmmadhyaksa, para pejabat hukum keagamaan.
Dharmma-upapatti, para pejabat keagamaan


Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, terdapat pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja, yang disebut Bhattara Saptaprabhu.

Dharmaputra adalah suatu jabatan yang dibentuk oleh Raden Wijaya Anggotanya berjumlah tujuh orang, yaitu Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa, yang semuanya tewas sebagai pemberontak pada masa pemerintahan Jayanegara (raja kedua Majapahit).

Tidak diketahui dengan pasti apa tugas dan wewenang Dharmaputra. Pararaton hanya mengatakan kalau para anggota Dharmaputra disebut sebagai pengalasan wineh suka, yang artinya pegawai istimewa. Dikisahkan mereka diangkat oleh Taden Wijaya dan tidak diketahui lagi keberadaannya setelah tahun 1328.

Pada Jaman Majapahit para pegawai pemerintahan masing masing diberi gelar sesuai jabatan yang dipangkunya dengan pembagian sebagai berikut :



Golongan Rakyan. Para pegawai pemerintahan yang berkah menggunakan gelar rakyan diantaranya

Mahamantri Katrini yang terdiri dari Mahamantri Hino, Mahamantri Sitrikan dan Mahamantri halu
Pasangguhan/ hulubalang yang terdiri dari 2 yaitu Pranaraja dan Nayapati.
Sang Panca Wilwatika yaitu lima pembesar yang diserahi tugas untuk menjalankan pemerintahan Majapahit. Terdiri dari Patih Amangkubumi, Demung, Kanuruhan, Rangga dan Tumengggung.
Juru Pangalasan yaitu pembesar wilayah mancanagara.
Nara pati Negara Negara bawahan.


Golongan Arya. Golongan ini mempunyai kedudukan yang lebih rendah dari Rakyan, namun karena jasa jasanya seorang arya dapat dinaikan jabatannya menjadiWreddhamantri atau Menteri Sepuh.

Golongan Dang Acarya. Sebutan ini khusus diperuntukkan bagi para pendera Siwa dan Budha yang diangkat sebagai Dharnmaddyaksa atau hakim tinggi.


Pembagian wilayah

Di bawah raja Majapahit terdapat pula sejumlah raja daerah, yang disebut Paduka Bhattara. Mereka biasanya merupakan saudara atau kerabat dekat raja dan bertugas dalam mengumpulkan penghasilan kerajaan, penyerahan upeti, dan pertahanan kerajaan di wilayahnya masing-masing. Dalam Prasasti Wingun Pitu (1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan Majapahit dibagi menjadi 14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre. Daerah-daerah bawahan tersebut antara lain :


Daha
Jagaraga
Keling
Kabalan
Kahuripan
Matahun
Kembang jenar
Tumapel
Wirabumi
Kelinggapura
Tanjungpura
Singhapura
Pajang
Wengker


Peristiwa penting yang terjadi dalam masa pemerintahan Raden Wijaya/ Sri Rajasa Jayawarhana

Dalam Piagam Kudadu disebutkan bagaimana watak Raden Wijaya sebagai panglima perang yang menunaikan tugas dari Raja Kertanagara. Dalam pengabdiannya ia menunjukkan kedisiplinan serta kesetian kepada perintah yang diberikan dan menunaikan tugas tiada tercela. Demikian pula terhadap teman teman seperjuangannya Raden wijaya memberikan kedudukan yang tinggi kepada para pengikutnya sesuai dengan jasa yang selama masa perjuangan. Namun rasa keadilan bagi masing – masing orang berbeda beda. Setelah Raden Wijaya dinobatkan sebagai Raja timbullah rentetan ketiadakpuasan diantara pengikut pengikutnya. Peristiwa penting penting tersebut sebagai berikut :


· Peristiwa Ranggalawe ( 1295 )

Ranggalawe / Rakryan Mantri Dwipantara Arya Adikara./ Arya Adikara adalah salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar dalam perjuangan mendirikan Majapahit, namun meninggal sebagai pemberontak pertama pada tahun 1295. Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe menyebut Ranggalawe sebagai putra Arya Wiraraja bupati Sumenep. Ia sendiri tinggal di Tanjung, yang terletak di Madura sebelah barat.

Pertemuan pertama dengan Raden Wijaya terjadi ketika Ranggalawe diutus oleh ayahnya yaitu Arya Wiraraja yang menjabat sebagai Bupati Madura untuk mengantar Tribhuwaneswari dari Sumenep ke Majapahit bersama Banyak Kapuk dan Mahesa Pawagal utusan Raden Wijaya . Ranggalawe mempunyai watak yang agak grasa grusu, bicaranya lantang namun mempunyai kelebihan dalam hal menyusun siasat perang dan dalam pertempuran ia adalah seorang pemberani dan ahli menggunakan senjata.

Namun dibalik sifatnya yang kasar, Ranggalawe adalah seseorang yang berani, jujur dan mempunyai tekat besar yaitu berani mempertaruhkan jiwanya untuk membela Raden Wijaya Ranggalawe kemudian membantu Raden Wijaya membuka Hutan Tarik menjadi desa Majapahit. Nama Ranggalawe sendiri merupakan pemberian Raden Wijaya. Lawe merupakan sinonim dari Wenang, yang berarti benang, atau juga berarti kekuasaan. Maksudnya ialah, Ranggalawe diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memimpin pembukaan hutan tersebut. Selain itu Ranggalawe juga menyediakan 27 ekor kuda dari Bima sebagai kendaraan perang Raden Wijaya dan para pembantunya untuk menghadapi Jayakatwang di Kadiri. Penyerangan ke Kadiri terjadi tahun 1293, Ranggalawe berada dalam gabungan pasukan Majapahit dan Mongol yang menggempur benteng timur kota Kadiri. Pemimpin benteng bernama Sagara Winotan, mati dipenggal Ranggalawe.

Setelah Kadiri runtuh, Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit. Menurut Kidung Ranggalawe, atas jasa-jasanya, Ranggalawe diangkat sebagai bupati Tuban yang merupakan pelabuhan utama Jawa Timur saat itu. Prasasti Kudadu (1294) yang memuat daftar nama para pejabat awal Majapahit, ternyata tidak mencantumkan nama Ranggalawe. Yang ada ialah nama Arya Adikara dan Arya Wiraraja. Menurut Pararaton, Arya Adikara adalah nama lain Arya Wiraraja. Namun Prasasti Kudadu menyebutkan dengan jelas bahwa keduanya adalah nama dua orang yang berbeda.

Slamet Muljana dalam bukunya, Menuju Puncak Kemegahan (1965), mengidentifikasi nama Arya Adikara sebagai nama lain Ranggalawe. Dalam tradisi Jawa ada istilah nunggak semi, yaitu nama ayah dipakai anak. Jadi, nama Arya Adikara yang merupakan nama lain Arya Wiraraja, kemudian dipakai sebagai nama gelar Ranggalawe ketika diangkat sebagai pejabat Majapahit. Dalam Prasasti Kudadu, ayah dan anak tersebut menjabat sebagai pasangguhan. Masing-masing bergelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka dan Rakryan Mantri Dwipantara Arya Adikara.

Kisah pemberontakan Ranggalawe yang merupakan perang saudara pertama di Majapahit disebutkan dalam Pararaton terjadi tahun 1295, dan diuraikan panjang lebar dalam Kidung Ranggalawe. Pemberontakan itu dipicu oleh ketidakpuasan Ranggalawe atas pengangkatan Nambi sebagai rakryan patih Majapahit. Menurut Ranggalawe, jabatan patih sebaiknya diserahkan kepada Lembu Sora yang dinilainya jauh lebih cakap dan berjasa dalam perjuangan dari pada Nambi.

Ranggalawe juga mendapat hasutan dari tokoh licik bernama Mahapati sehingga ia nekad menghadap Raden Wijaya di ibu kota menuntut penggantian Nambi oleh Lembu Sora, namun Lembu Sora justru tetap mendukung Nambi.

Setelah menghina dan merendahkan nama Nambi dihadapan Raden Wijaya akhirnya Ranggalawe menantang Nambi untuk mengadu senjata, mendengar tantangan tersebut Nambi menjadi marah sehingga pertengkaran mulutpun tak terhindarkan diantara kedua belah pihak. Semua menteri yang hadir termasuk Kebo Anabrang (Panglima pasukan Singhasari dalam Ekspedisi Pamalayu) tidak bisa menyembunyikan kemarahan akibat perbuatan Ranggalawe yang dianggap melanggar tata krama di hadapan Sang Prabu Kertarajasa (Raden Wijaya) dan menantang untuk mengadu senjata.

Karena tuntutannya tidak dihiraukan, Ranggalawe kemudian membuat kekacauan di halaman istana. Lembu Sora sebagai pamannya keluar menasihati Ranggalawe yang merupakan keponakannya sendiri, untuk meminta maaf kepada Raja. Ranggalawe mengakui kesalahannya bahwa ia telah berbuat terlalu lancang dan sebagai hukumannnya ia minta untuk dibunuh saja. Sora tidak memenuhi permintaan keponakannya dan menasehatinya untuk mengingat segala kebaikan Prabu Kertarajasa dimana Ranggalawe diberikan kebebasan untuk keluar masuk Istana siang maupun malam. Mendengar nasehat tersebut akhirnya Ranggalawe memilih pulang ke Tuban.

Mahapati kemudian ganti menghasut Nambi dengan mengatakan kalau Ranggalawe sedang menyusun pemberontakan. Maka berangkatlah Nambi atas izin raja, memimpin pasukan menyerang Tuban. Dalam pasukan itu ikut serta Lembu Sora dan Kebo Anabrang. Dalam Kidung Ranggalawe diketahui bahwa Arya Wiraraja yang merupakan ayah dari Ranggalawe menetap di Tuban, ketika mendengar putranya telah pulang dari Majapahit ia langsung menemuinya. Dari tingkah laku putranya Arya Wiraraja menangkap sesuatu yang tidak baik akan terjadi kepada anaknya. Arya Wiraraja kemudian menanyakan apa yang telah terjadi ketika menghadap sang Prabu. Ketika mendengar penjelasan yang disampaikan putranya, Arya Wiraraja terdiam dan hatinya makewuh mana yang harus dipilih cinta kepada anak atau setia kepada Sang Prabu.

Arya Wiraraja kemudian menasehati anaknya untuk tetap setia kepada sang prabu karena berkhianat akan mempunyai akibat yang sangat berat baik diakhirat maupun dalam kelahiran kembali. Mendengar nasehat ayahnya Ranggalawe terdiam dan mengakui kesalahannya, namun darah kesatria yang mengalir dalam dirinya mengharamkan bagi dirinya untuk mundur dan keperwirayudaan tersebut akan dipertahankan sampai mati.

Setelah Nasehatnya tidak didengar oleh putranya, Arya Wiraraja kemudian memanggil para Menteri, Kepala desa, Akuwu dan Demang untuk mempersiapkan pasukan untuk menghadapi serangan dari Majapahit. Mereka mengharapkan agar Nambilah yang nantinya memimpin pasukan dari Majapahit karena Nambilah orang yang paling mereka cari.

Para pengikut Ranggalawe didaerah Majapahit kemudian meninggalkan daerahnya menuju daerah Tuban, namun ketika mereka hendak menyeberangi sungai Tambak beras, air sungai sedang pasang sehingga mereka dapat disusul oleh pasukan dari Majapahit dibawah pimpinan Nambi. Mereka semua akhirnya dapat dihancurkan oleh Pasukan dari majapahit.

Hari hari berikutnya pagi pagi sekali pasukan dari Majapahit menyeberangi sungai Tambak Beras untuk mencapai Tuban. Mantri Gagarangan dan Tambak Baya dari Tuban memberitahukan kepada Ranggalawe bahwa pasukan Majapahit telah tiba dan segera Ranggalawe memerintahkan pasukannya untuk menyerang pasukan dari majapahit.

Mendengar datangnya serangan, Ranggalawe segera mempersiapkan pasukannya. Kidung Ranggalawe menyebutkan nama istri Ranggalawe adalah Martaraga dan Tirtawati. Mertuanya adalah gurunya sendiri, bernama Ki Ajar Pelandongan. Dari Martaraga lahir seorang putra bernama Kuda Anjampiani. Ranggalawe kemudian mohon pamit kepada istrinya untuk menghadapi pasukan dari Majapahit. Martaraga berusaha mencegah kepergian suaminya karena mempunyai firasat bahwa sesuatu yang tidak baik akan menimpa suaminya. Oleh mertuanya sendiri yaitu Ki Ajar Pelandongan, Ranggalawe juga dibujuk agar mengurungkan niatnya untuk maju kemedan pertempuran namun sekali lagi bujukan tersebut tidak dihiraukan oleh Ranggalawe.

Ranggalawe kemudian terjun ke medan pertempuran melawan pasukan dari Majapahit, ia bertemu dengan orang yang diharap harapkan yaitu Patih Nambi. Patih Nambi mengendarai kuda Brahma Cikur sedangkan Ranggalawe mengendai kuda Mega Lamat. Pertempuran kedua orang tersebut berjalan dengan hebatnya. Akhirnya kuda Brahma Cikur berhasil ditikam oleh Ranggalawe namun Patih Nambi berhasil mengelak dan lari menyelamatkan diri kearah selatan. Ranggalawe bersama pasukannya kemudian melakukan pengejaran sampai di sungai Tambak Beras.

Ranggalawe berniat untuk menyeberangi sungai Tambak beras namun ditahan oleh para pengikutnya karena daerah diseberang sungai adalah wilayah Majapahit, lagi pula belum semua kekuatan tentara Majapahit dikerahkan ke medan perang, Ranggalawe akhirnya menurut. Pertempuran antara pasukan Majapahit dibawah Pimpinan Nambi dengan pasukan Ranggalawe terjadi didaerah Tosan, Kidang Glatik, Siddi, Cek Muringgang dan klabang curing berakhir sampai malam hari.

Berita kekalahan pasukan dari Majapahit kemudian disampaikan Hangsa Terik ke hadapan Raden Wijaya. Betapa kecewanya Raden Wijaya mendengar kabar tersebut dan bersumpah akan membumihanguskan Kota Majapahit jika tidak berhasil mengalahkan Ranggalawe. Segera beliau mengirim Kala Angerak, Setan Kobar, Buta Angasak dan Juru Prakasa untuk memulihkan kembali kekuatan pasukan dari Majapahit yang telah tercerai berai dan menyelidiki sampai dimana kekuatan musuh.

Sementara keberangkatan 10.000 pasukan tambahan dari Majapahit telah dipersiapkan dipimpin sendiri oleh Prabu Kertarajasa, beliau mendapat laporan dari 4 orang mata mata yang dikirim ke medan pertempuran tentang kekuatan pasukan dari Ranggalawe. Akhirnya pertempuran pasukan tambahan yang dipimpin oleh Prabu kertarajasa dengan pasukan dari Ranggalawe berkobar kembali, pertempuran berjalan dengan sengit dimana korban berjatuhan diantara dikedua belah pihak. Sementara itu untuk menghindari makin banyaknya korban yang berjatuhan , Sora minta ijin kepada Prabu Kertarajasa untuk menghadapi Ranggalawe. Prabu Kertarajasa mengijinkan, akhirnya Ranggalawe dikepung dari tiga arah yaitu Kebo Anabrang dari arah timur, Gagak Sarkara dari arah barat dan Majang Mekar dari arah utara

Perkelahian sengit kemudian terjadi dari arah timur dimana kebo Anabrang terlibat pertempuran dengan Ranggalawe. Kuda tunggangan kebo Anabrang berhasil dilumpuhkan oleh Ranggalawe namun penunggannya berhasil menyelamatkan diri. Hari selanjutnya untuk kedua kalinya kembali Kebo Anabrang terlibat pertempuran dengan Ranggalawe. Pertempuran ini terjadi di seberang sungai Tambak Beras. Pertempuran berjalan dengan hebatnya dimana masing masing kedua belah pihak mengeluarkan ilmu kesaktiannya untuk melumpuhkan lawannya. Pertempuran kemudian dilanjutkan di dalam air dimana Ranggalawe berhasil mendesak kebo anabrang sampai ketengah sungai namun dengan sigap berhasil menikam kuda tunggangan Ranggalawe.

Didalam kidung Ranggalawe dikisahkan bahwa ikan ikan berlompatan dan air muncrat bagaikan hujan akibat perang tanding diantara kedua tokoh tersebut. Mereka bergulat, saling banting didalam air berusaha menenggelamkan lawannya. Sampai akhirnya Ranggalawe terpeleset dari batu tempat berpijaknya sehingga hal tersebut berhasil dimanfaatkan oleh Kebo Anabrang untuk menenggelamkannya di dalam air. Kepalanya terpiting dibawah ketiak Kebo Anabrang. Ranggalawe kehabisan napas dan mati lemas.

Melihat keponakannya mati ditangan Kobo Anabrang secara mengenaskan hati Sora menjadi panas sehingga dengan serta merta melompat ke dalam sungai untuk menikam Kebo Anabrang dengan keris dari belakang. Keris tersebut tembus sampai ke dada, mayat Kebo Anabrang kemudian mengapung diatas sungai. Pembunuhan terhadap rekan sepasukan inilah yang kelak menjadi penyebab kematian Lembu Sora tahun 1300. Demikianlah akhir hidup Ranggalawe dan Kebo Anabrang yang sama sama tewas di sungai Tambak Beras.

Jenasah Ranggalawe dan Kebo Anabrang kemudian dibawa ke Majapahit untuk diupacarakan secara terhormat , mengingat jasa besar kedua tokoh tersebut. Ranggalawe adalah seorang pahlawan pemberani yang siap mengorbankan seluruh jiwa raganya pada masa awal pembentukan Majapahit, sedangkan Kebo Anabrang adalah Panglima pasukan Singhasari yang sukses menaklukkan Melayu pada jaman pemerintahan Prabu Kertanagara yang terkenal dengan Ekspedisi Pamalayu Tahun 1275. Kisah pemberontakan Ranggalawe tidak terdapat dalam Nagarakretagama (1365). Hal itu dapat dimaklumi mengingat Nagarakretagama merupakan kitab pujian tentang kebesaran Majapahit. Ranggalawe terkenal sebagai pahlawan, sehingga diperkirakan Mpu Prapanca tidak tega mengisahkan kematiannya sebagai pemberontak.

Kiranya setelah Ranggalawe gugur tahun 1295, Arya Wiraraja merasa sakit hati dan memutuskan untuk menghadap Prabu Kertarajasa untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan menagih sang prabu semasa perjuangan, yaitu membagi wilayah kerajaan menjadi dua. Janji tersebut kemudian dipenuhi oleh Prabu kertarajasa sehingga kemudian memutuskan membagi wilayah kerajaan menjadi dua :

Bagian Timur terus keselatan sampai pantai diserahkan kepada Arya Wiraraja kemudian menjadi raja dengan ibukota Lumajang.
Bagian Barat masih dikuasai oleh Raja Kertarajasa dengan Ibukota Majapahit.
Sejak saat itulah Daerah Majapahit timur merupakan Negara merdeka dan lepas dari kekuasaan Majapahit. Bagi masyarakat Tuban, tokoh Ronggolawe bukanlah pemberontak, tetapi pahlawan keadilan. Sikapnya memprotes pengangkatan Nambi, karena figur Nambi kurang tepat memangku jabatan setinggi itu. Nambi tidak begitu besar jasanya terhadap Majapahit. Masih banyak orang lain yang lebih tepat seperti Lembu Sora, Dyah Singlar, Arya Adikara, dan tentunya dirinya sendiri. Ronggolawe layak menganggap dirinya pantas memangku jabatan itu. Anak Bupati Sumenep Arya Wiraraja ini besar jasanya terhadap Majapahit. Ayahnya yang melindungi Kertarajasa Jayawardhana ketika melarikan diri dari kejaran Jayakatwang setelah Kerajaan Singsari jatuh (Kertarajasa adalah menantu Kertanegara, Raja Singasari terakhir).

Ronggolawe ikut membuka Hutan Tarik yang kelak menjadi Kerajaan Majapahit. Dia juga ikut mengusir pasukan Tartar maupun menumpas pasukan Jayakatwang. Bagi masyarakat Tuban, Ronggolawe adalah korban konspirasi politik tingkat tinggi. Penyusun skenario sekaligus sutradara konspirasi politik itu adalah Mahapati, seorang pembesar yang berambisi menjadi patih amangkubumi



· Peristiwa Ken Sora/ Andaka Sora

Lembu Sora atau Mpu Sora atau Ken Sora atau Andaka Sora adalah salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar dalam berdirinya Kerajaan Majapahit, namun mati sebagai pemberontak pada tahun 1300. Peristiwa sejarah ini terdapat dalam Kidung Sorandaka artinya Andaka Sora atau Lembu Sora.

Pararaton menyebut Sora sebagai abdi Raden Wijaya yang paling setia. Ia mengawal Raden Wijaya saat menghindari kejaran pasukan Jayakatwang tahun 1292, di mana ia menyediakan punggungnya sebagai tempat duduk Raden Wijaya dan istrinya saat beristirahat, serta menggendong istri Raden Wijaya saat menyeberangi sungai dan rawa-rawa.

Pada tahun 1293 Raden Wijaya dibantu pasukan Mongol menyerang Jayakatwang di Kadiri. Dalam perang itu, Sora menggempur benteng selatan dan berhasil membunuh Patih Kadiri Kebo Mundarang. Menurut Pararaton, setelah kemenangan tersebut, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit. Lembu Sora diangkat sebagai Rakryan Patih Daha, atau patih bawahan di Kadiri. Keputusan tersebut memicu pemberontakan Ranggalawe tahun 1295. Menurut Ranggalawe, Lembu Sora lebih pantas menjabat sebagai Rakryan Patih Majapahit dari pada Nambi. Meskipun Ranggalawe adalah keponakan Sora, namun Sora justru mendukung Raden Wijaya supaya tetap mempertahankan Nambi sebagai patih Majapahit.

Dalam peristiwe pemberontakan Ranggalawe, Sora bertindak sebagai penasehat raja, dimana Sora memberikan nasehat kepada raja agar jangan sekali kali menuruti apa kemauan Ranggalawe serta dalam pertempuran bertindak sebagai senapati yang memberikan perintah untuk mengepung Ranggalawe dari 3 arah. Siasat ini berhasil sehingga pemberontakan Ranggalawe dapat dipadamkan. Berdasarkan fakta tersebut sudah sepantasnya Sora menjadi abdi kesayangan Raden Wijaya dan menduduki posisi yang terhormat dalam masa pemerintahan Raden Wijaya. Namun dalam perjalanan hidupnya selalu ada rintangan, ada yang iri hati dengan mengungkapkan segala kekurangan yang ia miliki kehadapan sang prabu.

Sebagai mana yang kita ketahui bahwa Mahapati sebagai Menteri mempunyai ambisi yang sangat besar untuk menduduki posisi sebagai Patih Amangkubumi Majapahit, Pada saat itu yang menduduki posisi tersebut adalah patih Nambi, namun untuk mencari kesalahan yang mengakibatkan jatuhnya kedudukan Nambi belum berhasil. Salah seorang tokoh yang mempunyai hubungan erat dengan sang Prabu dan berpengaruh besar yaitu Sora. Andaikata Nambi jatuh maka calon utama penggantinya pastilah Lembu Sora.

Demikianlah menurut rencananya Lembu Sora harus disingkirkan terlebih dahulu, untuk tujuan tersebut ia memperoleh tuduhan yang jitu yaitu pembunuhan Kebo Anabrang yang merupakan rekan sepasukan dalam peristiwa pemberontakan Ranggalawe. Sebelum menjalankan siasatnya Mahapati berusaha bersahabat dengan para Menteri lainnya sehingga ia dapat menjadi orang kepercayaan sang Prabu Kertarajasa.

Pembunuhan terhadap rekan sepasukan tersebut baru diungkit tahun 1300. Mahapati menghadap Raden Wijaya dan menceritakan bahwa para Menteri tidak puas dengan sikap sang Prabu terhadap Lembu Sora. Ketidakpuasan tersebut semakin meningkat karena seolah olah sang prabu membenarkan tindakan Lembu Sora membunuh Kebo Anabrang. Rupanya keluarga Kebo Anabrang segan menuntut hukuman karena Sora adalah abdi kesayangan Raden Wijaya. Suasana itu dimanfaatkan oleh Mahapati, seorang tokoh licik yang mengincar jabatan patih. Ia menghasut putra Kebo Anabrang yang bernama Mahisa Taruna supaya berani menuntut Sora. Ia juga menghasut Raden Wijaya bahwa para menteri resah karena raja seolah-olah melindungi kesalahan Sora.

Raden Wijaya tersinggung dituduh tidak adil. Ia pun memberhentikan Lembu Sora dari jabatannya untuk menunggu keputusan selanjutnya. Mahapati pura pura mencegah tindakan sang Prabu yang serta merta tersebut dan memberi nasehat agar sang prabu mencari kesempatan yang baik untuk menyingkirkan Lembu Sora. Mahapati mengusulkan agar Lembu Sora jangan dihukum mati mengingat jasa-jasanya yang sangat besar. Raden Wijaya memutuskan bahwa Sora akan dihukum buang ke Tulembang. Yakinlah Mahapati bahwa sekaranglah saatnya untuk menyingkirkan Lembu Sora.

Mahapati menemui Sora di rumahnya untuk menyampaikan keputusan raja. Sora sedih atas keputusan itu. Ia berniat ke ibu kota meminta hukuman mati dari pada harus diusir dari tanah airnya. Mahapati kemudian menghasut Nambi bahwa sang prabu telah mengambil keputusan untuk membebaskan Sora dari Tugasnya dan menggantinya dengan Mahesa Taruna (anak dari Kebo Anabrang). Terpikat oleh uraian yang disampaikan Mahapati, Patih Nambi kemudian menyiapkan orang orangnya untuk menghadap sang Prabu. Dengan tegas dikemukakannnya bahwa Lembu Sora yang telah membunuh Kebo Anabrang secara licik dan kejam harus mendapat hukuman yang setimpal, juga para menteri yang terkena hasutan Mahapati sepakat bahwa Lembu Sora harus mendapat hukuman akibat dari perbuatannya.

Mahapati yang pandai menjalankan peranannya sekali lagi mengunjungi kediaman Lembu sora, dikatakannya bahwa ia telah berusaha keras untuk mencegah hukuman tersebut namun tidak berhasil, lagipula Nambi telah menyiapkan pasukannya. Sementara itu telah diputuskan mengingat jasa jasanya, Lembu Sora tidak akan dijatuhi hukuman mati tetapi di hukum buang ke Tulembang. Keputusan tersebut disampaikan langsung utusan Prabu kertarajasa dari Majapahit. Sora menolak keputusan tersebut, ia lebih baik mati daripada harus dihukum buang. Raja Kertarajasa masih cukup sabar menerima keputusan Nambi tersebut dan menyesalkan konflik yang telah terjadi antara dirinya dengan Lembu Sora yang merupakan abdi kesayangannya..

Mahapati pura pura membela Sora dan mengusulkan agar sang Prabu memberikan peringatan secara tertulis kepada Sora dan menunggu jawabannya. Segera Sang prabu mengutus Mahapati untuk menyampaikan surat tersebut langsung kepada Lembu Sora yang isinya bahwa menurut kitab Undang undang Kutaramanawa , Sora harus dihukum mati, namun dibebaskan dari hukuman tersebut dan sebagai gantinya ia akan di pindahkan ke Tulembang. Kutaramanawa yaitu kitab perundang undangan pada jaman Majapahit yang isinya menekankan susunan masyarakat yang terdiri dari empat warna demi kebaikan masyarakat. Kitab tersebut sekarang disimpan di Leiden Belanda.

Setelah membaca surat tersebut, Lembu Sora kemudian menyampaikan jawabannya bahwa ia masih menaruh cinta bakti kepada sang prabu dan akan menyerahkan jiwa dan raganya ke hadapan sang Prabu. Ia tidak akan membantah sekalipun akan diserahkan kepada Kebo Taruna. Lembu Sora merencanakan untuk menghadap langsung ke hadapan sang prabu. Mahapati yang mengingikan kematian Lembu Sora belum puas akan penyerahan jiwa raga yang disampaikan oleh Lembu Sora melaporkan kepada sang Prabu bahwa Lembu Sora tidak menerima keputusan tersebut dan akan datang untuk membuat kekacauan karena tidak puas atas hukuman raja.

Setelah mendesak raja, Nambi pun diizinkan menghadang Sora yang datang bersama Gajah Biru dan Juru Demung. Maka terjadilah peristiwa di mana Sora dan kedua sahabatnya mati dikeroyok tentara Majapahit. Maka berhasillah siasat Mahapati. Kematian Sora pada tahun 1300 diceritakan singkat dalam Pararaton, dan diuraikan panjang lebar dalam Kidung Sorandaka.

Berbeda dengan kisah dalam Kidung Sorandaka di atas, Pararaton menyebut kematian Juru Demung terjadi pada tahun 1313, sedangkan Gajah Biru pada tahun 1314. Keduanya tewas sebagai pemberontak pada pemerintahan Jayanegara putra Raden Wijaya.




Wafatnya Raden Wijaya
Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 digantikan oleh Jayanagara. Raden Wijaya dimakamkan dalam dua tempat, yaitu dalam bentuk Jina (Budha) di Antapura dalam kota Majapahit dan dalam bentuk Wisnu dan Siwa di Simping (dekat Blitar) yaitu Candi Sumberjati di sebelah selatan Blitar dan di candi Buda di Antahpura dalam kota Majapahit. Arca perwujudannya adalah Harihara, berupa Wisnu dan Siwa dalam satu arca.

Seperti pada masa akhir pemerintahan ayahnya, masa pemerintahan raja Jayanagara banyak dirongrong oleh pemberontakan orang-orang yang sebelumnya membantu Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Perebutan pengaruh dan penghianatan menyebabkan banyak pahlawan yang berjasa besar akhirnya dicap sebagai musuh kerajaan.